Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 191 Cinta Manis


Sesampainya di rumah, Laras masuk begitu saja tanpa menyapa orang tuanya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.


''Lho-lho kenapa tuh anak baru nyampai bibirnya manyun, Pah.'' Kata Nyonya Dila.


''Mana Papa tahu, Mah. Sudahlah biarkan saja. Dia memang suka begitu. Ternyata sekali-kali duduk berdua seperti ini sangat menyenangkan ya, Mah.''


''Iya juga sih, Pah. Tapi kalau setiap hari bertemu kita selalu bertengkar jadi sebaiknya memang jarang-jarang saja kita seperti ini.''


''Ya ampun Mama ini tega banget. Kerja nggak pulang-pulang di omelin, giliran di rumah di suruh jarang-jarang di rumah. Memang wanita itu selalu benar ya. Untuk saja istri Papa cuma satu coba banyak, bisa makin pusing dan tertekan batin Papa.''


''Oh jadi Papa tertekan? Papa tertekan hidup bersama Mama, iya? menyesal menikah dengan Mama? terus Papa ada niat buat nikah lagi, iya? mau cari daun muda, gitu?'' ucap Nyonya Dila dengan nada marah.


''Ya ampun Mama ini, siapa sih yang bilang seperti itu? jangan-jangan Mama sendiri yang bosan sama Papa. Makanya Mama cari masalah terus. Jangan-jangan Mama juga pingin nyari berondong ya? iya kan? sudahlah mengaku saja.''


''Berondong apa? berondong jagung? ngaco deh Papa. Gini nih kalau kita sering di rumah selalu saja ada bahan pertengkaran. Di ajak pisah juga tidak mau.''


''Pernikahan itu bukan mainan, Mah. Masa iya mau ribut dikit pisah? di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna Mah. Ingat itu!"


''Halah, ngeles saja.''


Laras yang berada di kamar ingin berusaha tenang namun justru semakin kesal mendengar kedua orang tuanya yang bertengkar. Laras kemudian keluar dan dari balkon Laras melempar bantal ke arah orang tuanya yang sedang adu mulut itu. ''Berisik!" teriak Laras.


Tuan Handi dan Nyonya Dila sangat kaget mendengar suara menggelegar Laras apalagi dengan bantal yang di lempar.


''Laras, kamu tidak sopan ya?'' tegur Tuan Handi.


''Papa dan Mama yang tidak sopan. Suara cekcok kalian membuat Laras tidak bisa istirahat. Bisa tidak kalau di rumah itu akur? selalu saja ada bahan pertengkaran?'' mendengar putrinya yang marah, Tuan Handi dan Nyonya Dila hanya terdiam. Laras kemudian kembali lagi ke kamarnya.


''Hari ini semua orang membuatku kesal,'' gerutunya sambil membanting tubuhnya di atas tempat tidur.


-


Ting, tung, ting, tung! suara Krisna menekan bel pintu rumah Laras.


''Siapa Pah jam segini bertamu?'' kata Nyonya Dila yang masih di ruang tengah bersama suaminya.


''Mana Papa tahu, Mama buka saja sana.'' Jawabnya sinis. Nyonya Dila yang masih kesal, melempar bantal ke wajah suaminya.


''Nyebelin!" gerutu Nyonya Dila. Nyonya Dila beranjak dari duduknya lalu menuju pintu utama ruang tamu.


''Lho Krisna!" seru Nyonya Dila.


''Selamat malam, Tante. Maaf mengganggu.''


''Masuk Kris,'' kata Nyonya Dila sambil mempersilahkan Krisna untuk duduk.


''Pasti mau bertemu Laras ya?''


''Iya Tante.''


''Mmmm apa terjadi sesuatu? soalnya tadi pulang-pulang dia cemberut.''


''Iya Tante. Sepertinya Laras marah karena saya mendadak membatalkan janji makan siang. Karena tadi setelah meeting bersama bos, bos mengajak saya kerumahnya untuk makan siang. Belum lagi saya di minta lembur. Saya sudah memberi kabar kalau lembur tapi Laras mengabaikan pesan saya dan menolak panggilan saya.'' Jelas Krisna.


''Kamu yang sabar ya, Kris. Laras memang terkadang suka bersikap seperti anak kecil. Kalau begitu kamu tunggu disini ya, Tante panggilkan dia. Dia ini memang keterlaluan.''


''Iya Tante, terima kasih.''


''Sudah tenang saja. Laras memang mudah marah tapi dia juga tidak bisa marah lama. Tunggu sebentar ya. Oh ya kamu mau minum apa?''


''Tidak usah repot-repot Tante. Karena sebelum pulang, saya sudah minum teh.''


''Ya sudah, tunggu ya.'' Kata Nyonya Dila seraya beranjak dari duduknya.


''Siapa Mah?'' tanya Tuan Handi.


''Krisna Pah, Papa tolong temani dia sebentar ya. Mama mau panggil Laras dulu.''


''Oke, baiklah.''


-


''Laras!" panggil Nyonya Dila sambil mengetuk pintu kamar Laras.


''Apaan sih, Mah? Laras ngantuk,'' sahut Laras dari dalam.


''Itu ada Krisna. Cepat kamu temui gih, kasihan lho. Dia baru pulang langsung ke rumah.''


''Malas ah, Mah. Suruh pulang saja.'' Jawab Laras tanpa membuka pintu kamarnya.


''Laras, jangan seperti itu. Jangan sampai kamu menyesal. Pria baik tidak akan datang untuk kedua kalinya lho. Krisna itu pria yang baik dan langka. Kamu tahu kan kalau sudah semakin dekat dengan pernikahan, akan ada saja ujiannya.''


Laras mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Mamanya. Laras akhirnya mengalah dengan egonya dan pergi menemui Krisna.


''Itu masih di ruang tamu. Jangan begitulah. Krisna itu pria yang the best. Jangan membesarkan masalah yang seharusnya tidak perlu di besarkan. Sekarang senyum.'' Kata Nyonya Dila sambil membelai wajah putrinya itu. Laras hanya mengangguk dan segera menemui Krisna.


''Ini Laras-nya, Krisna. Kalian selesaikan sendiri ya.'' Kata Nyonya Dila.


''Ya sudah Om dan Tante istirahat dulu. Kalian silahkan bicara,'' sahut Tuan Handi.


''Terima kasih ya Om-Tante untuk waktunya.''


''Sama-sama Krisna.'' Nyonya Dila dan Tuan Handi segera masuk ke dalam kamar.


Laras memalingkan wajahnya, enggan menatap Krisna.


''Laras, kenapa kamu tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku?''


''Sudah tahu jawabannya kenapa tanya,'' jawabnya ketus.


''Maafkan aku ya. Aku harap kamu tidak marah lagi. Aku beberapa hari akan di sibukkan dengan proyek perusahaan. Karena proyek yang sempat di sabotase, akhirnya bisa kembali pada Tuan Kevin. Sekaligus mempersiapkan untuk launching produk terbaru.''


Laras masih tetap saja diam, berusaha memancing Krisna untuk lebih berjuang mendapatkan maaf.


''Kalau begitu aku pamit ya. Kamu istirahat dan jaga kesehatan. Sekali maafkan aku.''


''Hah? cuma gitu doang? bener-bener nggak peka. Cewek ngambek itu butuh di rayu. Lah ini, malah seperti ini.'' Gerutu Laras dalam hati. Krisna kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Baru sampai di depan pintu, Laras menahan Krisna dengan ungkapan kemarahannya.


''Kakak kenapa sih tidak peka sama sekali? cuma segitu saja perjuangan kakak untuk membuatku tidak marah lagi? sebenarnya Kakak cinta apa tidak sih dengan ku? atau hanya terpaksa menerimaku karena kasihan, iya?'' cerocos Laras dengan segala amarahnya. Krisna menghela nafas panjang. Terkadang memahami seorang wanita baginya itu sangat sulit. Krisna kemudian masuk lagi ke dalam rumah lalu memeluk Laras.


''Kamu ini kenapa bicara seperti itu? kenapa kamu menanyakan sesuatu yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya? tentu saja aku mencintai kamu. Kalau tidak cinta, untuk apa aku melamar dan memutuskan untuk menikahi kamu. Maaf karena aku tidak bisa menolak permintaan Tuan Kevin, toh aku juga makan siang dengan bosku bukan dengan wanita lain. Disana juga ada Nyonya Keira, sahabat kamu. Selesai makan, aku dan Tuan Kevin kembali ke kantor terus aku di minta lembur. Kamu tahu sendiri Nyonya Keira sedang hamil muda, Tuan Kevin tidak bisa meninggalkan Nyonya Keira lama-lama. Sekali maafkan aku ya. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku?'' ucap Krisna panjang lebar dengan penuh kesabaran dan sangat tenang.


''Kamu memang sangat baik, Kak. Bahkan kamu tidak membalas ocehanku barusan. Kamu selalu tenang dan sabar,'' gumam Laras dalam hati. Laras merasa bersalah karena sudah marah-marah dengan Krisna.


''Maaf Kak.''


''Maaf? untuk apa?''


''Karena aku sudah marah-marah.''


''Tidak apa-apa. Aku mengerti alasan kemarahanmu. Makan siang bersama bos itu adalah sebuah perintah juga, Laras. Aku sudah mengatakannya padamu kalau Tuan Kevin sangat berjasa dengan hidupku.''


''Iya maaf. Mood ku langsung berubah begitu Kakak membatalkannya secara mendadak.''


''Ya karena jadwal makan siang itu juga mendadak, Laras. Kalau besok aku tidak bisa meluangkan waktu makan siang atau menemani kamu menata butik, maafkan aku ya. Karena aku beberapa hari akan sibuk, seperti yang sudah aku katakan tadi. Tapi yang jelas, aku akan berusaha memberi kamu kabar.''


''Iya Kak. Maaf ya.'' Laras membalas pelukan Krisna dengan sangat erat.


''Apa aku sudah boleh pulang?''


''Belum. Peluk aku lebih lama lagi.'' Ucap Laras dengan manja.


''Sudah ya jangan marah-marah lagi.''


''Iya, aku sudah tidak marah.''


''Lalu sampai kapan kita akan berpukan seperti ini?''


''Sampai besok pagi. Kak, aku kangen. Seharian tidak bertemu denganmu rasanya menyiksa sekali.''


''Kamu pintar sekali menggombal.''


''Memangnya Kakak tidak merasakan yang sama?''


''Iya sama. Tapi aku lebih merindukan bawelnya kamu. Sekarang lepaskan pelukannya, aku akan pulang. Tidak enak dengan Papa dan Mama kamu.''


Akhirnya Laras melepaskan pelukannya. ''Baiklah kalau begitu Kakak hati-hati ya. Tapi kiss me please!" kata Laras sambil menunjuk bibirnya.


Krisna celingak-celinguk. '' Nanti ada yang melihat Laras.''


''Tidak ada Kak. Mama dan Papa. juga sudah di kamar. Ayolah, Kak. Kalau Kakak belum menciumku, aku tidak akan mengijinkanmu pulang.''


Krisna mendengus namun akhirnya ia pasrah. Ia lalu mengangkat dagu Laras dan mengecup bibir Laras untuk beberapa detik.


''Sudah ya?'' ucap Krisna sambil melepaskan ciumannya. Laras mengangguk dan memberikan senyumnya untuk Krisna.


''Kakak hati-hati ya. Jangan lupa beri aku kabar kalau sudah sampai di rumah.''


''Iya. Kamu istirahat ya. Aku pulang dulu, bye.''


''Iya Kak. I love you.''


''I love you too.''


Bersambung......