Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 277 Pertimbangan


Leon baru saja tiba dari luar kota. Kini ia sedang dalam perjalanan menuju apartemen Nadia.


''Sudah empat hari aku tidak bertemu dengan Nadia sejak aku menyatakan perasaanku. Dia juga tidak memberiku kabar sama sekali. Apalagi aku juga habis dari luar kota. Apa dia marah karena aku tiba-tiba menghilang juga.''


Sebelum pergi ke apartemen Nadia, Leon terlebih dahulu mampir ke sebuah toko bunga dan toko perhiasan. Leon membelikan cincin, sekaligus ia ingin melamar Nadia. Setelah semua yang ia butuhkan siap, Leon segera pergi ke apartemen Nadia.


''Leon?'' gumam Nadia saat melihat kamera pintunya, ada wajah Leon terpampang nyata di layar kecil itu. Nadia segera membuka pintu untuk Leon.


''Hai Nad!" sapa Leon dengan senyum ramahnya namun tidak bagi Nadia. Nadia memasang wajah sinis pada Leon.


''Boleh aku masuk?'' tanya Leon yang masih berdiri di ambang pintu. Nadia hanya mengangguk pelan.


''Oh ya ini bunga untukmu, Nad.'' Ucap Leon. Nadia menerimanya namun meletakkan begitu saja diatas meja.


''Untuk apa datang kemari setelah menghilang,'' ketus Nadia.


''Maafkan aku, Nad. Saat itu, aku mendapat kabar Papa jatuh sakit dan aku harus pergi keluar kota menggantikan tugas Papa. Kamu kemana saja tidak memberiku kabar, Nad?''


''Aku juga sibuk. Banyak sekali kasus yang harus aku tangani.''


''Mmmm Nadia, aku haus. Aku baru saja tiba di bandara dan langsung ke rumah kamu. Jadi aku boleh minta minum?'' kata Leon dengan hati-hati karena ia tahu suasana hati Nadia sedang tidak baik-baik saja. Nadia lalu pergi ke dapur mengambilkan dua kaleng soft drink untuk Leon.


''Maaf, aku hanya punya ini.''


''Tidak apa-apa, terima kasih ya.'' Leon lalu membuka minuman kaleng itu dan menenggaknya.


''Nadia, bagaimana jawabanmu waktu itu?''


''Jawaban yang mana Leon?'' tanya Nadia pura-pura lupa. Leon kemudian berpindah kursi duduk di samping Nadia. Leon lalu menggenggam tangan Nadia.


''Nadia, aku sungguh mencintai kamu. Rasa ini bukan hanya sekedar pelampiasan saja. Perasaan ini tulus, Nad. Aku mohon kamu percaya.'' Nadia hanya terdiam mendengar apa yang di ucapkan oleh Leon. Leon kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku jaketnya.


''Nad, will you marry me?'' ucap Leon sambil menunjukkan cincin itu di hadapan Nadia. Nadia terkejut dan tidak menyangka kalau Leon akan melamarnya.


''Leon, apa yang kamu lakukan?''


''Nadia, kamu masih saja menanyakan apa yang sedang aku lakukan? Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Nadia? Kalau memang kamu tidak mempunyai rasa yang sama padaku, kamu katakan saja. Aku tidak akan marah ataupun terluka oleh kejujuran kamu. Dan aku pun tidak akan berharap lebih padamu.''


''Leon, sejujurnya aku masih ragu. Aku takut kalau aku hanya pelampiasanmu saja.''


''Aku sudah melamar mu saja, kamu masih bisa ragu padaku Nad? Apa yang membuatmu ragu?Apa Keira? Aku sudah melupakan perasaanku pada Keira, Nadia. Lagi pula Keira sudah bahagia dengan kehidupannya. Aku pun tidak masalah dengan usia mu. Aku mencintai kamu apa adanya Nadia.''


''Leon, apa aku boleh meminta waktu untuk meyakinkan perasaanku?''


''Sampai kapanpun aku akan menunggu kamu, Nadia. Kalau memang kamu menjawab iya, aku akan membawamu menemui orang tuaku. Dan aku tidak akan menunda hari baik untuk kita.''


''Terima kasih Leon untuk pengertiannya.''


''Tapi Nad, aku mohon jangan membuatku menunggu lama. Aku sangat serius dengan perasaanku. Kamu tahu, aku bukanlah seorang pria yang mudah jatuh cinta. Tapi sekali aku jatuh cinta, aku akan menjaganya dan tidak akan pernah melepaskannya. ''


''Iya Leon, aku mengerti kalau kamu adalah pria yang sangat baik. Berikan aku waktu ya. Karena aku juga ingin menikah satu kali saja dalam hidupku, satu untuk selamanya. ''


''Kalau begitu simpan cincin ini. Kalau kamu sudah siap datanglah kepadaku dan bawa cincin ini. Aku akan memakaikannya untukmu. ''


''Iya Leon. ''


''Kalau begitu aku pamit, Nad. Aku tunggu jawabanmu secepat mungkin. ''


''Hati-hati Leon. '' Ucap Nadia. Nadia lalu mengantar Leon keluar apartemennya.


''Maafkan aku Leon. Aku terlalu pengecut dan takut kalau hati kamu masih terbagi untuk wanita lain. Asal kamu tahu kalau aku juga merasakan hal yang sama. '' Gumam Nadia dalam hati sembari menatap Leon yang menghilang dibalik pintu lift.


...****************...


''Mas, pulang kerja kok suntuk gitu. '' Ucap Keira saat melihat suaminya masuk ke kamar.


''Sedang capek saja sayang banyak pekerjaan di kantor. '' Keira kemudian mendekat membantu suaminya melepaskan jas, dasi lalu kemeja.


''Yakin hanya capek? Sepertinya ada hal lain. '' Selidik Keira.


''Kamu memang seperti pakar mikro ekspresi ya? Tahu saja kalau ada hal yang lain. '' Kata Kevin sambil mencolek dagu istrinya.


''Iya dong Mas, hehehe. Ya sudah katakan ada apa?'' Keira lalu mengajak suaminya untuk duduk di sofa. Keira kemudian menuangkan air putih ke dalam gelas.


''Ini Mas minum dulu. ''


Kevin menerimanya lalu menenggaknya sampai habis.


''Langsung cerita sayang, supaya aku lebih plong karena aku juga butuh pendapat kamu. ''


''Oke, jadi ada apa Mas?''


''Siska hari ini resign, sayang. Jadi aku cukup pusing harus bagaimana. Ya aku sedih juga karena mendadak sekali. ''


''Mbak Siska resign? Kenapa Mas memangnya?''


''Dia hamil sayang. Sama suaminya disuruh resign. Apalagi ini adalah anak yang mereka nantikan. Berat sih melepas dia karena Krisna dan Siska adalah tim yang solid mendampingi aku selama ini. ''


''Oh begitu. Iya sih Mas, kalau kita kerja dan sudah cocok memang sulit untuk melepaskan. Tapi bagaimana lagi itu sudah menjadi pilihan Mbak Siska. Aku sendiri sudah cocok sama Mbak Siska. Terus rencana kamu apa Mas?''


''Ya aku harus mencari pengganti lah sayang. Menurut kamu, aku harus mencari yang bagaimana?''


''Mmmm saran aku sih yang fresh graduate saja sih, Mas. Karena mereka pasti sedang semangatnya untuk bekerja. Tapi juga harus yang kompeten ya Mas, jangan yang asal. Sebenarnya juga terserah kamu, misal mau mencari yang berpengalaman atau yang sudah berumah tangga. Tapi kalau yang sudah berumah tangga pasti nanti kendalanya di waktu, Mas. Mereka akan kesulitan membagi waktu, belum lagi kalau harus lembur atau pergi keluar kota. Jadi lebih enaknya yang fresh graduate saja, Mas. ''


''Oke, ide kamu aku terima sayang. Tapi laki atau perempuan ya, sayang?''


''Karena Mbak Siska perempuan, kamu juga cari pengganti perempuan, Mas. Masa iya mau laki semua Mas, setidaknya kalau ada perempuannya bisa menjadi daya tarik untuk klien yang bawel-bawel begitu. Tapi ini dalam konotasi positif ya sayang. ''


''Iya sayang, aku mengerti. Tapi kamu tidak cemburu?''


''Tidak Mas. Untuk apa aku cemburu sama yang muda toh aku juga masih muda. Paling nanti yang usianya tidak beda jauh dari aku. Asal kamu tidak ganjen saja Mas. Awas saja ganjen, aku potong milikmu, Mas. ''


''Belum juga dapat penggantinya, kamu sudah mengancamku, sayang. Aku tidak akan macam-macam sayang. Kasihan Krisna kalau dia kerja sendiri jadi sudah pasti dia butuh asisten. ''


''Iya Mas, aku percaya sama kamu. ''


''Atau kamu mau ikut interview langsung boleh, sayang. Kamu tentu tahu dan bisa membaca karakter mereka yang melamar nanti. Karena aku benar-benar ingin yang kompeten. Ayolah sayang, kamu bantu aku ya?''


''Iya Mas, nanti aku pasti akan membantumu. ''


''Terima kasih istriku sayang. ''


''Sama-sama suamiku. ''


''Ya sudah sayang, aku sekarang sudah lega. Aku mau mandi dan tolong siapkan makan malam ya. ''


''Siap Mas. ''


Keesokan harinya di kantor....


''Bagaimana Kris, sudah menemukan pengganti Siska?''


''Sejauh ini saya masih bisa menghandle pekerjaan Tuan Kevin. Jadi saya belum butuh asisten baru, Tuan. ''


''Tapi kamu sudah membuka info lowongan kerja kan?''


''Belum Tuan. ''


''Ya sudah kamu infokan saja kebagian HRD dengan kualifikasi yang kamu butuhkan. Setidaknya kemampuannya seimbang dengan Siska. ''


''Laki-laki atau perempuan Tuan?''


''Mau mu apa Kris?'' goda Kevin.


''Terserah Tuan saja. ''


''Nantinya dia akan menjadi asisten mu, Kris. Jadi apa yang kamu butuhkan?''


''Dulu kan Tuan yang memilih Siska untuk menjadi asisten saya jadi Tuan saja yang mengambil keputusan. ''


''Oke baiklah. Kita cari yang fresh saja ya. Lebih tepatnya masih muda dan single. Jadi masa kerjanya bisa lebih panjang disini. Kalau yang sudah nikah ataupun yang sudah punya anak, pasti suka sulit untuk membagi waktu. Bagaimana Kris?''


''Tidak masalah, Tuan. Saya akan menginfokan di bagian HRD. Jadi intinya perempuan kan Tuan?''


''Iya, Kris. Cari fresh graduate seperti dirimu dulu. Usia segitu, mereka pasti sedang semangat-semangatnya untuk bekerja. Yang jelas harus kompeten ya, jangan asa good looking. ''


''Siap Tuan! Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya. ''


''Oke Kris, silahkan.''


Bersambung....