
Selepas Keira pergi, Kevin pun terduduk lemas. Ia benar-benar merasa marah, kecewa dan sedih atas fitnah keji yang menimpa istrinya.
''Kevin, gue udah telepon David dan dia pasti akan membantu kita. Gue juga panggil Pak Henry untuk mengurus semua ini. Sebentar lagi kita akan tahu siapa penyebar berita hoax ini. Elo harus ingat kalau besok adalah hari peresmian panti jompo yang baru elo renovasi.''
''Apa rumah sudah di kosongkan?'' tanya Kevin.
''Sudah dua hari yang lalu, Kev.''
''Mik, tolong jaga Marvel ya. Gue mau kerumah lama Papa.''
''Buat apa?''
''Udah, pokoknya titip Marvel.'' Ucap Kevin.
''Papa mau pergi juga?'' tanya Marvel dengan matanya yang sembab.
''Papa pergi untuk menyelamatkan Mama. Kamu di rumah saja ya bersama Om Miko dan Tante Gina.''
''Iya Pah. Papa hati-hati ya.'' Peluk Marvel sebelum Kevin pergi.
-
Sesampainya di rumah lama orang tuanya, tempat pertama yang Kevin tuju adalah kamar almarhum Papa dan Mamanya. Saat kembali masuk ke ruangan itu, Kevin merasa semakin teriris kala melihat foto terakhir mereka bertiga.
''Sebenarnya aku masih ragu kenapa kecelakaan itu terjadi dan disaat yang bersamaan, aku juga mengalaminya. Seolah ada sesuatu yang di tutup-tutupi. Pengacara Papa satu Minggu kemudian setelah aku sadar di kabarkan meninggal karena serangan jantung. Lalu orang suruhan Papa yang mengantarku di nyatakan meninggal terbakar karena ledakan itu. Supir Papa dan Mama juga meninggal bersamaan dengan kecelakaan itu. Kenapa rasanya sangat aneh? Kenapa aku telat menyadari keanehan ini? Apa karena aku terlalu fokus mengurus perusahaan Papa yang hampir saja bangkrut saat itu juga. Semua rentetan kejadian ini membuat semuanya seperti sudah di rencanakan dan membuatku percaya bahwa semua ini adalah murni kecelakaan. Bahkan Papa tidak berpesan apa-apa padaku, hanya bilang kalau Papa menolak perjodohan diriku dengan Mauren. Bahkan Papa memintaku jaga jarak dengannya. Apa ini ada hubungannya dengan orang tua Mauren?'' gumam Kevin dengan segudang pertanyaan yang kini tersirat dalam benaknya. Kevin kemudian membuka semua laci yang ada di ruangan itu, berusaha mencari petunjuk. Ia lalu mencari beberapa tunjuk dengan membuka almari tapi tidak ada. Bahkan kolong meja, kolong tempat tidur, dibawah kasur dan kamar mandi pun tidak luput dari pencarian Kevin. Namun tidak ada apapun disana. Kevin kemudian menuju ruang kerja Papanya, berusaha mencari petunjuk disana. Semua berkas dan file yang tersimpan di almari, Kevin buka satu persatu.
''Kenapa aku tidak menemukan petunjuk apapun? Bahkan bukti kerja sama Papa dengan perusahaan orang tuanya Mauren.'' Ucap Kevin dengan frustasi. Hampir semalaman Kevin tidak tertidur, mencari sebuah petunjuk. Wajahnya tampak lusuh dan lelah. Kevin kemudian menghubungi David, meminya David untuk mencari berkas kasus meninggalnya orang tuanya, kecelakaan yang menimpanya dan meninggalnya Pengacara Bayu.
''Kevin, kamu mau membuka kasus ini lagi?''
''Iya. Aku meminta bawahanku untuk tidak memasukkan istrimu ke dalam sel. Besok aku akan menemui pelapor itu.''
''Aku akan mengirimkan semua bukti ke email mu, Dav. Aku ingin semuanya cepat selesai. Dan asal kamu tahu, Keira lah satu-satunya saksi kecelakaan itu. Dialah gadis kecil yang menolongku waktu itu. Tapi sayang, Keira tidak ingat sama sekali kejadin itu. Dia mengalami trauma, sehingga kejadian itu hilang dari ingatannya.''
''Apa? Jadi gadis itu Keira? Wah, sepertinya hidup kalian saling berhubungan sejak dulu. Kamu mungkin bisa menunjukkan wajah orang tua kamu atau wajah semua orang yang terlibat dalam kecelakaan itu pada istrimu. Siapa tahu itu bisa membantu ingatan Keira. Oh ya dan satu lagi, cari profil seseorang yang dulu menjemputmu di bandara.''
''Baiklah, sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu, Dav.''
''Sama-sama Kevin.'' Panggilan pun berakhir.
''Kenapa aku tidak pernah mencari tahu orang yang menjemputku itu ya? Coba aku cari di daftar pegawai Papa.'' Gumam Kevin. Kevin melanjutkan pencarian itu hingga tak terasa adzan subuh berkumandang. Kevin yang tergerak hatinya, mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh. Berharap dengan khusyuk dalam beribadah dan berdoa, Kevin menemukan sebuah petunjuk akan semua tanda tanya yang ada dalam benaknya.
Setelah selesai sholat dan berdoa, mata Kevin tertuju pada sebuah rak dengan susunan buku yang tebal. Bahkan dari judulnya, sudah pasti orang lain akan malu untuk membacanya. Kevin kemudian mendekat dan mengambil buku tebal itu. Sampul buku itu hampir mirip seperti sebuah papan kayu yang tipis, sehingga buku itu terasa berat.
''Papa, sejak kapan Papa menyimpan buku seperti itu. Seribu satu cara membuat pasangan bergairah di atas ranjang.'' Ucap Kevin saat membaca judul buku itu. Kevin yang penasaran lalu membukanya, Kevin sangat terkejut saat membuka buku itu. Sebuah kotak yang berbentuk buku dan di dalamnya ada agenda milik Tuan Sanjaya.
''Ini agenda milik Papa kan? Aku pernah memergoki Papa menulis sesuatu di buku ini.'' Gumam Kevin. Kevin lalu membuka agenda itu. Di dalam buku itu, berisi semua perasaan Tuan Sanjaya terhadap istrinya dan juga anaknya. Seperti sebuah buku diary biasa. Namun di halaman tengah, terdapat ruang kosong disana yang berbentuk persegi, dimana ada sebuah flashdisk disana. Kevin kemudian membalik agenda itu, disana tertulis semua daftar penghianat di dalam perusahaan Sanjaya.
''Jadi orang yang menjemputku ada di dalam daftar ini? Astaga, apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa dan perusahaan ini dulu?'' dan yang lebih mengejutkan ada nama Tuan Sandi, nama Papa Mauren disana. Kevin lalu melihat tanggal terakhir Papanya menulis dan itu terjadi satu bulan sebelum kecelakaan, disaat Tuan Sandi ingin mengajak kerja sama dan menjodohkannya dengan Mauren. Namun orang tua Kevin, menolaknya keras.
''Jadi Papa menyimpan rahasia perusahaan Tuan Sandi. Papa dengan tegas di hadapan Tuan Sandi menolak perjodohan dan menolak kerja sama itu. Jadi ini alasan Papa. Seorang gembong mafia yang mengajak Papa berbuat curang dalam bisnisnya demi mendapat keuntungan. Dengan cara menyelundupkan obat terlarang dalam produksi makanan sampai alat elektronik. Wah, ini sungguh gila!" Kevin lalu membuka flashdisk dengan laptopnya. Kevin lagi-lagi dibuat terkejut dengan isi dari flash disk itu. Semua itu berisi bukti kejahatan perusahaan orang tua Mauren yang sungguh mengagetkan Kevin. Bahkan perusahaan lain yang ikut terlibat di dalamnya.
''Apa-apaan ini semua? Astaga, Papa. Papa menyimpan semua ini sendiri. Menyimpan kebenaran yang merugikan semua orang di dunia ini. Aku semakin yakin kalau Papa dan Mama meninggal bukan karena kecelakaan tapi karena pembunuhan berencana yang di buat seperti sebuah kecelakaan. Pasti ini sebuah penolakan perjodohan dan kerja sama yang menimbulkan dendam. Bahkan sepertinya, teror ini akan berlanjut sampai aku bertekuk lutut di hadapan mereka.'' Kevin pun terduduk lemas setelah melihat fakta mengejutkan itu. Kevin kemudian pergi ke kamarnya yang dulu, ia lalu segera mandi, berganti pakaian dan pergi menuju kantor polisi dengan membawa semua bukti yang ia bawa.
Bersambung....