Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 257 Keira Sakit


Hari berikutnya, Squad Gank, Keira, Laras dan Johan mereka sedang berkumpul di cafe tempat kerja Johan dulu. Johan meminta bantuan Keira dan Laras untuk menyiapkan pernikahan sederhananya dengan Tessa.


''Ada apa lagi, Jo?'' keluh Laras yang hampir merasa bosan harus berurusan dengan Johan.


''Iya ada apalagi?'' sahut Keira.


''Gedek deh gue, beberapa hari ini ngurusin hidup elo melulu,'' kata Laras.


''Hehehe sorry, habis gimana lagi. Cuma kalian yang gue punya. Gue nggak mau ngebebanin Ayah sama Ibu di kampung.''


''Ya udah ada apa lagi, Jo? Apa ada masalah?'' tanya Keira.


''Nggak ada kok, Kei. Gue rencana minggu depan mau nikahin Tessa. Terus gue mau minta kalian, tolong belilin seserahan buat Tessa ya. Gue kan baru masuk kerja, nggak enak kalau harus cuti. Kalian kan sama-sama cewek jadi pasti tahu lah apa yang di butuhin.'' Jelas Johan.


''Oh gitu Jo, hehehe oke-oke. Kalau urusan itu serahin sama kita.'' Ucap Laras.


''Wah si Johan gentle banget ya, Ras. Habis beliin rumah, langsung di ajakin nikah lho. Nggak nyangka jodoh elo benar-benar Bu Tessa. Penantian elo nggak sia-sia banget ya, Jo. Keren!" ucap Keira sembari memberikan applause untuk Johan yang di ikuti oleh Laras.


''Ya namanya jodoh kan nggak ada yang tahu. Kalian tahu kan yang berpengalaman lebih asoy, iya nggak Kei?'' ucap Johan.


''Yoi banget, Jo. Yang pengalaman emang lebih nikmat,'' seloroh Keira dengan tawanya.


''Kesindir nih gue. Gue malah ngajarin,'' timpal Laras yang diringi tawa Johan dan Keira.


''Ini gue masih nyisihin 10 juta untuk beli seserahan, perhiasan, MUA dan WO yang sederhana aja. Tolong ya di cukup-cukupin. Untuk ukuran sepatu, jari dan baju, ukuran Tessa sama kayak elo, Ras.''


''Oke-oke tapi kalau urusan perincian serahin sama emak-emak,'' ucap Laras sambil menunjuk kearah Keira.


''Gue masih muda kali, Ras.'' Ucap Keira dengan tawa kecilnya.


''Ya udah lah Jo, pokoknya elo tenang aja. Terima beres pokoknya. Terus restu orang tua udah kalian dapat kan?'' ucap Keira.


''Udah semua, Kei. Bulan lalu gue udah ajak Tessa dan Anrez ke kampung gue, begitu juga sebaliknya. Intinya nggak ada masalah dan restu udah kita dapetin.''


''Syukurlah! Kalau urusan restu memang harus di utamain.'' Sahut Laras.


''Ya udah ya, gue balik ke kantor dulu. Jam makan siang sebentar lagi habis.''


''Oke Jo. Semangat ya!'' ucap Keira.


''Iya Kei, thanks ya.''


''Hati-hati ya, Jo.'' Sambung Laras.


''Iya Ras, thanks juga ya.'' Setelah berpamitan, Johan pun kemblai ke kantor. Sementara Keira dan Laras memilih untuk menghabiskan makanan mereka terlebih dahulu.


Selesai menghabiskan makan siang, Keira dan Laras pergi ke mall. Mereka membeli apa yang diinginkan oleh Johan. Keira pun meminta Pak Wahyu untuk menjemput Marvel, sementara Keira bisa pulang bersama Laras.


''Oh ya Ras, kapan elo mau buka butik?'' tanya Keira sembari mereka memilih-milih sepatu untuk Tessa.


''Belum tahu, Kei. Soalnya sama Kak Krisna di gedein sekalian ke lantai dua. Jadi yang lantai dua di renov sekalian. Tadinya mau satu lantai aja, atasnya buat gudang dan kantor eh tapi Kak Krisna beliin ruko sebelahnya, kebetulan pas di jual, hehehe.''


''Ah senangnya ya punya suami yang pengertian. Nggak tekor lagi deh lho.''


''Pastinya Kei. Gue aja nggak nyangka dia bakal nglakuin itu. Dia juga ngambilin stok tas lokal yang bagus banget, Kei. Nggak kalah lah sama yang branded. Kita utamain produk lokal sama UMKM.''


''Sip, bagus banget idenya Pak Krisna. Enak kan kalau punya suami yang lebih dewasa, kita jadi di emong dan di arahin juga. Ya walaupun umur bukan sebuah patokan kedewasaan seseorang."


"Yap, elo bener banget. Ya intinya gue bersyukur banget lah bida suami kayak Kak Krisna. Oh ya nanti semua barangya biar di kirim ke rumah elo aja ya. Nanti masalah bungkus membungkus, biar gue kerumah elo besok buat bantuin. Gue juga nggak tega nyuruh bumil kerja sendiri."


"Urusan gitu gampang, Ras. Di rumah kan ada dua Bibi dan satu baby sitter jadi mereka bisa bantu juga."


"Oke, sip lah kalau gitu." Ucap Laras.


...****************...


Setelah seharian belanja bersama Laras, malam harinya Keira tidak sanggup untuk bangun lagi. Bibi pun mengantar makan malam Keira ke kamar. Marvel pun berada di kamar untuk menemani Mamanya.


''Mama baik-baik saja kan?''


''Mama baik kok Marvel. Mama hanya kecapekan saja.''


''Apa Marvel harus menelepon Papa?''


''Tidak usah, sayang. Papa juga sudah di jalan kok.''


''Mama makan ya? Itu makanannya masih utuh.''


''Nanti yang sayang.''


''Marvel pijitin ya.''


''Terima kasih anak Mama.'' Marvel kemudian merangkak naik keatas tempat tidur. Tangan kecilnya memijit kaki Keira yang tengah berbaring.


''Terasa kok sayang. Terima kasih ya. Maaf ya, Mama tidak bisa menemani kamu belajar.''


''Tidak apa-apa Mah, semuanya bisa aku atasi kok. Mama tenang saja ya. Mama harus istirahat.''


''Iya sayang.'' Kata Keira. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Kevin baru saja tiba di rumah.


''Nyonya dan Marvel sudah makan Bi?'' tanya Kevin pada bi Nani yang membukakan pintu untuk Kevin.


''Den Marvel sudah Tuan tapi Nyonya belum mau makan.'' Mendengar itu, Kevin menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik melihat Bi Nani.


''Kenapa Nyonya tidak mau makan?''


''Kurang tahu Tuan. Sejak pulang tadi sore, Nyonya langsung masuk ke kamar tidak turun sama sekali. Bahkan makan malamnya saya antar ke kamar tapi saya cek barusan saat mengantar susu, makanan Nyonya masih utuh.'' Jelas Bi Nani.


''Ya sudah Bi kalau begitu. Saya ke kamar dulu.''


''Iya Tuan.''


Kevin pun segera menaiki tangga menuju kamarnya. Di lihatnya Keira sudah tertidur dengan selimut yang menutup rapat tubuhnya. Ada Marvel yang tertidur disampingnya. Pandangan Kevin tertuju pada meja, dimana susu dan makanan masih utuh. Kevin melihat Keira seperti menggigil dan bibirnya pucat. Kevin lalu meletakkan punggung tangannya pada kening Keira.


''Astaga, Keira demam. Bagaimana bisa orang rumah tidak tahu?'' gumamnya dalam hati. Keira terbangun merasakan ada seseorang yang menyentuhnya. Terlihat samar-samar wajah Kevin.


''Mas, kamu sudah pulang?'' lirih Keira dengan senyumnya.


''Sayang, kamu sakit. Kamu demam.'' Kata Kevin sambil membelai wajah istrinya.


''Aku kecapekan saja, Mas. Nanti juga baikan.''


''Kenapa kamu tidak menelepon Alan? Supaya dia memberikan resep untukmu? Sayang, kamu jangan membuatku khawatir.'' Ucap Kevin dengan tatapan sedihnya.


''Jangan keras-keras, Mas. Marvel sedang tidur. Dia tadi menemani dan memijitku, dia manis sekali.'' Kata Keira yang melihat Marvel sudah pulas disampingnya.


Kevin menghela. ''Iya sayang. Terus kenapa tidak di makan? Susunya juga masih utuh. Kamu makan ya? Aku suapin. Tapi aku telepon Alan dulu. Aku mohon kamu jangan seperti ini lagi, kalau tidak enak badan langsung telepon aku. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa.''


''Iya-iya Mas. Maaf ya. Sepertinya aku memang sedang ingin disuapi olehmu.''


''Kamu ini sedang sakit tapi masih bercanda saja. Ya sudah aku telepon Alan dulu dan ganti baju dulu. Setelah itu aku suapin kamu ya.''


''Kamu sudah makan malam atau belum, Mas?''


''Sudah sayang. Tadi bersama klien.''


''Ya sudah kalau begitu.''


Setelah menelepon Alan, Kevin bergegas berganti pakaian. Kemudian ia menyuapi Keira makan. Namun baru empat suap, Keira sudah merasa kenyang.


''Mas, sudah ya. Aku kenyang.''


''Tapi baru empat suap. Sisanya masih banyak.''


''Mas, jangan paksa ya. Aku mau muntah rasanya.''


''Iya-iya maaf. Ya sudah minum susunya saja ya.''


''Iya Mas.'' Keira pun juga hanya bisa menghabsikan setengah susunya.


''Ini masih setengah, sayang.''


''Sudah cukup, Mas. Aku mau muntah rasanya. Jangan paksa ya.''


''Iya sayang. Kamu pasti kecapekan ya. Banyak sekali hal yang kamu pikirkan. Pasti gara-gara si Johan.''


''Eh kok nyalahin Johan. Tadi pagi aku masih fit, ya pulang dari mall tadi aku kecapekan.''


''Iya kecapekan muter-muter bantuin si Johan kan?''


''Perginya juga sama Laras, Mas. Dia mau cuti nggak enak, Mas. Apalagi baru masuk kerja. Jadinya dia minta bantuan aku dan Laras. Ya, aku memang lagi kecapekan aja, Mas.''


''Habis demam kamu tinggi banget lho, sayang. Aku khawatir. Besok kalau demam kamu turun, kita kontrol kandungan ya.''


''Iya Mas, kamu jangan terlalu khawatir.''


''Lagian satu rumah kenapa tidak ada yang meneleponku sih?''


''Aku memang tidak bilang, Mas. Aku cuma bilang kecapekan dan ingin istirahat saja, Mas.''


''Ingat ya, kalau udah sembuh kurangi aktivitas yang berlebihan.''


''Iya-iya, Mas.''


Bersambung....