
''Mas, mau makan apa?'' tanya Gina saat menuangkan nasi kedalam piring Miko. Miko terdiam, ia mencari sesuatu yang biasanya ada di meja.
''Mana tumis kecambahnya?''
''Aku sengaja meminta Bibi untuk tidak memasaknya. Katanya kamu bosan, kemarin marah-marah.''
''Iya tapi sekarang aku mau.'' Kata Miko.
''Miko kamu ini kenapa sih? beberapa hari ini berubah menjadi menjengkelkan, kasihan Gina kan?'' sahut Nyonya Rosa.
''Aku tidak kenapa-kenapa, Mah.'' Jawab Miko dengan wajah cemberutnya. Meskipun ada masalah, Miko dan Gina lebih memilih menyelesaikannya sendiri daripada harus menceritakan kepada orang tuanya. Nyonya Rosa sendiri tidak tahu apa yang terjadi di antara keduanya.
''Ya sudah kamu masakin sekarang ya?'' pinta Miko.
''Ya sudah aku minta Bibi saja untuk masak ya.''
''Tidak! Aku mau kamu yang masak. Terus jamu dari Ibu masih?''
''Semalam yang terakhir tapi aku sudah menelepon Ibu untuk membuatkannya, Mas.''
''Ya sudah, buatkan aku sana.''
''Iya-iya.'' Gina memilih mengalah daripada harus ribut di hadapan mertuanya. Sepuluh menit kemudian, masakan pun jadi.
''Ini Mas.'' Kata Gina sambil meletakkan tumis itu di hadapan Miko.
''Terima kasih, sayang.'' Senyum Miko merekah saat menikmati tumis kecambah itu. Bahkan Miko menghabiskannya tak bersisa.
''Oh ya nanti makan siang aku jemput ya.''
''Iya Mas, nanti aku tunggu kamu di butik ya.''
Setelah selesai sarapan, Miko dan Gina segera berangkat dengan mobil sendiri.
Bukannya ke kantor, Miko membelokkan mobilnya ke arah kantor Kevin. Begitu sampai di kantor Kevin, Miko masuk ke ruangan Kevin begitu saja.
''Sumpah gue bete!" kata Miko sambil duduk begitu saja di sofa.
''Elo ini apa-apaan sih, Mik. Baru masuk udah ngomel.''
''Elo bayangin coba, bini gue di sukai sama bule.''
''Wah, keren dong! berarti level Gina emang udah high.'' Jawab Kevin dengan santainya.
''Kok malah keren sih, elo ini ya bukannya ngademin tapi malah ngomoporin.''
''Terus gue mesti gimana Mik? Memangnya sejak kapan seorang mantan playboy kelas kakap takut kalah saing?'' goda Kevin.
''Bukannya kalah saing tapi gue takut Gina berpaling.''
''Nggak mungkin lah Gina berpaling. Palingan juga elo yang berpaling.''
''Ya nggak lah, gue setia kok. Oh gimana kabar Keira?''
''Baik, dia sehat. Ya cuma ada saja penganggu dalam rumah tangga.'' Kevin kemudian menutup laptopnya dan berjalan ke arah Miko yang duduk di sofa.
''Itu si Leon.''
''Leon? Dia masih deketin Keira juga?''
''Bukannya deketin secara intens sih, gue berantem sama Keira gara-gara dia.''
''Lha terus apa masalahnya dong?''
''Keira marah sama gue, soalnya gue mendadak batalin janji ke mall. Akhirnya dia cuma pergi sama Marvel. Eh disana ketemu si cecunguk itu. Dia manfaatin lah kesempatan selagi nggak ada gue. Si Marvel juga pakai acara ikut lomba foto keluarga pula di salah satu toko di mall itu, mana si Leon sok menawarkan diri untuk foto bertiga lagi. Gue tadi sampai cek ke mall buat batalin lomba itu tapi ternyata nggak bisa dan gue sampai jelasin sama pegawainya kalau Ayahnya itu gue. Dan itu cuma saudara gue, gue sampai ngaku kayak gitu. Soalnya like foto mereka sementara yang paling banyak. Belum lagi komentar netizen yang bilang kalau mereka family gouls, bikin mata dan hati panas.'' Cerocos Kevin panjang lebar dengan segala amarahnya. Mendengar cerita Kevin, Miko pun tertawa mengejek.
''Rupanya elo takut kalah saing juga, Kev? Ya di maklumi sih, Leon kan masih muda. Dia seumuran sama Keira jadi ya wajar.''
''Terus wajar juga playboy mati kutu saingan sama bule. Semuanya serba big and long, elo tahu kan maksud gue,'' imbuh Kevin yang berbalik memanasi Miko.
''Ah elo ganggu pikiran gue aja. Hmmmm mana bulenya bukan cuma ganteng dan keren tapi tajir abis. Dia ngirim bunga, ngirim makanan dan kadang juga hadiah. Sebelumnya gue santai aja kalau ada yang ngirim Gina hadiah. Tapi sejak dengar omongan elo waktu itu, gue malah jadi sensi dan gue dua hari ini berantem sama Gina.''
''Tumben seorang Miko krisis percaya diri, pasti ada sesuatu yang elo sembunyiin.'' Kevin mencoba menerka-nerka untuk menyelami isi hati Miko. Miko menghembuskan nafas dengan kasar.
''Ada rahasia yang memang ngebuat gue minder dan takut Gina berpaling.''
''Cerita aja, Mik. Walau bagaimanapun kita kan saudara.''
''Jadi sebenarnya penyebab gue sama Gina belum punya keturunan karena gue yang nggak subur.''
''Mik, elo serius? Elo nggak bercanda kan?'' Kevin seolah tak percaya mendengar pengakuan adik sepupunya itu.
''Iya Kev. Jadi selama ini Gina udah tahu kalau gue nggak subur. Gue paksa dia untuk kontrol di tempat lain dan faktanya gue yang nggak subur. Jadi selama ini Gina nutupin semuanya dari gue dan Mama. Dia rela di caci-maki Mama sampai Mama mau nyuruh gue nikah lagi dan dia tahan semua itu demi jaga perasaan gue. Pas gue tahu, rasanya gue down dan putus asa. Bahkan Mama berbalik mencaci gue yang anaknya sendiri. Elo bisa bayangin kan gimana tertekannya kita.''
''Terus sekarang gimana Tante Rosa?''
''Jujur baru beberapa hari lalu hati Mama mencair. Mama mau menerima Gina dan mau dukung gue. Hubungan kita semua membaik dan semakin hangat. Tapi di saat semuanya membaik, godaan pun datang. Jujur gue minder, gue takut kalau Gina bakal ninggalin gue hanya untuk mendapatkan keturunan. Gue bukan minder masalah materi tapi masalah kesuburan, Kev. Apalagi saat denger Keira hamil lagi, gue iri banget sama elo. Elo dengan mudahnya di kasih momongan, sedangkan gue belum di kasih juga sampai detik ini.''
''Mik, percaya sama gue kalau Gina nggak akan seperti itu. Seharusnya elo jangan marah sama dia. Justru elo harus bisa lebih romantis dari si pria bule itu.''
''Iya sih, emang setelah gue tahu kalau gue yang bermasalah, gue jadi benci sama diri gue sendiri. Gue jadi sering uring-uringan sama Gina karena perasaan minder gue ini.''
''Tapi setidaknya semuanya perlahan membaik kan, Mik. Tante Rosa juga udah kasih restu penuh buat hubungan kalian dan mensuport kalian yang belum di kasih momongan, jadikan itu kekuatan untuk elo bertahan dan semangat, Mik. Jangan semangat elo malah kendor. Kalau elo kayak gitu malah salah. Happy bisa pengaruh sama kualiats se...per...m...a elo juga apalagi elo sekarang pasti lagi jalanin pengobatan. Saran gue, bawa happy aja Mik. Hubungan elo sama Gina harus semakin mesra dan hangat terutama soal urusan ranjang.''
''Ya sih elo bener juga, Kev. Kalau urusan ranjang, gue udah pol-polan cuma nggak bisa tahan lama. Mungkin itu udah tanda-tanda kalau se..per...ma gue nggak bagus kali ya.''
''Ya bisa jadi elo saking nakalnya, Mik. Elo jaman bujangan dan masih playboy keseringan bersin di sembarang tempat sih. Elo dulu emang badboy banget, keseringan bersin jadinya letoy sekarang.'' Girau Kevin sambil tertawa kecil.
''Mungkin emang karma deh, Kev. Ya walaupun dulu gue pakai pelindung ya pas bersin. Tapi gue beneran udah taubat sejak nikah sama Gina. Saat sama Gina, gue bisa ngerti apa itu cinta bukan na...f...s...u semata. Gue akui, kalau gue brengsek. Tapi seorang pendosa juga punya masa depan kan, Kev.''
Kevin tersenyum lalu merangkul bahu Miko. ''Semua orang berhak punya kesempatan kedua, Mik. Semua orang berhak punya masa depan, bahkan orang baik juga pasti punya masa lalu yang buruk kan? Elo harus optimis, Mik. Perbanyak sedekah dan ibadah aja. Yang jelas jangan lampiasin amarah elo sama Gina. Jangan sampai sikap elo itu bikin Gina risih dan bikin Gina benar-benar lari dari hidup elo, oke.''
Miko menghela nafas panjang. ''Thanks ya, Kev. Gue benar-benar merasa lega banget sekarang. Kalau memang ini hukuman buat gue, gue akan terima dan gue akan menebusnya. Tentu saja dengan gue harus semangat memperbaiki diri.''
''Semangat Miko!" seru Kevin. Keduanya lalu kompak tertawa dengan saling berpelukan berusaha menguatkan satu sama lain.
Bersambung.... Next part besok ya, terima kasih untuk semua dukungan kalian 🙏🙏😘