
Setelah melihat pertengkaran itu, Kevin dan Marvel pun kembali ke ruangan. Kevin melihat makanan dan minuman yang tergeletak di meja laci.
''Ayo kita makan sama-sama!" ajak Kevin.
''Aku tidak mau! aku ingin bersama Mama Keira.''
''Tapi dia kan pergi."
''Pah, kita tidak bisa meninggalkannya sendiri. Dia sedang sedih. Mama Keira sudah sangat baik padaku jadi setidaknya kita harus peduli dengannya.''
''Oke baiklah, lalu apa yang akan kita lakukan?''
''Tolong papa telepon Mama Keira.''
''Papa tidak ada nomornya.''
''Berikan ponsel papa padaku, aku akan menelponnya.'' Kevin pun menyerah dan memberikan ponselnya pada Marvel. Marvel kemudian menyimpan nomor Keira ke dalam kontak ponsel papanya dengan nama 'ISTRIKU ❤️' tanpa sepengetahuan Kevin.
''Halo, mama dimana? kenapa tadi pergi? bukankah kita mau makan siang bersama?'' tanya Marvel. Keira sendiri memang sedang berada di toilet untuk mencuci muka dan merapikan kembali dirinya yang sempat berantakan.
''Maaf ya, Marvel. Tadi mama tiba-tiba sakit perut, sekarang ada di toilet. Lima menit lagi mama kesana.''
''Oke baiklah. Aku tidak akan makan sebelum mama ada disini.''
''Iya Marvel.'' Panggilan pun berakhir.
''Kenapa Mama berbohong sih? padahal kita sudah melihat semuanya, iya kan pah?''
''Terkadang apa yang kita rasakan, tidak semua orang boleh tahu, bahkan menyimpannya sendiri itu lebih nyaman.'' Tak lama kemudian Keira pun akhirnya kembali. Keira kembali dengan wajah cerianya.
''Darimana saja? Marvel sudah lama menunggu.'' Ketus Kevin.
''Maaf tuan, eh maksudnya Mas Kevin. Tadi tiba-tiba sakit perut.''
''Siapa dia? kalian saling mengenal?'' selidik Kevin.
''Oh tadi hanya teman SMA saja. Ya udah lebih baik kita makan saja sekarang,'' jawab Keira dengan perasaan lebih tenang. Kevin dan Marvel saling melempar pandangan, namun Kevin memberikan kode untuk segera makan.
''Maaf tuan eh mas maksudnya, aku memesankan menu vegetarian. Kata Marvel anda eh kamu maksudnya, suka makanan sehat.''
''Tidak masalah,'' singkat Kevin sambil melahap makananya. Akhirnya siang itu menjadi hari yang indah untuk Marvel karena bisa menikmati makan siang bersama dengan Kevin dan Keira. Meskipun suasana canggung, Marvel merasa puas karena bisa menikmati makan siang bersama. Setelah selesai makan siang, Keira dan Marvel pun segera berpamitan.
''Pah, kita pulang dulu ya. Jangan lupa nanti malam.'' Kata Marvel. Kevin hanya mengangguk tanpa mengatakan sesuatu.
''Tuan, saya permisi!" pamit Keira.
''Kok tuan sih, mah? Mas dong manggilnya.''
''Marvel, mama merasa jijik memanggil Mas,'' celetuk Keira yang membuat Kevin meradang.
''Apa maksudmu? kalau kamu jijik, apalagi aku? menyebut nama mu saja aku tidak sudi.''
''Haduh, kenapa berantem lagi sih?'' protes Marvel yang berdiri di tengah-tengan mereka.
''Kamu dengar dong, Vel. Dia bilang jijik? kenapa kamu harus menyewa mama bad atitude seperti ini sih? sudah selesaikan saja perjanjian itu sekarang dan buat dia membayar denda!" ucap Kevin dengan tegas.
''Mama sih, bikin papa marah.''
''Ya habis gimana? mama tidak siap memanggil dengan sebutan Mas, rasanya aneh gitu.''
''Maaf deh, tuan. Mmmm bagaimana kalau aku panggil Om saja, sepertinya itu lebih cocok,'' ucap Keira meringis.
''Kamu pikir lucu? sudah pergi sana kalian! aku mau bekerja lagi.''
Keira dan Marvel akhirnya memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Keira segera menuju dapur bersiap membuatkan kue ulang tahun untuk Marvel.
''Mama mau kemana?''
''Mau ke dapur Marvel. Mau membuatkan kue ulang tahun untukmu.''
''Aku boleh ikut?''
''Boleh dong tapi kamu ganti baju dulu ya.''
''Oke mah.''
''Siang Bi-Mbak,'' sapa Keira dengan ramah.
''Eh Nona Keira, baru pulang ya?'' sahut Bi Nani.
''Iya, Bi. Saya mau minta ijin pinjam dapurnya boleh? soalnya saya sudah janji pada Marvel untuk membuatkan kue ulang tahun.''
''Tentu boleh Nona, silahkan saja.'' Jawab Bi Nani.
''Kalau ada sesuatu yang di butuhkan, kami juga bisa membantu,'' sahut Mbk Rima.
''Iya Mbak, terima kasih ya. Bi Nani dan Mbak Rima, saya boleh minta tolong untuk menyiapkan dekorasi sederhana saja di halaman samping dekat kolam renang? saya ingin menjadikan hari ulang tahun Marvel kali lebih berkesan dari sebelumnya.''
''Amin, Non. Semoga saja Tuan pulang ke rumah.'' Kata Bi Nani.
''Memangnya kenapa Bi?''
''Karena Tuan selalu melewatkan hari ulang tahun Den Marvel, Non. Saya kasihan sekali, hanya kita yang selalu menemani Den Marvel untuk tiup lilin dan potong kue. Bahkan setelah tiup lilin, Den Marvel langsung pergi ke kamar. Keesokan harinya, Tuan juga baru pulang,'' jelas Bi Nani. Bi Nani sendiri sudah bekerja bersama keluarga Kevin lebih dari 14tahun. Kalau Mbak Rima sendiri baru lima tahun, pasca kepergian Kania.
''Jadi apa yang di ucapkan Marvel benar. Tapi kenapa Tuan keras kepala itu selalu melewatkan hari bahagia putranya,'' gumam Keira penuh tanya.
''Tidak apa-apa, Bi. Lebih baik kita bantu Marvel supaya di ulang tahun ini, dia merasakan hal berbebda dari sebelumnya.''
''Siap Non!" jawab Bi Nani dan Mbak Rima dengan kompak.
Tak lama kemudian Marvel pun menyusul di dapur.
''Mah, aku ikut bantu ya?''
''Oke. Kita siapkan tepungnya, telur, margarin, coklat bubuk dan pengembangnya dulu. Lalu...,'' Keira pun menjelaskan semua bahan-bahan yang akan mereka pakai. Melihat kekompakan Marvel dan Keira, Bi Nani dan Mbak Rima pun segera mengerjakan tugas yang di perintahkan oleh Keira. Sekaligus memberikan ruang dan bagi keduanya supaya lebih akrab.
Setelah berkutat di dapur, akhirnya blackforest pun jadi.
''Yeay jadi!'' seru Keira.
''Hmmmm bagus banget mah, full coklat!" seru Marvel yang tak kalah heboh.
''Maaf ya mama bisanya cuma seperti ini saja. Menghiasnya cuma seperti ini saja. Soalnya ini pertama kali bikin kue.''
''Iya mah tidak apa-apa. Tadi aku icip sedikit udah enak kok. Terima kasih ya mah,'' kata Marvel seraya memberikan pelukan pada Keira.
''Sama-sama Marvel. Sekarang sudah sore jam 4, jadi sebaiknya kamu pulang dan mama juga pulang sebentar.''
''Kenapa harus pulang mah?'' tanya Marvel.
''Kan mama harus mandi dan ganti pakaian.''
''Mandi disini saja. Mama langsung ke kamar tamu saja.''
''Tapi kan mama tidak membawa baju ganti.''
''Mama tenang saja, aku sudah menyiapkannya kok. Aku mohon."
''Oke baiklah.''
-
Sementara Kevin masih sibuk dengan pekerjaannya. Suara Miko yang selalu berisik pun sama sekali tidak mengganggu konsentrasinya.
''Sudah gue duga, elo pasti disini. Ini sudah berapa Kev? elo nggak mau pulang apa?''
''Menurut lo?'' sahutnya tanpa menghadap orang yang sedang mengajaknya bicara.
''Sampai kapan sih, Kev? kasihan Marvel. Mending elo pulang dan rayain ulang tahun elo sama Marvel dan juga Keira.''
''Lebih baik elo urus saja urusan elo, Mik. Tidak usah ikut campur urusan gue.'' Mendengar ucapan Kevin, Miko pun merasa tersinggung.
''Ternyata gue salah ya anggap elo itu saudara. Gue care seperti ini karena elo masih gue anggap keluarga dan saudara. Apalagi Marvel, Kev. Tapi ternyata sikap elo seperti ini. Elo seharusnya bersyukur, Tuha menitipkan Marvel dalam hidup elo. Sedangkan gue dan Gina berusaha keras pingin punya anak tapi sampai detik ini belum di kasih juga. Kalau elo emang udah nggak peduli sama Marvel, lebih gue ambil alih hak asuh Marvel jadi anak gue. Gue juga yakin Marvel bakalan milih gue daripada sama elo. Gue nggak main-main, Kev. Kalau sampai jam 7 malam elo nggak nyampai rumah, gue sama pengacara gue akan langsung ambil Marvel dari elo. Dan gue bakal ajak Marvel tinggal di luar negeri dan menutup semua akses komunikasi elo dan Marvel. Camkan itu Kevin!" kata Miko dengan wajah seriusnya sambil menunjuk wajah Kevin. Mendengar ancaman Miko, nyatanya tetap membuat Kevin tenang. Ia hanya tersenyum sambil menjulurkan tangannya ke arah pintu. Memberi kode supaya Miko segera meninggalkan ruangannya.
''Sialan tuh anak! gue ancam nggak mempan. Awas aja sampai elo nggak pulang,'' gerutu Miko dalam hati seraya berlalu meninggalkan ruangan Kevin. Apa yang di katakan Miko adalah bagian dari rencananya dengan Keira untuk membujuk Kevin supaya pulang dan merayakan ulang tahun dengan Marvel. Padahal ia sendiri sudah kebal dengan ucapan pedas sepupunya itu.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan vote yang banyak yaaa, makasih 🙏🙏❤️❤️