Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 241 Membantu Johan


Setelah dari café Johan, Keira pergi ke kantor Kevin bersama Laras. Sekaligus keduanya membawakan makan siang untuk suami masing-masing.


“Ras, gue keruangan Mas Kevin dulu ya.”


“Iya Kei, gue juga keruangan Kak Krisna dulu.”


Keira dan Laras lalu menuju ruangan suaminya masing-masing.


“Suamiku!” sapa Keira saat masuk keruangan Kevin.


“Sayang, kamu kok ke kantor?” melihat istrinya datang, Kevin beranjak dari duduknya dan memberikan pelukan serta kecupan di kening istrinya.


“Aku sama Laras kok, Mas. Tadi habis ke café Johan jadi sekalian aja kesini. Laras juga mengantar makan siang untuk Pak Krisna.”


“Oh begitu, ya sudah ayo duduk dulu.” Kevin lalu mengajak Keira duduk di sofa.


“Mas, kita makan sama-sama ya. Aku lagi pingin di suapin sama kamu.”


“Tentu saja, sayang.”


“Aku tidak menganggumu kan, Mas?”


“Tidak sayang, aku senang kamu datang kemari tapi khawatir juga.”


“Kan sudah ada bodyguard yang mengawalku, Mas.”


“Ya sudah, ayo kita makan dulu.” Kevin lalu menyuapi Keira sebelum ia menghabiskan makanannya sendiri.


“Oh ya, sayang. Gimana Johan jadi beli yang mana? Nanti aku kasih dia potongan.”


“Mmmm aku belum memberitahunya, Mas.”


“Kenapa? Apa ada masalah lain?” Kevin mencoba menebak pikiran Keira.


“Iya Mas.”


“Masalah apalagi, sayang? Kamu jangan stres-stres.”


“Tidak, Mas. Ini masalah Johan sih, Mas.”


Kevin menghela. “Apa yang di lakukan oleh Johan sampai membuatmu begitu memikirkannya? Dia sampai membuat istri orang lain begitu memikirkan dirinya.”


“Jangan salah paham dulu, Mas. Aku, Laras dan Johan kan sahabatan sudah lama. Susah senang juga sama-sama. Jadi Johan di tipu, Mas.”


“Di tipu? Di tipu bagaimana maksudmu, sayang?”


“Ruko yang Johan tempati, ternyata Johan menyewa bukan dari pemilik yang sebenarnya.”


“Lho, kok bisa sih? Memangnya dia tidak kroscek dulu sebenarnya bagaimana? Pasti saat transaksi kan ada saksi juga, pakai materai tidak lalu ada sertifikat asli pemilik tidak?”


“Nah itu kesalahan Johan, Mas. Dia tergiur harga murah. Mana pemilik aslinya datang terus mau nuntut Johan. Padahal Johan sudah menjelaskannya tapi pemilik aslinya tidak percaya.”


“Kalau hanya kata-kata saja tentu mereka tidak percaya, sayang. Mereka butuh bukti dan juga si penipu itu harus di hadirkan juga.”


“Iya juga sih, Mas. Dan si penipu itu juga hilang entah kemana. Aku kasihan deh, Mas. Sudah jatuh tertimpa tangga. Apa kamu tidak bisa membantunya?”


“Kenapa kamu selalu saja ikut campur urusan orang lain, sayang? Kamu sampai tidak memikirkan dirimu sendiri. Kamu hamil lho, sayang. Johan sudah dewasa jadi dia juga bisa mnegurus dirinya sendiri.”


“Mas, Johan bukan orang lain. Dia itu sahabat aku, Mas. Dia bangkrut dalam sejenak lho, Mas. Kamu tidak pernah merasakan hidup susah sih, makanya kamu bisa bicara seperti itu.”


Kevin menghela, melihat ekspresi marah istrinya. “Ya sudah, apa rencana kamu?”


“Aku sama Johan dan Laras mau datang kerumah pemilik ruko itu, supaya dia tidak menuntut Johan dan meminta waktu utuk membuktikan kebenarannya.”


“Aku tidak mengijinkan kalau kamu pergi sendiri.”


“Ya terus gimana, Mas?”


“Biar Krisna yang mengurusnya. Aku akan meminta Krisna menyewa pengacara dan melaporkan kasusnya Johan ke polisi. Setelah  kita bisa menangkap orang itu, Johan baru bisa membuktikan kebenarannya. Kamu sebaiknya kabari Johan, katakan biar Krisna yang mengurusnya. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang. Aku ingin kamu menjalani kehamilanmu dengan tenang dan bahagia tanpa beban. Kamu tahu kan kalau kejadian waktu itu masih menyisakan trauma untukku jadi aku harap kamu mengerti.” Kata Kevin memegangi perut istrinya.


“Iya Mas, aku mengerti. Maaf ya kalau aku sering sekali membuatmu khawatir.” Kevin dan Keira lalu saling berpelukan.


 


#####


 


Setelah memasak makan siang, Tessa pergi menyusul Johan di café. Namun Tessa juga di buat bingung kenapa café masih tutup. Setelah masuk ke dalam, Tessa melihat Johan tampak serius menatap layar laptopnya. Sampai Johan tidak tahu kalau Tessa sudah berdiri di hadapannya.


“Tessa, kamu disini?” tanya Johan dengan gugup.


“Aku sudah tiga menit berdiri disini tapi kamu sama sekali tidak melihatku.”


“Maafkan aku, Tes. Aku sedang fokus dengan pekerjaan sampai tidak tahu kamu sudah disini.”


“Aku membawakanmu makan siang.”


“Ah iya, terima kasih.” Jawab Johan sambil kembali menatap ke arah laptopnya.


“Aku aku kemari ingin memberikan uang yang sempat kamu pinjamkan pada Rendy. Dia nitip 1 juta dulu, Jo. Jadi sisanya masih 6 juta. Dia akan mencicilnya bulan depan kalau sudah mendapat pekerjaan lagi.” Kata Tessa sambil menyodorkan amplop berwarna coklat pada Johan. Johan tersenyum lalu menerima amplop itu. “Terima kasih ya.”


“Sama-sama Jo. Aku akan terus mendesak Rendy supaya dia meembayar hutangnya padamu tepat waktu.”


“Iya terima kasih kamu sudah membantuku, Tessa.”


“Oh ya, kenapa cafenya tidak buka, Jo?” tanya Tessa.


“Ummm tidak apa-apa.” Singkat Johan tanpa berani menatap Tessa.


“Kemarin aku lewat cafenya juga tutup. Tapi kamu paginya pamit katanya mau ke café. Sebenarnya kemarin kamu kemana?” tanya Tessa dengan tatapan penuh selidik. Johan tidak menjawabnya karena dia sedang melacak nomor ponselnya si penipu. Tessa merasa kesal karena Johan tidak menghiaraukannya.


“Johan, aku sedang bicara denganmu, kenapa kamu diam? Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?” suara Tessa kini meninggi. Tessa yang kesal lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Namun Johan buru-buru mencegahnya.


“Jangan marah, Tessa.” Ucap Johan sambil menahan pergelangan tangan Tessa.


“Bagaimana aku tidak marah? Dari tadi aku mengajakmu bicara tapi kamu seperti enggan untuk bicara. Jadi sebaiknya aku pergi saja.”


Johan menghela nafas panjangnya. “Maafkan aku, Tessa. Sebenarnya aku sedang masalah tapi aku tidak mau membuat kamu jadi terbebani.”


“Masalah apa Jo? Bukankah kita sudah janji untuk melewati sudah dan senang bersama? Kenapa kamu malah seperti itu?” Tessa benar-benar di uat kesal oleh sikap Johan. Johan lalu mengajak Tessa duduk kembali dan memberikan dokumen tuntutan yang ia terima.


“Kamu baca ini, Tessa.” Ucapnya. Tessa menerima dokumen itu lalu membacanya.


“Jadi selama ini kamu di tipu, Jo?” mata Tessa terbelalak tidak percaya setelah membaca isi dokumen itu. Johan hanya bisa mengangguk dengan tatapan mata sendunya.


“Jo, kenapa kamu sembunyika semua ini dari aku?”


“Aku tidak mau merepotkanmu dan membenanimu, Tessa. Dan kini semuanya habis, aku tidak punya apa-apa lagi. Semuanya sudah aku masukkan untuk café dan untuk membeli mobil. Untuk membayar tuntutan sebesar itu, uangku tidak cukup. Di tambah abungan untuk membeli rumah pun masih jauh, Tessa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi? Maafkan aku Tessa karena aku belum bisa membahagiakanmu dengan Anrez. Aku tidak ingin kamu dan Anrez menderita lagi. Aku ikhlas jika kamu ingin pergi meninggalkan aku. Kamu dan Anrez berhak untuk bahagia.”


“Dasar bodoh! Kamu pikir aku wanita seperti itu apa, Jo. Aku sudah janji akan menemani mu dalam susah dan senang. Aku masih ada kalung yang aku simpan, aku akan menjualnya dan kamu bisa memakainya tapi nominalnya tidak terlalu besar jika di jual.”


“Tidak usah, Tes. Kamu simpan saja. Aku tidak mau menyusahkanmu, utamakan kebutuhan untuk Anrez saja ya. Aku akan mencari jalan keluarnya.”


Tessa kemudian memeluk Johan dengan erat. “Jo, aku yakin kita akan bisa melewati semua ini. Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu dan aku tidak akan meninggalkan kamu.”


“Terima kasih ya, Tessa. Terima kasih.”


Tiba-tiba ponsel Johan berbunyi. Tanda pesan grup chatnya. Johan melepaskan pelukannya lalu memeriksa ponselnya.


Keira : Jo, suamiku akan membantumu. Mas Kevin sudah memerintahkan langsung Pak Krisna alias suaminya Laras untuk membantumu. Mas Kevin juga sudah menghubungi pengacaranya untuk membantumu. Siapkan semua berkas yang dibutuhkan termasuk bukti transaksi, nomor ponsel dan kalau bisa wajahnya di Pak Dino itu.


Laras : Yoi, Jo. Kak Krisna juga bersedia membantumu. Secepatnya dia akan menemui. Cek rekeningmu, aku dan Keira sudah mentransfer uang masing-masing 25 juta. Kamu bisa menggunakannya dulu sebagai pegangan.


Keira : Iya Jo, kamu pakai saja. Jangan pikirkan bagaimana mengembalikannya. Aku juga sudah mendapat ijin dari suamiku. Semangat Johan! Aku yakin kita akan bisa menyelesaikan masalah ini.


Johan : Kalian memang yang terbaik. Aku mencintai kalian.


Laras : Love you too, Jo.


Keira : Love you too, Jo.


Johan merasa terharu dengan bantuan para sahabatnya itu. Tak terasa air matanya membasahi pipinya. Tessa tampak bingung melihat Johan yang menangis saat membaca pesan.


“Jo, kenapa? Ada apa?” tanya Tessa dengan khawatir. Johan lalu menunjukkan chat Keira dan Laras pada Tessa. Tessa tidak menyangka persahabatan Johan dengan Laras dan Keira, se-solid itu.


“Ya ampun Jo, mereka baik sekali. Jaman sekarang jarang sekali ada sahabat seperti mereka berdua.”


“Iya Tessa. Aku bersyukur sekali ada mereka.” Johan kemudian kembali memeluk Tessa.


“Aku saja salut dengan persahabatan kalian yang langgeng sampai detik ini. Kita berhutang budi pada mereka, Jo. Semoga semuanya bisa teratasi dan kita bisa membalas kebaikan mereka.”


“Amin. Aku juga menginginkan seperti itu.”


Bersambung....