
''Tante, boleh aku meminta peran mama mu sekarang?'' tanya Marvel dengan tatapan polosnya.
''Memangnya kamu mau minta apa?''
''Temani aku di kamar, sampai aku tidur.'' Pinta Marvel. Keira terdiam lalu melempar pandangan pada Miko dan Gina. Miko dan Gina mengangguk sambil memberikan senyuman pada Keira.
''Baiklah ayo! Tante juga penasaran dengan isi kamar mu.'' Kata Keira dengan semangat.
''Terima kasih tante.''
''Kei, jangan pernah ambil hati ucapan Kevin ya. Aku tahu dia sangat keterlaluan tapi sebenarnya dia baik kok.'' Kata Miko pada Keira. Miko sebenarnya kasihan pada Keira yang selalu mendapat ucapan buruk dari Kevin.
''Tenang saja, Kak. Aku sudah kebal kok dan sudah sering menghadapi orang seperi itu.'' Ucap Keira dengan tenang.
''Ya udah kamu lebih baik temani Marvel saja dulu.'' Kata Miko.
''Iya, Kak.'' Keira pun berlalu bersama Marvel. Marvel dengan antusias mengajak Keira menuju kamarnya. Kamar yang luas dengan suasana yang tenang. Seperti dugaan Keira, Marvel yang introvert lebih suka desain kamar yang soft. Bukan kamar dengan full color atau tokoh superhero melainkan dominasi warna putih monokrom. Yang penting kamar yang membuatnya nyaman dan bisa menikmati dunianya sendiri. Ada berbagai buku bacaan yang tertata rapi di rak. Mulai dari buku cerita sampai buku pengetahuan. Ada sebuah almari kaca yang berisi koleksi mainan superhero yang tertata rapi di sudut ruangan. Di atas meja nakas, terdapat deretan foto Marvel bersama Kania dan Kevin. Ada juga kolase foto Marvel dari ia masih dalam kandungan sampai ia sebesar ini. Keira tersenyum saat melihat foto Marvel yang begitu lucu dan menggemaskan itu. Bahkan di balkon kamar Marvel, sengaja di desain seperti sebuah taman supaya Marvel selalu merasa nyaman saat berada di kamar. Karena anak introvert cenderung fokus kepada pikiran, perasaan dan mood yang berasal dari dalam diri sendiri alias internal, dibandingkan dengan mencari stimulasi yang berasal dari luar.
''Kamar kamu luas ya? lebih luas kamar kamu daripada kamar tante.''
''Masa sih tante, aku ingin sekali ke rumah tante dan melihat kamar tante. Boleh kan?''
''Boleh dong. Oh ya kamu memang suka warna kamarnya seperti ini ya? kenapa tidak mencoba warna yang lebih ceria gitu? biasanya anak-anak seusia kamu suka sekali dengan nuansa kamar yang di penuhi dunia imajinasi.''
''Aku lebih suka yang seperti ini, tante. Aku merasa lebih tenang saja. Memangnya kamar tante seperti apa?''
''Mmmm kamar tante kecil bahkan tidak seluas ranjang kamu. Terus catnya itu warna pink, hehehe.'' Cerita Keira terkekeh.
''Sama seperti mama yang sangat suka warna pink. Memang warna pink adalah warna favorit semua perempuan ya.'' Marvel kemudian beranjak dari ranjangnya, ia mengambil sebuah album foto yang ia simpan dalam laci nakasnya.
''Tante aku akan memperkenalkan tante pada mamaku.''
''Apa itu?''
''Ini album foto yang aku simpan.'' Marvel kemudan membuka halaman pertama. Disana ada foto pernikahan Kevin dan Kania.
''Ini mama aku, namanya Kania. Cantik kan tante?''
''Iya mama kamu sangat cantik.''
''Tapi yang di sebelahnya sangat menyebalkan,'' gumam Keira dalam hati saat melihat foto Kevin.
''Apa kamu sangat menyayangi mama?''
''Aku sangat menyayangi dan mencintainya tante, bahkan sampai kapanpun. Tapi sayang, mama harus pergi karena sakit.'' Cerita Marvel dengan suara lirih. Itulah yang Marvel tahu kalau mamanya meninggal karena sakit bukan karena kecelakaan. Marvel tidak mengetahui peristiwa buruk yang menimpa mamanya. Kevin memang sengaja menutup rapat rahasia itu.
''Kalau papa bagaimana?''
''Aku juga sayang papa. Tapi papa sepertinya lebih mencintai pekerjaannya daripada aku. Apalagi sejak mama pergi, papa seperti melupakan aku. Apa aku melakukan kesalahan ya tante? aku merasa papa tidak sayang padaku.''
Mendengar kesedihan Marvel, membuat Keira mendekap anak lelaki di hadapannya itu.
''Marvel, kalau papa tidak sayang kamu, tidak mungkin kan papa menemani kamu di rumah sakit sampai sembuh. Papa memang sedang banyak pekerjaan saja. Kan ada oma dan opa kamu juga kan?''
''Tidak ada, tante. Kedua orang tua papa sudah meninggal saat papa baru lulus SMA. Sejak saat itu papa mulai bekerja dan meneruskan usaha opa. Apalagi mama ku, mama sejak kecil sudah tinggal di panti asuha n, itu cerita yang aku dengar dari Bi Nani. Padahal aku ingin sekali berbagi lebih dengan papa. Aku rindu saat kami bercanda bersama seperti dulu. Bahkan sejak mama pergi, papa sama sekali tidak mau merayakan ulang tahunku. Papa hanya mengirimkan kue ulang tahun dan hadiah saja. Karena saat ulang tahunku, papa selalu memilih menyibukkan diri di kantor bahkan sampi menginap di kantor."
Keira menghela nafas, ia merasa bingung dengan sikap Kevin. Keira merasa ada sesuatu yang aneh dari Kevin atau mungkin ada sebuah luka yang tidak bisa di ungkapkan, sehingga Marvel menjadi korbannya. Keira semakin merasa kasihan dengan bocah yang kini ada dalam dekapannya itu. Bahkan kini rasa sayang Keira semakin besar untuk Marvel. Ia tidak peduli dengan Kevin tapi yang ia pedulikan kini hanyalah Marvel. Sikap Kevin lah yang membuat pertumbuhan psikologis Marvel seperti ini. Menjadi anak yang introvert dan lebih suka menyendiri. Tidak bisa di biarkan, ini sikap yang salah. Sepertinya tuan keras kepala itu harus di beri pelajaran.
"Terima kasih ya tante untuk semuanya. Aku sangat menyayangi tante."
"Tante juga sangat sayang kamu. Baiklah, sekarang kamu tidak usah bersedih lagi. Besok adalah hari bahagia untuk mu jadi cepatlah tidur dan semoga esok lebih baik dari hari ini." Keira lalu membantu Marvel berbaring, ia menyelimuti Marvel dan memberikan kecupan di kening dan kedua sisi pipi Marvel.
"Jangan lupa berdoa dulu ya, supaya hanya ada mimpi indah di dalam tidurmu."
"Tapi tante jangan pergi dulu ya, temani aku dulu."
"Iya, Marvel." Keira kemudian naik keatas ranjang tepat disisi Marvel. Marvel tiba-tiba meringkuk menghadap Keira dan memeluknya. Keira cukup terkejut dengan sikap Marvel namun Keira kemudian tersenyum sembari membelai kepala Marvel sampai akhirnya Marvel tertidur. Dari balik pintu rupanya Miko dan Cindy melihat itu semua. Mereka merasa Keira memang yang terbaik untuk Marvel.
"Sayang, lebih baik kita pulang saja. Biarkan saja mereka." Kata Gina.
"Ide bagus. Lebih baik kita tidak usah pamit sama si kepala batu itu. Memang dasar gila kerja tuh si Kevin,"ucapnya sambil bisik-bisik. Miko dan Gina pun akhirnya pulang dan memilih berpamitan pada Bi Nani.
Kevin yang masih sibuk di ruang kerjanya, melihat kearah jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia menyudahi pekerjaannya dan pergi menuju kamar Marvel. Namun saat hendak menuju kamar Marvel, Kevin merasa rumahnya tampak sepi dan lengang.
"Kenapa sepi? dimana Miko dan Gina? apa mereka sudah pulang?" gumamnya.
"Bi, dimana Miko dan Gina?" tanya Kevin saat melihat Bi Nani sedang membereskan ruang tengah.
"Sudah pulang, tuan."
"Lalu si Bu guru itu sudah pulang?" tanya Kevin yang merasa sulit sekali menyebut nama Keira.
"Den Marvel mengajak Nona Keira ke kamarnya, tuan."
"Apa? ke kamar? bagaimana mungkin Marvel dengan mudahnya membawa orang asing ke kamar," gumam Kevin. Kevin pun bergegas menuju kamar Marvel. Perlahan ia membuka kamar Marvel dengan sedikit terbuka. Kevin melihat Marvel telah tertidur pulas dalam dekapan Keira. Namun Keira tampak sedang menerima telepon dengan suara pelan.
"Dia ini punya pelet apa? sampai putraku begitu menyayanginya? dia kan mantan pacar sewaan, sudah pasti dia punya banyak cara untuk menarik hati pelanggannya," gumam Kevin dalam hati.
"Aku masih di rumah salah satu muridku. Iya habis ini aku pulang, dia juga sudah tertidur pulas. Aku sudah besar bukan anak kecil lagi. Kenapa khawatirnya berlebihan banget sih? tidak usah di jemput, aku kan bawa motor. Ya udah aku habis ini pulang ya, aku mau pamit dulu. Mau nitip apa? supaya tidak marah lagi. Cieeee, khawatir banget sih, uututututu. Iya aku pulang nih sekarang, ini aku jalan mau ambil motor. Ya udah bye-bye ganteng," suara manja Keira lewat sambungan telepon yang di dengar oleh Kevin.
"Astaga! dia benar-benar keterlaluan. Sudah punya pacar tapi ngakunya tidak. Jangan-jangan dia wanita simpanan om-om lagi! Telepon mesra-mesraan di rumah orang, di kamar anak kecil lagi. Pasti dia sedang modus. Mengambil hati putraku untuk kepentingannya sendiri. Awas saja kalau sampai macam-macam!" gerutu Kevin dalam hati. Kevin segera menutup kembali pintu kamar Marvel, saat mengetahui Keira mengakhiri panggilannya. Keira dengan sangat pelan melepaskan tangan Marvel yang sedari tadi memeluknya erat. Ia kemudian mencium kening Marvel sebelum pergi.
Sebenarnya Keira sangat malas dengan Kevin. Namun kali ini ia harus pamit. Ia melihat Kevin menuruni anak tangga dan memanggilnya.
"Tuan Kevin!" mendengar panggilan Keira, Kevin menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Saya permisi pulang."
"Kenapa kamu berada di kamar putraku?"
"Marvel yang memintaku menemaninya. Baiklah aku pulang, Marvel juga sudah tertidur."
"Ya udah, pulang sana!" ketus Kevin.
"Iya saya pulang!" ketus Keira juga. Keira kemudian dengan langkah terburu menuruni anak tangga karena sebenarnya yang menelepon tadi adalah Kenny, kakaknya.
"Kamu dimana Kei? ini sudah larut malam. Kamu ini perempuan, jangan biasakan pulang larut malam. Berarti benar kan yang aku dengar kalau kamu sering kluyuran malam-malam? aku jemput ya, Kei? aku tidak mau apa-apa, Kei. Yang aku mau kamu pulang dengan selamat. Sudah cepat pulang jangan banyak bicara dan tidak usah merayu kakak mu ini." Itulah isi pembicaraan antara Kenny dan Keira yang membuat Kevin berprasangka buruk pada Keira.
Bersambung.... Yukkk tinggalkan jejak ya, makasih 🙏❤️