
''Selamat bergabung di perusahaan, Chika. Semoga kamu betah dan tunjukkan kinerja terbaikmu.'' Ucap Kevin seraya menjabat tangan Chika.
''Terima kasih, Tuan. Saya pasti akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini dan saya akan membuktikannya.''
''Aku senang dengan percaya dirimu. Oh ya perkenalkan, ini istriku, Nyonya Keira Sanjaya. Kamu bisa memanggilnya Nyonya Keira. Nyonya Keira untuk sementara waktu akan membantumu dan memperkenalkanmu dengan perusahaan ini.''
''Mohon bantuannya, Nyonya.''
''Pasti Chika.'' Ucap Keira.
''Dan ini Krisna, sekretaris pribadiku. Nantinya kamu akan bekerja menjadi asisten sekretaris membantu Pak Krisna untuk mengurus semua pekerjaanmu.''
''Selamat bergabung, Chika. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik dan kompak tentunya.'' Kata Krisna sambil mengulurkan tangannya.
''Pasti Pak Krisna. Mohon bantuan dan bimbingannya juga.'' Ucap Chika.
''Baiklah Chika, sekarang kamu ikut aku ya. Aku akan menunjukkan setiap sudut ruangan ini.'' Sahut Keira.
''Baik Nyonya Keira.''
''Mas, aku sama Chika dulu ya.''
''Iya sayang.'' Jawab Kevin dengan senyum terindahnya. Keira kemudian mengajak Chika berkeliling perusahaan. Keira juga memperkenalkan struktur oragnisasi perusahaan dengan jelas dan lengkap. Chika juga sangat senang karena Keira bersikap begitu hangat. Keira juga memperkenalkan Chika kepada masing-masing divisi, hal itu untuk memudahkan komunikasi mereka dengan Kevin sebagai atasan melalui Chika sebagai asisten sekretaris. Kurang lebih hampir satu jam berkeliling kantor, Keira lalu mengajak Keira kesebuah ruangan, disana Keira memperkenalkan semua produk yang sudah di luncurkan oleh Sanjaya Group. Bahkan Keira juga memperkenalkan seluk beluk perusahaan ini berdiri. Untuk melakukan itu semua, Keira sendiri juga sudah mendapat informasi dan data dari suaminya sendiri. Bukan hal yang sulit untuk Keira yang cerdas melakukan itu semua.
Chika dengan serius mendengarkan dan mencatat poin-poin penting yang telah di jelaskan oleh Keira dengan begitu detail.
''Bagaimana Chika? Apa kamu sudah mengerti?''
''Sudah sangat mengerti Nyonya. Penjelasan anda sangat lengkap dan mudah di pahami.''
''Oke baguslah. Oh ya, perlu kamu ingat kalau Tuan Kevin itu sangat disiplin dan tegas. Jadi kamu harus bisa mengikuti ritme kerjanya. Begitu juga dengan Pak Krisna, yang lebih serius dari Tuan Kevin. Tapi kalau kamu ada kesulitan atau sesuatu yang tidak kamu pahami, mereka akan tetap menjawabnya. Jadi kamu tenang saja.''
''Iya Nyonya.''
''Untuk makan siang, disini juga ada kantin. Kalaupun kamu ingin makan siang di luar, tentu saja boleh tapi juga dengan waktu yang sudah di tentukan.''
''Baik Nyonya, saya mengerti.''
''Nanti setelah makan siang, kamu bisa langsung menemui Pak Krisna di ruangannya. Dan ruangan kamu tadi, di sebelah ruangan Pak Krisna.''
''Iya Nyonya.''
Pagi hingga menjelang siang, Keira menghabiskan waktu bersama dengan Chika, hingga akhirnya jam makan siang tiba.
''Oke Chika, sudah waktunya makan siang, kamu bisa makan siang sekarang.''
''Iya Nyonya. Tapi ada yang ingin saya tanyakan pada Nyonya.''
''Apa Chika? Tanyakan saja.''
''Ummm apa Nyonya juga selalu di perusahaan?''
''Memangnya kenapa?''
''Maaf Nyonya, anda sudah membuat saya nyaman di hari pertama kerja. Jadi saya berharapnya menjadi sekretaris anda saja. Maaf kalau saya lancang.''
Keira tersenyum menanggapi ucapan Chika. ''Untuk sementara kamu bekerja dengan Pak Krisna dulu ya. Untuk kedepannya juga belum tahu karena aku sendiri baru saja melahirkan, Chika. Meskipun awalnya suamiku menginginkan hal itu.''
''Oh begitu. Saya harap anda suatu saat nanti selalu berada disini. Saya akan mempersiapkan diri saya dengan belajar sebanyak-banyaknya dan bekerja dengan giat, jika suatu saat nanti Nyonya akan selalu berada di perusahaan.''
''Iya Chika. Semangat ya!''
''Siap Nyonya.''
Keira kemudian pergi menuju ruangan suaminya, namun ternyata Kevin masih belum kembali. Namun tiba-tiba ponsel Keira berdering, ada nama Rima di layar ponsel Keira.
''Halo Mbak Rima, ada apa?''
''Nyonya, Non Rachel tiba-tiba demamnya semakin tinggi dan ini tiba-tiba Non Rachel pup terus. Puph nya juga encer dan sekarang nangis terus Nyonya.'' Ucap Mbak Rima dengan panik.
''Mbak, kamu cepat bawa Rachel ke rumah sakit terdekat ya. Ini aku dari kantor akan langsung ke sana.''
''Ba-baik Nyonya.'' Ucap Rika seraya mengakhiri panggilannya.
''Gimana Rima?'' tanya Bi Tuti
''Iya-iya.'' Ucap Bi Nani seraya berlalu.
''Aku bantu siapkan perlengkapan Non Rachel ya, Rim.'' Sahut Bi Surti.
''Iya Bi.''
Sementara itu Keira berusaha menelepon suaminya. Kebetulan saja Kevin baru keluar dari ruang meetingnya.
''Ada apa sayang? Satu kantor kok telepon sih, kangen ya?'' goda Kevin.
''Bukan saatnya merayuku, Mas. Rachel demam dan bab terus. Kita kerumah sakit.''
''Apa? I-iya sayang, aku jalan ke parkiran langsung. Kamu dimana?''
''Iya ini aku keluar dari ruangan kamu. Ya sudah aku tunggu di tempat parkir.''
''Oke sayang.'' Kevin mengakhiri panggilannya.
''Ada apa Tuan?'' tanya Krisna.
''Aku harus ke rumah sakit, Kris. Rachel demam, tolong urus semuanya ya.''
''Iya Tuan. Hati-hati Tuan.''
''Iya Kris.'' Kevin dengan langkah terburu segera pergi ke tempat parkir. Keira sudah menunggu di dalam mobil. Karena kebetulan kunci mobil ada bersama Keira. Melihat Keira yang sudah berada di dalam mobil, Kevin pun segera masuk. Tanpa basa-basi Kevin segera melajukan mobilnya.
''Bagaimana bisa sayang? Kita tadi pergi, Rachel baik-baik saja kok.''
''Maafkan aku ya, Mas. Sebenarnya sebelum berangkat Rachel badannya hangat. Tapi tadi Bi Nani dengan pengalamannya di kampung, sudah bantu kasih kompres tradisional untuk Rachel kayak daun-daunan sama di kasih minyak zaitun gitu. Tadi selang satu jam, setelah kita sampai kantor, Mbak Rima ngasih kabar kalau demamnya sudah turun tapi mendadak telepon demamnya tinggi di tambah pup terus. Aku tadinya tidak tega meninggalkan Rachel, tapi aku sudah janji sama kamu untuk membantu mengurus Chika. Sekali maafkan aku ya, Mas. Sebagai Ibu, aku lalai mengurus Rachel.''
Kevin lalu menggenggam tangan istrinya. ''Bukan salah kamu, sayang. Aku yang salah sudah memaksa kamu. Sudah ya jangan sedih. Rachel pasti akan baik-baik saja. Aku juga tidak menyalahkan kamu. Memang seharusnya aku tidak memaksa kamu apalagi Rachel masih butuh kamu.''
''Kamu juga jangan menyalahkan diri kamu. Ini salah kita berdua. Semoga Rachel tidak apa-apa ya, Mas. Aku khawatir sekali.''
''Iya sayang, aku sebenarnya juga sangat khawatir.''
Sesampainya di rumah sakit, Rachel pun segera di tangani. Tak lama kemudian Keira datang bersama Kevin. Melihat tangan mungil putrinya di infus, membuat hati Keira sebagai seorang Ibu merasa bersala. Mbak Rima pun segera memberikan Rachel ke gendongan Keira.
''Sayang, maafkan Mama ya. Tidak seharusnya Mama meninggalkan kamu.'' Ucap Keira dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Karena Keira merasa sangat bersalah.
''Bagaimana dokter keadaan putri saya?'' tanya Kevin pada Dokter.
''Putri anda mengalami diare yang disertai dema, Tuan. Sebaiknya harus di opname selama beberapa hari di rumah sakit. Sekaligus menunggu pemeriksaan selanjutnya.''
''Lakukan yang terbaik untuk putri kecil saya, Dokter.''
''Pasti Tuan. Kalau begitu kami akan menyiapkan ruang rawat inap untuk putri anda.''
''Terima kasih, Dokter.''
''Sama-sama Tuan.'' Dokter pun berlalu.
''Sayang, kamu jangan nangis dong. Tuh Rachel masih anteng, bobok.'' Kevin berusaha menghibur istrinya.
''Tapi aku merasa bersalah meninggalkannya, Mas.'' Ucap Keira dengan sesenggukan.
''Putri kecil Papa, maafkan Papa dan Mama ya. Disini Papa yang salah karena sudah memaksa Mama pergi ke kantor. Maafkan Papa ya sayang, kamu harus cepat sembuh ya. Kasihan Mama, Mama sedih dan nangis terus.'' Ucap Kevin sambil membelai lembut wajah mungil putrinya itu. Kevin lalu mengecup kening istrinya dan mengelus kepalanya.
''Mbak Rima, karena Rachel di opname, tolong bawakan ganti baju untuk Nyonya dan aku ya. Terus kamu langsung jemput Marvel sekalian sama Pak Wahyu.''
''Baik Tuan.''
''Oh ya satu lagi, minta Bibi untuk masak juga ya. Karena Nyonya belum sempat makan siang, sekalian vitamin untuk Nyonya kamu bawa juga.''
''Baik Tuan. Oh ya semua perlengkapan Non Rachel ada di tas ya, Nyonya-Tuan. Kalau begitu saya permisi.''
''Iya, hati-hati ya Mbak Rima. Tolong urus makannya Marvel juga ya.'' Ucap Keira.
''Iya Nyonya.''
Bersambung....