Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 148 Titik Terang


Tiga jam kemudian....


''Maafkan kami Tuan, karena kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya saja.'' Ucap Dokter.


''Maksud Dokter apa?'' tanya Kevin dengan tatapan sayu.


''Kami hanya bisa menyelamatkan Nyonya Keira saja. Sedangkan kami tidak bisa menyelamatkan janin Nyonya Keira yang masih berumur tiga minggu.''


DEG! Disisi lain Kevin bersyukur karena Keira selamat namun disisi lain, hati Kevin sangat hancur karena ia kehilangan calon buah hatinya bersama Keira.


''Sabar ya Tuan. Kondisi Nyonya Keira sudah mulai stabil dan setelah ini akan di pindahkan di ruangan rawat inap. Tinggal pemulihan luka bakar yang berada di punggung dan lengannya saja, beruntung luka bakar itu tidak terlalu serius dan tidak mengenai wajahnya. Saya permisi.''


''Terima kasih, Dokter.'' Ucap Kevin seraya menahan rasa sedih yang tak terbendung di hatinya.


''Pah, adikku tidak bisa di selamatkan ya Pah?'' tanya Marvel dengan tatapan polosnya.


''Iya Nak. Tuhan lebih menyayangi adikmu.'' Ucap Kevin sambil mennahan tangisnya.


''Ya Allah cucuku-putriku,'' ucap Pak Ammar dengan tangisannya. Pak Ammar bersama Kenny dan Cindy pun kini sudah berada disana. Kevin pun juga sudah memberitahukan pada keluarga Keira, kalau Keira tengah mengandung.


''Ayah, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi Keira. Seharusnya aku menemaninya, bukan malah membiarkannya pergi sendiri.''


''Ini semua musibah, Nak. Jangan salahkan diri kamu.'' Ucap Pak Ammar seraya memeluk Kevin.


''Ayah, sepertinya aku membawa kesialan untuk orang-orang yang aku cintai.'' Isak tangis Kevin dalam pelukan Ayah mertuanya.


''Tidak Nak. Jangan pernah bicara seperti itu. Justru Keira bahagia bersamamu.''


''Tuan Kevin, jangan menyalahkan dirimu. Apa yang Ayah katakan benar. Polisi pun sudah melakukan penyidikkan. Kita tunggu kabar dari mereka ya. Tuan Miko juga masih bersama mereka.'' Sambung Kennya sambil berusaha menenangkan hati Kevin.


''Papa jangan bersedih terus. Jangan tunjukkan kesedihan Papa pada Mama. Kita harus kuat untuk Mama dan untuk adik kita yang sudah bersama Tuhan.'' Ucap Marvel dengan polosnya.


''Maafkan Papa juga ya, Nak. Papa gagal melindungi Mama.''


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ponsel Kevin berdering dan ada panggilan masuk dari Miko.


''Kevin, pelakunya sudah tertangkap. David berhasil menangkapnya. Ternyata pelaku itu menyamar sebagai tim chef. Dan dia sengaja memotong selang tabung gas dan meninggalkan putung rokok yang menyala disana. Bisa di bilang ini adalah ini semua sudah di rencakan.''


''Sekarang elo dimana?''


''Gue di kantor polisi.''


''Oke gue kesana.'' Panggilan pun berakhir.


''Ada apa Nak Kevin?'' tanya Kenny.


''Pelakunya sudah tertangkap, Ayah. Aku akan ke kantor polisi. Tolong titip Keira dan Marvel ya.''


''Iya Nak. Kamu tenang saja ya.''


''Marvel, Papa ke kantor polisi dulu ya.''


''Iya Pah. Papa hati-hati ya.''


''Iya sayang.''


-


''Brengsek! Bajingan! Biadab!" umpat Kevin sambil melayangkan tinju berkali-kali ke arah wajah pelaku yang terduduk di ruang interogasi. Darah pun mengalir dari kedua ujung bibir tersangka itu. Kevin tidak bisa membendung lagi amarahnya, ia secara membabi buta memukul wajah pelaku itu.


''Kevin cukup!" kata David sambil memegangi tangan Kevin.


''Apa? Jadi Keira hamil?'' sahut Miko.


''Iya Mik. Keira hamil tiga minggu dan hari ini seharusnya menjadi sebuah kejutan untuk gue. Tapi manusia biadab menghancurkan semuanya.''


Miko yang ikut geram, ikut melayangkan pukulan ke wajah dan perut pelaku itu. Miko sendiri sangat menyayangi Kevin dan sudah menganggap Kevin sebagai Kakak kandungnya sendiri. Kesedihan Kevin adalah kesedihan baginya, sekalipun mereka sering sekali bertengkar.


''Brengsek juga ya elo!" umpat Miko.


''Dia hanya suruhan, Kev. Dan kita sedang memburu pelaku yang sebenarnya. Kasus ini sama dengan kasus hoax yang menimpa Keira. Dan orang yang menyuruhnya adalah orang yang sama. Kita sudah mencetak sketsa wajah pria itu dan menempelkannya sampai ke penjuru kota. Jadi dia sedang dalam buronan. Bisa jadi, buronan itu juga seorang kaki tangan karena pelaku yang sebenarnya tidak mau mengotori tangannya.'' Jelas David.


''Sial! Aaaaaa!" teriak Kevin sambil menjungkir balikkan meja di hadapannya itu. David kemudian mengajak Kevin dan Miko menuju ruangannya. Pelaku itupun sudah babak belur di tangan Kevin dan petugas membawa pelaku itu ke dalam sel tahanan.


''Dan untuk menyelidiki kasus kecelakaan orang tuamu, aku harus menangkan Tuan Sandi untuk transaksi ilegal yang dia lakukan. Sekarang tim ku bersama agen FBI sedang menyelidiki ke pusat perusahaannya berada di Hongkong. Dia bahkan setiap bulan pindah negara hanya untuk menutupi kejahatannya tapi semua akses bisnisnya ada di Hongkong. Jadi lebih baik kita harus hati-hati. Yang jelas semua bukti yang kami berikan memang nyata adanya. Kami berhasil menutup beberapa perusahaan ilegal miliknya. Kita harus bekerja seperti tikus jadi kita menyerangnya diam-diam sampai mereka tidak merasa kalau kita sudah bekerja. Aku bahkan tidak melibatkan namamu dalam hal ini. Ini murni penangkapan bisnis ilegalnya dan setelah bukti cukup, kita bisa melimpahkan kasus itu lagi dan membuatnya semakin tersiksa dengan pasal hukuman berlapis.'' Jelas David panjang lebar.


''Terima kasih untuk bantuanmu, David. Manusia seperti itu memang pantas di musnahkan. Apa tersangka ini benar-benar tidak tahu siapa yang menyuruhnya selain oria itu?''


''Tidak Kevin. Pelaku yang sebenarnya masih bersembunyi. Kita bisa mengetahuinya setelah pria itu tertangkap. Tenanglah, setidaknya untuk istrimu.''


''Lalu bagaimana kondisi Keira, Kev?'' tanya Miko.


''Masih belum sadar, Mik. Yang paling bikin gue marah, ada calon anak gue di dalam rahim Keira. Keira sengaja menyembunyikan kehamilannya hanya untuk memberikan gue kejutan di hari jadi kami ini. Kenapa gue ngrasa kalau gue ini pembawa sial ya?''


''Udah deh jangan ngaco! Hal seperti itu tidak ada. Mereka aja yang bodoh dendam kesumatnya masih di pelihara. Gue yakin ini ada hubungannya sama Mauren. Elo harus selidiki Mauren juga.''


''Tapi gimana caranya?''


''Biar anak buahku yang mengurusnya, Kev. Dia akan menyamar menjadi office boy di kantormu. Aku akan membekalinya kamera kecil dalam bentuk bolpoin, supaya dia bisa mendapatkan bukti yang akurat. Kamu tidak bisa bekerja sendirian dengan keadaan yang seperti ini.'' Sambung David.


''Aku sangat beruntung memiliki kalian. Aku tidak tahu kalau tidak ada kalian disini.''


''Itulah gunanaya sahabat dan saudara.'' Sahut Miko.


''Oh ya, sebelum Keira tidak sadarkan diri, dia bilang padaku kalau orang itu masih hidup.'' Kata Kevin.


''Orang siapa Kev?'' tanya Miko.


''Orang yang jemput gue di bandara itu, Mik.''


''Bukannya dia dinyatakan meninggal dan terbakar sama mobil elo ya.''


''Sepertinya kematiannya di palsukan dan gue percaya sama Keira.''


''Oke. Kita juga akan mencari keberadaan orang itu. Kita tunggu Keira sadar, aku yakin dia sudah mengingat hal itu. Bisa jadi ledakan dan api dari kejadian tadi, membuat ingatan masa kecilnya pulih. Karena pasti kejadiannya hampir sama.'' Kata David.


''Iya bener juga sih, Dav. Udah Kev, elo fokus sama Keira aja, biar ini gue sama David yang urus.'' Kata Miko.


''Sekali lagi terima kasih untuk semuanya.''


''Sudah menjadi tugasku sebagai seorang polisi, Kev. Jadi tidak perlu mengucapkan itu.''


-


Sementara itu Mauren di apartemennya tampak gusar karena wajah anak buahnya sudah terpampang di berbagai media dan setiap sudut kota.


''Brengsek! Dasar bodoh! Kenapa bisa ketahuan sih.'' Mauren yang murka mengacak-acak isi apartemennya.


''Aku tidak boleh ketahuan. Awas saja kalau sampai dia mengatakan yang sebenarnya. Aku sendiri yang akan membunuhnya. Aku harus tenang dan tidak boleh terlihat panik. Aku harus berakting dengan penuh empati.'' Ucap Mauren yang berusaha menenangkan dirinya. Padahal Mauren sendiri merasa sangat was-was dan ia mulai merasa tidak tenang.


Bersambung....