Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 286 Say, YES!


Setelah selesai menemui klien, Tommy dan Nadia pergi makan siang bersama. Disana mereka berdua tertawa terbahak-bahak dan tampak sangat akrab.


''Nad, kasihan Leon. Mau sampai kapan kamu akan mengujinya?'' tanya Tommy di iringi dengan tawanya. Ya, Tommy sebenarnya adalah sepupu Nadia. Tommy sendiri sudah mempunya calon istri. Nadia sekalian saja memanfaatkan Tommy untuk menguji keseriusan Leon padanya. Dan Tommy pun setuju dengan rencana Nadia.


''Biarinlah Tom. Aku justru suka melihatnya seperti itu.''


''Dia pria yang baik dan aku mendukung hubungan kalian. Jangan kelamaan digantung, nanti dia bisa pergi, Nad. Kamu harus percaya dan jangan ragu sama Leon.''


''Habis gimana ya, aku sendiri tahu bagaimana perasaan Leon pada Nyonya Keira. Aku khawatir kalau aku hanya sebagai pelampiasannya saja, Tom. Aku takut berhubungan dengan seseorang yang masa lalunya belum selesai.''


''Itu kan dulu. Lagi pula Nyonya Keira itu kan sudah punya suami dan berkeluarga. Jadi apa yang membuatmu takut, Nad? Toh Leon juga tidak akan mengambil Nyonya Keira. Kalau memang dari awal Nyonya Keira menyukai Leon, tidak mungkin Nyonya Keira akan memilih suaminya. Pasti dia juga akan menerima Leon saat itu. Jangan kamu gantung Leon lama-lama, pria yang baik tidak datang dua kali, Nad. Meskipun usianya lebih muda dari kamu tapi dia dewasa menurutku. Aku yakin dia bisa menjaga kamu, Nad. Sebenarnya bagaimana perasaan kamu pada Leon?''


''Apa yang kamu katakan memang benar. Sejujurnya aku memang mempunyai perasaan yang sama pada Leon. Hanya saja aku ingin meyakinkan perasaanku kalau dia memang serius dan bukan menjadikan ku sekedar pelampiasan saja.''


''Dia berani melamar kamu dan mengajak kamu menemui orang tuanya, itu sudah sangat serius, Nad. Melihat usianya yang masih muda, dia tidak banyak basa-basi. Kalau dia hanya mempermainkan kamu, dia tidak akan berani mengajak kamu menikah. Apalagi dengan latar belakang keluarga seorang pengusaha. Kalau Leon mau, dia bisa saja menunjuk wanita yang dia inginkan. Tapi nyatanya, dia malah mengejar dan memilih kamu. Apalagi di hadapanku, dia dengan gentle mengakui kalau kamu adalah calon istrinya. Cepat beri dia jawaban, Nad. Jangan buat dia terlalu lama menunggu. Nanti kalau dia jenuh, lelah dan menyerah, kamu pasti akan menyesal. Pria akan berhenti berjuang, kalau perjuangannya itu tidak di hargai.''


''Iya-iya, aku akan secepatnya memberikan dia jawaban.''


''Ditambah lagi, aku lelah pura-pura akting.'' Ucap Tommy terkekeh.


''Ya tidak apa-apalah akting. Kamu kan juga perlu tahu pria mana yang bisa menjaga aku. Sekalian menguji dia, Tom.''


''Dasar kamu! Urusan cinta Bu jaksa ini memang benar-benar aneh, pakai ujian segala.''


''Lebih baik habiskan makanan, setelah ini kita lanjut kerja lagi.''


''Iya deh yang di apartemennya ada yang nungguin.'' Goda Tommy.


-


''Ahh melelahkan sekali. Tapi semuanya sudah rapi, makanan sudah siap dan kamar ini sudah sangat cantik. Aku tinggal menunggu Nadia pulang.'' Leon kemudian merebahkan sejenak tubuhnya di atas tempat tidur.


Tepat jam 8 malam, Nadia sampai juga di apartemen bersama Tommy.


''Ingat ya Nad, segera berikan Leon jawaban. Jangan menggantungnya terlalu lama.'' Pesan Tommy pada sepupunya itu.


''Iya-iya, kamu tidak usah khawatir, Tom. Sekali lagi terima kasih ya sudah banyak membantuku. Kamu hati-hati dan salam untuk Helena. Sampaikan maafku padanya karena aku selalu menganggumu.''


Tommy tertawa kecil. ''Iya, jangan khawatir. Aku akan memberitahu Helena. Helena sendiri juga tidak sabar menanti next episode kisah cinta Leon dan Nadia kedepannya seperti apa.''


''Hmmm kalian ini sama saja ternyata,'' ucap Nadia dengan senyumnya.


''Sudah turun sana, calon suamimu sedang menunggumu.''


''Aku rasa dia sudah pulang. Lihat saja dari sini, kamarku lampunya padam. Ya sudah aku turun dulu ya, kamu hati-hati di jalan.''


''Iya, tenang saja. Sukses ya, Nad. Aku tunggu undangan pernikahan kalian,'' goda Tommy.


''Doakan saja ya,'' jawab Nadia terkekeh. Nadia lalu turun dari mobiln Tommy dan segera pergi menuju lantai apartemennya.


Sesampainya di depan apartemennya, Nadia lalu masuk begitu saja.


''Le-Leon. Apa kamu yang menyiapkan semua ini?''


''Iya. Ini semua untuk kamu dan aku menyiapkan semuanya sendiri. Makanan di atas meja itu juga aku yang memasaknya. Aku juga merapikan semua isi ruanganmu ini.''


''Jadi kamu seharian ini disini?''


''Iya Nadia. Aku ingin menunjukkan kalau aku serius dan benar mencintaimu. Tapi kali ini aku sungguh ingin mendengar jawabanmu. Kalau kamu menerimaku, kamu terima bunga ini. Tapi kalau kamu menolakku, tiup lilin yang ada di atas meja itu. Kalau memang kamu menolakku, aku siap pergi dari hidupmu dan aku tidak akan pernah menganggumu lagi. Karena aku sadar, cinta tidak bisa di paksakan dan tidak harus memiliki.''


Nadia bisa melihat ketulusan dari tatapan mata Leon. Nadia kemudian mendekat ke arah Leon hendak menerima bunga itu. Leon merasa lega sesaat, namun tiba-tiba Nadia justru melewatinya dan mendekat kearah meja makan. Seketika hati Leon terasa runtuh. Seperti ada sesuatu yang meremukkan hatinya begitu saja. Perlahan Leon berbalik, ia melihat Nadia meniup lilin itu. Mata Leon berkaca-kaca berusaha menahan air mata kekecewaannya melihat apa yang di lakukan oleh Nadia. Nadia kemudian mengambil cincin yang ia simpan di laci. Cincin pemberian Leon waktu itu. Leon semakin hancur, saat Nadia mengambil cincin itu. Nadia lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan Leon.


''Maafkan aku, Leon.'' Ucap Nadia lirih. Leon berusaha tersenyum dan sebisa mungkin menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun pelupuk mata Leon sudah tidak mampu lagi menahan air mata yang menggenang itu, hingga akhirnya ia membiarkan bulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Nadia terkejut melihat bulir air mata Leon. Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang meneteskan air mata di hadapannya. Nadia lalu mengambil buket bunga di tangan Leon. Leon menjadi bingung, tidak mengerti apa yang akan di lakukan oleh Nadia. Nadia dengan tersenyum mengulurkan tangannya pada Leon. Leon sama sekali tidak mengerti.


''Leon, kenapa kamu diam?'' ucap Nadia.


''Maksud kamu apa Nad?''


''Ditanganmu itu apa?''


''Cincin,'' jawab Leon dengan polosnya.


''Apa cincin itu mau kamu pegang saja? Aku sudah mengulurkan tanganku. Seharusnya kamu memasangkannya di jari manisku.''


''Maksud kamu?'' tanya Leon tergagap. Ia masih tidak mengerti.


''Aku menerima cintamu dan aku mau menikah denganmu.'' Sontak, ucapan Nadia membuat Leon tersenyum tidak percaya. Bahkan bulir air mata itu jatuh kembali. Namun kali ini air mata bahgai. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nadia.


''Ka-kamu serius Nad?''


''Iya, aku serius.''


''Tapi kenapa kamu meniup lilin itu?''


''Sudah, kamu pakaian saja dulu cincinnya. Tanganku pegel nih,'' protes Nadia.


''I-iya.'' Leon kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Nadia. Leon kemudian memeluk erat Nadia.


''Terima kasih ya, Nad. Kamu hampir saja membuatku mati berdiri.''


''Maaf ya, aku sudah membuatmu meneteskan air mata.''


''Ini bukti kalau aku sangat tulus padamu, Nad. Dan hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku menangis. Aku sangat mencintaimu, Nad.''


''Aku juga sangat mencintai kamu, Leon. Maafkan aku kalau aku harus membuatmu menunggu lama bahkan hampir membuatmu menyerah.''


''Aku bahagia sekali, Nad. Besok aku akan membawamu menemui orang tuaku.''


''Iya, aku datang bersama kamu, Leon.''


.......