
Sesampainya di kantor, Keira masuk begitu saja keruangan suaminya. Namun ruangan itu tampak lengang. Tas kerja dan jas yang biasa tergeletak di kursi pun tidak ada. Keira kemudian mencoba untuk menelepon Kevin namun tidak ada jawaban.
"Tumben-tumbenan Mas Kevin tidak mengangkat teleponku. Aneh deh, seperti menghindar dari aku saja. Padahal ini anyversary kita lho." Gumam Keira penuh tanya. Tak lama kemudian, Siska masuk ke dalam ruangan untuk meletakkan beberapa berkas penting.
"Nyonya!" seru Siska.
"Tuan dimana Mbak Siska?" tanya Keira.
"Tuan ada meeting di luar, Nyonya. Sejak tadi pagi belum kembali."
"Meeting, kenapa tidak denganmu?"
"Tuan berangkat sendiri Nyonya dan langsung menemui sendiri kliennya." Jelas Siska.
"Kenapa tidak bersama Pak Krisna?"
"Pak Krisna mendadak cuti hari ini."
"Kalau begitu, aku minta alamat meeting suami ku.", Pinta Keira dengan nada sedikit kesal. Siska terdiam sejenak dan tidak mengiyakan permintaan Keira.
"Mbak Siska, kok diam? Tidak ada yang di sembunyikan suami ku kan? Hari ini dia aneh dan melupakan hari spesial kami," cerita Keira dengan kesalnya.
"Tapi Tuan bilang tidak mau di ganggu sampai jam makan siang selesai, Nyonya."
"Tapi kan aku istrinya."
"Sekalipun itu anda, Nyonya."
"Apa? Tuan bilang begitu. Memang siapa kliennya? Sampai istri sendiri di larang menganggu."
"Seorang pengusaha muda dari Malaysia, Nyonya."
"Pria atau wanita?" selidik Keira.
"Wanita muda, Nona."
"Jadi sejak kapan mereka meeting? Apa hanya berdua?"
"Sejak jam 6 pagi tadi Tuan menjemputnya di bandara, setelah itu melanjutkan meeting."
"Apa? Sampai menjemputnya segala? Kenapa Mas Kevin tidak cerita? Keterlaluan sekali dia. Memang secantik apa wanita itu? Mentang-mentang aku sekarang makin berisi, dia mau enak-enakan cuci mata di luar sana." Gerutu Keira menahan kesalnya.
"Mbak Siska, apa aku sudah tidak cantik lagi?" tanya Keira.
"Nyonya cantik kok. Bahkan semakin cantik saat sedang hamil."
"Lalu wanita itu, cantik apa tidak?"
"Wanita itu cantik, mirip ini Kylie Jenner."
"Mirip Kylie Jenner? Berarti dia bukan hanya cantik tapi seksi. Mas Kevin memang sangat keterlaluan. Tidak cerita apa-apa kalau punya klien seksi. Awas saja kalau sampai dia selingkuh! Udah tahu istri hamil besar, malah ganjen." Gumam Keira dalam hati.
"Berikan alamatnya Mbak, aku mau menemui suamiku langsung." Pinta Keira.
"Nanti Tuan marah dengan saya, Nyonya."
"Aku ini istrinya, Mbak. Kalau dia marah, aku yang akan marah-marah. Atau kamu menyembunyikan sesuatu juga? Atau jangan-jangan wanita itu simpanan Tuan?" ucap Keira dengan sorot mata tajamnya.
"Ti-tidak Nyonya."
"Mereka meeting berapa orang?"
"Tuan sendiri dan wanita itu bersama satu asistennya saja." Jelas Siska.
"Berarti cuma bertiga. Kalau meeting di hotel dan mereka ada affair, asistennya suruh pergi juga nurut. Memang Mas Kevin ini keterlaluan sekali," Keira merutuk dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tuan meeting dimana? Berikan alamatnya." Pinta Keira dengan emosi yang mulai terbakar.
"Di hotel S, lantai 7, kamar 2345." Jelas Siska.
"Baiklah aku pergi, Mbak. Dan makan siang itu, Mbak ambil saja."
"Iya Nyonya terima kasih."
"Baik Nyonya." Jawab Siska. Keira kemudian meninggalkan ruangan Kevin dan segera menuju hotel S. Selama dalam perjalanan, Keira masih berusaha untuk menelepon Kevin namun Kevin juga tak kunjung menjawab.
"Nyebelin banget kamu, Mas. Kamu tidak biasanya seperti ini. Bener-bener deh, awas aja kalau sampai kamu macam-macam." Keira terus mendumel selama perjalanan. Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Keira sampai juga di hotel. Ia segera menuju lift dan menekan lantai 7.
Kini perasaannya semakin campur aduk. Pikiran negatifnya tentang Kevin pun semakin menjadi. Sedih, gelisah, marah dan kecewa menjadi satu. Saat pintu lift terbuka, Keira langsung menuju kamar itu. Keira kemudian mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada jawaban. Keira menempelkan daun telinganya pada pintu itu, untuk mendengarkan sesuatu namun tidak ada.
"Mas, ini aku!" ucap Keira sambil kembali mengetuk pintu kamar tersebut. Kevin akhirnya membuka pintu kamar itu namun kamar itu tampak gelap.
"Sa-sayang, kamu kenapa disini?" tanya Kevin tergagap.
"Kenapa lampu kamarnya mati? Apa yang kamu sembuyikan?" selidik Keira dengan tatapan penuh rasa curiga. Kevin terdiam dan Keira menerobos masuk begitu saja.
"Mana sklarnya, Mas? Coba nyalakan! Aku ingin tahu kenapa kamu menggelapkan kamar ini? Kamu melupakan hari spesial kita dan malah menjemput wanita lain di bandara. Kamu bahkan tidak mengangkat teleponku sama sekali. Sudah tahu istri hamli, masih mau ganjen." Keira terus mengeoceh, sementara Kevin berusaha menahan senyumnya. Ocehan Keira berhenti, saat lampur kamar hotel menyala. Tringggg!!!!! Keira terkejut melihat apa yang ada di dalam kamar itu. Matanya pun berkaca-kaca menahan rasa bahagia dan haru. Kamar yang dihias dengan begitu indah dan mewahnya. Kelopak bunga mawar yang tersusun rapi berbentuk hati di atas tempat tidur, deretan lilin yang juga berbentuk hati, serta balon yang bertuliskan happy anyverseray first year, semakin membuat suasa romantis. Buket bunga berbentuk love dari rangakaian mawar merah menjadi pelengkap pesta kejutan itu. Kevin juga menyiapkan sebuah kotak hadiah diatas tempat tidur untuk istrinya. Dan makan siang romantis juga sudah diatur di dalam kamar tersebut. Kevin kemudian memeluk istrinya dari belakang.
"Happy anyversary sayang. Terima kasih sudah satu tahun mewarnai kehidupan ku. Maaf ya kalau hari ini aku sudah membuatmu kesal." Mendengar ucapan suaminya, akhirnya air mata itupun lolos dari pelupuk matanya. Keira lalu berbalik menghadap suaminya.
"Kamu jahat, Mas! Kamu tega ya ngerjain aku." Keira memukul dada suaminya.
Kevin tersenyum lalu menyeka air mata istrinya. "Maaf ya sayang, aku sengaja menyiapkan semua kejutan ini untuk kamu."
"Jadi kamu berangkat pagi-pagi dan ucapan Siska itu, bohong?"
"Iya, aku memang sengaja ingin mengerjai kamu. Ummm bukan mengerjai tapi memberi kejutan spesial untuk kamu."
"Maafkan aku ya Mas, aku sudah berburuk sangka padamu. Sudah tahu aku akhir-akhir ini suka nethink tapi kamu malah begini."
"Kalau tidak memanfaatkan pikiran buruk kamu, aku tidak mungkin bisa menyiapkan kejutan ini, sayang." Ucap Kevin. Keira kemudian memeluk erat suaminya.
"Terima kasih ya, Mas. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku, aku justru tidak membelikanmu hadiah atau kejutan apapun."
"Sayang, yang ada di perut kamu ini adalah hadiah yang paling berharga. Justru aku yang berterima kasih karena kamu memberikan hadiah yang luar biasa ini. Dan yang pasti sampai kapanpun, aku selalu mencintai kamu. Ayo sekarang kita makan saja dulu ya. Sudah waktunya jam makan siang."
"Padahal aku sudah membawakan makan siang untukmu tadi."
"Kenapa tidak kamu bawa?"
"Aku kesal dan aku berikan pada Mbak Siska saja." Ucap Keira. Kevin terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Sekali lagi maaf ya sudah membuatmu kesal." Kevin dan Keira kemudian makan siang bersama dengan penuh kehangatan dan keromantisan.
Selesai makan siang, Kevin mengambil sebuah kotak yang berada di atas tempat tidur.
"Ini hadiah untuk kamu sayang."
"Hadiah apa Mas?"
"Kamu buka saja."
Keira lalu membuka isi kotak itu dan ternyata sebuah kalung.
"Cantik sekali, Mas. Tapi kan aku sudah punya, Mas. Ini yang dari kamu masih aku pakai, masa iya mau aku pakai juga. Kalau ini di pakai buat sehari-hari terlalu glamor Mas. Takut memancing kejahatan."
"Iya kamu simpan saja sayang. Aku sendiri bingung ingin membelikan kamu apa. Jadi aku pilih kalung saja, bisa untuk investasi juga kan? Apalagi ini koleksi terbaru dan berliannya sangat bagus sekali."
"Mas, kejutan seperti ini saja sudah sangat membuatku bahagia. Tidak perlu perhiasan segala. Dengan kamu tetap disisi aku itu adalah hal yang luar biasa."
"Iya sayang, aku mengerti. Kamu memang terbaik." Keduanya lalu saling tersenyum dengan tatapan penuh cinta.
"Karena kita sudah disini, sayang sekali kalau kita melewatkan momen berharga untuk bercinta. Apa kamu setuju sayang?" tanya Kevin.
"Iya, aku setuju Mas." Jawab Keira malu-malu. Tanpa basa-basi lagi, mereka kemudian saling bercumbu dan bercinta dalam gairah yang menggebu. Kenikmatan yang menelusup dalam kalbu, membuat momen romantis itu semakin panas. Decapan-decapan lembut khas bercinta, memenuhi seisi ruangan. Kevin pun begitu piawai mengatur posisi bercinta disaat perut Keira sudah mulai membuncit. Tak ada kendala yang bisa menghalanginya untuk mencumbu setiap inchi tubuh istrinya. Karena tak bisa leluasa bergerak seperti sebelum hamil besar, Keira tetap bisa menikmati irama bercinta yang di berikan oleh Kevin.
"Mas, kamu selalu bisa memuaskanku." Ucap Keira di sela-sela desa..hannya.
"Harus dong, sayang. Nafkah lahir dan batin itu harus puas juga keduanya. Jadi harus seimbang, bukankah begitu?"
"Kamu memang luar bisa sekali."
Bersambung....