Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 208 Anak Cerdik!


''Hai Jo!" sapa Keira begitu ia sampai di cafenya Johan. Mendengar suara nyaring Keira, Johan menghentikan aktivitasnya mengelap meja.


''Hai, Kei. Duduk yuk!" kata Johan.


"Udah punya pegawai masih aja lap-lap meja.''


''Masih dikit Kei pegawai gue. Eh kok nggak ngasih kabar sih kalau kesini."


"Yaelah bukannya udah biasa ya gue slonang-slonong sama Laras waktu elo masih kerja di cafe dulu.''


''Hehehe iya juga sih.''


''Oh ya Bu Tessa mana?'' tanya Keira sambil celingak-celinguk.


''Ada di belakang kok, Kei.''


''Eh room tour cafe elo dong, soalnya besok Mas Kevin mau reservasi tempat disini buat meeting.''


''Ah serius nih, Kei?''


''Ya iyalah serius, masa iya gue bohong."


"Untuk berapa orang Kei?''


''Untuk lima belas orang, Jo. Paginya elo sediain kue basah gitu sama capucino hangat. Terus siangnya terserah karyawan Mas Kevin mau pesan apa.''


''Ada ruang meeting di atas. Ya maklumlah cafenya belum segede itu. Kalau mau lihat ayo gue tunjukin.'' Kata Johan.


''Oke, sekalian room tour ya. Gue mau ke dapurnya dulu dong.''


Johan kemudian mengajak Keira untuk keliling cafenya. Saat sampai di dapur, Keira melihat Tessa yang sedang merapikan perabot.


''Halo Bu Tessa,'' sapa Keira dengan senyum ramahnya.


''Keira! Ya ampun ada tamu rupanya,'' ucap Tessa seraya menghentikan aktivitasnya. Mereka kemudian saling berpelukan.


''Bagaimana kabar kamu, Kei? Terus babynya bagaimana?''


''Kami sehat semua cuma ya begitulah Bu, kadang masih suka mual, pusing dan muntah.''


''Wajarlah kan masih hamil muda memang begitu bawaannya.'' Ucap Tessa sambil mengelus perut Keira yang masih rata itu.


''Tessa jadi begini, Keira besok mau reservasi tempat untuk meeting suaminya. Untuk pagi dia mau kue basah dan capucino hangat terus untuk siangnya mereka langsung pesan besok saja.''


''Wah, alhamdulillah udah dapat pesanan.''


''Ini nih Bu, pagi-pagi sudah ada yang berisik minta di plarisin, maksa lagi,'' kata Keira sambil melirik kearah Johan.


''Kamu paksa Keira ya, Jo.'' Kata Tessa penuh selidik.


''Hehehe bukan maksa tapi promo. Udahlah Keira kan banyak uang, lagian suaminya juga pasti akan menuruti semua keinginannya.''


''Ya tapi nggak gitu juga, Jo. Ah, kamu ini,'' ucap Tessa sambil mencubit perut Johan.


''Tidak apa-apa Bu, kita ini sahabatan juga sudah lama kok. Jadi ya hal seperti itu sudah biasa.''


''Tapi tetap aja bikin malu, Kei.''


''Ya udah mending kita terusin room tournya sambil ngobrol-ngobrol.'' Kata Johan.


''Ayo, Kei!" ajak Tessa sambil menggandeng tangan Keira.


''Oh ya Kei, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Kata Anrez akhir-akhir ini di sekolah ada kegiatan alam di sekolah ya? Katanya masing-masing kelas disibukkan dengan membuat tanaman buatan, katanya untuk di lombakan. Karena selama tiga hari terakhir, Anrez setia sekolah selalu memakai sandal. Sepatu dan tasnya di masukkan ke dalam kantong kresek. Katanya biar nggak kotor sampai-sampai dia terlalu nyaman sekolah pakai sandal.''


Keira terdiam, ia bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Tessa.


''Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh Anrez? Kenapa dia sekolah pakai sandal? Sampai Marvel membelikan sepatu dan tas untuk Anrez.'' Gumam Keira dalam hati penuh tanya.


''Sepertinya iya, Bu.'' Jawab Keira dengan terpaksa berbohong.


''Aku pikir Anrez berbohong, Kei. Tapi syukurlah kalau begitu.'' Ucap Tessa dengan tersenyum lega.


Jam istirahat sekolah, Marvel segera menuju kelas Anrez. Marvel dan Anrez memang beda kelas tapi keduanya selalu bermain bersama. Marvel sudah cocok bermain dengan Anrez, begitu juga sebaliknya. Namun saat sampai di kelas, Anrez tidak ada di kelasnya.


''Kemana si Anrez?'' gumam Marvel. Marvel kemudian mencari Anrez di kantin tapi Marvel tidak menemukannya. Ia kemudian menuju lapangan bola tapi Anrez tidak ada juga.


''Kemana sih Anrez? Udah muter-muter nyariin tapi nggak ada,'' gumamnya dengan kesal. Marvel kemudian menuju taman tapi tidak ada. Dengan nafas terengah-engah Marvel tetap berusaha mencari Anrez.


Sampai akhirnya Marvel sampai di gudang belakang sekolah. Marvel mendengar suara seseorang merintih.


''Aku tidak punya uang lagi, Kak.'' Ternyata Anrez sedang di kerjai oleh Kakak kelasnya. Gerombolan anak kelas 6 itu merobek kedua sepatu Anrez dengan cutter, lalu mengalungkan sepatunya ke leher Anrez.


''Jangan robek lagi, Kak. Kemarin kamu sudah merobeknya.'' Suara Anrez gemetar ketakutan.


''Makanya bagi duit. Kalau nggak bagi duit, aku bakar sepatumu.'' Ancam leader salah satu dari mereka. Marvel yang mengintip di balik dinding, tidak menyangka bahwa Anrez mengalami hal buruk yang pernah menimpanya dulu.


''Anrez!" panggil Marvel.


''Mar-Marvel,'' Anrez tergagap.


''Ayo ke kelas!" ajak Marvel dengan santainya.


''Kak lepaskan dia!" seru Marvel.


''Bagi duit dulu!" kata leader gerombolan empat anak itu.


''Oke tapi lepaskan dia dan kalian akan mendapatkan uang ini, kalau kalian berempat bisa mengejar dan menangkapku.'' Kata Marvel sambul mengibaskan dua lembar uang seratus ribuan.


''Marvel, jangan lakukan itu! Besok mereka akan memalakmu lagi,'' kata Anrez.


''Ahh berisik!" kata leader itu sambil mendorong Anrez sampai Anrez terjatuh di tanah.


''Bagaimana? Bisa mengejarku?'' tantang Marvel.


''Anak kelas dua mau menantang kita,'' ucap mereka seraya tertawa.


''Ya sudah kejar aku!" kata Marvel.


''Anrez, kamu di panggil kepala sekolah jadi cepatlah kesana.'' Kata Marvel. Anrez yang polos mengangguk saja dan segera pergi dengan sepatu robeknya. Apa yang Marvel lakukan untuk mengalihkan perhatian mereka dari Anrez. Marvel kemudian berlari dan mereka berempat kompak mengejar Marvel. Sementara Anrez buru-buru pergi menuju ruang kepala sekolah. Belajar dari pengalaman di sekolah lamanya, Marvel tidak terpancing oleh emosi tapi dia berpikir cerdas untuk mengelabuhi mereka.


''Anak seperti mereka di bawa ke ruang kepala sekolah sudah takut. Untung saja Mama mendaftarkan aku untuk kursus bela diri jadi aku berlari dengan cepat.'' Gumamnya dalam hati. Marvel sengaja mengerjai mereka dengan menggiring mereka ke ruang kepala sekolah dengan cara mengajak mereka berkeliling sampai Anrez sampai terlebih dulu di ruang kepala sekolah. Marvel khawatir jika Anrez belum sampai disana, mereka akan mengerjai Anrez lagi. Sesuai perkiraan dan hitungannya, Anrez sudah sampai di ruang kepala sekolah. Kepala sekolah bingung kenapa Anrez ada di sana.


''Anrez ada apa kamu kemari?'' tanya Pak Kepsek.


''Bu-bukannya Bapak menyuruh saya kemari?''


''Lho siapa yang menyuruh kamu kemari? Tapi kenapa baju kamu kotor? Terus sepatu kamu kenapa robek seperti itu?'' tanya Pak Kepsek. Anrez terdiam dan ia merasa takut. Ia hanya bisa menunduk sambil *******-***** tangannya sendiri.


GUBRAK! Suara Marvel terjatuh membuat pintu ruang kepala sekolah terbuka.


Pak Kepsek terkejut. ''Marvel! Kamu ini apa-apan?''


''Ma-maaf Pak, mereka mengganggu saya.'' Kata Marvel sambil menunjuk kearah empat gerombolan anak nakal itu yang berdiri di ambang pintu. Pak Kepsek kemudian beranjak dari duduknya dan melihat keluar.


''Mereka mengejar saya dan memalak saya, Pak. Itu uang saya di bawa mereka.'' Kata Marvel dengan ekspresi ketakutan. Pak Kepsek lalu membantu Marvel berdiri. Sementara Anrez tampak bingung dengan apa yang di lakukan oleh Marvel.


''Oh kalian ya? Mentang-mentang kalian kelas 6, kalian bisa menggangu adik kelas kalian?'' kata Pak Kepsek dengan nada meninggi. Pak Kepsek lalu menjewer merek berempat dan membawanya masuk. Marvel menyeringai berhasil mengerjai mereka tanpa menggunakan kekerasan. Saat Marvel sudah sampai di depan ruang kepsek, Marvel melempar uang itu ke arah mereka dan mereka dengan senang hati memungutnya. Setelah itu Marvel pura-pura terjatuh untuk menjebak mereka dalam perangkapnya.


''Kalian ini mau jadi generasi macam apa kalau seperti ini?'' bentak Pak Kepsek.


''Pak, Anrez juga korban mereka. Mereka merobek paksa sepatu Anrez dengan cutter untuk mengancam Anrez supaya Anrez memberi mereka uang. Tadi saya melihat semuanya terus gantian saya yang di mintai uang, Pak.'' Cerita Marvel dengan ekspresi takut dan memelas.


''Kalian ini benar-benar keterlaluan. Saya akan memanggil orang tua kalian.'' Bentak Pak Kepsek.


''Yah jangan, Pak. Kami hanya bercanda saja dengan mereka.'' Kata leader gerombolan itu.


''Kalian harus di beri pelajaran supaya hal seperti ini tidak terulang lagi. Untuk Marvel dan Anrez, kalian kembali ke kelasnya. Bapak akan menghubungi orang tua kalian juga.''


''Iya Pak.'' Jawab Marvel. Marvel terseyum penuh kemenangan, ia kemudian menggandeng Anrez lalu mengajaknya ke kelas.


Bersambung....