
Marvel kemudian mengajak Anrez ke kelasnya untuk memberikan tas dan sepatu yang sudah ia persiapkan untuk Anrez.
"Ini untukmu, Anrez."
"Apa ini Marvel?"
"Ini sepatu dan tas untukmu. Pasti tas dan sepatumu rusak karena mereka kan?''
''Ti-tidak,'' jawab Anrez tergagap.
''Sudahlah, ayo mengaku. Aku sudah melihat semuanya, Anrez.'' Kata Marvel sambil memegang kedua bahu Anrez. Anrez sejenak terdiam lalu mengangguk.
''Apa Mama mu tahu?''
''Tidak. Jangan sampai Mama tahu, Marvel. Aku tidak ingin membuatnya sedih.''
''Oh pantas saja kamu selalu memakai sandal saat ke sekolah dan meletakkan tasmu di kantong plastik. Apa ini alasannya?''
''I-iya Marvel.''
''Hhhhh seharusanya kamu cerita pada Mama mu, Anrez. Karena ini merupakan tindak kekerasan.''
''Aku takut karena mereka mengancamku.''
''Sejak kapan mereka melakukan itu padamu?''
''Sejak empat hari terakhir. Awalnya aku memberinya, aku pikir dia tidak meminta lagi tapi ternyata besoknya mereka meminta uang lagi padaku. Bahkan mereka mengancamku.''
''Untung saja aku melihatmu tadi. Bagaimana kalau kejahatan mereka tidak terungkap? Pasti akan ada anak-anak lain yang bernasib sama sepertimu.''
''Terima kasih ya Marvel, kamu sudah menolongku. Aku takut dengan ancaman mereka dan aku tidak mau membuat Mama menjadi sedih. Dan aku juga tahu kalau Mama sedang tidak punya uang jadi aku terpaksa menyembunyikan sepatu dan tasku yang rusak ini.''
''Anrez, aku dulu juga pernah berada di posisimu tapi bedanya aku melawan mereka.''
''Iya Marvel terima kasih ya untuk semuanya. Tas dan sepatunya bagus, aku menyukai.''
''Aku senang sekali karena kamu menyukainya. Setelah ini kedua orang tua kita akan di panggil ke sekolah. Aku harap kamu jujur ya dengan Mama kamu.''
''Iya Marvel.'' Keduanya kemudian saling berpelukan.
Keira yang masih berada di cafe Johan merasa terkejut karena mendapat panggilan dari kepala sekolah. Disaat yang bersamaan, Tessa juga mendapat telepon dari sekolah.
''Lho Kei, ini aku juga di telepon kepala sekolah. Ada apa dengan anak-anak?''
''Ya sudah Bu, sebaiknya kita langsung ke sekolah saja. Aku juga khawatir kalau Marvel membuat ulah.''
''Ya sudah Tessa, ayo aku antar kamu! Keira juga masih di tunggu sama supirnya,'' sahut Johan.
Mereka bertiga akhirnya berangkat ke sekolah, Keira sengaja tidak memberitahu Kevin karena itu akan mengganggu pekerjaan Kevin. Lebih baik ia cerita kalau Kevin sudah di rumah saja.
Sesampainya di sekolah, Keira, Tessa dan Johan segera menuju ruang kepala sekolah. Namun Johan lebih memilih menunggu di luar karena ia belum memiliki hak penuh atas Anrez. Diruang Pak Kepsek sudah ada Marvel dan Anrez yang duduk disana.
''Jadi begini Nyonya, kami meminta maaf atas kelalaian kami sebagai seorang pendidik. Karena Marvel dan Anrez harus mengalami bullying. Siswa kelas 6 memalak adik kelasnya sampai melakukan tindak kekerasan dan ancaman. Kami pihak sekolah langsung dengan tegas mendrop out ke empat siswa tersebut. Kami tidak ingin ada bibit buruk yang menyebar di sekolah ini.'' Jelas Kepala Sekolah.
''Mereka merusak sepatu dan tas Anrez hanya demi meminta uang. Sedangkan tadi mereka melakukan hal yang sama untuk meminta uang pada Marvel.'' Sambung Kepala Sekolah.
''Terima kasih sekali Pak karena pihak sekolah menindak tegas mereka. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Karena di sekolah Marvel yang dulu, dia juga sempat mengalami hal seperti ini.'' Kata Keira.
''Iya Nyonya, maka dari itu kami langsung menindak tegas. Apalagi mereka berdua masih kelas dua dan jelas ancaman dari Kakak kelasnya bisa mengganggu psikis keduanya untuk itu kami langsung menindak lanjuti kenakalan mereka. Supaya mereka jera dan orang tua mereka lebih memperhatikan putra-putra mereka. Sekarang Marvel dan Anrez di perbolehkan untuk pulang.''
''Sekali lagi terima kasih, Pak.'' Sahut Tessa.
''Sama-sama Nyonya.''
Keira dan Tessa merasa lega setidaknya putra mereka berdua tidak membuat ulah di sekolah. Keira kemudian mengajak Tessa dan anak-anak mereka untuk duduk bersama di taman. Tak ketinggalan Johan juga bersama mereka.
''Marvel, ceritakan sama Mama apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?''
''Jadi Mah tadi Marvel pas mau ke kelas Anrez, Anrez sudah tidak ada di kelas. Jadi Marvel muter-muter nyari Anrez tapi tetap tidak ketemu. Eh pas di gudang belakang sekolah, Marvel dengar suara anak merintih ketakutan dan ternyata itu Anrez. Mereka mengancam akan menyakiti Anrez kalau sampai Anrez tidak mau memberikan uang. Akhirnya aku pancing mereka deh, Mah. Dengan menjadikan ku korban selanjutnya.''
''Dengarkan cerita ku dulu, Mah.''
''Oke lanjut, sayang.'' Kata Keira sambil mengusap kepala putranya.
''Jadi aku melakukan itu supaya Anrez bisa pergi dan aku terpaksa membohongi Anrez, kalau Anrez di panggil Pak Kepsek padahal tidak. Itu hanya akalanku untk mengalihkan perhatian mereka Mah, akhirnya aku iming-imingi mereka uang tapi dengan syarat mereka harus bisa menangkap aku. Udah deh aku ajak mereka lari-larian mengelilingi sekolah sampai perkiraanku tepat kalau Anrez sampai di ruangan Pak Kepsek. Setelah itu aku giring mereka menuju ruang Pak Kepsek. Sesampainya disana, aku berikan uang itu pada mereka terus aku menjatuhkan diriku dengan menerobos pintu ruangan Pak Kepsek. Aku terus pura-pura ketakutan dan Pak Kepsek percaya, dengan bukti uang yang mereka pegang. Terus sekalian aku aduin sikap mereka yang jahat pada Anrez. Aku berusaha untuk tidak terpancing amarah seperti nasihat Mama dulu. Dan aku juga tidak mau mengotori tanganku dengan menghajar mereka. Padahal aku bisa saja kan memukul mereka jadi aku pakai cara lain untuk memberi meraka pelajaran.'' Cerita Marvel panjang lebar dengan begitu antusiasnya. Johan pun memberikan tepuk tangan untuk Marvel.
''Wah keren! Bravo Marvel! Kamu memang anak yang cerdik. Kenapa pikiranmu sampai sejauh itu?''
''Ya aku melihat film mafia gitu, Om. Jadi kerja otak bukan kerja otot, hehehe.''
''Kamu memang hebat, Marvel! Apa yang kamu katakan memang sangat benar.'' Kata Johan sambil mengacungkan dua jempolnya pada Marvel.
''Marvel, jadi tadi kamu pura-pura saja?'' sahut Anrez.
''Hehehe iya Anrez. Maaf ya kalau aku bohong karena aku juga tidak mau kalau mereka terus bersikap seenaknya saja denganmu.''
''Padahal tadi aku sangat khawatir denganmu. Aku tadi sangat takut kalau sampai mereka juga menyakiti kamu. Terima kasih ya untuk bantuan mu.''
''Sama-sama Anrez. Untung saja Mama memasukkan ku ke kursus bela diri jadi tadi aku kuat lari jauh banget, Mah.''
''Mama bangga sekali denganmu, Nak. Kamu memang hebat,'' peluk dan cium Keira pada Marvel.
''Marvel terima kasih ya kamu sudah membantu, Anrez. Tante tidak tahu kalau tadi tidak ada kamu.''
''Sama-sama Tante.''
Namun kemudian perhatian Tessa tertuju pada sepatu Anrez.
''Anrez, sepatu itu milik siapa?''
''Oh ya maaf Mah, Anrez lupa cerita. Sepatu ini dari Marvel, dia juga memberiku tas baru.''
''Lalu tas dan sepatu kamu kemana?''
Anrez terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur pada Mamanya. ''Tas dan sepatu Anrez di rusak oleh mereka.'' Anrez menunduk.
''Oh jadi kamu ke sekolah memakai sandal untuk membohongi Mama ya?''
''Maaf Mah, Anrez tidak maksud berbohong. Anrez tidak mau membuat Mama sedih. Anrez tahu Mama tidak punya uang dan sedang dalam masa sulit jadi maaf kalau Anrez berbohong.''
Tessa terenyuh mendengar apa yang di ucapkan oleh putranya. Ia kemudian memeluk Anrez dengan sangat erat. ''Anrez, seharusnya kamu bicara pada Mama kalau terjadi sesuatu di sekolah. Kalau untuk urusan sekolah, Mama pasti akan mengusahakannya.''
''Anrez, kenapa kamu tidak bilang pada Om? Om bisa membelikan kamu tas dan sepatu baru.'' Sahut Johan.
''Maaf ya, Om. Anrez juga tidak mau merepotkan Om Johan. Om Johan sudah banyak membantu aku dan Mama bahkan kami selalu merepotkan. Belum lagi Papa juga merepotkan Om jadi Anrez tidak mau merepotkan Om lagi.''
Johan mendekat, berlutut di hadapan Anrez. Ia lalu membelai kepala Anrez. ''Anrez, Om sama sekali tidak merasa di repotkan. Om sayang kamu dan Om sudah menganggap kamu sebagai anak Om. Jadi bagi semua keluh kesah kamu pada Om juga ya, Om siap mendengar dan juga siap membantu. Kamu mengerti kan?''
''Iya Om, maafkan Anrez.''
''Marvel, sekali lagi terima kasih ya karena kamu sangat baik dengan Anrez,'' kata Tessa pada Marvel.
''Sama-sama Tante. Aku pikir tas dan sepatu Anrez memang rusak tapi ternyata ada yang sengaja merusaknya.''
''Keira, terima kasih ya.''
''Sama-sama Bu Tessa, sudah jangan di pikirkan. Apa yang di lakukan Marvel atas pemikirannya sendiri. Aku sama sekali tidak mempengaruhinya.''
''Marvel, terima kasih sudah baik pada Anrez. Kamu memang anak yang baik dan hebat tentunya,'' sahut Johan.
''Sama-sama Om. Sebagai sahabat sudah seharusnya aku melakukan itu pada Anrez.''
''Marvel terima kasih ya. Aku akan mengingat hari ini sampai kapanpun. Apalagi aku bisa mempunyai sahabat yang baik dan sehebat kamu.'' Kata Anrez
''Sama-sama Anrez.'' Marvel dan Anrez kemudian saling berpelukan. Mereka berdua lalu mengaitkan jari kelingking mereka dengan kuat. ''Best friend forever.'' Kata Marvel dan Anrez dengan kompak.
Bersambung.....