Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 170 Rasaku, Rasamu


''Darimana saja kalian? jam segini baru pulang. Benar-benar tidak ada yang peduli dengan Mama ya.'' Marah Nyonya Rosa saat melihat anak dan menantunya baru saja tida di rumah pukul 7 malam. Mendengar ucapan Mamanya, Miko dan Gina menghentikan langkahnya.


''Maafkan kami ya, Mah.'' Ucap Gina.


''Kamu juga, Gina. Semalaman tidak pulang, sama sekali tidak ada hormat dan perhatiannya pada mertua. Sudah bangga kamu menjadi seorang desainer yang terkenal? sok sibuk dan sok penting.''


''Cukup Mah, jangan marah pada Gina. Jangan selalu memojokkan Gina.'' Sahut Miko.


''Kamu juga selalu membela dia. Apa dia sudah mencuci otak kamu, Miko? sebaiknya percepat pernikahan mu dengan Nadia. Nadia juga pasti setuju dengan pernikahan ini. Mama sudah tidak sabar ingin punya cucu. Mama keburu meninggal kalau harus menunggu kalian punya anak.''


''Tidak akan ada pernikahan dengan siapapun, Mah. Hanya Gina istri Miko. Berapapun banyak wanita yang Miko nikahi, itu tidak akan membuat Mama mendapatkan seorang cucu.'' Ucap Miko dengan suara meninggi. Nyonya Rosa mengernyitkan dahinya, menatap penuh rasa bingung pada putranya.


''Maksud kamu apa, Miko?''


''Iya Mah. Yang bermasalah itu Miko bukan Gina. Jadi cukup Mama menghina Gina dan membanding-bandingkan Gina dengan Nadia.''


''Tidak mungkin Miko.'' Nyonya Rosa seakan tak percaya. Air matanya terjatuh membasahi wajahnya, begitu juga dengan Gina yang merasa sakit melihat Miko akhirnya tahu kebenaran ini.


Miko benar-benar sedih dan marah pada dirinya sendiri. ''Iya Mah. Miko yang tidak subur. Sementara Gina sangat subur dan baik-baik saja. Miko penyebabnya! Miko mandul, Mah! mandul!" ucap Miko penuh penekanan sambil menunjuk dirinya sendiri. Nyonya Rosa terduduk lemas tidak percaya dengan pengakuan putranya itu. Miko kemudian berlalu menuju kamarnya di ikuti oleh Gina. Nyonya Rosa tenggelam dalam rasa sedihnya.


''Sudah berapa lama kamu menyembunyikan ini dari ku, Gina?'' tanya Miko dengan deraian air mata.


''Maksud kamu apa, Mas?''


''Kamu jangan bohong lagi. Kamu ingin mempermainkan aku? kenapa hasil dari rumah sakit bisa berbeda? apa yang kamu sembunyikan dari aku, Gina.'' Suara Miko semakin meninggi dan itu membuat Gina takut.


''Maafkan aku, Mas. Aku tidak ada maksud untuk membohongimu atau menutupi ini semua. Aku hanya tidak ingin kamu terluka.''


''Lalu bagaimana hasil dari rumah sakit itu mengatakan bahwa kita baik-baik saja?''


''Sekali lagi maaf, Mas. Saat pertama kali pemeriksaan, kamu kan tidak ikut menunggu hasilnya karena kamu ada meeting yang tidak bisa di tinggal. Kebetulan dokter itu adalah sepupu temanku. Jujur saja saat mengetahui hasilnya aku sangat sedih. Jadi aku terpaksa meminta dokter merubah hasil yang sebenarnya. Aku tidak ingin kamu terluka dan aku tidak ingin kamu menanggung ini semua, Mas.'' Gina mulai terisak dalam tangisnya. Mendengar pengakuan Gina, Miko semakin merasa bersalah. Miko lalu menarik Gina dalam pelukannya.


''Dan kenapa kamu harus menanggung luka ini sendirian, Gina? bahkan semua kata-kata kasar Mama padamu. Aku semakin mencintaimu. Tapi kalau memang kamu ingin memiliki keturunan, aku siap melepaskanmu dengan pria lain.''


''Tidak! jangan bicara seperti itu, Mas. Masih banyak jalan untuk kita lakukan. Tidak subur bukan berarti tidak bisa memiliki anak kan, Mas? kita akan mengikuti saran dari profesor.''


''Apa ini karma ya? karma karena aku dulu menyakiti hati banyak perempuan? sekarang Tuhan menghukum ku.'' Tangis sesal Miko.


''Mas, jangan bicara seperti itu. Kamu juga sudah berubah jauh lebih baik. Hal baik juga pasti akan datang untuk kita. Aku tidak buru-buru soal momongan, Mas. Aku sudah bahagia bisa hidup bersamamu seperti ini.''


''Maafkan aku ya. Maafkan aku karena aku tidak berguna. Maafkan semua caci dan maki Mama. Kalau memang kamu mulai bosan padaku, bilang saja ya, jangan selingkuh. Karena aku akan senang hati melepasmu dan membiarkanmu bahagia.''


''Itu tidak akan terjadi, Mas.''


-


Setelah menikmati makan malam bersama di sebuah restoran, Krisna mengajak Laras untuk jalan-jalan sebentar di taman.


''Terima kasih ya Kak untuk makan malamnya. Oh ya, rasanya sejak mengenal kakak, aku semakin gendut deh.''


''Tidak apa-apa yang penting kamu sehat.'' Singkat Krisna.


''Serius? di jamin tidak melirik wanita lain?''


''Tidak akan!" ucapnya sambil tersenyum ke arah Gina.


''Kak, sepanjang jalan kita berjalan disini, kenapa tangan Kakak di saku terus sih? kan tanganku menganggur, apa tidak bisa menggandeng tanganku?''


Mendengar ucapan Gina, Krisna lalu mengeluarkan kedua tangannya dari sakunya. Gina lalu meraih tangan Krisna dan menggenggamnya.


''Seperti ini kan enak. Kita kan akan menikah jadi seharusnya Kakak jangan malu-malu.''


''Tapi nanti di lihat orang, Laras.''


''Siapa yang melihat? kita cuma gandengan tangan kan. Lagi pula minggu depan kita akan bertunangan terus tidak lama juga kita akan menikah. Oh ya terima kasih juga ya Kak, telah mengijinkan aku untuk mendesain gaun pernikahan itu.''


''Karena itu adalah gaun impianmu jadi aku mengijinkannya. Aku hanya tidak mau kalah kamu merasa lelah di hari pernikahan kita karena mengurus gaun itu. Kalau memang ada bahan yang kurang, kamu katakan saja ya.''


''Apapun yang membuatmu senang, aku akan melakukannya.''


''Baiklah kalau begitu cium aku.'' Pinta Gina.


''Hah? cium? ini kan tempat umum, Ras.''


''Tidak akan ada yang peduli dengan kita, Kak. Mmmm cium pipi saja. Kakak belum pernah menciumku sama sekali. Kita sudah mau menikah, masa iya baru ciuman satu kali dan itupun karena aku yang memaksanya.''


''Ya, semua itu kan bertahap. Kamu tahu sendiri aku bagaimana.''


''Iya-iya tapi cium aku dulu, Kak.'' Laras mengetuk-ngetuk pipinya. Krisna menghela nafas panjang, lalu menoleh kanan-kiri-belakang memastikan tidak ada yang melihat mereka. Cup! ciuman mendarat di pipi kanan Laras.


''Yah, kok nggak kerasa sih. Rasanya cuma nempel saja. Kalau mau nyium, bibirnya di monyongin gini dong, kak (sambil memonyongkan bibir). Biar kerasa kalau bibirnya nyentuh pipi, kalau seperti itu kan, kayak di sentuh pakai tangan.'' Protes Laras dengan kesal.


''Laras, kamu jangan memancing aku ya. Meksipun aku punya penyakit gugup, tapi aku pria normal. Kamu tahu, kemarin saat kamu menggodaku, aku hampir saja kelepasan.''


''Tidak apa-apa, Kak. Entahlah, aku begitu mencintaimu, Kak. Logika ku sudah mati rasanya. Sekarang pun kalau kamu memintanya, aku akan menyerahkan dengan suka rela.''


''Sebaiknya aku antar kamu pulang, daripada kamu melantur terus sejak tadi.'' Krisna lalu menggandeng Laras dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak bicara, Krisna melajukan mobilnya menuju rumah Laras. Selama perjalanan, Krisna hanya terdiam dan tidak banyak bicara.


''Kak, apa kakak marah?''


''Tidak. Atas dasar apa aku marah? Laras, apa dulu saat kamu pacaran juga seperti ini? jangan membuatku berpikir buruk tentangmu.''


''Kak, aku tidak seperti ini. Aku bahkan tidak pernah di gandeng. Entahlah kenapa aku begitu bodoh. Aku hanya di jadikan mesin atm saja. Aku begitu bodoh dan mudah di bohongi. Sampai pada akhirnya kalau dia memang cowok matre dan tukang selingkuh. Sejak saat itu aku masih trauka untuk pacaran lagi, sampai akhirnya aku bertemu Kakak.''


''Lalu, bagaimana kamu bisa berciuman?''


''Hehehe itu karena aku suka menonton drama romantis. Ya, sesekali pernah lah aku nonton blue film.''


''Ap-apa? blue film?'' Krisna terkejut.


''Kenapa terkejut, Kak? Kakak belum pernah nonton ya?''


''Pernah dan itu hanya sekali.''


''Sebaiknya kita perlu nonton berdua deh.''


''Ja-jangan! kita nonton berduanya setelah menikah saja ya. Sudah kamu jangan aneh-aneh dan jangan menggodaku terus. Jangan bangunkan singa yang sedang tidur ya, nanti kalau di bangun, dia akan menerkammu.''


''Hehehe aku siap untuk di terkam. Apalagi singanya kamu, Kak.'' Goda Laras.


''Laras! benar-benar ujian ya punya pacar seperti kamu. Untung saja itu aku masih bisa tahan, coba saja pria lain.''


''Kak, sebucin-bucinnya aku, aku tahu pria mana yang pantas untuk mendapatkannya. Mungkin Kakak menganggapku agresif tapi semua sikap agresifku hanya ingin membuat Kakak segera sembuh dan tidak trauma lagi pada wanita.''


Krisna terdiam sejenak mendengar apa yang di ucapkan oleh Laras. Di akui Krisna, Laras memang banyak sekali membantunya. Sekalipun hampir setiap hari ia di buat jantungan oleh Laras tapi Laras mampu membuatnya bangkit dalam sekejap. Krisna mendadak menghentikan mobilnya.


''Lho Kak, kenapa berhenti disini?'' Laras merasa aneh. Krisna mengumpulkan semua keberaniannya. Ia kemudian menatap Laras.


''Kak, kakak mau ngapain?'' giliran Krisna mulai berani, Laras yang mendadak takut.


''Kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur.'' Kata Krisna. Laras menelan ludahnya, melihat tatapan Krisna yang tidak pernah oa lihat sebelumnya. Tanpa banyak bicara, Krisna meraih tengkuk Laras, ia mendekatkan wajahnya pada Laras dan CUP. Krisna mengecup bibir Laras. Mata Laras membulat sempurna, melihat pria di hadapannya kini sudah berani menyentuh bibirnya, meskipun Krisna belum berani mengeksplor ciumannya. Laras membiarkan Krisna mengecup bibirnya tanpa memberikan perlawanan. Setelah beberapa detik menahannya, Krisna melepaskan kecupannya. Mendadak ia dalam mode gugup lagi.


''Ma-maaf kalau aku belum bisa berciuman dengan hebat.''


Laras tersenyum melihat kemajuan yang ada dalam diri Krisna. ''Tidak apa-apa, Kak. Aku menyukainya, meskipun keringat dingin sudah bercucuran di keningmu.''


Krisna lalu mengambil beberapa helai tisu dan mengusap keringatnya. Tanpa banyak bicara, ia kembali melajukan mobilnya.


"Singa apa yang bangun? kalau raja singa pasti buas, lah tadi bayi singa kali. Masak iya harus aku dulu yang memulainya." Gumam Laras dalam hati sambil menahan tawanya.


Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, koin juga boleh 😁 terus jangan lupa juga buat masukan novel ini ke bacaan favorit kalian, terima kasih 🙏😘