Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 276 WOW


Hari ini adalah hari pertama Kevin kembali ke kantor, setelah beberapa hari cuti. Keira sedang membantu suaminya memakaian kemeja. Mendadak pagi itu suaminya menjadi manja dan ingin di perhatikan.


''Mas, semalam kamu sudah tidur saja.''


''Iya sayang, aku ngantuk nungguin kamu nenangin Rachel. Di tambah melihat kamu yang tampak lelah, aku jadi tidak tega untuk memaksamu melayani aku.''


''Nah ini apa? Masa iya pakai baju aja di pakein. Marvel saja sudah bisa memakai bajunya sendiri, masa iya kamu yang seperti ini.''


''Sekali-kali dong sayang. Aku kan juga ingin di manja kamu. Sayang, kamu tampak lelah sekali. Aku panggil orang salon ke rumah ya, itu pegawainya Gina. Biar kamu fresh sayang.''


''Namanya juga punya baby, Mas. Jadi wajar lah kalau lelah. Kan tiap malam begadang buat susuin Rachel.''


''Iya makanya itu, kalau kamu pijat dan treatment, lelah kamu biar hilang sayang. Kamu perlu relaksasi.''


''Iya deh Mas, iya. Terserah kamu saja.''


''Oke, nanti aku telepon Gina ya.''


''Iya suamiku sayang. Kamu gemesin deh kalau manja gini.''


''Apalagi kamu? Habis melahirkan makin cantik dan seksi.'' Kata Kevin sambil me...re...mas gemas pan...tat istrinya.


''Mas, ihhh. Pelecehan ini namanya!" ucap Keira dengan terkejut.


Kevin pun tertawa. ''Pelecehan apanya? Masa sama istri sendiri pelecehan.''


''Kamu genit deh, Mas. Awas saja kalau di luar sana begitu.''


''Selalu saja berpikiran buruk tentangku. Kalau di luar sana, aku sudah di gampar sayang. Ada yang gratis dan sepuasnya, masa iya aku mau cari penyakit.''


''Ini sudah rapi kamu, Mas. Dasinya juga sudah rapi.'' Ucap Keira dengan senyum manisnya. Kevin kemudian meraih pinggang Keira dan merapatkan tubuh Keira kearah tubuhnya.


''Mas, kamu harus ke kantor.''


''Sebentar sayang. Aku ingun menciummu. Aku rindu bercumbu.'' Ucap Kevin dengan tatapan penuh naf...su.


''Memangnya kamu tidak rindu aku jamah sayang?'' tanya Kevin. Keira hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan suaminya. Kevin lalu mengalungkan kedua tangan Keira pada lehernya. Keduanya saling memandang penuh cinta. Tanpa basa-basi Kevin langsung melu...mat bibir istrinya itu. Keira pun tak ragu untuk membalasnya. Ciuman keduanya semakin dalam dan semakin menuntut, hingga terdengar suara kecapan dua bibir yang saling berpagut itu. Lidah keduanya saling membelit, menghisap dan menelusur kesetiap inchi rongga mulut. Bibir dan lidah Kevin kemudian menjalar kearah leher jenjang Keira. Membuat Keira mende...sah kecil sambil menahan geli dan nikmat. Tangan Kevin mulai beraksi, mere...mas lembut gunung kembar milik Keira. Gunung kembar yang kian berisi itu semakin membuat Kevin bergairah.


''Mas, kamu harus berangkat." Ucap Keira disela-sels kenikmatan yang Kevin berikan.


''Ayolah sayang, aku sudah tidak tahan. Kita saling memuaskan dengan cara yang lain.''


Keira lalu menghentikan aksi brutal suaminya, yang sudah menghisap gunung kembarnya itu.


''Mas, aku masih nifas. Kamu juga tidak bisa melakukannya dengan mulut kamu.''


''Tapi tolong puaskan aku sayang. Aku bisa sakit kepala kalau tidak lepas begini. Kamu tidak tahu, dia sudah tegak di bawah sana.'' Rengek Kevin dengan tatapan memelas.


''Baiklah Mas.'' Jawab Keira. Keira lalu membuka kembali ikat pinggang dan melorot celana suaminya. Si junior sudah berdiri menantang dengan gagahnya. Keira kemudian berlutut di hadapan di junior dan Keira segera melancarkan aksinya untuk memuaskan hasrat suaminya. Kevin hanya bisa mende...sah merasakan permainan lidah dan mulut Keira itu.


''Oh, rasanya sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan ini.'' Gumam Kevin dalam hati.


''Ayo sayang, terus. Arrghhh nikmat sekali.'' Ucap Kevin sambil menekan-nekan kepala Keira. Keira kemudian meminta Kevin untuk di sofa. Keira membuka lebar kaki suaminya dan kembali mengulum si junior dengan lincahnya. Aroma si junior begitu harum, membuat Keira selalu menyukainya. Kevin memang selalu merawat si junior supaya istrinya selalu semangat untuk bermain dengan si junior.


''Ayo sayang, sebentar lagi lepas.'' Ucap Kevin dengan nafas terengahnya.


''Arrggghhhh...!!!" Kevin mengerang hebat, saat ia mencapai pelepasannya.


''Sayang, terima kasih. Oh, aku tidak perlu menahan sakit kepala karena harus menahannya.''


''Iya suamiku, sayang. Aku siapkan kamu sarapan ya. Mumpung Rachel anteng sama Mbak Rima.''


''Iya sayang. Kamu memang luar biasa.''


''Kan kamu yang ngajarin, Mas.'' Ucap Keira dengan senyum genitnya.


''Ah istriku memang WOW.'' Gumam Kevin dalam hati.


...****************...


''Siska, kamu serius mau resign?'' Kevin sangat terkejut, mendapat surat pengunduran diri Siska. Baru saja masuk kantor tetapi ia sudah di sambut dengan resignnya Siska.


''Aku dan perusahaan masih membutuhkanmu, Siska. Rasanya mendadak sekali bagiku.''


''Maafkan saya Tuan. Saya sendiri sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Saya juga berat meninggalkan perusahaan ini. Tapi mau bagaimana lagi.''


''Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Jika seandainya nanti kamu ingin kembali, pintu perusahaan ini selalu terbuka lebar untuk kamu.''


''Sekali lagi terima kasih Tuan. Terima kasih untuk pengalaman yang anda berikan. Saya selalu berdoa untuk kejayaan Sanjaya Group dan juga kebahagian anda beserta keluarga. Dan maafkan saya bila selama ini, saya banyak melakukan salah dalam ucapan maupun dalam peforma kinerja saya selama ini.''


''Terima kasih juga Siska untuk kerja kerasmu selama ini. Aku juga minta maaf bila ada salah.''


''Sama-sama Tuan.''


''Oh ya tunggu sebentar.'' Kevin kemudian menuliskan sebuah cek untuk Siska.


''Ini ambilah, pesangon dari perusahaan dan untuk biaya melahirkan mu nanti.''


''Tu-tuan, tidak usah. Ini terlalu banyak.''


''Sudah terima saja. Anggap saja ini hadiah atas kerja kerasmu, meskipun jumlahnya tidak seberapa. Semoga kamu dan keluarga kecilmu selalu bahagia. Ayo terimalah!"


''Terima kasih Tuan. Anda sangat baik sekali. Terima kasih sekali.''


''Sama-sama Siska. Itu memang hak kamu.''


''Baiklah Tuan, saya akan menyelesaikan sisa pekerjaan saya hari ini. Saya permisi ya Tuan.''


''Iya silahkan.''


Kevin menghela nafas, ia sangat menyayangkan Siska keluar. Kini ia pun harus mencari pengganti Siska. Apalagi mencari seorang karyawan yang kompeten dan jujur pun sangat sulit.


Jam makan siang, Siska mengajak Krisna dan Johan untuk makan siang di sebuah restoran sebagai tanda perpisahan.


''Mbak, kenapa harus resign? Kenapa tidak ambil cuti saja?'' tanya Johan membuka obrolan.


''Ya, kamu tahu Jo, ini adalah anak yang suamiku dan aku nantikan jadi aku akan mengurusnya sendiri. Suamiku juga menyuruhku resign supaya aku bisa fokus pada kehamilanku dan dia tidak ingin aku kenapa-kenapa. Jadi dia begitu protektif.''


''Iya juga sih, Mbak. Tapi Mbak sudah pamit sama Tuan Kevin?''


''Sudah dan rasanya sebenarnya berat sekali. Apalagi kalau kita sudah punya tim yang klop seperti ini. Aku juga berat meninggalkan Tuan Kevin. Tadi saja Tuan Kevin memberikan aku cek sebagai pesangon dan biaya kelahiranku nanti.''


''Tuan Kevin memang sangat baik. Yang jelas Tuan semakin baik sejak bersama Nyonya Keira. Setidaknya dia tidak sedingin dan seketus dulu, sekarang lebih kalem karena sudah bertemu pawangnya,'' sahut Krisna dengan tawa kecilnya.


''Iya Tuan Kevin memang baik. Dan aku saja tidak menyangka diangkat menjadi manajer dalam waktu singkat.'' Kata Johan.


''Tuan itu kalau sudah bucin, ya begitulah Jo. Tapi memang kinerjamu bagus sekali. Aku saja tidak menyangka kamu bisa membangkitkan produk yang hampir mati. Jadi Tuan melakukan itu untuk mempertahankan kamu.'' Jelas Krisna.


''Iya tapi aku merasa tidak enak. Ada kasak-kusuk yang bilang kalau aku mendompleng nama Keira. Padahal aku justru beban dengan jabatan yang diberikan oleh Tuan Kevin.''


''Tidak usah mendengarkan suara sumbang, Jo. Aku saja salut dengan kerja kerasmu. Kamu mendapatkan itu semua karena kerja keras. Kamu memberikan keuntungan besar untuk perusahaan. Produk yang mati saja bisa kamu bangkitkan. Jo, semangatlah untuk memberikan kontribusi untuk perusahaan dan jaga kepercayaan Tuan Kevin,'' pesan Siska pada Johan.


''Pasti Mbak! Aku akan lebih semangat lagi untuk kerja. Karena kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.''


''Betul sekali!" kata Siska sambil menepuk bahu Johan.


''Oh ya aku hampir lupa mengucapkan selamat untuk Pak Krisna atas kehamilan Laras. Semoga Laras dan bayinya sehat selalu ya, Pak. Diberi kelancaran dan kemudahan sampai kelahiran nanti.''


''Terima kasih, Jo. Semoga kamu juga cepat nyusul ya.''


''Amin tapi masih mikirin cicilan, Pak.''


''Hal baik jangan di tunda-tunda, Jo. Rezeki itu ada saja jalannya. Apalagi setiap anak membawa rezeki masing-masing.'' Ucap Krisna.


''Nah, betul itu Jo. Aku saja dua tahun menanti Jo, padahal aku tidak menundanya. Mau banyak cicilan atau apa sikat saja, Jo. Anak itu membawa rezeki masing-masing,'' kata Siska.


''Hehehe iya Mbak. Doakan ya kalau begitu.''


''Pasti Jo!" jawab Krisna dan Siska dengan kompak.


Bersambung......