Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 64 Bekerjalah Untukku!


Sesampainya di sekolah, Keira dan Kevin dengan kompak melangkahkan kakinya dengan terburu menuju ruang kepala sekolah.


''Marvel!" seru Keira saat melihat Marvel duduk sembari menunduk dengan darah di ujung bibirnya. Pak Surya, Kepala Sekolah merasa terkejut dengan kedatangan Keira dan Kevin yang datang bersamaan.


''Tuan Kevin, silaka duduk. Bu Keira, anda disini?''


''Iya, Pak. Saya datang untuk Marvel. Ada apa ini Pak?'' kata Keira.


''Silahkan duduk dulu Tuan Kevin.''


Sementara Kevin duduk berhadapan dengan kepala sekolah, Keira duduk berlutut di hadapan Marvel yang duduk di kursi sofa.


''Kenapa dengan wajahmu? apa yang membuat kamu berkelahi lagi Marvel?'' tanya Keira dengan lembut.


''Dia mengejekku kalau aku bukan anak papa. Aku anak pungut dan aku tidak punya mama. Dia bahkan mengatakan kalau aku lahir dari batu,'' cerita Marvel sambil menunjuk ke arah teman yang ia ajak berkelahi.


''Sayang, kamu tidak seharusnya memukul dia. Kekerasan itu tidak menyelesaikan masalah, Marvel. Kamu lupa ya dengan apa yang mama ucapkan? sekarang minta maaflah.''


''Aku tidak mau! aku tidak salah. Dia dulu yang menggangguku.'' Kata Marvel sambil memeluk Keira.


''Pak kenapa hal ini bisa terjadi lagi? kenapa masih ada pembulian seperti ini?'' kata Keira sambil menatap kesal ke arah kepala sekolah.


''Maafkan kami yang kurang peka terhadap mereka Bu Keira.''


''Bu Keira, aku hanya kesal padanya. Dia selalu duduk sendiri dan tidak mau bermain bersama kami. Aku ejek saja dia supaya dia mau bicara,'' kata Rino teman sekelas Marvel.


''Rino, kamu juga salah. Tidak seharusnya kamu seperti itu. Bertemanlah yang baik, kamu kan bisa bicara baik-baik. Kamu juga Marvel, tidak seharusnya kamu memukul Rino.''


''Dia sangat keterlaluan mah. Bukan salah ku kalau aku tidak punya Ibu tapi dia terus meledekku seperti itu. Bahkan dia mengatakan kalau Mama tidak sayang padaku, makanya Mama pergi meninggalkan aku.''


''Rino, kamu seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu. Sikap Marvel yang memang suka menyendiri, tidak merugikan kamu juga kan? jangan sampai kita mengucapkn kata-kata yang menyinggung orang lain. Apalagi itu yang bersangkutan dengan orang tua. Kalau kamu di posisi Marvel, kamu juga akan marah kan?''


''Iya Bu, maaf.''


''Kalau begitu, kalian bersalaman dan saling meminta maaf.'' Bujuk Keira.


''Aku tidak mau!" kata Marvel.


''Maafkan aku Marvel, aku salah. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja tapi sangat sulit untuk bicara denganmu,'' kata Rino sambil mengulurkan tangannya pada Marvel.


''Ayo Marvel, terima permintaan maaf Rino.'' Bujuk Keira. Marvel lalu mengulurkan tangannya pada Rino dan keduanya saling bersalaman.


''Rino, apa ada yang sakit?'' tanya Keira.


''Tidak, Bu. Kami punya luka yang sama di ujung bibir,'' kata Rino. Keira lalu mengeluarkan tisu dan membersihkan luka keduanya.


''Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku Marvel, kamu mau kan kalau kita berteman?'' kata Rino sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Marvel lalu melihat kearah Keira, Keira mengangguk sambil tersenyum. Marvel pun menerima uluran kelingking Rino.


''Maaf ya, aku keterlaluan. Asal kamu tahu, aku sendiri juga sudah tidak punya Ayah tapi aku bahagia hidup bersama Ibu dan Kakakku.'' Kata Rino sambil tersenyum. Keduanya lalu berpelukan. Keira sangat senang akhirnya bisa mendamaikan keduanya.


''Pak, jangan panggil ibuku ya. Aku sudah meminta maaf.'' Kata Rino memohon pada Pak Surya.


''Baiklah Rino, ini peringatan pertama dan terakhir. Kalau perundungan terjadi lagi, bapak akan langsung mengeluarkan kalian.'' Kata Pak Surya dengan tegas.


''Iya, Om sudah memaafkan.''


''Rino, silahkan kembali ke kelas. Jam pulang sekolah juga sudah tiba jadi kamu bisa pulang.''


''Terima kasih, Pak.''


''Saya harap Tuan Kevin bisa lebih memperhatikan Marvel lagi. Supaya dia tidak mudah terpancing emosi dan memukul temmannya begitu saja. Karena jika wali murid tidak terima, akan di bawa ke jalur hukum. Ini peringatan kedua untuk Marvel dan jika ini terjadi lagi, terpaksa kami mengeluarkan Marvel dari sekolah.''


''Tidak masalah, Pak. Seharusnya anda juga tidak mengeluarkan guru berpotensi seperti Keira karena urusan pribadi. Saya harap anda lebih bijak dan tegas tanpa takut gertakan pemilik sekolah seklipun. Karena kebenaran dan keadilan harus di tegakkan tanpa embel-embel orang dalam. Permisi!!" tegas Kevin dengan tatapan tajamnya. Pak Surya hanya bisa terdiam dan tidak bisa membantah ucapan Kevin. Kevin kemudian mengajak Keira dan Marvel meninggalkan ruangan kepala sekolah. Keira tidak menyangka kalau Kevin akan bicara seperti itu di hadapan kepala sekolah. Ada rasa kagum di sudut hatinya saat Kevin menekan kepala sekolah.


Selama di dalam mobil menuju perjalanan pulang, Kevin tidak berhenti mengomel.


''Marvel, papa harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kamu benar-benar membuat kekacauan, Marvel. Papa benar-benar pusing. Ulah kamu kemarin, benar-benar menghebohkan jagat maya. Reputasi papa dan perusahaan, kini di pertaruhkan karena ulah sembrono kamu. Dan sekarang kamu lagi-lagi memukul teman mu. Papa tidak mengajarimu menjadi berandal ya. Kalau sampai hal ini terulng lagi, papa akan memasukkan kamu ke dalam asrama." Kata Kevin panjang lebar dengan kemarahan yang meluap.


''Maafkan aku pah. Aku hanya sedih dengan ucapan mereka yang menyakitkan. Mereka tidak berhenti bicara. Apa salah kalau aku memang tidak punya mama? atau aku memang benar anak pungut pah?''


''Marvel, kamu tentu anak kandung dan darah daging papa. Sejak kapan kamu peduli dengan ucapan sampah seperti itu? hah?''


''Aku ingin pindah sekolah. Aku tidak mau kagi sekolah disana.'' Kata Marvel.


''Memangnya kenapa Marvel?'' tanya Keira.


''Aku tidak mau di sekolah, dimana pemiliknya sudah menyakiti hati Mama Keira. Aku tidak mau!"


''Baiklah, besok Papa urus kepindahan sekolahmu.''


''Papa serius?''


''Iya serius. Papa juga tidak suka dengan sekolah yang mencampur adukkan urusan pribadi seperti itu. Sungguh tidak profesional.''


''Aku setuju, Pah.''


''Sebaiknya kita makan siang di rumah saja. Papa sangat lelah.''


''Tuan, turunkan aku di cafe Galaksi.''


''Untuk apa?''


''Aku mau menemui temanku untuk bekerja paruh waktu.''


''Tidak usah membuang waktu dan tenaga bekerja paruh waktu dengan gaji kecil. Bekerjalah untukku sebagai terapis psikolog Marvel. Aku akan memberimu bayaran yang tinggi. Selain menjaga para lansia itu, kamu bisa menjaga Marvel juga. Dia membutuhkanmu.'' Kata Kevin dengan gaya coolnya.


''Tapi kan tuan....,''


''Tidak usah tapi-tapi. Kamu harus mau karena kalau tidak, aku akan memintamu ganti rugi untuk membersihkan nama baikku dan juga perusahaanku. Sudah jelas itu yang merekam teman kerja kakakmu kan? Jadi aku juga bisa menuntut mereka.''


Keira hanya bisa mendengus dan tidak bisa berkutik atas ucapan Kevin. Ia hanya bisa pasrah karena kalau berurusan soal uang, Keira lebih memilih diam dan mengalah. Karena tentu saja yang beruanglah yang berkuasa.


Bersambung.....