Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 93 Aku akan membuatmu hamil!


Setelah cukup lama meninggalkan kamar, Kevin pun akhirnya kembali. Ia mendapati Keira sudah mengganti pakaiannya. Dan ia melihat Keira tampak kesusahan memakai salep.


''Sini biar aku bantu." Kata Kevin yang menawarkan bantuan.


''Tidak usah! Nanti yang ada Mas memanfaatkan kesempatan ini.''


''Jangan cerewet. Mau memanfaatkan atau tidak, kamu sudah menjadi istriku yang sah dimata agama dan negara.'' Bantah Kevin sambil merebut salep di tangan Keira.


''Pakaianmu tarik ke atas, sedikit saja, tidak perlu semuanya. Hanya area yang sakit saja ya.'' Perintah Kevin. Keira yang tidak ada pilihan, hanya bisa menurut dengan ucapan Kevin. Dengan lembut Kevin mengoleskan salep itu ke area bawah punggung Keira sambil memijitkan pelan.


''Pelan-pelan ya Mas. Rasanya ngilu sekali,'' ucap Keira dengan rintihannya.


''Ini juga sudah pelan. Maafkan aku ya. Karena aku, kamu jadi seperti ini.''


''Semuanya sudah terjadi jadi mau apalagi.'' Kata Keira.


''Baiklah, aku rasa cukup. Setelah ini kita makan malam. Aku akan mengganti pakaianku dulu.''


''Iya,'' jawab Keira pelan.


Setelah mengganti pakaian, Kevin kemudian menggendong Keira menuju lantai bawah untuk makan malam.


''Kenapa aku deg-degan gini ya?'' batin Keira saat berada di dalam gendongan Kevin.


''Mas, tadi kamu tidak memeriksakan jantungmu?''


''Tadi saat aku mengantar Alan kedepan, dia sudah bilang kalau aku hanya kecapekan saja,'' kata Kevin dengan kebohongannya.


''Oh begitu, syukurlah kalau tidak apa.''


Setelah sampai di ruang makan. Kevin mendudukkan pelan Keira.


''Kamu mau apa?'' tanya Kevin.


''Aku pemakan apa saja, Mas. Semua makanan aku suka.'' Kata Keira.


''Oke.'' Kevin kemudian menuangkan nasi kedalam piring Keira, lengkap dengan sayur dan lauknya.


''Makanlah, setelah itu minum obat dan tidur.''


''Mas makan juga ya.''


''Iya. Aku akan menemanimu makan.'' Kevin kemudian memilih duduk tepat di samping Keira.


''Aku kadang bingung. Kadang baik tapi kadang nyebelin. Kadang tenang tapi kadang suka meledak-ledak tidak jelas. Sebenarnya di sampingku ini definisi makhluk seperti apa sih?'' gumam Keira dalam hati.


''Oh ya, besok aku ke kantor. Jadi kamu di rumah saja. Kalau ada yang kamu butuhkan, panggil Mbak Rima atau Bi Nani saja ya.''


''Secepat itu kembali ke kantor? Kan baru libur dua hari?''


''Memangnya kenapa? Daripada di rumah, lebih baik aku kerja. Atau kamu ingin kita pergi bulan madu?''


Pertanyaan Kevin pun mendadak membuat Keira salah tingkah.


''Ya-ya sudah kalau mau kerja.'' Ucapnya tergagap.


''Atau kamu ingin pergi ke suatu tempat?''


''Tidak Mas! Sebaiknya selesaikan saja pekerjaanmu.''


''Libur dua hari saja, sudah banyak yang menungguku.''


Setelah selesai makan malam, Kevin membawa Keira lagi ke kamar.


''Ini obatmu, minumlah. Setelah itu tidur.'' Keira hanya menurut saja dengan apa yang Kevin katakan. Kevin kemudian mengambil selimut dan bantal untuk tidur di sofa.


''Cepatlah tidur, Kei. Supaya besok kamu lebih fit.''


''Iya Mas.''


-


Keesokan harinya, saat Keira perlahan membuka mata, kamar itu tampak lengang karena si pemilik kamar sepertinya sudah tidak ada.


''Mas! Mas Kevin!" panggil Keira. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Semuanya tampak rapi. Bantal dan selimut di sofa pun sudah kembali pada tempatnya.


''Nona, permisi!" suara Mbak Rima saat membuka pintu kamar Kevin.


''Mbak, Mas Kevin kemana?''


''Tuan tadi berangkat pagi-pagi sekali, Non. Ada masalah di kantor.''


''Masalah apa Mbak?''


''Itu ada berita tidak enak tentang hubungan kalian. Non Keira bisa melihat di ponsel Non.''


Kata Mbak Rima.


''Ya sudah Mbak, terima kasih ya. Apa Tuan tadi sudah sarapan?''


''Belum Non.''


''Iya Non. Kalau begitu saya kebawah dulu.''


''Iya Mbak. Terima kasih ya.''


Mbak Rima kemudian pergi berlalu meninggalkan kamar. Keira lalu meriah ponselnya dan ada berita tentang dirinya yang tertangkap kamera berjalan dengan Leon. Meskipun dalam potret itu, wajah Leon tidak jelas karena memakai topi. Di tambah tangakapan kamera yang tidak terlalu dekat. Keira pun membaca komentar dari para netizen.


-Astaga, baru beberapa hari menikah masa iya sudah selingkuh. Kasihan sekali Tuan Kevin yang tampan.


-Apa jangan-jangan Tuan Kevin memang seorang gay? Sampai istrinya mencari kesenangan di luar? Apa pernikahan itu hanya untuk menutupi itu semua?


-Dasar wanita tidak tahu untung. Menikah dengan pria kaya dan tampan, tidak juga membuatnya puas.


''Astaga, kenapa bisa muncul berita seperti ini? Padahal di posisi itu kan ada Mas Kevin. Lagi pula mereka kurang kerjaan saja, mengambil foto seperti ini. Sebenarnya Mas Kevin ini pengusaha atau selebritis sih? Segitunya kepo dengan kehidupan kita. Aku harus segera menyusulnya ke kantor.''


-


Di ruangannya, Kevin benar-benar marah dengan pemberitaan tersebut.


''Siapa yang melakukan ini? Krisna! Siska! Usut dan cari siapa yang memposting berita palsu seperti ini? Dan hubungi semua media, untuk menghapus berita murahan ini. Aku saja ada di bioskop saat itu. Bagaimana bisa mereka mengatakan istriku selingkuh? Kurang kerjaan sekali.'' Marah Kevin yang tidak terkendali.


''Baik Tuan! Kami akan segera menyelesaikannya.'' Kata Krisna.


''Apa Tuan tidak akan memberikan klarifikasi?'' tanya Siska.


''Sudah pasti aku akan memberikan klarifikasi lewat channel media sosial perushaan kita. Baru saja semuanya pulih, tapi justru malah seperti ini lagi.''


''Kalau begitu saya akan menyiapkannya.''


-


''Sebenarnya saya tidak mau dan tidak seharusnya membuat klarifikasi seperti ini. Hanya saja saya tidak ingin semua orang salah sangka dengan istri saya. Di foto itupun, saya sebenarnya ada disana juga. Itu teman istri saya, saya bahkan mengenalnya. Kita pun kebetulan bertemu disana. Saya harap semua media tidak membesar-besarkan berita ini. Kami saling mencintai dan hubungan kami baik-baik saja. Dan tolong sekali lagi, jangan usik kehidupan pribadi kami. Silahkan liput prestasi perusahaan saya tapi jangan liput kehidupan pribadi saya. Saya ini pengusaha, bukan selebriti jadi stop melakukan hal ini karena kalau sampai ini terjadi, saya tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke jalur hukum atas perbuatan tidak menyenangkan. Dari dulu pun, saya tidak pernah suka kalau kehidupan pribadi saya jadi konsumsi publik. Apa yang saya lakukan ini adalah untuk menjaga nama baik istri dan keluarga istri saya. Bahkan kami berdua pun sedang melakuakn program kehamilan, jadi doakan saja yang terbaik untuk kami. Terima kasih.'' Jelas Kevin panjang lebar. Rupaya dibalik celah pintu, Keira mendengar semua yang Kevin ucapkan. Keira bisa melihat wajah Kevin yang tampak tertekan.


''Maafkan kecerobohan ku, Mas.'' Batin Keira yang merasa bersalah.


''Mas!" sapa Keira yang datang bersama Mbak Rima ke kantor. Karena tidak bisa jalan, Keira terpaksa memakai kursi roda.


''Kei, untuk apa kamu kemari?'' tanya Kevin yang tampak khawatir.


''Aku membawakan mu sarapan. Karena saat aku bangun, kamu sudah tidak ada di kamr.'' Kata Keira sambil memangku kotak makan.


''Nona Keira kenapa? Kenapa bisa duduk di kursi roda?'' tanya Siska.


''Kemarin jatuh dan terpleset, Mbak. Jadi ya seperti ini.'' Jawab Keira dengan senyum kecilnya.


''Baiklah kalian silahkan keluar. Siska, segera unggah vidio klarifikasi itu ya.''


''Siap Tuan!"


''Non, saya tunggu di luar ya.'' Kata Mbak Rima.


''Iya Mbak.''


''Mas, maafkan aku ya? Aku tadi sudah melihat beritanya.''


''Tidak apa-apa. Mereka memang sedang mencari celah untuk mengusik ketenanganku. Seharusnya kamu tidak usah kemari, aku baik-baik saja dan bisa mengurusnya.''


''Tapi setidaknya jangan pergi dengan melewatkan sarapan.'' Kata Keira. Apa yang Keira ucapkan, sama persis dengan apa yang selalu Kania ucapkan padanya. Kevin yang terbawa perasaan, lalu berlutut sambil memeluk Keira kemudian mengecup kening Keira. Keira sangat terkejut dengan apa yang Kevin lakukan.


''Tenang saja aku akan membayar denda karena telah mencium keningmu.'' Kata Kevin yang kemudia mengambil kotak makan di pangkuan Keira.


''Apa kamu sudah makan?''


''Belum juga. Aku khawatir saja denganmu, Mas. Aku merasa bersalah dengan kejadian kemarin. Aku tidak menyangka kalau kamu benar-benar punya pengaruh kuat. Tapi apa maksud kalimat terakhirmu tadi Mas?''


''Kalimat terakhir yang mana?''


''Yang bilang kalau kami sedang program hamil.''


''Oh itu, itu hanya skenario yang aku buat supaya mereka percaya.''


''Lalu bagaimana kalau mereka setelah ini menanyakan dan mencari tahu tentang kehamilanku?''


''Ya, aku akan membuatmu hamil!" ceplos Kevin sambil mengunyah sendwich yang Keira bawa.


''Hamil? Apa maksudmu Mas? Kamu mau membuatki hamil?'' kata Keira terbelalak.


''Iya Kei. Aku akan membuatmu hamil, kita kan suami istri. Yang di cari dari sebuah pernikahan kan anak.'' Kata Kevin dengan santainya. Keira pun tampak panik dengan apa yang Kevin ucapkan. Kevin ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Keira.


''Mas tapi untuk melakukan itu harus ada cinta? Kalau di paksa itu namanya di perkosa.''


''Ya makanya itu. Mulai sekarang kita harus berlajar saling mencintai supaya kita bisa punya anak.''


''Maksud Mas Kevin?'' tanya Keira tergagap. Kevin hanya tersenyum sambil menghabiskan sarapannya.


''Sebaiknya setelah ini kamu pulang. Aku sduah menghabiskan sarapan yang kamu bawakan.'' Kata Kevin yang sengaja tidak menjawab pertanyaan Keira.


Bersambung....