
Kevin, Keira dan Marvel menunggu di dalam, sementara Kenny dan Cindy bersama Pak Ammar berusaha menenangkan kondisi di luar untuk menyambut tamu sekaligus menuntaskan acara. Acara yang seharusnya berjalan khidmat dan penuh suka cita, mendadak kacau karena Marvel.
''Om Kenny, Tante Cindy, maafkan aku harus mengacaukan acara kalian. Ini terpaksa aku lakukan untuk membuat Papa dan Mama Keira bersatu. Maafkan aku yang egois,'' gumam Marvel dalam hati.
''Marvel, papa tidak suka dengan apa yang kamu lakukan barusan? kamu membuat image papa sangat buruk. Bagaimana kalau berita ini tersebar? kesannya papa ini murahan, tidak punya harga diri dan seolah mengemis cinta,'' kata Kevin dengan amarahnya.
''Marvel, tante juga kecewa sekali dengan kamu. Kamu tidak seharusnya melakukan ini. Ini bisa menimbulkan fitnah dan ucapan yang tidak-tidak di luaran sana. Kenapa kamu melakukan ini Marvel? apalagi ini acara pernikahan Om Kenny dan Tante Cindy, tante merasa membuat acara mereka menjadi berantakan. Apalagi dengan omongan warga yang sangat menyakitkan itu. Kamu tahu sendiri kan, kalau tante tidak seperti itu. Di tambah reputasi papa kamu yang ternyata pemilik perusahaan yang sangat besar dan terkenal itu. Hal ini pasti sangat memalukan untuk papa. Tante tulus sayang sama kamu, Marvel. Dengan siapapun Tante menikah nanti, Tante akan tetap menganggap kamu seperti anak tante,'' ucap Keira yang berusaha menahan amarahnya, meskipun tidak bisa di pungkiri kalau ia kecewa dengan sikap Marvel. Yang membuatnya kecewa adalah pernikahan Kenny harus berantakan.
''Aku hanya ingin kalian bersama dan tidak lebih,'' ucap Marvel dengan suara memelan. Ia menunduk dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
''Tapi cara kamu salah, Marvel. Hargai juga perasaan keluarga Tante Keira. Oke papa memang sudah berjanji untuk menuruti semua keinginan kamu tapi bukan seperti ini caranya? ini sangat memalukan!'' kata Kevin dengan tegas. Tak lama kemudian Kenny bersama Cindy dan Pak Ammar masuk ke dalam.
''Maafkan kekacauan yang telah di lakukan oleh anak saya. Saya kemari sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena telah menjaga dan merawat anak saya dengan baik selama beberapa hari disini. Sekaligus saya ingin memberikan hadiah pernikahan kepada Tuan Kenny untuk tanda terima kasih saya kepada kalian. Dan juga ada hadiah untuk bapak juga.'' Kata Kevin dengan gamblang sambil menunujkkan dua buah kotak untuk Kenny dan Pak Ammar.
''Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas kedatangan anda, Tuan. Saya juga tidak menyangka kalau Marvel ternyata putra anda. Tapi anda tidak perlu memberikan hadiah berlebihan seperti ini. Kami semua tulus menyayangi, Marvel. Tapi disini sebenarnya ada hubungan apa antara kalian berdua? apalagi Marvel bilang kalau adik saya merawat anda saat sakit. Apa bisa jelaskan semuanya?'' ucap Kenny yang mewakili Pak Ammar untuk bicara.
''Huft, sungguh di antara kami tidak apa-apa. Pertemuan kami terjadi tanpa di duga. Semua ini berawal saat Keira mengajar di sekolah anak saya. Sudah hanya sebatas itu saja. Saya yakin kejadian ini akan berlalu begitu saja. Kalian tenang saja, saya akan mengurusnya dan meredam berita ini supaya tidak kemana-mana.'' Kata Kevin dengan tegas.
''Tapi bagaimana dengan Keira, tuan Kevin? tentu saja hal ini membuat anak saya menjadi bulan-bulanan warga disini,'' sahut Pak Ammar.
''Bapak tenang saja. Tidak akan ada yang berani menganggu Keira. Saya yang akan tanggung jawab. Semua ini hanya cerita yang di karang oleh anak saya. Saya tidak mencintai Keira apalagi berusaha mengejar Keira. Jadi untuk kamu Keira, jangan ge-er!"
''Apa? Ge-er? oh sungguh tidak akan tuan! untuk apa ge-ger? berhubungan dengan orang kerasa kepala seperti anda ini sangat melelahkan. Cerewet, bawel, suka berprasangka buruk, egois, kepala batu, suka marah-marah, tidak menghargai orang lain dan.... masih banyak lagi keburukan tentang anda.'' cerocos Keira panjang lebar.
''Apa? kamu bisa bicara buruk seperti itu padaku? kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya? hah?'' kata Kevin dengan suara meninggi.
''Aku sungguh tidak peduli siapa anda tuan. Mau presiden sekalipun aku tidak peduli dan sama sekali tidak berdampak bagi kehidupanku!
''Sombong sekali ya ucapanmu! awas kalau sampai kamu jatuh cinta padaku nanti!"
''Tidak akan pernah tuan!"
Kenny, Cindy dan Pak Ammar hanya bisa terdiam sambil saling menatap kearah mereka yang sedang berdebat. Merka seperti sedang menyaksikan sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sementara Marvel lagi-lagi menepuk jidat sambil mengacak rambutnya frustasi.
''STOP!" teriak Marvel, Kenny, Cindy dan Pak Ammar dengan kompak. Seketika Kevin dan Keira terdiam.
''Mmm maaf,'' kata Kevin yang mengembalikan mode cool dirinya. Sementara Keira sudah terengah-engaj karena berdebat dengan Kevin.
''Keira, jujur pada Ayah, apa kamu mencintainya? dari pertengkaran kalian, Ayah tahu kalau kalian itu saling mengenal sangat dekat. Karena hubungan Ayah dan almarhumah bunda kamu juga di awali dari saling tidak suka tapi akhirnya cinta,'' kata Pak Ammar dengan tatapan penuh selidik.
''Ayah ini kok malah gitu ngomongnya sih. Cinta dari mana sih? kita setiap bertemu selalu saja seperti ini.'' Bantah Keira.
''Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari kami semua, Kei? orang yang tidak akrab, tidak mungkin bicara dengan suara meninggi,'' sahut Kenny.
''Ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa belahan jiwa sebenarnya adalah kembaran dari jiwa kita sendiri yang terpisah secara fisik. Sifat kalian hampir sama. Kei, begitulah gambaran diri kamu persis seperti tuan Kevin,'' imbuh Cindy.
''Mbak Cindy, kenapa malah ikut-ikutan sih? aku tidak mau Mbak, di anggap mengambil keuntungan karena berhubungan dengan Tuan Kevin. Aku masih bisa bekerja dan aku juga masih memiliki Ayah sekaligus Kakak yang bisa menghidupku.''
''Kemarahan dan perdebatan kalian itu seperti dengan perasaan. Bahkan kalian tidak sungkan dengan kami disini. Ayah tidak akan memperpanjang masalah ini, Ayah menyerahkan masalah ini pada kalian. Selesaikan semuanya baik-baik ya. Keira, kamu tetap harus sopan dengan Tuan Kevin.'' Kata Pak Ammar dengan bijak.
''Iya Kek, jangan tolak ya. Kakek, Om Kenny dan Tante Cindy, maafkan aku ya? aku sudah merusak acara kalian. Tapi sungguh aku menginginkan Mama Keira menjadi mama ku. Aku sangat menyayanginya. Aku mohon berikan restukan kalian kepada kami. Biarkan Mama Keira dan Papa Kevin menikah. Aku yakin cinta itu akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Aku mohon!"
''Marvel, sudah cukup!'' bentak Kevin. Kevin lalu berusaha menyeret Marvel tapi Marvel justru mendekat ke arah Keira dan memeluk erat Keira.
''Tapi pah, aku hanya mau Mama Keira. Aku tidak mau yang lain.''
''Marvel, kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu. Mama Keira punya kehidupan sendiri dan kamu tidak bisa mengaturnya.''
''Aku tidak mau! aku mau disini saja. Papa pulang saja!" rengek Marvel sambil menangis.
''Marvel, jangan membuat papa marah lagi! ayo kita pulang!'' paksa Kevin sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Keira. Kenny, Cindy dan Pak Ammar sendiri tidak tega melihat Marvel yang di marahi oleh Kevin. Apalagi Kevin yang menarik kasar tangan Marvel.
''Tuan Kevin, biarkan Marvel disini.'' Kata Keira yang tidak tega melihat Marvel di paksa seperti itu.
''Kamu jangan memanjakan dia, Kei! ini akibat kamu terlalu memanjakannya.''
''Bukan memanjakannya tuan tapi memberinya perhatian dan kasih sayang.'' Mendengar ucapan Keira, membuat Kevin berhenti menarik Marvel. Karena apa yang dikatakan oleh Keira, sama persis dengan apa yang di ucapkan oleh Kania. Dan hal itu membuat Kevin menatap Keira untuk sesaat.
''Iya Tuan Kevin, biarkan Marvel disini. Kami akan menjaganya.'' Sahut Pak Ammar.
''Tapi dia pasti akan merepotkan kalian,'' sambung Kevin.
''Dia anak yang baik Tuan. Saya tidak tega kalau melihat anak kecil menangis sepertu ini. Biarkan dia bersama dengan Keira, kalau sudah tenang, kami akan mengantarnya pulang,'' sambung Kenny.
Kevin menghela nafas panjang mengahadapi situasi seperi ini. Belum pulih total tapi harus menghadapi sesuatu yang menguras emosi dan energi.
''Baiklah kalau begitu. Sekali lagi maaf atas semua ketidaknyamanan ini. Maaf sekali!" ucap Kevin seraya mengatupkan kedua tangannya.
''Tidak apa-apa. Kami sangat memahami perasaan Marvel.'' Kata Pak Ammar.
''Sebaiknya tuan pulang saja. Tuan juga belum pulih total tapi sudah memaksa datang kemari. Apa tuan pergi sendiri?'' kata Keira yang mendadak perhatian. Kenny, Cindy dan Pak Ammar semakin heran melihat sikap keduanya. Tadi berdebat hebat tapi mendadak melunak seperti ini.
''Aku bersama supir. Baiklah kalau begitu, aku pulang. Titip Marvel.''
''Iya tuan. Jangan lupa obat dan makan, setidaknya demi Marvel,'' pesan Keira.
''Iya. Baiklah saya permisi.'' Kevin pun pamit undur diri dan meninggalkan Marvel bersama Keira. Keira lalu membawa Marvel ke kamarnya.
''Ayah, mereka aneh sekali. Baru tadi berdebat hebat sampai keluar otot, eh tiba-tiba keduanya melunak dan saling perhatian. Kenny jadi bingung mau marah, kesal atau senang.''
''Hmmm melihat mereka, jadi ingat Ayah dan Bunda dulu. Persis seperti mereka. Ayah juga pusing melihat mereka bertengkar tapi Ayah juga tidak tega melihat Marvel menangis seperti itu.''
''Aku seperti melihat adegan pasangan bercerai terus rebutan hak asuh anak, Mas.'' Sahut Cindy.
''Iya sih kamu benar juga emang. Kayak lihat sinetron,'' gurau Kenny di iringi oleh tawa kecil Cindy dan Pak Ammar.
Bersambung.....