Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 210 Serangan Fajar


''Seneng deh malam ini kita bisa makan sama-sama lagi. Kemarin beberapa hari Papa selalu pulang larut.'' Kata Marvel sambil mengunyah makanannya.


''Iya Papa juga senang hari ini bisa pulang awal tapi Papa menyuruh Om Krisna yang lembur.''


''Oh ya Mas, hari ini ada aksi heroik dari pahlawan kita Marvel!" ucap Keira dengan senyum penuh bangga.


''Aksi heroik apa?'' tanya Kevin penasaran.


''Tapi aku dapat panggilan dari Pak Kepsek Mas karena Marvel dan Anrez mendapat masalah.''


''Masalah apalagi? Kamu membuat keributan seperti dulu, Marvel?''


''Tidak Pah, aku tidak membuat keributan.'' Sahut Marvel.


''Marvel tidak membuat keributan, Mas. Justru dia hari ini menolong Anrez dari anak-anak nakal yang memalak Anrez.''


''Masih ada juga kejadian seperti itu?''


''Iya Mas tapi Pak Kepsek langsung mengambil tindakan tegas dengan mendrop out mereka langsung.''


''Itu baru bagus nanti kenakalan mereka bisa menular ke anak-anak yang lain dan bisa ada korban lain juga. Jadi apa yang berhasil Marvel lakukan?''


''Jadi begini Pah....,'' Marvel menceritakan aksinya dengan antusias pada Papanya. Kevin tersenyum bangga dengan apa yang di lakukan oleh putranya.


''Anak Papa memang keren! Memang seharusnya seperti itu, kita harus cerdik melawan orang yang hanya mengandalkan otot saja. Mendengar cerita Anrez, Papa merasa kasihan juga padanya. Tapi Papa bangga sekali denganmu, Marvel.''


''Pah, sepertinya aku ingin menjadi seorang psikiater. Aku ingin bisa memahami perasaan semua orang dan membantu mereka menyelesaikan masalahnya seperti Mama. Aku beberapa hari terakhir suka membaca buku milik Mama dan aku tertarik.''


''Kamu boleh belajar tentang itu Marvel tapi kamu harus tetap meneruskan bisnis Papa. Karena nanti saat kamu dewasa, kamu lah yang akan memegang perusahaan Papa.''


Mendengar jawaban tegas Papanya, membuat Marvel tertunduk lesu. Keira kemudian mengelus kepala putra sambungnya berusaha menenangkan.


''Sayang, habiskan dulu makanannya ya nanti kita bicara lagu, oke.''


''Iya Mah.''


Setelah selesai makan malam, Keira menemani Marvel terlebih dahulu di kamarnya.


''Mah, kenapa Papa tadi seperti itu sih bicaranya? Apa aku salah ingin menjadi seorang psikiater?''


''Tidak ada yang salah kok, Marvel. Mungkin maksud Papa kamu harus lebih mengutamakan sekolah bisnis. Apalagi latar belakang keluarga Papa pengusaha semua, sayang. Kamu nanti masih bisa kok ambil kuliah seperti Mama. Kalau menurut Mama seorang pengusaha harus belajar banyaj juga tengan psikologi, sayang. Itu memudahkan kamu untuk membaca karakter klien kamu nanti. Jadi seperti itulah maksud ucapan Papa tadi, Marvel.''


''Aku takut kalau Papa tidak setuju, Mah.''


''Kamu tenang saja, biar Mama yang mengurusnya. Sebaiknya sekarang kamu cepat tidur ya, besok harus sekolah.''


''Iya Mah.'' Keira kemudian memakaikan selimut untuk Marvel. Tak lupa Keira memberikan kecupan hangat di kening Marvel. ''Jangan lupa berdoa ya sayang.''


''Iya Mah.'' Keira kemudian mematikan lampu kamar Marvel dan segera kembali ke kamarnya. Saat sudah berada di kamar, Keira melihat suaminya yang duduk di sofa dan masih tetap bekerja. Ia kemudian mendekat dan duduk disamping suaminya.


''Masih sibuk ya Mas?''


''Iya sayang, aku harus tetap mengontrolnya sampai launching tiba.'' Jawab Kevin tanpa melihat kearah Keira.


''Mas aku hanya ingin bilang kalau apa yang kamu katakan pada Marvel tadi terlalu keras.''


''Iya tapi nada suara kamu terlalu tinggi dan membuatnya takut. Kamu kan bisa menjelaskannya pelan-pelan, Mas.''


''Ah sudahlah sayang, itu hanya masalah kecil. Kamu juga pasti sudah menasihatinya kan tadi?'' jawab Kevin dengan santainya. Seketika wajah Keira berubah cemberut. Keira merasa kesal dengan sikap cuek Kevin itu. Keira kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menutup tubuhnya rapat-rapat.


''Sebaiknya kamu tidur ya, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu. Besok aku akan minta maaf pada Marvel.''


''Terserah!" singkat Keira.


-


''Morning sayang,'' sapa Kevin sambil mengecup kening istrinya yang tubuhnya masih terbungkus selimut.


''Morning,'' Keira menjawabnya dengan malas tanpa mau menghadap suaminya.


''Kamu marah ya? Maaf ya kalau aku semalam terkesan cuek dan saat bicara tidak memperhatikan kamu. Tapi justru fokus dengan pekerjaanku.''


''Kamu memang kebiasaan seperti itu kan, Mas. Ya sudah aku mau mandi dan menyiapkan sarapan untuk Marvel.'' Ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur.


Kevin menghela nafas panjang. ''Aduh salah lagi nih. Di cuekin sedikit saja sudah marah. Nada suara agak tinggi di bilangnya aku membentak. Selalu serba salah. Sabar ya Kevin, istri kamu sedang hamil.'' Gumamnya dalam hati. Kevin juga segera beranjak dari tidurnya dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.


''Mandi bareng ya sayang,'' kata Kevin sambil tersenyum lebar.


''Kamu mandi sendiri saja ya, Mas.''


Kevin kemudian mendekat dan memeluk Keira dari belakang. ''Ayolah jangan marah, sayang. Maafin aku ya. Aku nanti akan minta maaf pada Marvel tapi kamu jangan marah. Nanti kalau kamu marah aku jadi sedih, di saat seperti ini aku sangat membutuhkan support dari kamu.''


''Hmmm baiklah, aku sudah tidak marah.''


''Berarti boleh mandi bareng kan?'' bujuk Kevin sambil mengendus-endus tengkuk Keira. Membuat Keira merasa geli-geli nikmat.


''Iya-iya boleh.'' Jawab Keira dengan senyum malu-malu.


''Yes, dapat vitamin penambah stamina! Yuk kita pakai gaya berdiri di bawah shower ya sayang," seru Kevin sambil menyalakan shower. Keira hanya bisa menggeleng melihat suaminya yang selalu semangat untuk bercinta. Kevin lalu melepas pakaiannya dan meleparnya begitu saja. Sementara Keira sendiri sudah telanjang sejak tadi. Kevin menarik tubuh Keira dalam dekapannya, terasa sekali dua gunung kenyal menyentuh kulitnya. Apalagi semenjak hamil buah dada Keira semakin terlihat berisi. Kevin kemudian melancarkan aksinya dengan memberikan ciuman di bibir istrinya dengan sangat lembut. Setelah tubuh mereka basah, sambil terus me...lu...ma...t bibir Keira, tangan Kevin mematikan shower. Suara kecapan bibir keduanya memenuhi isi ruangan tersebut. Kevin kemudian menyandarkan tubuh Keira pada dinding. Di genggamnya kedua tangan Keira dan di angkatnya ke atas menempel pada dinding. Ciuman itu kemudian turun ke leher, membuat Keira menggeliat nikmat. Ciuman Kevin semakin rakus, kala ciuman itu turun pada dua gundukan yang indah dengan pucuk yang sudah tegang. Keira hanya bisa men....d...e...s...a...h merasakan hisapan Kevin yang begitu kuat. Sesekali Kevin menggigit ujungnya dengan gemas.


''Mas! Ahhh," Keira meloloskan de...sa...ha...nnya tanpa takut ada yang mendengar. Keira tak bisa berkata apa-apa lagi ketika suaminya memang sangat mahir dalam urusan bercinta. De...sa...han, rintihan, erangan dan decapan yang terdengar jelas menyeruak mengisi bilik kamar mandi itu. Hingga akhirnya Keira di buat lemas oleh serangan fajar yang di lakukan suaminya pagi itu.


''Sayang boleh tambah lagi?'' bisik Kevin dengan nafas terengah setelah berhasil menyemburkan cairan putih kedalam rahim Keira.


''Satu saja Mas, aku harus mengantar Marvel ke sekolah dan kamu harus ke kantor. Sudah cukup kan vitaminnya?''


''Dedeknya di perut minta tambah lagi katanya? Soalnya semakin banyak yang masuk, semakin banyak temannya.''


''Itu modus kamu saja, Mas. Sudah ah ayo kita mandi. Dedeknya udah gelagapan di dalam katanya, nanti dia bisa pilek kalau setiap hari kamu sembur terus.''


''Iya-iya. Terima kasih sayang untuk vitaminnya. Aku pasti akan lebih semangat pagi ini.''


''Jangan lupa langsung ke cafe Johan. Aku sudah reservasi tempat kemarin.''


''Siap istriku, aku tidak akan lupa.'' Ucap Kevin sambil memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi Keira.


Bersambung.....