Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 311 EXTRA PART



''Princessnya Papa sudah besar ya. Kamu cantik sekali, sayang.''


''Papa juga ganteng.'' Ucap Rachel yang kini sudah berusia 5 tahun. Ya, Rachel kini sudah duduk di bangku TK-A.


''Oke, sekarang kita sarapan dulu ya.''


''Mama mana Pah? Kenapa Papa yang bantu Rachel?''


''Mama baru selesai mandiin adik Arzel, sayang. Jadi Papa dan Mama bagi tugas, kebetulan adik Anzel sedikit rewel dan maunya sama Mama. Tidak apa-apa ya?''


''Iya Pah. Ya sudah, yuk kita sarapan.''


''Ayo sayang. Hari ini Papa yang antar kamu ke sekolah ya.''


''Oke Pah.''


Kevin kemudian menggendong Rachel lalu mengajaknya sarapan. Disana Marvel sudah menunggu. Ya, Marvel kini sudah duduk di bangku SMP.


''Selamat pagi jagoan tampan Papa.'' Kevin adus tos pada putra sulungnya yang kini sudah beranjak remaja.


''Pagi juga Papa.''


''Halo princess!" sapa Marvel.


''Halo prince.''


''Rachel, Marvel, Papa ke kamar dulu ya bantuin Mama. Tadi Arzel sedang rewel.''


''Iya Pah.'' Jawab mereka dengan kompak.


''Marvel, kamu bantu adik kamu sarapan ya?''


''Oke Pah.'' Jawab Marvel. Kevin kemudian berlalu menuju kamar.


''Kakak bantu ya? Kamu mau sarapan pakai apa?'' tanya Marvel.


''Aku mau roti saja, Kak. Selai strawberrynya yang banyak ya.'' Pinta Rachel dengan cara bicara yang menggemaskan.


''Baiklah, Kakak akan buatkan yang paling enak dan spesial untukmu.''


''Terima kasih, Kak.''


''Sama-sama.''


Dikamar, Keira baru saja selesai memakaikan baju pada Arzel. Arzel pun baru berhenti menangis.


''Bagaimana sayang? Apa dia masih rewel?'' tanya Kevin dengan khawatir.


''Baru juga tenang, Mas. Mungkin karena tadi masih ngantuk tapi aku bangunin, soalnya dia ngompol. Anak-anak sudah sarapan?''


''Sudah sayang. Marvel sudah membantu Rachel untuk sarapan. Ya sudah, kalau begitu kamu mandi ya, biar aku yang temani anak-anai sarapan. Biar Arzel sama aku.''


''Iya Mas, terima kasih ya.''


''Sama-sama sayang.''


''Arzel sama Papa dulu ya. Mama mau mandi.'' Kevin lalu menggendong Arzel yang kini usianya sudah tiga tahun. Kevin kemudian ke bawah, menyusul sarapan.


''Mama mana Pah?'' tanya Marvel.


''Mama mandi, Kak. Sudah ayo, Kakak dan Rachel habiskan dulu makanannya. Papa juga mau sarapan.''


''Pah, biar Marvel yang gendong Arzel. Marvel sarapannya juga sudah selesai. Papa sarapannya biar tenang dan menikmati juga.'' Kata Marvel yang melihat Papanya kesulitan karena makan sambil menggendong.


''Baiklah, terima kasih ya, Kak. Aduh begini nih kalau Mbak Rima dan Bi Surti pulang kampung bersamaan, kita semua kerepotan. Kasihan Bi Nani juga kerja sendiri.''


''Sama-sama Pah. Tenang Pah, Marvel kan sudah bisa menjaga adik-adik.'' Marvel lalu beranjak dari duduknya dan mengambil Arzel dari gendongan Papanya.


''Arzel, main sama Kakak dulu ya.'' Ucap Marvel. Tak lama kemudian, Keira pun turun dengan langkah terburu karena ia harus menyiapkan bekal untuk suami dan anak-anaknya.


''Selamat pagi anak-anak. Maaf ya Mama terlambat. Mama akan menyiapkan bekal untuk kalian dan juga Papa.'' Ucap Keira seraya menunu pantry.


''Sudah sayang, kamu jangan terburu-buru.'' Kata Kevin.


''Tidak kok, Mas. Anak-anak semalam sudah bilang mau minta sandwich dan beef. Jadi aku harus menepatinya. Aku lebih senang kalau mereka membawa bekal daripada jajan sembarangan.'' Ucap Keira dengan tangannya yang begitu lincah dan terus bergerak untuk menyiapkan bekal.


''Tidak apa-apa, Mas. Kamu semalam bilang ingin makan siang dengan rawon daging. Daging dan bumbunya juga sudah siap jadi tinggal cemplung-cemplung saja. Karena begitu Mbak Rima dan Bi Surti pulang kampung, aku sudah mem-prepare semua bahan makanan supaya tidak kerepotan.'' Ucap Keira sambil tangannya terus bergerak. Kevin hanya tersenyum melihat istrinya itu. Kevin bangga dan juga bahagia karena Keira dengan sepenuh hati menjalankan perannya sebagai istri dan ibu yang sangat baik.


''Arzel dan Marvel mana Mas? Aku tidak melihat dan mendengar suara mereka.'' Tanya Keira tanpa mengalihkan pandangannya dari panci di hadapannya.


''Itu Marvel mengajak Arzel ke taman samping. Dia sudah selesai sarapan jadi dia yang gantian menjaga adiknya. Kamu tidak usah khawatir sayang, selesaikan saja dulu.''


''Iya Mas.'' Jawab Keira. Setelah selesai menyiapkan bekal untuk suami dan kedua anaknya, mereka pun segera berangkat. Sebelum ke kantor, Kevin mengantar Marvel dulu ke sekolah.


''Marvel, baik-baik ya. Jangan membuat masalah ya dan hati-hati dalam bergaul. Terus bekal dari Mama harus dimakan karena Mama membuatnya dengan cinta.'' Pesan Kevin pada putra sulungnya itu.


''Iya Pah, itu pasti. Dan aku bisa jaga diri kok. Papa tenang saja, everything its okay.'' Jawab Marvel. Ayah dan anak itu kemudian saling berpelukan sebelum berpisah. Setelah mengantar Marvel, Kevin lalu mengantar Rachel ke sekolahnya. Sepuluh menit kemudian, akhirnya sampai juga di sekolah Rachel.


''Terima kasih Papa, sudah mengantarku.''


''Sama-sama sayang. Bekal dari Mama jangan lupa di makan ya. Karena Mama sudah membuatnya penuh cinta.''


''Iya Papa. Aku selalu memakannya karena masakan Mama paling enak di dunia.''


''Oke sayang. Belajar yang baik ya.'' Kevin kemudian memeluk putri kecilnya itu.


''Have a nice day my princess. I love you.'' Ucap Kevin yang kemudian mengecup kening putrinya.


''I love you too, Papa.'' Jawab Rachel. Rachel kemudian juga mengecup kening Papanya.


''Hati-hati ya, Pah.''


''Oke sayang.'' Setelah Rachel aman bersama gurunya, Kevin kemudian pergi dan segera menuju ke kantor.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


''Marvel!" panggil Anrez yang juga baru saja tiba.


''Hai Rez!" Mereka berdua lalu berpelukan.


''Senang sekali kita bisa satu sekolah lagi.'' Kata Marvel.


''Iya, aku juga. Nanti SMA kita satu sekolah lagi ya, bahkan sampai kuliah nanti.'' Ucap Anrez dengan penuh semangat.


''Tenang saja, Anrez.''


''Tapi pasti kamu akan melanjutkan ke luar negeri.''


''Itu tergantung Papa bagaimana. Aku sekolah dimana saja sih oke-oke saja. Oh ya kira-kira Luna bagiamana ya?''


''Luna? Kamu masih mengingatnya juga? Bahkan sampai lulus pun, dia tidak bicara denganmu. Apalagi dua tahun sebelum lulus dia pindah.''


''Dia memang tidak bicara denganku tapi dia bicara dengan Mama. Bahkan dia menitipkan sebuah surat untukku sebelum dia pindah.''


''Surat?


''Iya. Dia menitipkan surat itu pada Mama.''


''Apa isinya, Marvel?''


''Ya, dia hanya bilang terima kasih saja dan meminta maaf karena bersikap kasar padaku. Dia juga memberikan sesuatu untukku sebagai tanda terima kasih.''


''Dia bisa begitu juga ya? Aku yang teman satu kelasnya saja tidak mendapat apa-apa.''


''Aku juga tidak menyangka. Bahkan sampai sekarang, aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Dan benda ini yang dia berikan untukku.'' Kata Marvel sambil menunjukkan gantungan tas strawberry milik Luna yang pernah ia temukan dulu. Melihat itu, Anrez pun tertawa.


''Astaga, kenapa kamu menyimpannya? Itu kan cewek banget, Vel. Kenapa tidak kamu berikan pada Rachel saja?''


''Ya, tadinya Rachel ingin memintanya tapi tidak aku berikan. Kamu tahu kan, kalau aku sangat menghargai pemberian orang, apapun itu. Jadi aku juga akan menyimpannya dan menjaganya sampai kapanpun. Dan aku berharap suatu saat nanti kita akan bertemu. Aku ingin mendengar suaranya dan juga senyumnya.''


''Sudah, jangan memikirkan Luna terus. Kamu tidak takut apa? Dia itu misterius sekali.''


''Justru yang misterius yang membuatku penasaran, Anrez.''


''Daripada memikirkan Luna, lebih baik kita fokus pada ujian dan pertandingan taekwondomu pekan depan.''


''Iya-iya, aku ingat itu. Ya sudah, kita masuk kelas sekarang.'' Marvel lalu merangkul sahabatnya itu dan mereka berjalan beriringan menuju kelas.


**Lanjut nggak nih EXTRA PARTnya???? hehehehe.....


**Untuk Chika dan Zidni, mungkin minggu depan ya proses ceritanya, nanti aku share di grup chat sama Instagram ya. Buat yg belum gabung grup chat dan instagramku, cusss di follow ya, hehehehe makasih 🙏🤗😘**