
Oke udah aku tambah 1 BAB yaa. Jadi like, komen dan votenya harus di tambah juga yaaaa 🙏😆❤️
...*Selamat Membaca Sobat Readers Ku*...
“Dik, kamu baik-baik saja?” suara Kenny sambil menepuk pelan bahu Marvel. Kenny dan Cindy kebetulan ada di makam yang sama untuk mengunjungi makam Ibu Kenny, mereka berziarah sebelum hari pernikahan yang tinggal menghitung hari. Namun perhatian Kenny dan Cindy tertuju dengan suara tangisan anak kecil. Selesai berdoa, mereka mencari sumber suara tersebut dan ternyata itu adalah suara isak tangis Marvel. Dengan mata sembab dan sesenggukan, Marvel mendongak melihat siapa yang menyapanya.
“Kamu sendirian saja? Dimana orang tua kamu?” tanya Cindy dengan lembut. Marvel terdiam sambil menunjuk batu nisan yang bertuliskan nama Mamanya. Kenny dan Cindy pun merasa sedih melihat Marvel yang hari itu tampak lusuh dan pucat. Bahkan ia masih mengenakan pakaiannya semalam. Kenny kemudian jongkok dan duduk disamping Marvel.
“Rumah kamu dimana? Om, antar kamu pulang ya?”
Marvel hanya menggeleng dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Dik, tenang saja kami bukan orang jahat kok. Kami juga baru saja mengunjungi makam ibu kami.” Bujuk Cindy sambil mengelus kepala Marvel.
“Siapa nama kamu anak tampan? Nama Om, Kenny. Dan ini namanya Tante Cindy, dia calon istri Om,” sambung Kenny. Bukan tak mau menjawab tapi memang begitulah reaksi Marvel terhadap orang asing. Marvel dan Cindy saling melempar pandangan, mereka bingung bagaimana caranya membantu Marvel.
“Bagini saja supaya kamu percaya, kamu tuliskan nomor ponsel orang terdekat kamu, biar Om yang menghubunginya. Supaya kamu bisa segera di jemput.” Mendengar ucapan Kenny, Marvel pun mengangguk. Kenny kemudian memberikan ponselnya pada Marvel dan Marvel mulai menuliskan nomor ponsel Keira. Satu-satunya nomor yang selalu dia ingat. Setelah menuliskannya, Marvel mengembalikan ponselnya pada Kenny. Mata Kenny membulat melihat nomor yang di tuliskan oleh Marvel.
“Lho kenapa nomornya sama dengan nomor Keira?” seru Kenny.
“Masa sih, Mas,” sahut Cindy. Kenny kemudian memperlihatkan ponselnya pada Cindy.
“Kamu mengenal Keira?” tanya Cindy.
“I-iya tante. Dia mama ku,” jawab Marvel dengan suara pelan. GUBRAK! Suasana yang tadinya sedih kini berubah menjadi tegang.
“Apa-apan Keira ini? Sejak kapan menikah dan punya anak sebesar ini.” Gumam Kenny menahan marahnya.
“Sabar, Mas. Kita kan belum tahu penjelasan Keira. Apalagi dia tadi menunjuk nisan ini kan? Pasti ini ibu kandungnya,’’ kata Cindy.
“Dik siapa namamu? Om ini adalah kakak kandung Keira. “
“Aku Marvel. Benarkah Om? Bawa aku padanya, Om. Aku tidak mau pulang,’' kata Marvel memelas.
“Ayo kita bawa saja dia, Mas. Kasihan kan? Sepertinya dia sangat dekat dengan Kei.”
“Baiklah kalau begitu.”
-
Keira sendiri sekarang berada di café. Disana sudah ada Laras dan Johan yang duduk di hadapan Keira.
“Jadi apa yang mau elo ceritain sama kita, Kei?” tanya Laras penasaran.
“Elo lama ngilang eh nongol kayaknya bawa aroma nggak enak deh,” kata Johan.
“Iya sorry, gue emang lagi sibuk dan gue terikat sama kontrak.”
“Kontrak? Kontrak apa, Kei?” kompak Laras dan Johan.
“Kontrak jadi mama sewaan selama satu minggu,’' jawab Keira memelan.
“Apa? Mama sewaan?” kompak Laras dan Johan dengan mata membulat sempurna.
“Gila ya elo, Kei?” kata Johan seolah tak percaya.
“Darimana ide itu bisa muncul Kei? Terus kenapa elo setuju? Elo janji sama kita buat berhenti kan?” sambung Laras.
“Iya gue udah berhenti kok dan gue juga nggak di bayar.”
“Lha terus gimana sih? Gue nggak paham.” Kata Johan sambil menggaruk kepalanya.
“Jadi, di sekolah tempat gue magang, gue ketemu anak yang di marahin papanya waktu kita makan siang beberapa lalu. Kalian ingatkan?”
Laras dan Johan mengangguk serius.
“Nah, akhirnya kita dekat dan dia mintague untuk jadi mama sewaannya. Karena mama kandungnya sudah meninggal pas dia berusia tiga tahun. Dia termasuk anak yang introvert. Dia selalu menyendiri padahal sebenarnya juga anak cerdas. Dan ternyata di balik itu semua ada penyebabnya. Dia punya seorang papa yang sangat egois dan keras kepala. Masa iya anak usia tiga tahun mengerti mamanya sakit apa. Sampai dia menyalahkan anaknya karena kepergian istrinya.”
“Lah, kok bisa gitu! Namanya jodoh, maut dan rezeki kan Tuhan yang mengaturnya,’’ kata Johan yang ikut kesal dengan cerita Keira.
“Ya karena saat itu, Marvel nama anak itu, merengek minta di buatkan kue ulang tahun. Sebagai orang tua tentu saja kita akan melakukan apapun demi anak apalagi saat itu Marvel masih berusia tiga tahun. Jadi waktu di jalan, sakit mamanya kambuh dan tejadilah kecelakaan. Mama Marvel, mengidap kanker rahim. Sejak saat itu hubungan ayah dan anak merenggang, bahkan papanya tidak pernah mau merayakan ulang tahun anaknya. Karena menganggap kalau hari itu adalah hari yang menyakitkan untuknya. Ya intinya dia menyalahkan keadaaan dan tidak bisa menerima takdir. Egois nggak sih menurut kalian?” jelas Keira panjang lebar.
‘’Gue sebagai pria sejati, itu jelas egois sekali. Apalagi anak yang jadi sasaran. Justru dia bisa memberikan kasih sayang penuh untuk anaknya apalagi anaknya tumbuh tanpa seorang ibu. Emang sekarang Marvel usia berapa?”
“Iya sih, kasihan emang. Hati anak kecil kan emang bersih jadi mereka bisa merasakan mana yang tulus dan tidak. Terus papanya gimana Kei? Ganteng nggak?” selidik Laras.
“Ahhh pasti duda kaya yang tajir melintir ya?” goda Johan.
“Idih, ogah deh! Jangan sampai deh punya suami kepala batu dan egois kayak gitu. Jujur gue nggak peduli sama papanya yang penting bagi gue itu Marvel. Kisah hidup dia bikin gue sayang sama dia.”
“Jangan-jangan habis sayang anaknya terus elo jadi sayang papanya,” sambung Laras.
“Apaan sih elo, Ras. Kalian emang nggak tahu kalau Ferdi kembali.”
“Hah? Serius lo? Akhirnya penantian elo selama ini berakhir, Kei.” Kata Laras dengn ekspresi bahagianya.
“Elo salah, Ras. Ferdi sudah berubah dan sebentar lagi dia akan bertunangan dengan putri pengusaha sekaligus pemilik yayasan sekolah tempat gue magang.”
“Lho, kok bisa Kei? Jadi dia hianatin elo gitu?”
“Iya, dia hianatin gue selama itu. Penantian empat tahun sia-sia sudah. Ya dia bilang sih balas budi tapi selama itu tidak mungkin hanya balas budi. Apalagi Ferdi di berikan fasilitas hidup yang mewah dan pekerjaan yang menjanjikan. Sekarang dia tidak perlu susah payah lagi kan? Jadi belakangan ini itulah kesibukan gue yang super rumit dan menyiksa batin. Masalah satu belum kelar, eh tunangannya Ferdi ngeberhentiin gue magang di sekolah. Baru aja gue ketemuan sama dia.”
“Ya ampun Kei, sabar ya. Gue nggak nyangka elo menghilang justru sedang dalam masalah,’’ kata Johan.
“Yang gue pikirin gimana kalau sampai Kak Kenny tahu, dia pasti marah dan kecewa sama gue.”
“Ya nanti kita coba cari tempat magang lain saja, Kei. Atau masalah yang di hadapi Marvel dan papanya kan bisa elo jadiin bahan skripsi. Kalau magang kan bisa dimana saja. Elo justru bisa ikut membantu dipanti asuhan atau panti jompo kan? Elo bisa tahu juga bagaimana perasaan mereka yag tidak punya orang tua atau bahkan para lansia yang menyimpan kesedihan karena di tinggalkan di panti jompo tanpa ada keluarga yang mendampingi,’’ usul Laras panjang lebar.
“Ide bagus juga, Ras! Tumben otak elo encer,” gurau Keira.
“Mungkin dia habis dapat pencerahan, Kei. Tapi ide Laras lebih bagus daripada elo terlibat sama si tunangannya Fedi itu.”
“Thanks banget ya, lega banget bisa ketemu kalian dan dapat solusi. Kalian memang terbaik.”
“Itulah gunanya sahabat, Kei. Elo juga selalu baik dan selalu kasih solusi buat kita,” kata Johan. Saat mereka asyik ngobrol, ponsel Keira bordering tanda panggilan masuk. Hanya nomor saja dan tanpa nama.
“Siapa nih?” gumam Keira.
“Angkat saja, Kei. Siapa tahu penting.” Kata Laras. Keira pun menerima panggilan itu.
“Halo, siapa ya?” tanya Keira dengan santainya.
“Kei, ini aku Kevin.”
“Tu-tuan Kevin? Ada apa menelpon?” ketus Keira.
“Apa Marvel bersama mu?”
“Tidak. Aku tidak bersama Marvel.”
“Jangan bercanda Kei, aku tahu kamu marah dan kecewa tapi tolong jawab yang jujur.”
“Aku sudah jujur tuan! Aku tidak bersama Marvel. Bukankah tadi dia di kamar, aku sendiri baru saja dari sekolah.” Jawab Keira dengan serius dan penuh penekanan.
“Marvel tidak adadi rumah, Kei. Aku sudah menelepon Miko tapi juga dia tidak ada disana. Aku melihat dari rekaman CCTV di rumah, sepertinya Marvel mendengar percakapan kita dan terlihat dia langsung pergi. Aku pikir dia ada bersama kamu,’’ cerita Kevin dengan penuh kekhawatiran. Keira bisa merasakan kekhawatiran Kevin.
“Baiklah aku akan membantu mencarinya, Tuan. Sebaiknya anda menyisirjalanan, siapa tahu Marvel masih di sekitar sana. “
“Baiklah, terima kasih.” Kevin dengan lemas mengakhiri panggilannya dan ia pun segera keluar mencari Marvel.
‘Ada apa, Kei?” tanya Laras.
“Om duda yang menelepon katanya Marvel hilang. Marvel kabur setelah mendengar gue adu mulut sama duda keras kepala itu. Habis gue kesel, hamper aja gue tonjok mukanya. Sumpah gatel tangan gue. Gue cabut dulu ya!” cerocos Keira dengan kesal.
“Ya udah elo hati-hati ya. Semoga Marvel segera ketemu.” Kata Laras.
“Amin. Thanks ya,’’ ucap Keira sambil berlalu.
“Jangan lupa kabarin kita, Kei!” seru Johan.
“Oke!” sahut Keira dari kejauhan.
Bersambung....