
Saat sampai di butik istrinya, Miko mendapati banyak buket bunga yang berjajar memenuhi sofa bahkan meja. Miko mendadak kesal dan memeriksa satu persatu pengirimnya.
- Terima kasih Nona Gina, kamu memang terbaik. Tuan Hadson.
- Harum bunga ini tak seharum aroma tubuhmu. Dan kecantikan bungan ini tak mengalahkan kecantikanmu. Karena semua aroma harum dan kecantikan bunga ini, semua berpindah padamu Nona Gina. Prince William.
Baru membaca dua pengirim bunga saja, Miko mendadak kesal.
''Aroma tubuh? apa yang dia lakukan pada istriku?'' gerutu Miko.
''Lho Mas, kamu disini?'' Gina terkejut dengan kedatangan suaminya yang mendadak sudah berada di butik tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
''Sayang, ini apa-apaan? kenapa banyak buket bunga disini? terus siapa ini Tuan Hadson dan Prince William ini? Lihat saja kata-katanya sangat menjijikkan. Memangnya apa yang kamu lakukan dengannya? Terima kasih, kamu memang terbaik. Terus ini apa? kenapa ada aroma tubuh segala?'' cerocos Miko panjang lebar dengan amarahnya. Gina justru tertawa melihat sikap aneh suaminya.
''Kamu ini kenapa sih? kenapa marah-marah? bukannya sudah biasa aku mendapat buket bunga seperti ini? bahkan kamu tidak pernah peduli. Terus kenapa sekarang peduli?'' Karena selama pernikahan, Miko memang hampir tidak pernah merasa cemburu pada Gina. Karena mereka sudah saling mengenal dan percaya jadi Miko hampir tidak pernah cemburu. Namun Gina tetap menyimpan rasa cemburu dan terkadang ada rasa was-was di sudut hatinya takut kalau Miko akan kambuh menjadi casanova penebar cinta. Ya, Miko bahkan terlalu percaya diri kalau Gina tidak akan melirik pria lain. Namun ucapan Kevin beberapa menit tadi sungguh menganggunya.
''Ya, bukannya gitu. Aku iseng aja baca, eh ternyata ada yang aneh juga. Memang siapa mereka?''
''Mereka semua klien dan penggemar aku. Kamu lupa kalau istrimu ini desainer terkenal? bahkan popularitasnya seperti selebiriti. Kamu saja kan yang tidak mau tereskpose media bahkan cenderung tidak peduli dengan buket-buket ini.''
''Ya bukannya begitu, sayang. Aku terlalu percaya padamu jadi kamu tidak mungkin berbuat aneh di belakangku.''
''Padahal aku juga ingin melihat kamu cemburu dengan melihat buket ini.''
''Lalu Tuan Hudson itu siapa? usianya berapa dan pekerjaannya apa? terus dia sudah berumah tangga atau single?''
''Tuan Hudson adalah pengusaha tambang emas. Dia berusia 50 tahun sudah beristri. Dia mengucapkan itu karena selalu puas dengan rancanganku, Mas. Apalagi istrinya, dia sangat menyukai rancanganku.'' Jelas Gina.
''Lalu Prince William siapa? sok-sokan prince segala.''
''Namanya memang Prince William. Dia seorang pria berusia tiga puluh tahun, single, campuran Indo Rusia, dia pengusaha di bidang otomotif. Lebih tepatnya dia memiliki showroom mobil mewah dan juga pengusaha real estate yang tersebar di Indonesia dan juga luar negeri.''
Miko semakin panas saat mendengar penjelasan Gina tentang siapa Prince William.
''Lalu kenapa bahasanya seperti itu? apa kamu selingkuh dengannya?''
''Ya ampun, ya nggak lah, Mas. Dia tahu kalau aku sudah menikah. Dia juga langganan di butik aku selama bertahun-tahun. Setiap bulan dia selalu mengirim bunga untukku, begitu juga dengan Tuan Hadson. Kamu saja yang memang tidak pernah mau tahu. Tapi aku bersyukur juga kalau kamu tidak cemburu, aku bisa bekerja dengan tenang, hehehe.''
''Hmmm benar sekali yang di bilang Kevin. Circle Gina memang bukan kaleng-kaleng.'' Batin Miko bergejolak.
''Kamu bakal capek Mas bacanya. Ini tidak hanya dari pria kok, Mas. Dari cewek-cewek juga banyak. Baiklah daripada kamu marah dan salah paham begini, sebaiknya kita makan siang bagaimana?''
Miko hanya mengangguk dengan ekspresi wajah kesalnya. Sesampainya di restoran, Miko dan Gina menikmati makan siang bersama dengan selingan obrolan.
''Bagaimana tadi pertemuan kamu, Nadia dan Kak Kevin, Mas?''
''Semuanya berjalan lancar kok. Nadia langsung bertindak cepat.''
''Syukurlah, semoga semua masalah Kak Kevin segera selesai.''
''Oh ya, Gin. Bagaimana kalau kita periksa lagi? siapa tahu setelah bulan madu kemarin, ada hal baik. Kita periksa kesuburan lagi bagaimana?''
''Tidak apa-apa, Mas. Memangnya kapan?''
''Tapi aku tidak mau di rumah sakit itu dan dokter itu. Aku ingin di rumah sakit lain dan dokter yang lebih pintar. Masa iya berkali-kali periksa disana tidak ada perubahan.'' Mendengar apa yang di ucapkan suaminya, Gina terkejut dan membuatnya terbatuk.
''Maaf, Mas.'' Gina lalu menenggak minuman di hadapannya.
''Memangnya kenapa tidak di rumah sakit itu saja, Mas? kita kan sudah kenal dengan dokternya.''
''Aku tidak mau! karena tidak ada perubahan sama sekali. Aku ingin mencari dokter yang lebih bagus, atau sekelas profesor lah. Aku sudah mencari infonya dan setelah makan siang kita berangkat kesana ya. Aku sudah membuat janji dengan profesor Lukman.''
Deg! Gina mendadak merasa panik dan selera makannya mendadak hilang.
''Apa ini karena Mama? apa Mama mendesakmu?''
Miko lalu menggenggam tangan Gina untuk meyakinkannya. ''Bukan sayang. Kamu jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu hasilnya saja. Kalau memang di antara kita ada yang tidak bagus, kita bisa langsung menjalani pengobatan. Kalau pun memang ada kemungkinan terburuk, aku siap untuk mengadopsi anak. Apapun hasilnya aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang. Percayalah padaku.''
Gina hanya tersenyum kecil mendengar apa yang Miko ucapkan.
''Ya Tuhan, aku tidak mau pemeriksaan ini akan menyakitkan untuk Miko.'' Gumam Gina dalam hati.
-
''Apa? semua aset milik Papa disita?'' Mauren sangat terkejut saat mendapat kabar tentang penangkapan Papanya dari aspri Tuan Sandi.
''Iya Nona. Tuan sekarang sedang di bawa ke kantor polisi Jerman untuk di interogasi. Semua bisnis ilegal Tuan Sandi telah di bekukan termasuk seluruh rekening miliknya dan juga milik Nona. Kita sudah lama di incar dan di mata-matai oleh agen FBI dan Interpol. Kata Tuan, Nona sebaiknya di Indonesia saja. Karena disana lebih aman. Semua kejahatan kita sudah terbongkar. Saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju bandara. Tuan meminta saya untuk menyusul anda. Bahkan Nyonya turut serta di bawa ke kantor polisi. Saham perusahaan anjlok dan salam sekejap, semuanya lenyap, Nona.''
Mauren yang masih di kantor pun menjadi panik. Ia gemetar dan merasa takut. Karena kini Papanya tidak memiliki kuasa apapun. Ia terduduk lemas, tubuhnya terasa ringan dan semuanya terasa lunglai. Ia lalu mengakhiri panggilan dari aspri Papanya.
''Tidak mungkin. Bagaimana seorang Papa bisa tertangkap bahkan semuanya habis? lalu apa yang harus aku lakukan? pasti mereka setelah ini akan merongrong dan memerasku. Mereka akan mengancam ku dengan membongkar semua kejahatnku. Tidak-tidak! ini tidak boleh terjadi.'' Kepanikan Mauren tidak bisa ia bendung lagi. Ia lalu meninggalkan ruangannya dan memilih menuju bar.
-
Dua jam pun berlalu sudah setelah pemeriksaan menyeluruh. Gina dan Miko kini sedang berhadapan dengan Profesor Lukman. Miko dan Gina tampak saling menggenggam. Gina sangat takut dan khawatir kalau Miko akan terluka setelah membaca hasilnya.
''Tuan Miko dan Nyonya Gina. Dari hasil pemeriksaan menyeluruh mulai dari kondisi sel telur, kondisi rahim bahkan tes darah, tidak ada masalah apapun pada Nyonya Gina. Semuanya baik-baik saja dan Nyonya Gina sangat subur sekali. Namun dari hasil pemeriksaan Tuan Miko, ada masalah dengan ****** Tuan Miko.''
Deg! Batin Miko tersentak. ''Maksud Profesor apa ya?''
''Maafkan saya Tuan Miko dari hasil pemeriksaan menyeluruh, Tuan Miko lah yang tidak subur.''
Mendengar penjelasan Profesor, Miko bagaikan di sambar petir di siang bolong. Sementara Gina berusaha menahan air matanya sambil terus menggenggam tangan Miko.
''Tidak mungkin, Prof. Dari pemeriksaan sebelumnya kata Dokter, kami baik-baik saja. Pasti Profesor salah periksa.''
''Tuan Miko, tenanglah. Ini bukan akhir dari segalanya. Masih ada cara lain.''
''Tapi kami sudah pernah mencoba bayi tabung dan dua kali gagal, Prof.'' Sahut Gina.
''Sebelum melakukan itu, saya sudah merekomendasikan obat penyubur ******. Konsumsi obat ini secara rutin selama dua bulan. Nanti kita akan mencobanya lagi, Tuan.''
Miko benar-benar terpukul dengan apa yang Profesor Lukman katakan. Kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang. Angan Miko melambung, mengingat kembali kejadian satu tahun lalu. Pasca pertama kali periksa dan kegagalan pertama bayi tabung, Gina sering sekali memasak tumis kangkung dengan kecambah. Bahkan sayuran yang tidak terlalu ia suka. Gina yang tidak pernah melarangnya merokok atau sekedar meminum minuman alkohol, mendadak membatasinya. Bahkan Gina selalu memberikannya obat setelah ia makan, dengan dalih bahwa obat itu adalah vitamin penambah imun.
"Akhirnya Mas Miko tahu juga. Maaf kan aku ya, Mas. Bukan aku tidak jujur tapi aku tidak mau kamu terluka. Aku menerima dan mencintaimu apa adanya, Mas." Ucap Gina dalam hati yang larut dalam lamunannya. Hanya ada keheningan di dalam mobil. Miko dan Gina sibuk berkutat dalam gejolak batin mereka.
Bersambung...