
Malam harinya, Keira membawa secangkir teh untuk Kevin yang sedang berada di ruang kerjanya.
''Mas, ini tehnya.''
''Terima kasih ya. Duduklah.'' Kata Kevin sambil menepuk pahanya, meminta Keira untuk duduk di pangkuannya.
''Kamu kan sedang sibuk, Mas. Nanti aku malah menganggu lagi.''
''Sudah, kemarilah." Paksa Kevin. Keira dengan malu-malu berjalan kearah suaminya. Kevin lalu menarik Keira untuk duduk di pangkuannya.
''Menurutmu, desain smart watch ini sudah bagus belum?'' tanya Kevin sambil menunjukkan hasil kerjanya lewat layar laptip di hadapan Keira.
''Oh jadi ini ya yang sedang kamu kerjakan, Mas?''
''Iya. Ya, aku akui Mauren banyak membantu. Tapi kamu jangan salah paham ya. Dan sekarang aku minta pendapat kamu.''
''Mmmm sudah bagus kok, Mas. Ini kesannya elegan cocok untuk orang dewasa. Kalau yang pelajara, sasaran kamu usia berapa Mas?''
''Mmmm semua kalangan sih.''
''Kalau untuk sekolah dasar sampai mendengah atas, ada baiknya tali atau strapnya itu berwarna. Ya tidak perlu yang mencolok, Mas. Warna yang kalem-kalem aja, misal cream, kuning, tosca atau peach gitu. Jadi kesannya itu tidak kaku dan desainnya buat yang casual. Kalau untuk kalangan anak kuliah seperti aku, aku sukanya yang model casual dan sporty. Tapi menurut aku ya Mas, smart watch saat ini sudah mencakup senua kalangan sih jadi menurut aku, kamu tidak perlu mengkotak-kotakkan sasaran usia. Kamu buat aja desainnya dengan berbagai macam strap, terkadang orang gua juga ingin bergaya seperti anak muda, iya kan? Jadi kamu buat aja dengan berbagai jenis strap. Ada yang dari metal, karet dan kulit. Terus layarnya nanti kamu juga membuat lingkaran atau persegi. Dan yang jelas harus waterproof sih Mas, supaya si pemakai tidak merasa bingung saat tiba-tiba turun hujan atau terkena air. Dan satu lagi, kekuatan baterainya sampai berpa jam,'' jelas Keira panjang lebar. Kevin tidak menyangka kalau istrinya juga memiliki kemampuan yang terpendam. Dan Kevin pun semakin di buat kagum olehnya.
''Lalu apa lagi, Kei?'' tanya Kevin sambil memandang wajah Keira penuh rasa kagum.
''Lalu, kira-kira fiture apa saja yang ada dalam smartwatch kamu, Mas?''
''Yang jelas bisa melakukan panggilan dan mengirim pesan itu poin utama. Dan aku juga menawarkan fiture mulai dari menghitung detak jantung, mengukur tekanan darah, manajemen stress, hingga navigasi dengan GPS semua bisa ditemukan. Bluetooth dan musik juga ada.''
''Udah bagus sih, Mas. Tentu saja dengan fasilitas canggih, jam tangan kamu sepertinya hanya untuk kalangan atas, Mas. Kalau untuk pelajar khususnya sekolah dasar, sebaiknya kamu batasi fiture saja. Anak sekolah dasar seusia Marvel, mereka belum bijak dalam menggunakan teknologi. Bukannya di kelas mereka fokus belajar tapi malah sibuk main smartwatchnya. Apalagi jaman sekarang yang namanya gadget, menguasai dunia anak-anak. Toh kebutuhan mereka yang masih sekolah dasar itu apa sih? Berbeda dengan mereka yang mungkin sudah beranjak remaja atau dewasa. Mereka bisa membeli dan memilih smartwatch sesuai dengan kebutuhan mereka. Kalau seusia Marvel, tentu saja masih harus di dampingi oleh orang tua. Dan kalau soal desain itu bebas sih Mas, hanya berbeda pada fiture yang di suguhkan saja tentu dengan harga yang sedikit murah lah. Itu aja sih Mas, pendapat aku. Aku melihat itu dari psikologis anak-anak, remaja dan orang dewasa. Karena aku sama sekali tidak mengerti bisnis seperti ini.''
Muah. Kecupan mendarat di pipi Keira.
''Kok di cium?'' tanya Keira dengan tatapan penuh selidik.
''Karena kamu hebat! Pemikiran ku tidak sejauh kamu. Kenapa kamu bisa sedetail itu sih, Kei? Kamu besok temani aku meeting ya. Kamu presentasikan apa yang kamu katakan itu pada klien.''
''Aku? Presentasi? Oh tidak, Mas! Aku tidak mau. Aku tidak mengerti urusan bisnis, yang ada aku malah di tertawakan.''
''Ayolah, Kei. Pemikiran kamu itu sangat luas sekali tentang proyek ini. Bukan hanya sekedar teknologi dan kemasan saja tetapi berdasarkan kebutuhan untuk setiap individu dan golongan.'' Bujuk Kevin sambil mempererat pelukannya.
''Mas, kamu sajalah yang mempresentasikan. Aku kan sudah memberimu ide dan gagasan. Aku juga tidak meminta kamu untuk setuju atau menyukainya. Karena ide Mauren justru lebih bagus.''
''Kata siapa? Menurut aku ide kamu yang bagus.''
''Memang iden Mauren apa? Lalu saat itu kamu bertemu dengan klien apa?''
''Ya mereka mensuport sistem operasi alias software yang akan aku gunakan dan emas.''
''Emas? Untuk apa, Mas?''
''Ya untuk melapisi jam tangan itulah. Jadi jamnya berlapis emas, sembari membeli jam mereka juga sudah berinvestasi. Karena nantinya mereka bisa menjualnya lagi.''
''Aduhhh, istri aku kenapa pinter banget ya? Kenapa kamu semakin mengagumkan. Sumpah ya aku gemes banget sama kamu.'' Kata Kevin sambil mencium pipi Keira bertubi-tubi, bahkan saking gemas dan bangganya, Kevin sampai menyedot pipi Keira.
''Mas, ihhhh! Kamu kayak vakum saja. Nanti kalau pipiku ada bekas merahnya gimana? Kan malu di lihat orang,'' protes Keira dengan bibir manyunnya.
''Ya bilang aja kamu pakai blush on. Habisnya aku bangga banget sama kamu, kamu hebat. Pokoknya besok kamu harus temani aku ke kantor dan presentasikan ide kamu di hadapan Tuan Steven Chou dan Tuan Michael. Karena besok Mauren membuat janji di hotel.''
''Di hotel? Kenapa harus di hotel?''
''Namanya juga meeting. Kamu juga kalau meeting di bawa ke hotel kan?''
''Mas, jangan mulai deh. Di hotel juga nggak semuanya gitu kali. Kamu ini berprasangka buruk terus.''
''Kamu atau aku yang buruk sangka? Makanya aku mau mengajak kamu. Aku ingin minta pendapat kamu. Ini proyek besar ku, Kei. Mauren yang akan membantu mempromosikan ke luar negeri.''
''Hmmm Mauren lagi, Mauren lagi, males ah,'' gerutu Keira dengan kesal. Ia pun kemudian turun dari pangkuan Kevin dengan wajah cemberutnya.
''Keira sayang, jangan marah dong! Makanya aku ingin mengajak kamu, supaya semua orang tahu kalau aku memiliki istri yang sangat hebat dan bukan sekedar cantik.'' Kata Kevin yang berusaha membujuk Keira. Kevin kemudian berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.
''Ayolah bantu aku, Kei. Aku ingin semua orang tahu kalau istriku ini sangat hebat dan cerdas. Pola pikir kamu itu luas sekali. Jujur apa yang kamu ucapkan itu benar sekali. Kamu selalu dan selalu membuatku kagum, Kei. Dan aku pun semakin mencintai kamu.''
''Hmmmm besok ada Mauren dan meeting di hotel. Memang sebaiknya aku harus ikut dan mengawasinya, jangan sampai dia di hotel itu macam-macam dengan suamiku. Tidak akan kubiarkan lalat menempel pada tubuh suamiku bahkan semut sekalipun,'' kata Keira dalam hati.
''Baiklah Mas, besok aku akan ikut dengan mu.''
''Terima kasih ya sayangku. MUAH, MUAH, MUAH!" lagi-lagi kecupan dengan gemas mendapat di pipi Keira.
''Mas, pipiku nanti bisa kempes.''
''Nanti aku pompa lagi biar mengembang. Mmmm kamu mau lolipop?''
''Mau tapi aku mau rasa strawberry.'' Kata Keira malu-malu.
''Ya udah nanti di oleh pakai selai aja ya biar enak,'' ucap Kevin terkekeh.
''Dan aku setiap mau tidur selain minum teh, harus minum susu dulu ya. Itu WAJIB!"
"Memang mau rasa apa, Mas?''
''Mmmm rasa vanilla dan less sugar, supaya tidak diabetes.'' Ucap Kevin seraya tertawa.
''Baiklah Mas, aku bersiap dulu ke kamar. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu.''
''Baiklah, sepuluh menit aku ke kamar ya.'' Kata Kevin sambil melepaskan pelukannya.
''Iya Mas.'' Keira kemudian berlalu menuju kamarnya.
Bersambung.... Di bikin part lolipop apa nggak ya enaknya??? Atau skip aja??? Hehehehe