
Keira pun buru-buru terbangun dan menyadari posisinya.
''Tuan sengaja ya? dasar mesum!" ucap Keira sambil mengusap kasar bibirnya.
''Kei, siapa yang sengaja sih? tubuhku benar-benar lemas. Ayo cepat bantu aku berdiri,'' kata Kevin yang masih berada di lantai.
''Aku tidak mau! bangun saja sendiri,'' ketus Keira. Akhirnya Kevin pun terpaksa bangun sendiri namun ia merasa kesulitan. Tubuhnya sangat lemah dan tidak bertenaga karena kehilangan selera makan di tambah ia terus muntah. Keira yang tidak tega pun akhirnya berusaha membantu Kevin berdiri dan membawanya duduk di tepi ranjang.
''Cepat makanlah tuan, jangan lupa minum obatnya.'' Ucap Keira. Kevin hanya mengangguk dan mulai memakan nasi tim di pangkuannya sembari menatap Keira yang sedang menyiapkan obatnya.
''Lagi-lagi dia yang menolongku, bahkan sepupuku sendiri jijik saat melihatku muntah,'' gumam Kevin dalam hati.
''Jangan diam-diam menatapku tuan, nanti tuan bisa jatuh cinta,'' kata Keira yang mendadak membuat Kevin salah tingkah.
''Si-siapa yang menatapmu? dasar ge-er!" sanggah Kevin yang buru-buru mengalihkan pandangannya.
''Aku tahu tuan, jangan berbohong! sudah cepat minum obatnya. Aku mau pergi!" kata Keira sambil menyodorkan obat untuk Kevin tak lupa dengan airnya juga.
''Oh ya aku sudah menghubungi Dokter Alan untuk memeriksa kondisi tuan dan sebentar lagi akan datang.''
''Untuk apa memanggilnya? aku sudah baik-baik saja.''
''Yakin baik-baik saja? anda saja tidak mau makan apapun. Obat yang di berikan dokter pun tidak tuan minum? bahkan tuan tidak mau makan. Setidaknya, lakukanlah ini demi Marvel. Apa tuan ingin mati perlahan?'' ketua Keira.
''Doamu jelek sekali,'' kata Kevin memelas.
''Siapa yang mendoakan tuan? tuan saja yang keras kepala seperti anak kecil,'' oceh Keira.
''Permisi Nyonya dan Tuan,'' sapa Alan saat memasuki kamar Kevin.
''Dokter Alan, silahkan masuk!" ucap Keira.
''Kevin, bagaimana keadaanmu?''
''Buruk Dokter. Dia tidak mau makan, minum obat, bahkan baru saja muntah. Dia ini sangat keras kepala sekali, sepertinya dia bosan hidup,'' cerocos Keira panjang lebar. Kevin mendelik sambil menggigit bibir bawahnya mendengar ocehan Keira. Sementara Alan berusaha menahan tawanya karena baru pertama kali ada seorang gadis yang berani memarahi Kevin seperti itu.
''Baiklah Nyonya Kevin, aku akan memeriksa si tuan keras kepala ini,'' kata Alan sembari mengeluarkan peralatannya.
''Bagaimana perutmu?'' tanya Alan.
''Rasanya perih seperti di remas dan mual,'' ucap Kevin saat Alan memeriksa perutnya.
''Kalau kamu ingin hidup lebih lama, seharusnya kamu menurut, Kevin. Lambungmu iritasi dan kalau di biarkan ini sangat berbahaya sekali. Jaga kesehatanmu untuk Marvel. Jangan sampai Keira meninggalkanmu karena dirimu sakit-sakitan,'' kata Alan.
''Meninggalkan bagaimana dokter? kita tidak punya hubungan apapun,'' tegas Keira.
''Sudah kalian tidak usah malu-malu, wajar saja kalian seperti ini.'' Kata Alan yang menolak pembenaran Keira.
''Mama!" seru Marvel.
''Mama? Kevin, kamu sudah menikah? kenapa Marvel memanggilnya Mama? wah kalian jahat sekali ya sudah menikah diam-diam rupanya. Pantas saja kamu selalu disini Kei,'' cerocos Alan tanpa spasi.
''Bu.. bukan Dokter! ini salah paham.''
''Hai Om Dokter! ini Mama ku.'' Kata Marvel sambil memeluk manja lengan Keira.
''Hai juga Marvel. Om Dokter senang sekali melihat kamu akhirnya di temukan dan Om Dokter juga sangat senang akhirnya kamu punya mama.''
''Dia hanya mama untuk Marvel saja, bukan untukku jadi kita tidak punya hubungan apa-apa,'' sahut Kevin.
''Sudah-sudah jangan mengelak lagi, aku pusing mendengar pembelaan kalian. Baiklah Kevin, aku sudah memeriksamu dan menambahkan obat pereda nyeri serta ***** makan. Aku harap kamu mengikuti anjuranku, kalau tidak lambungmu bisa terluka daj akibatnya sangat fatal.'' Kevin hanya mengangguk mendengar nasihat Dokter Alan.
''Kei, tolong jaga tuan keras kepala ini ya. Paksa dia makan dan minum obat. Kalau dia tidak mau, buka paksa mulutnya dan kamu suapi dia, oke? ingat pesan ku kemarin ya, Kei. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Sekarang aku permisi dulu.''
''Iya Dokter, terima kasih ya dan hati-hati.''
''Marvel, jaga papa ya. Om Dokter permisi dulu.''
''Iya Om Dokter, terima kasih.''
''Sama-sama anak tampan.''
Alan pun kemudian pergi meninggalkan rumah Kevin.
''Marvel, mama pergi dulu ya? kamu jaga papa.''
''Mama jangan lama-lama ya? setelah dari panti, segera pulang ke rumah ini ya. Aku tidak bisa menjaga papa sendirian tanpa mama.''
''Iya, setelah selesai, mama akan pulang secepatnya. Papa juga sudah makan dan minum obat juga, jadi tugas mama juga sudah beres. Sekarang mama harus pergi karena tugas mama ini juga demi skripsi dan ujian kelulusan yang tinggal beberapa bulan lagi.''
''Memangnya, mama sudah tidak mengajar di sekolahku?''
''Janji ya mah, jangan bohong!" kata Marvel sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Keira. Keira tersenyum dan mengaitkan jarinya pada Marvel.
''Tuan, aku permisi dulu ya.''
''Oke, pergi sana! terima kasih.'' Kata Kevin dengan sok coolnya. Keira kemudian pergi dan meninggalkan rumah Kevin.
...****************...
Sesampainya di panti, Keira melihat para lansia sedang mengikuti olahraga pagi bersama Leon. Leon mengajak mereka untuk melakukan gerakan ringan sembari berjemur.
''Halo semuanya!" sapa Keira. Leon sungguh bahagia melihat Keira datang dengan senyuman manisnya.
''Maaf ya aku terlambat,'' kata Keira pada Leon.
''Tidak apa-apa, Kei.''
''Oh ya, aku bawa puding buah untuk mereka semua dan juga kamu. Kamu bantu aku bagiin ya?''
''Iya. Ya udah kita bagi saja sekarang, sekalian mereka juga istirahat.''
''Ide bagus.'' Leon dan Keira lalu membagikan puding itu kepada para lansia. Mereka semua sangat senang dengan kehadiran Leon dan juga Keira disana.
Saat jam makan siang tiba, Leon menagih janjinya pada Keira untuk makan siang.
''Kei, aku mau menagih janjimu.''
''Janji apa?''
''Janji untuk makan siang bersama.''
''Oke tapi maaf ya aku tidak bisa lama-lama karena masih ada urusan.''
''Iya tidak apa-apa. Kita cari dekat sini saja tapi aku ingin kita boncengan pakai motor kamu. Bisa kan?''
''Bisa sih tapi kamu serius mau naik motor?''
''Iyalah, memangnya kenapa?''
''Nanti kepanasan lagi.''
''Masa iya cowok takut kepanasan sih, Kei? kamu ini ada-ada saja,'' kata Leon seraya tertawa.
''Ya udah ayo, ini kuncinya.'' Keira lalu memberikan kuncinya pada Leon. Leon sengaja ingin naik motor supaya bisa lebih dekat dengan Keira. Keduanya lalu pergi makan siang bersama dengan mengendari motor, sementara Leon meninggalkan mobilnya di panti.
''Mau makan dimana Kei?''
''Terserah kamu saja. Aku ngikut, kan kamu yang ngajak.''
''Kamu suka nasi uduk nggak?''
''Suka kok.''
''Mau makan nasi uduk di warung?''
''Hah serius kamu mau makan nasi uduk?''
''Serius lah, aku kangen masakan Indonesia Kei. Jadi aku ingin makan nasi uduk tapi kalau kamu tidak mau, kita ke restoran saja.''
''Tidak Leon, aku mau kok. Aku makan apa saja oke.''
''Baiklah kalau begitu kita makan nasi uduk saja.''
Keduanya lalu menuju warung nasi duduk favorit Leon.
''Aku nggak nyangka lho, kalau kamu suka nasi uduk.'' Ucap Keira yang melihat Leon begitu lahap untuk makan.
''Memangnya kenapa Kei? sekalipun aku kuliah di luar negeri tapi lidahku tetap Indonesia. Apalagi makannya pakai tangan seperti ini, di tambah sambal, ayam goreng dan ati ampela seperti ini.''
''Iya sih masakan Indonesia memang ngangenin terutama sambalnya seperti ini. Makasih ya untuk traktiran makan siangnya.''
''Sama-sama Kei. Terima kasih juga ya sudah melunasi janjimu.''
''Sama-sama juga, Leon. Lain kali aku ya yang gantian traktir kamu makan.''
''Boleh banget. Dengan senang hati aku akan menerimanya.'' Kata Leon dengan tatapan yang begitu dalam pada Keira.
''Keira memang beda. Dia cantik, unik, baik, apa adanya dan sederhana. Sepertinya aku sudah jatuh cinta,'' gumam Leon dalam hati.
**Bersambung.....
Halo semuanya, sepertinya episode 55 kehapus ya, jadi yg sebelumnya itu epsd 56 tapi secepatnya aku revisi**.