Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 262 Harapan


Keesokan harinya, Laras sedang duduk diatas closed menanti hasil tespeknya. Wajah Laras berubah masam saat hasil yang ia harapkan tidak sesuai.


''Laras, kamu sudah belum di kamar mandinya? Gantian ya sayang.'' Ucap Krisna dari balik pintu kamar mandi. Mendengar teriakan suaminya, Laras beranjak dan segera keluar. Krisna melihat wajah cemberut Laras.


''Kenapa Ras? Kok cemberut gitu.''


Laras lalu menunjukkan hasil tespeknya pada Krisna.


''Ini apa Ras?'' tanya Krisna tak mengerti.


Laras menghela. ''Itu tespek Kak, untuk mengetes kehamilan dan No itu artinya aku belum positif.''


Krisna tersenyum lalu memeluk Laras. ''Oh jadi ini yang membuatmu cemberut? Ya sudahlah tidak apa-apa. Aku juga tidak menuntutmu untuk segera memiliki anak Laras. Kita menikah juga baru tiga bulanan jadi masih baru. Kita nikmati saja masa berdua kita. Jangan terlalu di pusingkan, nanti kalau kamu stres malah lama lho. Sebaiknya kita mandi terus sarapan.''


''Tapi bagaimana dengan Ibu? Ibu pasti mengharapkan cucu dari kita.''


''Sudah jangan memikirkan terlalu jauh. Hasil tes kesehatan kita juga baik-baik saja kan? Ibu juga tidak menuntut kita. Sudah jangan sedih lagi ya.''


''Iya Kak.'' Jawab Laras. Meskipun tak di pungkiri Laras merasa sedih.


''Oh ya lusa pembukaan butik kamu kan? Jadi kamu harus happy ya. Apa yang kurang kamu bilang saja padaku.''


''Sudah lengkap semuanya kok, Kak.''


Setelah selesai mandi, Krisna dan Laras segera menuju ruang makan. Terlihat Nyonya Dewi sedang memindahkan makanan keatas meja makan.


''Pagi Ibu,'' sapa Laras.


''Pagi Laras, bagaimana tidurmu nak? Nyenyak?'' tanya Nyonya Dewi.


''Selalu nyenyak Ibu.'' Jawab Laras seraya memberikan kecupan di pipi Nyonya Dewi. Laras sangat manja dengan Nyonya Dewi bahkan Laras sudah menganggap Nyonya Dewi seperti ibu kandungnya sendiri. Begitu pula Nyonya Dewi yang sangat senang kalau Laras manja dengannya.


''Ayo kita sarapan! Bibi sudah masak untuk kita.'' Ucap Nyonya Dewi.


''Iya Bu.'' Jawab Krisna seraya duduk.


''Kakak mau apa?''


''Aku mau semuanya, sayang.'' Jawab Krisna. Laras lalu menuangkan nasi beserta lauk dan sayur kedalam piring Krisna.


''Ibu aku ambilkan sekalian ya.'' Ucap Laras setelah melayani suaminya.


''Iya Nak, terima kasih ya.'' Kata Nyonya Dewi.


''Sama-sama Ibu.'' Rutinitas itulah yang selalu Laras lalukan saat di meja makan. Selalu berusaha melayani suami dan Ibu mertuanya.


''Oh ya Bu, Laras mau bilang sesuatu.''


''Katakan saja, Nak.'' Jawab Nyonya Dewi.


''Hasil tespek Laras masih negatif,'' ucap Laras seraya menunduk lesu.


Nyonya Dewi tersenyum. ''Tidak apa-apa Laras. Ibu juga tidak menuntut kalian untuk segera memiliki momongan. Sedikasihnya saja, Nak. Ibu dulu setahun lebih baru ada Krisna. Kamu yang sabar ya, lagian kalian menikah juga baru beberapa bulan sajs jadi nikmati saja waktu kalian.''


''Iya tapi Ibu pasti ingin sekali memiliki cucu kan?'' kata Laras.


''Siapa sih yang tidak ingin memiliki anak ataupun cucu? Tapi kalau memang belum dikasih, kita mau apa nak? Selain berdoa dan berusaha. Dan yang penting kamu harus bahagia. Jangan dijadikan beban pikiran karena kalau hal itu terjadi, kamu bisa stres. Dan stres juga bisa menpengaruhi kesehatan kamu. Intinya bahagia saja ya. Ibu akan sabar kok.'' Ucap Nyonya Dewi dengan begitu bijaknya.


''Laras lega sekali mendengar ucapan Ibu. Laras takut kalau Ibu marah dan benci sama Laras. Terus Kak Krisna disuruh nikah lagi deh kayak di sinetron-sinteron itu.'' Celetuk Laras yang justru disambut tawa Ibu mertuanya. Sedangkan Krisna hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan pemikiran Laras.


''Laras, Laras, kamu ini lucu sekali, Nak. Kamu kebanyakan nonton sinetron ku menangis ya? Yang mertuanya jahat, nyruh anaknya nikah lagi-lagi karena menantunya belum hamil-hamil, iya kan?'' kata Nyonya Dewi. Laras pun mengangguk dengan tatapan sedih.


''Benar apa yang dikatan suami kamu, Laras. Ibu bukan ibu mertua seperti itu. Kamu tenang saja ya, buang jauh pikiran itu. Lagian kamu ini ada-ada saja.'' Kata Nyonya Dewi terkekeh.


''Sebaiknya kamu makan ya, setelah ini aku antara kebutik.'' Sahut Krisna.


''Iya Kak.''


''Laras, Ibu sangat menyayangi kamu seperti anak kandung Ibu sendiri. Jadi seorang Ibu tidak mungkin akan menyakiti hati putrinya. Apa yang kita miliki adalah titipan termasuk juga seorang anak. Pesan Ibu jangan dijadikan beban.''


''Iya Ibu, terima kasih ya.''


''Sama-sama Nak.''


Setelah sarapan Krisna dan Laras berpamitan pada Nyonya Dewi.


''Tuh kan Ibu tidak marah. Kamu saja yang overthinking Laras.'' Ucap Krisna sembari tetap fokus menyetir.


''Ya kan aku juga khawatir, Kak. Kalau kita lama dikasih anaknya gimana? Apa kamu mau menikah lagi?'' celetuk Laras. Krisna jengkel mendengar ucapan istrinya itu. Ia lalu menyentil kening istrinya.


''Bodoh! Pikiran macam apa itu, Ras? Tujuan kita menikah itu untuk apa sih?'' tanya Krisna.


''Untuk dapat anak, bukankah begitu?''


''Itu pemikiran pendek, Laras. Meksipun aku bukan seorang yang memiliki agama yang bagus, setidaknya aku mengerti bahwa menikah itu untuk ibadah. Sebuah ibadah yang tidak cuma sehari, sebulan atau bertahun-tahun tapi menikah itu adalah ibadah selamanya. Kalau niat kita ibadah, ya sudah ibadah saja. Ada atau tidaknya anak, kita harus tetap bersama sampai akhir, Laras. Jadi stop berpikir aneh ya kamu. Dan berhenti menonton sinetron seperti itu. Lebih baik kamu mancari referensi untuk desain terbaru kamu. Cari inovasi untuk membuat karya yang lebih hebat daripada kamu memikirkan hal seperti itu. Kita saja baru menikah beberapa bulan, masa iya pikiran kamu sejauh itu.''


''Oh ternyata suami aku dewasa sekali ya, bijak sekali pemikiranmu, Kak. Jadi makin cinta deh aku,'' ucap Laras seraya memeluk lengan suaminya.


''Makanya stop bermain-main dengan pikiranmu, Laras. Lebih baik fokus ke usaha yang sedang kamu rintis, bukankah ini mimpi kamu?''


''Yes, its my dream. Terima kasih ya Kak, Kakak sudah membantu mewujudkan mimpiku.''


''Sudah seharusnya sebagai seorang suami aku melakukan itu, Laras. Sudah ya berhenti berpikir macam-macam.''


''Mmmm nanti kita coba lagi ya.''


''Tentu saja. Kita coba sampai berhasil. Toh nyobanya enak bikin merem melek,'' celetuk Krisna terkekeh.


''Ihh Kakak, pikirannya mesum.''


''Tidak apa-apalah, kan sama isti sendiri.''


''Kakak awas ya kalau di kantor atau di luar sana macam-macam. Apalagi tremornya Kakak sudah sembuh.''


''Tuh kan pikirannya mulai lagi. Sekalipun sudah tidak tremor lagi, aku bukan pria genit istriku. Dimataku cuma ada kamu seorang. Sekarang ya circle kehidupan aku cuma kamu, kerja, rumah, sudah itu saja. Mana pernah sih aku hangout. Aku saja tidak punya teman. Cuma kamu yang membuatku berani.''


''Hehehe maaf Kak. Aku takut saja kalau Kakak akan berubah.''


''Tidak akan ada yang berubah, istriku.''


''Kalau begitu nanti kita makan siang sama-sama ya.''


''Iya. Nanti biar aku yang ke butik kamu ya. Kamu mau apa?''


''Apa saja Kak. Apapun yang Kakak berikan akan aku makan.''


''Oke. I love you sayang.'' Ucap Krisna.


''I love you too suamiku.''


Bersambung....