
Siang itu Tessa membawakan makan siang untuk Johan. Mereka berdua kini sedang duduk berdua ditaman kantor, sembari menikmati makan siang.
''Tessa, aku sudah membeli rumah untuk kita tempati. Besok kita lihat sama-sama rumah itu ya.''
''Iya Jo. Oh ya tapi aku tidak melihat mobilmu, Jo.''
''Tessa, aku sudah menjual mobilku dan membeli mobil yang lebih kecil.''
''Johan, kenapa kamu harus menjualnya?''
Johan kemudian meraih kedua tangan Tessa dan menggenggamnya. ''Tessa aku memutuskan membeli rumah yang lebih layak untuk kita tempati. Aku menjual mobilnya untuk DP, Tes. Aku membeli rumah type 60 dengan dua lantai. Aku juga akan membuatkan kolam renang untuk Anrez.''
''Jo, kenapa kamu melakukan itu? Itu cicilannya tidak sedikit, Jo.''
''Kamu tenang saja ya, biar aku yang mengurus semuanya. Tessa, nantinya kita akan menikah dan tentu saja kita akan mempunyai anak. Aku tidak mungkin membeli rumah yang hanya satu kamar saja. Mencicil rumah tidak ada ruginya kok. Karena harga setiap tahunnya naik. Aku ingin memberikan kalian kenyamanan dan lebih leluasa bergerak. Akan ada empat kamar disana. Dua di bawah dan satu di atas. Anrez bisa punya kamar sendiri dan untuk anak kita nanti juga, Tessa. Kita tidak harus berdesakan. Halamannya juga lebih luas. Aku akan bekerja dengan sangat giat. Tuan Kevin memberikanku kompensasi satu tahun bebas angsuran karena Tuan Kevin memahami kondisiku. Percayalah Tessa, semua impian kita akan terwujud satu persatu. Kita sudah memiliki rumah dan sesusai janjiku, aku akan menikahimu.''
''Jo, aku sangat terharu dengan apa yang kamu lakukan. Tapi sungguh aku tidak ingin membebanimu.''
''Tessa, aku sama sekali tidak merasa terbebani. Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang calon suami dan calon Ayah. Saat ini yang aku butuhkan adalah dukungan dan semangat dari kamu, Tessa. Aku mohon jangan bicara apapun lagi.''
''Johan, aku bersyukur sekali mendapatkan pendamping hidup sepertimu. Kamu benar-benar memperjuangkan aku dan Anrez. Aku akan selalu berdoa supaya kamu semakin sukses, diberikan kesehatan, panjang umur dan tentunya selalu mencintaiku dan Anrez.''
''Terima kasih ya, Tessa. Itulah yang aku butuhkan saat ini. Oh ya nanti aku lembur lagi ya. Dan sebaiknya kamu juga mulai berkemas. Kita akan segera pindah, setelah aku bertemu dengan notaris.''
''Iya Johan.'' Keduanya lalu saling berpelukan.
''Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan sosok pria seperti Johan. Lindungilah dia selalu dimanapun dia berada. Aku sangat mencintainya.'' Gumam Tessa dalam hati.
...****************...
''Eh suamiku sudah pulang,'' ucap Keira saat membuka pintu untuk suaminya. Kevin tersenyum lalu memberikan pelukan serta kecupan mesra di bibir Keira.
''Aku merindukanmu, sayang.'' Ucap Kevin.
''Setiap hari ketemu, kok masih saja rindu sih, Mas.''
''Namanya juga cinta, sayang. Tidak ketemu sebentar saja rasanya rindu. Apalagi kamu semakin cantik saja dari hari ke hari.'' Ucap Kevin sembari merangkul Keira, seraya berjalan menuju kamar.
''Kamu suka aku seperti ini atau seperti dulu?''
''Semuanya suka, sayang. Mau rambut hitam, pirang, panjang ataupun pendek, bagi aku kamu selalu cantik.''
''Suamiku memang selalu bisa menyenangkan hati istrinya.''
''Tentu saja harus sayang.''
Sesampainya di kamar, Keira membantu melepaskan dasi dan kemeja suaminya.
''Aku siapkan air hangat ya, Mas.''
''Sebentar sayang,'' Kevin menahan Keira dan justru mendekap Keira dalam dada bidangnya.
''Mas, mau apa sih? Kasihan Marvel nanti makan malam sendiri.''
''Hehehe iya-iya. Aku hanya ingin memelukmu saja. Lima menit lagi.'' Ucap Kevin. Keira hanya bisa pasrah dengan sikap suaminya itu. Setelah lima menit, Kevin melepaskan pelukannya. Dikecupnya kening Keira dengan sangat dalam.
''Aku mandi dulu ya sayang. Nanti malam aku minta jatah lagi.'' Ucapnya sambil mengerlingkan matanya.
''Dasar kamu, Mas. Suami mesum.'' Celetuk Keira. Kevin hanya terkekeh mendengar celetukan suaminya.
Setelah selesai makan malam, Kevin menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian Keira menyusul dengan membawakan secangkir teh dan camilan pisang goreng.
''Mas, teman lemburnya.'' Ucap Keira.
''Terima kasih sayang, letakkan di meja saja ya.''
''Oke.'' Ucap Keira seraya meletakkannya diatas meja.
''Oh ya Mas, bagaimana Johan? Sudah memutuskan untuk pilih yang mana?''
''Sudah sayang. Dia juga memberiku DP 300 juta.''
''Johan dapat uang segitu darimana, Mas? Sedangkan kondisi dia sedang seperti ini. Awas saja ya dia sampai melakukan hal bodoh lagi.''
''Dia menjual mobilnya sayang untuk membeli rumah yang lebih bagus. Dia sangat bertanggung jawab. Bahkan dari pertama masuk, dia selalu mengambil lembur.''
''Ya ampun, Johan-Johan. Dia memang benar-benar sudah berubah sekarang. Semakin dewasa dan bertanggung jawab tapi aku juga kasihan.''
''Tadinya dia mau ambil yang biasa saja sayang. Tapi apa yang dia ucapkan ada benarnya juga. Kelak mereka akan menikah dan mempunyai anak. Kalau rumah dengan satu kamar saja, tentu akan sempit. Jadi dia mengorbankan mobilnya untuk membeli rumah yang lebih bagus. Kalau aku di posisi Johan, aku tentu akan melakukan hal yang sama untuk membahagiakan istri dan anak-anakku.''
''Iya juga sih, Mas. Terima kasih ya Mas, kamu sudah membantu Johan.''
''Sama-sama sayang. Kegigihan dan tanggung jawabnya, yang membuatku salut dan terketuk untuk membantunya.''
...****************...
''Sekali lagi terima kasih Tuan Kevin. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi dengan bantuan yang telah anda berikan.''
''Sudahlah Jo, jangan terima kasih terus. Sekarang kamu harus tunjukkan kerja kerasmu padaku. Dan ini kunci rumahnya.'' Ucap Kevin sambile menyerahkan kunci rumah pada Johan.
''Terima kasih Tuan. Apa boleh nanti saya ijin untuk melihatnya?''
''Tentu saja boleh, Johan.''
''Tuan Kevin dan semuanya, saya juga mengucapkan terima kasih. Tuan Kevin dan semuanya sudah percaya pada kami. Maaf jika kami selalu merepotkan.'' Sahut Tessa.
''Katakan pada calon suamimu untuk lebih semangat bekerja Tessa,'' celetuk Kevin dengan tawa kecilnya.
''Tentu saja Tuan.'' Jawab Tessa dengan sungguh-sungguh.
Saat jam makan siang, Johan dan Tessa pergi menjemput Anrez di sekolah. Setelah itu mereka menuju lokasi rumah baru mereka. Rumah yang lokasinya strategis yang tidak jauh dari sekolah ataupun dari kantor.
''Mah-Om, kita mau kemana?'' tanya Anrez.
''Om ada kejutan untuk kamu dan Mama.'' Sahut Johan.
''Kejutan apa?'' tanya Anrez yang semakin penasaran.
''Lihat saja nanti. Kalau Om bilang sekarang, itu bukannya kejutan.''
''Oke baiklah.'' Jawab Anrez.
Setelah kurang lebih tiga pulih menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah perumahan dengan gapura bertuliskan Sanjaya Residence, dimana itu adalah milik perusahaan Kevin, Sanjata Group. Suasana yang hujau nan asri.
Mata Johan berkaca-kaca, begitu ia sampai di blok rumahnya.
''Ayo turun semuanya!" kata Johan dengan penuh semangat. Tessa dan Anrez pun turun dari mobil dengan semangat.
''Om, ini rumah siapa?'' tanya Anrez. Mata Tessa pun sudah berkaca-kaca, sementara Johan berusaha menahan air matanya. Johan lalu berlutut di dahapan Anrez dan memegang kedua bahu bocah kecil itu.
''Anrez, itu rumah untuk kamu dan Mama Tessa. Nanti kita bertiga akan tinggal disini bersama.''
''Om Johan tidak bohong? Ini rumah kita?''
''Iya Anrez, ini rumah kita.''
''Om, terima kasih ya.'' Anrez pun memeluk erat Johan.
''Sama-sama Anrez.''
''Tessa, apa kamu menyukainya?'' tanya Johan.
''Tentu saja aku suka, Jo. Bagiku ini sudah mewah, apalagi melihat cicilannya membuatku pusing,'' kata Tessa diiringi dengan tawa dan air mata.
Johan yang tadinya terharu, menjadi tertawa mendengar ucapan Tessa. ''Sudahlah jangan pikirkan itu, biar aku yang memikirkannya. Sebaiknya kita masuk ya. Kita lihat-lihat di dalamnya.'' Johan lalu menggandeng Tessa dan Anrez untuk masuk ke dalam rumah. Di lantai bawah ada ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan halaman belakang.
''Anrez, di belakang sini Om akan membuatkanmu kolam renang.''
''Serius Om?''
''Iya, Om akan mewujudkan mimpi kamu untuk membuatkan kolam renang. Tapi maaf ya kalau kolam renangnya tidak seluas dan sebesar milik Marvel.''
''Tidak apa-apa, Om. Anrez saja sudah bahagia dengan ini semua. Om begitu sayang dengan Anrez dan Mama saja sudah cukup, Om.''
''Terima kaish Anrez. Om sayang sekali denganmu.''
''Anrez juga sangat sayang dengan Om Johan.''
''Baiklah ayo kita menuju lantai dua.'' Ajak Johan. Di lantai dua, ada dua kamar dan satu ruang keluarga yang cukup luas, serta satu kamar mandi. Di masing-masing kamar pun memiliki teras balkon yang cukup di gunakan untuk bersantai. Ruang keluarga juga memiliki pintu kaca yang langsung mengarah ke pemandangan luar dan ke balkon.
''Terserah Anrez mau tidur diatas atau bawah juga boleh. Karena sekarang Anrez punya kamar sendiri.'' Kata Johan.
''Yeay, aku punya kamar sendiri. Aku mau diatas saja, Om.'' Anrez melompat kegirangan. Johan pun sangat senang melihat tawa polos Anrez.
''Jo, terima kasih ya.'' Air mata haru pun lolos dari pelupuk mata Tessa.
''Sama-sama Tessa. Minggu depan aku akan menikahimu, Tessa. Tapi maaf kalau aku tidak bisa membuatkan pesta pernikahan untukmu. Karena semua uang sudah masuk untuk rumah. Nanti hanya akan ada penghulu dan saksi.''
''Jo aku sama sekali tidak memikirkan itu. Yang penting di mata hukum dan negara kita sah.''
''Syukurlah kamu mengerti, Tes. Aku hanya berusaha memenuhi janjiku padamu.''
''Terima kasih ya, Jo. Kamu memang pria yang sangat baik dan bertanggung jawab.''
''Apa Anrez setuju kalau Om jadi Papanya Anrez?'' tanya Johan.
''Tentu saja aku sangat setuju, Om. Sekarang Anrez punya Papa Johan yang sangat baik hati dan juga sayang sama Anrez.'' Ucap Anrez dengan polosnya. Mereka bertiga kemudian saling berpelukan.
Bersambung....