Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 99 Iya, Aku cemburu!


Setelah mandi dan membersihkan tubuh masing-masing, Keira pun segera menuju ke atas tempat tidur. Sementara Kevin mengambil selimut dan bantal untuk tidur di sofa.


''Mas, aku boleh pinjam ponselmu?''


''Untuk apa?''


''Aku lupa tadi meletakkannya dimana.''


''Oke.'' Kevin kemudian beranjak dari sofa dan memberikan ponselnya pada Keira.


''Kira-kira siapa namaku di kontak kepala bayu ini ya?'' gumam Keira dalam hati. Keira mencari huruf K, namun tidak menemukannya. Lalu W, yang berarti wanita sewaan tapi juga tidak ada. Akhirnya Keira memilih menuliskan nomornya dan Keira sangat terkejut saat namanya di kontak Kevin di beri nama ISTRI ❤️.


''Hah? Istri?'' batin Keira. Keira mendengar suara ponselnya di dalam tas yang ia masukkan ke dalam almari.


''Sudah ketemu, makasih ya Mas. Kalau boleh tahu kenapa nama kontakku istri?''


Mendadak Kevin panik, ia lupa kalau belum mengubah nama Keira di ponselnya.


''Mmmm itu Marvel yang menulisnya dan aku lupa untuk menggantinya. Aku akan mengganti namamu saja.'' Kata Kevin dengan buru-buru menggantinya dengan KEIRA. Keira hanya tersenyum lalu kembali ke tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali bahkan tulangnya terasa remuk.


''Selamat malam, Kei. Tidurlah dengan nyenyak.''


''Selamat malam juga untuk kamu, Mas.'' Ucap Keira. Ia kemudian berusaha untuk menutup matanya namun rasanya sangat suli sekali. Dari atas tempat tidur, Keira melihat Kevin yang tampak kurang nyaman. Apalagi saat melihat kepala belakang Kevin di perban.


''Mas, tidurlah disini. Aku akan memberi batas guling di tengah-tengah kita.'' Ucap Keira.


''Tidak usah, Kei. Aku sudah nyaman disini.'' Kata Kevin.


''Baiklah kalau begitu. Kalau memang merasa tidak nyaman, Mas tidur saja ya. Aku akan memberi sekat di sini.'' Kata Keira.


''Hmmmm,'' singkat Kevin. Sebenarnya Kevin ingin tapi ia belum siap untuk tidur satu ranjang dengan Keira. Kevin takut kalau dia tidak bisa menahan diri.


-


Kesokan harinya, Keira bangun terlebih dahulu. Ia melihat Kevin masih tertidur pulas di sofa. Keira segera turun kebawah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Kevin dan Marvel.


''Nona, biar Bibi saja yang masak. Nona istirahat saja ya.'' Kata Bi Nani.


''Bi, tidak apa-apa. Aku ingin membuatkan sup untuk Marvel dan Mas Kevin. Aku baik-baik saja, Bi.''


''Ya Allah Non-Non, Bibi kemarin hampir saja jantungan pas dengar Non di culik.''


''Terima kasih ya Bi, sudah mengkhawatirkan aku. Tapi yang jelas penjahat itu sudah di ringkus.''


''Syukurlah Non kalau begitu. Bibi lega sekali.''


Beberapa saat kemudian masakan pun sudah siap. Keira kemudian berjalan menuju kamar Marvel.


''Selamat pagi anak tampan!" sapa Keira saat melihat putra sambungnya sedang mengenakan seragam.


''Selamat pagi Mama ku yang cantik.''


''Kamu semakin mandiri ya sekarang. Dan kamu lebih ceria.''


''Itu semua karena aku sudah memiliki orang tua yang lengkap. Terima kasih ya Mah, sudah mau menjadi Mamaku. I love you Mom.'' Kata Marvel seraya memeluk Keira.


''Mama juga bahagia mempunyai anak seperti kamu and i love you too Marvel. Baiklah sekarang ayo kita sarapan, Mama sudah siapkan sarapan untuk kamu.''


''Siap Mah. Oh ya Mah, jangan lupa janjinya? Aku ingin punya adik.''


''Iya. Mama tidak akan lupa kok. Ya udah kamu ke bawah duluan ya, Mama mau membangunkan Papa dulu.''


''Oke Mah.''


Keira kemudian kembali ke kamarnya, ia melihat Kevin masih tertidur pulas.


''Mas, bangun!" kata Keira sambil menepuk bahu Kevin. Mendengar suara Keira, Kevin perlahan bangun namun kepalanya terasa berat dan sangat pusing. Melihat ekspresi sakit Kevin, membuat Keira reflek menyentuh wajah Kevin.


''Mas baik-baik saja kan? Sebaiknya kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut saja.''


Jantung Kevin berdebar tak beraturan saat tangan Keira menyentuh wajahnya.


''Mmmmm tidak usah nanti akan sembuh sendiri,'' ucapnya dengan gugup.


''Sudah jangan keras kepala dan sok kuat. Lebih baik kita sarapan setelah itu kita ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Dokter Alan dan sebaiknya kamu libur dulu sampai sembuh. Oke.''


''Kamu mengaturku?''


''Iya. Ini untuk kebaikanmu. Semakin tua jangan semakin keras kepala.'' Keira lalu menarik paksa tangan Kevin supaya Kevin beranjak dari sofa tapi justru Kevin yang menarik Keira sampai Keira terjatuh di pangkuannya.


''Mas, aku mau menemani Marvel sarapan,'' kata Keira yang berusaha bangun dari pangkuan Kevin namun justru Kevin menahannya. Kevin lalu melingkarkan tangan Keira di lehernya dan ia memeluk pinggang Keira. Mendadak pipi Keira terasa panas, seperti ada yang aneh dalam dirinya.


''Kei, apa kamu sudah siap?''


''Si-siap untuk apa?''


''Untuk membuatkan Marvel, adik.''


''Mas, sudah jangan membual. Sebaiknya kita sarapan dan pergi ke rumah sakit.''


''Jawab dulu pertanyaanku?''


''Lalu apa kamu mencintaiku?''


DEG. Pertanyaan yang belum bisa Keira jawab. Ia terdiam dan menundukkan pandangannya. Kevin lalu mengangkat dagu Keira dan ia mendekatkan bibirnya pada Keira tapi Keira justru memalingkan wajahnya. Ada rasa kecewa di hati Kevin saat Keira bersikap seperti itu.


''Mas, setidaknya cuci muka dan gosok gigilah jika ingin menciumku.'' Keira kemudian buru-buru keluar dari kamar Kevin. Sementara Kevin tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Keira.


''Baiklah, aku akan mandi dan gosok gigi. Tapi memang aku bau? Aku selalu wangi dan tidak pernah bau. Awas saja kalau aku sudah wangi tapi kamu menolakku, Kei.'' Kata Kevin yang berbicara pada dirinya sendiri.


-


''Dari hasil rontgen tidak ada luka yang serius, Kev. Mungkin itu efek pukulan balok kayu. Kamu kan mantan atlet karate, sudah pasti fisikmu sangat kuat,'' kata Alan terkekeh.


''Tapi beneran kan Dokter? Kalau Mas Kevin baik-baik saja? Coba di cek lagi.'' Kata Keira yang merasa panik.


''Iya. Kamu bisa lihat sendiri, ini hanya memar saja, Kei. Tidak ada yang retak atau apapun. Kamu tenang saja, Kevin itu kuat sekali seperti superman.'' Kata Alan menenangkan.


''Sebaiknya kurangi jam kerja mu untuk beberapa hari, Kevin. Tensi darahmu tadi tinggi. Jadi untuk sementara perbanyaklah istirahat dan rileks-kan diri kamu. Kenapa kalian tidak pergi bulan madu saja? Masa iya pengantin baru tidak ada bulan madu?''


''Nanti setelah Keira selesai dengan skripsi dan wisudanya, baru kita akan pergi berlibur.'' Sahut Kevin.


''Ya, memang seharusnya kalian itu berlibur biar tidak stress. Dan Kevin, kamu harus menjaga Keira jangan sampai hal seperti kemarin terulang lagi. Aku saat mendengarnya sangat panik, awas saja kalau kamu sampai membiarkan Keira pergi sendiri seperti kemarin. Jadi kurangi jam kerjamu, berikan waktu lebih untuk anak dan istrimu.''


''Iya-iya, bawel banget sih!" ketus Kevin.


-


''Mas, kita ke taman kota yuk!" ajak Keira yang duduk di samping Kevin yang sedang mengemudi.


''Ngapain?''


''Ya hiburan sedikit lah, Mas. Aku pingin jajanan abang-abang kaki lima. Ada es cendol, siomay, cilok, ah masih banyak lagi deh.'' Kata Keira.


''Aku pulang saja!" ketus Kevin.


''Ayolah Mas. Ini yang menyebabkan tensi darah naik, cepat marah! Kata dokter Alan, Mas harus lebih rileks. Hidup jangan kaku-kaku amatlah.'' Kata Keira.


''Oke-oke. Kali ini aku mau.'' Kata Kevin menyerah dengan bujukan Keira.


Setelah sampai di taman, Keira seperti seorang bocah yang sangat senang melihat banyaknya para pedagang kaki lima disana. Ia langsung menuju gerobak abang-abang penjual cilok.


''Mas, mau?'' tanya Keira dengan senyum sumirngahnya.


''Boleh.''


''Dua ya, Bang. Satunya sambalnya yang banyak dan satunya....,'' kata Keira sambil melirik kearah Kevin.


''Tidak pedas,'' sahut Kevin.


''Mas, mau es cendol?''


''Terserah saja lah.''


''Oke.'' Sambil menunggu cilok, Keira menuju gerobak abang penjual es cendol dan memesan dua porsi. Tak puas dengan satu jajajan, Keira membeli telur gulung favoritnya, kemudian Keira menuju gerobak penjual cimol, es kelapa muda dan siomay. Kevin hanya bisa membelalakkan matanya saat apa yang di beli Keira, menumpuk jadi satu. Keduanya pun sudah duduk di bangku taman dengan aneka jajanan yang menumpuk di tengah-tengah mereka.


''Kei, yakin kamu habis?''


''Habis lah. Lagian aku belinya sedikit. Yang beli dua cuma cilok aja. Mas kalau mau cobain aja. Sumpah, aku kangen banget saat bebas seperti ini. Hampir setiap hari pulang sekolah dulu, aku mampir buat beli jajanan seperti ini.'' Kata Keira sambil memakan ciloknya sampai penuh di mulutnya.


''Ayo makan, Mas. Kenapa cuma di lihatin? Nggak suka? Ya emang sih beda sama kelasnya Mas. Kalau aku mau makan atau jajan dimana aja oke-oke aja. Bisa menyesuaikan situasi dan kondisi.'' Kata Keira dengan begitu semangatnya. Semenjak terjebak dengan kehidupan Kevin, baru kali ini Keira merasakan kebebasan.


Keira tampak kesal karena Kevin sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang ia beli. Keira kemudian berusaha menghibur Kevin dengan menyuapinya.


''Mas, cobain ini deh. Ini telur gulung, lucu ya bentuknya.'' Kata Keira sambil menyodorkannya di hadapan Kevin.


''Kamu saja yang makan.''


''Ayolah, Mas. Buka mulutnya, MANGAP!" Kata Keira yang memaksa Kevin. Kevin kemudian pun membuka mulutnya dan menerima suapan Keira.


''Hah, panas Kei!" kata Kevin sambil menganga dan mengibas tangannya ke arah mulutnya. Melihat eskpresi Kevin, Keira lalu tertawa terbahak-bahak. Di tambah bibir Kevin yang belepotan karena terkena saos.


''Puas banget ketawanya ya?" kesal Kevin. Keira lalu mengambil tisu di tasnya dan menyeka bibir Kevin. Seketika Kevin pun terdiam dan tubuhnya terasa kaku.


''Maaf ya Mas. Aku bercanda. Habisnya nggak kamu makan tapi cuma di lihatin aja.'' Ucap Keira dengan senyumnya.


''Udah bersih kok. Ini makan siomaynya, Mas. Ada sendoknya juga. Sekali-kali jajan kayak gini seru lho. Dulu aku sama Ferdi sering benget jajan kayak gini.''


''Ferdi? Oh jadi kamu ingin kesini untuk mengenang masa lalu kamu?'' kata Kevin yang mulai tersulut.


''Bu-bukan seperti itu, Mas. Aku memang ingin jajan saja.''


''Sebaiknya kita pulang!"


''Tapi kan sayang kalau dibuang. Memangnya kenapa Mas marah sih? Cemburu?''


''Kalau iya memang kenapa? Lagian udah di sakiti, masih saja kamu sebut namanya.'' Kevin lalu beranjak dari duduknya dan segera berjalan menuju mobil.


''Aduh pakai ngambek segala lagi. Ini bagaimana makanannya? Udah beli banyak pula.'' Gumam Keira sambil membereskan jajanannya untuk ia bawa.


Bersambung.....