Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 30 Prasangka Kevin


Selama di dalam mobil menuju restoran, Keira tidak henti menangis. Entah berapa lembaran tisu yang ia gunakan untuk menghapus air mata dan ingusnya.


''Kamu kenapa sih, Kei? bukanya cerita malah nangis melulu,'' protes Kenny yang justru semakin kesal dengan sikap Keira.


''Biarin sampai kering air mataku, baru aku akan cerita.'' Jawab Keira sambil sesenggukan.


''Oke baiklah,'' Kata Kenny pasrah. Begitulah sikap Keira yang tidak berubah dari dulu. Setelah selesai menangis, baru dia akan menceritakan semuanya.


Sesampainya di restoran, Kenny segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk adiknya yang sedang kumat manja itu.


''Turunlah tuan putri. Jangan menangis lagi,'' ucap Kenny yang berlagak seperti seorang pelayan kerajaan. Tanpa banyak bicara, Keira pun segera turun.


''Kita mau makan, masa iya kamu masih nangis juga. Nanti mata kamu bengkak lho,'' goda Kenny sambil mengusap kepala adiknya. Keira dengan manja lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang kakaknya. Kenny pun merangkul bahu adiknya berusaha menenangkannya.


''Sepertinya aku tahu apa yang membuatmu seperti ini. Pasti Ferdi!" mendengar ucapan kakaknya Keira hanya mengangguk. Kenny menghela nafas panjang, lalu membawa adiknya masuk ke restoran. Siapa sangka di restoran itu ada Kevin dan Miko. Rupanya dari balik dinding kaca restoran itu, Kevin melihat kemesraan Keira dan Kenny.


''Itu kan pria yang bersama dia beberapa waktu lalu disini,'' gumam Kevin dalam hati.


''Lihat itu!" kata Kevin pada Miko.


''Apaan sih?''


''Elo nengok aja kebelakang,'' ketus Kevin. Miko pun menengok kebelakang dan melihat Keira sedang bersama Kenny. Tentu saja mereka tidak tahu siapa Kenny. Yang mereka lihat, pria itu tampak perhatian dan menjaga Keira. Apalagi Keira sedang menangis sesenggukan sedari tadi.


''KEIRA!"


''Lihat itu! itulah wujud Keira sebenarnya,'' ketus Kevin.


''Mungkin itu kliennya, Kev.''


''Mana mungkin sedekat itu.''


''Kenapa juga Keira menangis ya?''


''Di hamilin cowok itu kali,'' ceplosnya.


''Husss hati-hati kalau ngomong.'' Kata Miko


''Ya mau apalagi, Mik. Pasti dia nangis minta pertanggung jawaban tuh cowok.''


''Ya udah lah kita lihat saja nanti bagaimana, yang jelas elo udah janji sama Marvel. Lagi pula hanya satu Minggu saja. Pria itu siapa itu bukan urusan kita. Jangan bilang elo cemburu!" ucap Miko dengan tatapan penuh selidik.


''Cemburu? ya nggak lah! untuk apa aku harus cemburu dengan wanita tidak jelas seperti itu. Ingat ya ini demi Marvel dan itupun elo yang maksa. Setelah satu Minggu, semuanya berakhir.'' Kata Kevin dengan nada kesal.


''Kalau nggak cemburu santai aja kali nglihatnya,'' kata Miko.


Kembali pada Keira dan Kenny. Beberapa kali Kenny menghapus air mata Keira. Keira sudah menceritakannya pada Kenny tentang Ferdi.


''Sudah, jangan menangis lagi. Dia tidak pantas untuk di tangisi, Kei. Masih banyak pria lain yang lebih baik. Kesetiaan kamu terlalu mahal untuk pria seperti Ferdi.'' Kata Kenny sambil membelai wajah cantik adiknya itu. Semua gerak gerik Kenny dan Keira, tidak lolos dari perhatian Kevin.


''Tapi tetap saja dia itu jahat, Kak. Selama itu aku menanti dia tapi dia malah menghianati aku. Bahkan saat aku pergi bersama klien ku, aku benar-benar menjaga hati untuknya.''


''Kamu ini lucu banget, Kei. Kamu bisa menghandle masalah seseorang bahkan membantunya memecahkan masalah tapi lihat diri kamu, kamu malah jadi cengeng karena Ferdi.''


''Ya beda lah, Kak. Memangnya ada seorang dokter yang bisa menyembuhkan sendiri penyakitnya. Pasti dia juga butuh dokter lain untuk mengobati sakitnya.''


''Nah itu, kamu juga butuh dokter tapi dokter cinta,'' kata Kenny dengan tawa lebarnya.


''Siapa yang meledek? kakak hanya menghibur kamu. Sudah, jangan nangis lagi. Cepetan makan nanti keburu dingin.'' Kata Kenny sambil mengusap kepala adiknya.


''Ish, menjijikkan sekali sikapnya. Di depan anakku sangat manis tapi di belakang, sok manis, manja dan ganjen,'' gerutu Kevin.


''Siapa lagi, Kev?'' tanya Miko yang fokus pada makanannya.


''Siapa lagi kalau bukan gadis sewaan itu.''


''Astaga! elo rupanya sedari tadi masih merhatiin mereka?''


''Gimana nggak lihat, tempat duduk gue aja mengarah ke meja dia. Astaga, makan saja harus di bujuk dan di suapin. Benar-benar modus dan pencitraan banget kan si Keira itu.''


''Kalau elo biasa aja, seharusnya elo santai. Pasti elo cemburu kan?''


''Ya nggak lah! lebih baik kita cepat pergi. Malas sekali aku melihatnya. Menjijikkan!'' kata Kevin penuh penekanan. Kevin pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan restoran dan membiarkan Miko melanjutkan makan siangnya disana.


''Antara cemburu dan benci tapi beda tipis sih,'' gumam Miko dengan senyum tipisnya mihat kelakukan sepupunya itu. Akhirnya Miko memutuskan untuk menyelesaikan makannya dan menunggu Keira. Ia sendiri ingin mencari tahu apakah itu klien atau memang kekasih dari Keira. Karena di mata Miko, pria itu sangat perhatian dan begitu hangat pada Keira.


Dua puluh menit kemudian, Kenny dan Keira hendak keluar dari restoran itu. Miko kemudian beranjak dari duduknya saat melihat Keira beranjak, ia sudah mengambil ancang-ancang untuk pura-pura kaget bertemu Keira.


"Lho, Keira!" seru Miko saat keduanya saling bertemu.


"Tuan Miko!" seru Keira.


"Kamu disini juga? maaf ya aku tidak tahu. Kalau aku tahu, pasti aku menyapamu."


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sendiri juga tidak tahu kalau anda disini. Sendirian saja? dimana Nona Gina?"


"Iya sendirian saja. Gina sedang tidak enak badan dan dia di rumah. Ini pacar kamu?" tanya Miko sambil menunjukkan pandangannya pada Kenny.


"Oh ya maaf, sampai lupa. Perkenalkan ini Kenny, dia kakak aku bukan pacar aku." Kata Keira dengan senyum lebarnya.


"Ini Tuan Miko, Kak. Tuan Miko ini Om dari salah satu murid aku di sekolah." Sambung Keira.


"Oh, begitu. Aku Kenny, kakak kandungnya Keira." Kenny dan Miko kemudian saling berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan anda tuan Kenny."


"Tidak usah panggil tuan. Panggil nama saja, tuan."


"Baiklah kalau begitu jangan panggil aku tuan juga, panggil nama saja. Karena sepertinya kita seumuran. Dan untuk kamu Keira, panggul aku Kakak saja," Kata Miko dengan senyum lebarnya.


"Baiklah, Miko. Aku juga senang bertemu denganmu." Ucap Kenny.


Sambil melirik jam tangan. "Kalau begitu aku pamit dulu ya, Kei-Ken, istriku pasti sudah menunggu. Kebetulan barusan meeting dengan klien."


"Iya Kak Miko. Hati-hati dan salam untuk Nona Gina."


"Pasti Kei. Sampai ketemu lagi ya." Ucap Miko dengan senyum ramahnya. Miko kemudian meninggalkan restoran dengan senyum lebarnya. Ia tersenyum saat tahu fakta kalau pria itu adalah kakak kandung Keira. Yang lebih membuatnya merasa geli adalah sikap Kevin yang begitu cepat marah saat melihat Kenny dan Keira sangat akrab.


"Kevin, Kevin, makanya jangan buruk sangka. Elo pasti malu kalau tahu itu adalah kakak kandung Keira. Bisa gue jadiin kesempatan buat mencampur aduk perasaannya nih," gumam Miko dengan tawa kecilnya.


Bersambung....