Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 251 Obrolan Hangat


Selesai makan malam dan setelah menidurkan Marvel, Keira dan Kevin menikmati waktu berdua mereka di teras balkon kamar. Kevin duduk di kursi kayu panjang sembari mendekap erat istrinya, menikmati indahnya malam yang penuh dengan taburan bintang-bintang.


“Terima kasih ya Mas, kamu hari ini sudah bisa menahan diri untuk tidak ketus dan sinis pada Leon.”


“Sebenarnya sih panas sekali dada aku apalagi saat melihat kalian foto bertiga di toko tadi. Ya setidaknya kehadiran Nona Nadia bisa membuatku sedikit lega.”


“Maksudmu, Mas? Kamu ada rasa sama Nona Nadia?”


“Tuh kan sekarang kamu yang menuduhku. Maksudku lega si Leon datang bersama Nona Nadia jadi dia tidak terfokus denganmu.”


“Heheheh aku pikir apa. Tapi mereka cocok juga ya, Mas.”


“Iya cocok. Aku berharap mereka bersatu sampai ke jenjang pernikahan. Supaya dia tidak terus mengingatmu. Memang dia tidak lelah apa mencintai dalam diam.”


“Aku juga berharap seperti itu, Mas. Kita doakan saja semoga mereka bersatu.”


“Lalu si cecunguk satu lagi mana?”


“Cecunguk siapa lagi yang kamu maksud, Mas?”


“Si Ferdi itu.”


“Oh aku sudah mengancamnya kalau aku akan membeberkan semua kelakuannya pada keluarga Tuan Handoko. Dan ternyata dia takut. Dia sudah terlanjur mencintai kemewahan, Mas.”


“Apa kamu diam-diam menemuinya?”


“Hehehe maaf ya, Mas. Aku menemui dia bersama para bodyguard kok. Aku sengaja meminta mereka tutup mulut supaya mereka tidak mengadu padamu. Aku menunjukkan semua bukti sikap anehya itu pada Ferdi. Jadi kalau sampai dia masih menggangguku, aku akan menunjukkan semuanya pada Tuan Handoko.”


“Sayang, kenapa kamu melakukan itu sendiri? Kenapa kamu tidak bilang dulu padaku.”


“Mas, ini masalahku dengan Ferdi. Aku tidak ingin melibatkanmu. Lagi pula dia juga sudah balik tuh keluar negeri. Dia memang pengecut. Entahlah kekuasaan dan uang ternyata bisa merubah sikap seseorang.”


“Sayang, lain kali kamu jangan bertindak tanpa ijin dari ku ya. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa terutama dengan kandungan kamu.”


“Sekali lagi maaf ya, Mas. Aku sudah terlanjur risih dengan sikapnya itu. Dia sendiri yang membuat keputusan tapi dia tidak bisa mempertanggung jawabkannya. Sebagai sesama wanita, aku juga kasihan pada Nona Lily. Apalagi Nona Lily sedang hamil, kasihan kan? Orang yang hamil itu harus happy dan tidak boleh terlalu banyak pikiran. Memang bodoh sekali si Ferdi itu.”


“Apa yang kamu katakan benar sekali, sayang. Meskipun aku sangat kesal pada Lily tapi tetap saja dia sedang hamil dan si Ferdi memang bodoh, tidak punya prinsip sama sekali.”


“Lalu Mas, apa kamu masih dendam dengan keluarga Tuan Handoko? Apa kamu tidak ingin kembali bekerja sama dengan perusahaan mereka?”


“Kalau masalah itu, aku belum bisa menjawabnya, sayang. Apalagi ada Ferdi juga yang bergabung disana, aku semakin malas.”


“Kamu ini termasuk pendendam ya?”


“Ya begitulah. Aku dendam juga dendam yang diam bukan dendam yang bergerak dan menjatuhkan. Aku lebih baik menghindari sesuatu yang bisa merusak mood ku. Maafkan aku ya sayang kalau aku belum bisa mengambil keputusan itu.”


“Tidak apa-apa, Mas. Tapi setidaknya jalinlah silaturahmi dengan Tuan Handoko.”


“Kebetulan bulan depan aku akan mengadakan gala dinner jadi aku akan mengundang beliau juga. Sekarang aku tahu kenapa istriku ini banyak sekali fanboy nya.”


“Memang kenapa Mas?”


“Karena kamu tulus sayang. Kamu bukan hanya cantik di wajah tapi juga dihati. Kamu bisa dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitimu. Sedangkan aku sangat sulit melakukan itu apalagi itu menyangkut orang yang aku sayang.”


“Tetapi terkadang sikap tegas sepertimu juga sangat di perlukan sih, Mas. Supaya harga diri kita tidak di injak-injak. Ya intinya kita sudah klop dan saling melengkapi, bukankah begitu, Mas?”


“Tentu saja sayang. I love you.”


“I love you too, Mas.”


 


...****************...


 


Sementara itu di rumah Tessa, Johan sedang berdiskusi tentang rumah mana yang akan mereka beli.


“Semuanya bagus-bagus, Jo. Kita pilih yang sederhana saja ya. Aku tidak ingin membebani kamu.”


“Om, aku suka yang ini, ada kolam renangnya.” Sahut Anrez.


“Anrez, ini mahal Nak. Kasihan Om Johan, Om Johan baru saja tertimpa musibah. Kecil tidak apa-apa ya, yang terpenting kita bisa berteduh. Tidak kepanasan ataupun kehujanan.”


“Semua ini pasti gara-gara Papa Anrez ya. Maafkan Papa Anrez ya, Om. Anrez janji saat dewasa nanti akan menjadi seorang yang lebih baik daripada Papa.” Kata Anrez dengan suara sedih


“Om baik sekali. Aku sayang sekali dengan Om Johan.” Anrez kemudian memeluk Johan dengan sangat erat.


“Om juga sayang sekali denganmu, Anrez.”


“Jo, aku ada sesautu untukmu.”


“Apa Tessa?”


“Sebentar, aku ambil di kamar.” Ucap Tessa seraya berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian Tessa kembali membawa sebuah amplop berwarna coklat.


“Ini untuk kamu, Jo.”


“Apa ini, Tes?”


“Ini uang hasil penjualan kalung dan cincin nikah ku dulu. Lumayan masih dapat uang 20 juta, Jo.”


“Tessa, aku tidak mau menerima ini. Kamu saja yang pakai ya. Sisa uang penjualan barang di café juga masih ada kok.”


“Jo, sudahlah kamu terima. Aku merasa bersalah dengan semua ini. Apalagi yang melakukan semua ini adalah Mas Rendy. Aku mohon jangan tolak ini, Jo. Kalau kamu menolaknya, lebih baik dan Anrez pergi saja dari kehidupan kamu. Karena kami hanya akan menambahi beban kamu.”


“Tessa, apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Justru hadirnya kalian membuat aku lebih semangat untuk bekerja keras.”


“Johan, kita sudah sepakat untuk melewati susah dan senang bersama-bersama. Jadi itu yang bisa aku lakukan untuk kamu, Jo. Kalau kamu masih ingin aku dan Anrez bersama kamu, kamu terima uang itu. Lagi pula cincin nikah itu sudah tidak ada artinya untukku, Jo.”


“Terima kasih ya. Aku beruntung sekali ada kalian.” Johan kemudian memeluk Tessa dan Anrez bersamaan.


“Aku akan membeli rumah type 60 lantai dua. Meskipun Tessa meminta yang kecil tapi aku ingin memberikan mereka yang terbaik. Jadi halaman belakangnya akan aku buat kolam renang kecil untuk Anrez. Apapun akan aku lakukan demi membahagiakan mereka.” Gumam Johan dalam hati.


Johan kemudian kembali ke kontrakannya. Ia mengirim pesan pada Laras meminta bantuan untuk membantunya menjual mobil.


Johan : Laras, elo sibuk nggak?


Laras : Lagi nyantai sama suami Jo. Ada apa?


Johan : Gue lagi mau jual mobi nih? Kira-kira laku berapa ya?


Laras : Kenapa elo jual Jo?


Johan : Mau gue buat DP rumah, Ras. Gue naik motor lagi nggak apa-apa lah. Asalkan gue punya rumah tanpa ngontrak. Elo juga tahu kalau gue dapat bantuan dari Tuan Kevin. Gue malu dan nggak enak kalau tanpa ngasih DP, Ras. Mereka udah banyak bantu gue. Please tolongin gue ya. Tapi jangan cerita sama Keira ya.


Laras : Iya Jo. Ya udah besok ikut ke showroom Om gue aja ya.


Johan : Thanks ya, Ras. Lega gue. Elo besok kirim alamatnya ya.


Laras : Iya Jo. Semangat ya, Jo. Semua kan indah pada waktunya.


Johan : Iya Laras. Sekali lagi makasih ya.


Laras : Sama-sama Jo.


“Jadi Johan mau jual mobilnya, Ras?” tanya Krisna.


“Iya. Kamu juga baca kan chat dia.” Kata Laras yang memang sedang manja di pangkuan suaminya.


“Kasihan dia ya. Tapi dia hebat banget ya, Ras. Aku akui dia gentle.”


“Iya si Johan semakin dewasa dan bertanggung jawab. Aku besok boleh kan temenin Johan?”


“Boleh dong Laras. Johan kan sahabat kamu.”


“Makasih ya kamu juga sudah mau bantu Johan.”


“Sama-sama Larasku sayang.” Kata Krisan seraya mengecup kening istrinya.


Bersambung.... Yukkk ya like, komen dan votenya yg banyak. Dukung juga karya author yang lain.


- My Perfect Husband


- Takdir Cinta Aruna


Makasih ya 🙏❤️