Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 119 I LOVE YOU


Masih di cafe....


''Kei, elo satu kali seminggu gitu luangin waktu buat kita. Supaya kita tetep bisa ketemu. Rasanya hambar nongkring berdua sama Johan lagi, Johan lagi, hehehe. Cariin gue jodoh juga kali, Kei. Yang sukses dan mapan.''


''Hambar tapi elo nyariin gue terus kan?'' sindir Johan.


''Ya mau gimana lagi, Jo. Keira juga udah sibuk sama suami dan anaknya. Eh gimana malam pertamanya? Seru kan? Elo udah cinta kan sama si Tuan Kevin?'' selidik Laras penuh penasaran.


''Ya gitu deh, Ras.''


''Ih nggak seru banget. Jawaban apaan ya gitu deh,'' kata Laras.


''Lagian elo kepo banget sama Keira.'' Sahut Johan.


''Kei, gue serius. Cariin pacar gitu,'' kata Laras.


''Emang elo maunya yang kayak gimana, Ras? Ini si Johan jomblo, sama Johan aja.''


''Nggak ah. Si Johan masih belum move on sama Bu Tessa. Gue maunya yang udah mapan dan dewasa gitu, Kei. Ya, karyawannya suami elo nggak apa-apa deh.''


''Kayaknya elo udah frustasi banget ya Ras, buat cari jodoh. Biasanya kalau orang kaya kayak keluarga elo, sukanya main jodoh-jodohin.'' Sahut Johan.


''Nggak ah. Gue nggak mau di jodohin, enak nyari sendiri lebih seru, hehehe.''


''Ya udah lah gampang, nanti gue cariin buat elo. Se-ketemunya aja ya, sekalipun udah bapak-bapak,'' seloroh Keira dengan tawanya.


''Yeee anak aja lo, Kei.''


''Eh iya gue pamit ya? Atau mau ikut sekalian?''


''Gue ikut deh! Ya siapa tahu nemu jodoh disana.'' Sahut Laras dengan penuh semangat.


''Iya sama lansia tuh, Ras. Cocok!" timpal Johan seraya tertawa.


''Sialan lo!" kata Laras sambil menepuk bahu Johan.


''Ya udah Jo, gue sama Laras pergi dulu ya. Kalau elo nggak kerja, elo juga boleh ikut.''


''Ya deh kapan-kapan gue ikut, Kei. Jangan lupa cari tahu alamatnya Tessa ya.''


''Cieee manggilnya Tessa nih, sadar Jo! Awas aja kalau elo jadi pebinor,'' kata Keira.


''Gue tungguin jandanya aja deh,'' celetuk Johan.


''Standing applause untuk kesetiaan Johan selama ini!" seru Laras sambil memberikan tepuk tangan untuk Johan, begitu pula dengan Keira.


''Udah pergi sana kalian! Yang ada gue di bulli terus sama kalian.''


''Ya udah kita duluan ya, Jo. Bye!" kata Keira sambil berlalu meninggalkan cafe.


-


Sesampainya di panti, Keira bersama Laras langsung menyapa para lansia disana. Namun disana Keira tidak melihat Leon sama sekali. Keira yang melihat Bu Rini melintas lalu menyapanya sekaligus menanyakan tentang Leon.


''Bu Rini, Leon kemana ya? Kenapa tidak terlihat?''


''Oh Mas Leon sedang sakit.''


''Sakit apa ya Bu?''


''Kurang ya Mbak, yang jelas Mas Leon bilangnya seperti itu.''


''Ya sudah kalau begitu terima kasih ya, Bu. Oh ya Bu saya minta tolong, untuk membantu para lansia menuju ruang makan ya karena suami saya akan datang mengajak makan siang bersama.''


''Tentu saja Mbak Keira, dengan senang hati. Kalau begitu saya bereskan tempatnya sekarang.''


''Terima kasih ya, Bu.''


''Sama-sama Mbak. Kami lah yang seharusnya terima kasih karena Mbak Keira dan Tuan Kevin sangatlah baik sekali. Para lansia pun jadi semakin terurus.''


''Iya Bu, sama-sama.''


-


Satu jam pun berlalu, saat jam makan siang tiba, Kevin pun akhirnya datang bersama Marvel dan ada Krisna di belakang mereka.


''Mama!" panggil Marvel sambil berlari memeluk Mamanya.


''Hai, sayang. Bagaimana sekolahmu?''


''Everything is ok, Mom.'' Kata Marvel dengan senyum lebarnya.


''Hai Tante,'' sapa Marvel saat melihat Laras yang berdiri di samping Keira.


''Hai Marvel. Bagaimana kabarmu? Sepertinya kamu semakin tampan saja.'' Puji Laras sambil mengusap kepala Marvel.


''Aku baik Tante dan terima kasih untuk pujiannya.''


''Baik kok, Mas. Aku sebenarnya juga baru satu jam lalu ke panti. Tadi aku bertemu dengan Laras dan Johan di cafe. Tapi Laras memilih ikut.''


''Oh begitu, tidak masalah.''


''Selamat siang Tuan Kevin, senang berjumpa dengan anda kembali.''


''Senang berjumpa denganmu juga.'' Kata Kevin.


''Krisna, letakkan semua makanan di ruang makan ya.'' Perintah Kevin.


''Siap Tuan!" ucap Krisna sembari berlalu.


''Kei, Krisna siapa? Ganteng banget deh,'' bisik Laras.


''Oh dia sekretarisnya Mas Kevin.''


''Masih single nggak?''


''Tanya aja sendiri, ajakin kenalan.''


''Ya ampun Kei, masa iya cewek yang keganjenan, malu ah. Udah jawab dulu dia single nggak?''


''Setahuku dia masih single dan belum pernah menikah.'' Kata Keira.


''Boleh juga tuh, Kei. Bantuin gue deketin dia ya?'' pinta Laras.


''Udah mending kita makan siang aja dulu. Kenalannya bisa nanti.''


''Akhirnya gue nemu jodoh juga disini, Kei.''


''Hmmmm ya semoga Pak Krisna mau sama elo deh,'' gurau Keira.


''Ya ampun doanya kok gitu sih.'' Kata Laras memelas. Keira hanya tertawa melihat rengekan sahabatnya itu.


Selama di panti tersebut, Laras berusaha mencuri pandang pada Krisna. Namun Krisna tetap bersikap biasa dan tidak terlalu merespon dirinya. Bahkan Krisna cenderung pasif dan cuek. Sedari tadi Keira memperhatikan sikap Laras yang tampak agresif pada Krisna. Bahkan Laras sengaja memilih tempat duduk di samping Krisna saat makan di ruang makan.


''Mas, sebenarnya Pak Krisna itu sudah menikah belum?'' tanya Keira berbisik.


''Untuk apa kamu menanyakan Krisna,'' jawabnya ketus.


''Jangan salah paham dulu. Lihat Laras! Dia sedang berusaha keras mendekati Pak Krisna tapi Pak Krisna biasa saja.''


Kevin pun tertawa kecil mendengar ucapan istrinya serta melihat apa yang ia lihat.


''Entahlah, aku sendiri tidak pernah melihatnya bersama wanita. Aku bahkan sempat berpikir kalau dia itu pria tidak normal. Tetapi sepertinya dia punya penyakit gugup saat ada wanita yang ingin mendekatinya. Lihat saja dia sudah tampak gemetar kalau ada wanita yang agresif. Tetapi kalau masalah pekerjaan, dia sangat profesional. Mungkin wanita sudah ilfill duluan saat melihatnya gemetar dan mendadak gagap. Makanya dia lebih banyak diam dan senyum saja daripada membuat orang lain tidak nyaman.''


''Oh begitu rupanya. Memang dia usainya berapa Mas?''


''Dia tiga tahun lebih muda dariku. Seharusnya dia memang sudah waktunya menikah. Kalau memang Laras menyukainya, suruh saja dia berjuang untuk Krisna.'' Ucap Kevin dengan senyum lebarnya.


"Pak Krisna di usia hampir kepala tiga, tetap terlihat imut ya, Mas. Ganteng dan gemesin," puji Keira.


"Ehem-ehem, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Kei?"


"Ya sadarlah, Mas. Memang kenyataan kan? Muda, tampan, berprestasi, punya karir yang bagus juga dan dia masih seperti usia 20 tahu n."


"Memang harus ya memuji pria lain di depan suami mu? Terlebih dia adalah sekretarisku." Ketus Kevin yang merasa cemburu.


''Hehehe, maaf Mas. Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Apa dia pernah punya masa lalu yang buruk terhadap wanita ya, Mas?''


''Mana aku tahu, aku bukan Ayahnya atau saudaranya. Yang aku tahu hanya itu saja. Kenapa kamu penasaran sih?'' jawabnya ketus.


''Ya iyalah, soalnya Laras kan juga cantik. Masa iya Pak Krisna biasa saja. Aku boleh ya kapan-kapan mengajaknya bicara? Ya kamu tahu sendiri kan Mas, memahami perasaan orang lain adalah tugasku.''


''Iya boleh-boleh saja. Tapi memahami perasaan suami mu itu lebih nomor satu. Atau kamu ingin kuliah lagi S2? Supaya bisa membuka klinik psikiater?''


''Ah tidak usah, Mas. S1 saja sudah cukup, nanti kalau aku kuliah lagi, bagaimana dengan kamu dan Marvel? Sebaiknya aku membantu di Yayasan sekolah milik Dokter Alan saja atau di rumah sakitnya. Disana aku juga bisa belajar. Nanti kalau aku buka klinik dan pasien ku pria muda yang imut dan menggemaskan, bisa-bisa aku akan sangat sibuk dan betah di klinik, Mas." Kata Keira dengan senyum lebarnya.


"Hmmmm iya lebih baik kamu di rumah saja. Mengurus aku dan Marvel. Kamu terlalu bahaya kalau berada di luar."


MUAH. Kecupan mendarat di pipi Kevin. "Kalau kamu marah seperti ini menggemaskan sekali, Mas. Pingin aku gigit," rayu Keira.


"Gigitanmu masih membekas di leher, mana lagi yang ingin kamu gigit?"


"Itu lolipop. Aku suka lolipopmu, Mas."


"Ssstttt jangan membahas itu disini. Nanti di dengar orang banyak. Bisa hilang wibawaku." Kata Kevin dengan panik.


''I love you," bisik Keira tepat di telinga Kevin. Kevin menjadi salah tingkah mendapat ucapan cinta dari istrinya. Ah, istrinya itu memang pintar sekali menggoda.


"I love you too, istriku." Balas Kevin berbisik


Bersambung....