Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 259 Wedding J&T


Setelah melakukan persiapan pernikahan kurang lebih satu minggu, akhirnya hari yang di nanti-nanti oleh Johan telah tiba. Sebuah pernikahan sederhana yang hanya dihadiri orang terdekat saja membuat suasana semakin khidmat. Ayah Tessa menjabat erat tangan Johan untuk melakukan ijab qobul. Suasana semakin khidmat saat Johan begitu lancar mengucapkan ijab qobul. Air mata pun keluar dari pelupuk mata Ibu Tessa. Akhirnya putrinya itu mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintainya. Sementara Anrez pun tampak di pangku oleh orang tua Johan. Orang tua Johan juga sangat menyayangi Anrez. Karena selama ini mereka ingin sekali mempunyai cucu.


Dari arah tangga, tampak Tessa keluar dengan kebaya putih. Tessa tampak anggun dengan kecantikannya yang begitu khas. Laras dan Keira sebagai pengiring pengantin, menggandeng Tessa menuju halaman depan ruang akad. Tessa sangat lega karena Johan bisa mengucapkan ijab qobul. Prose tanda tangan dokumen, serta pemaikain cincin di jari manis keduanya berjalan lancar.


Proses selanjutnya adalah sungkem kepada kedua orang mempelai.


''Nak Johan, jaga Tessa dan Anrez ya. Cintai dan sayangi mereka dengan hati kamu. Mereka sudah banyak menderita.'' Bisik Ibu Tessa tepat di telinga Johan. Ibu Tessa tak kuasa menahan air mata harunya.


''Iya Mah. Johan akan membuktikan semua itu.'' Kini Johan berpindah sungkem meminta restu pada Ayah Tessa.


''Nak Johan, dia adalah satu-satunya putriku. Ayah percaya kamu mencintainya dengan tulus, Nak. Kalaupun kamu sudah bosan dengannya, kembalikan saja dia pada kami, jangan sakiti dia. Ayah ingin ini menjadi pernikahan terkahirnya. Terima kasih juga karena kamu sudah mau menerima masa lalu Tessa.''


''Iya Ayah sama-sama, Johan akan selalu mencintainya dan tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Ayah bisa pegang janji Johan.''


''Nak Tessa, titip Johan ya. Dia memang bukan pria yang sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Kamu harus sabar ya untuk mendampingi segala kekurangan Johan. Yang pasti Johan memiliki hati yang tulus, Ibu jamin itu.'' Ucap Ibu Johan pada Tessa.


''Iya Ibu. Bagi Tessa, Johan adalah pria yang bertanggung jawab. Terima kasih Ibu, telah mendidik Johan menjadi pria sejati.'' Ucap Tessa.


''Ibu senang sekali mendengarnya.''


Tessa lalu bergeser pada Ayah Johan.


''Nak Tessa, semoga kamu bahagia bersama Johan. Katakan pada Ayah kalau sampai Johan menyakiti kamu ataupun Anrez. Ayah tidak akan segan-segan memukulnya dan menghukumnya.''


''Iya Ayah, Tessa akan pastikan untuk melapor pada Ayah.''


''Berbahagialah, Nak. Restu kami bersama kalian.'' Ucap Ayah Johan.


Pernikahan Johan dan Tessa pun berjalan dengan lancar. Johan merasa sangat lega akhirnya bisa mendapatkan cinta pertamanya kembali. Keira dan Laras pun sangat bahagia melihat Johan akhirnya melepas masa lajanganya dengan pujaan hatinya itu. Senyum pun mengembang dari bibir mungil Anrez. Melihat Mamanya bahagia bersama pria pilihannya.


''Yeay aku punya Papa baru!" seru Anrez sambil melompat kegirangan.


''Anrez,'' ucap Tessa malu-malu.


''Mulai sekarang aku akan memanggil Om Johan dengan sebutan Papa. Terima kasih ya Om Johan, sudah mau menjadi Papa untuk Anrez. Jaga Mama baik-baik ya, jangan sakiti Mama.''


''Pasti Anrez. Papa Johan juga akan menjaga kamu juga.'' Kata Johan. Johan lalu menggendong Anrez dan mereka foto bertiga. Setelah foto bertiga, mereka lalu foto bersama kedua orang tua masing-masing dan juga para sahabat. Gina dan Miko pun juga turut hadir disana. Setelah sesi foto berakhir, para tamu pun dipersilahkan menikmati hidangan. Ya, semua konsep pernikahan itu Laras dan Keira yang mengaturnya. Sekalipun sederhana namun semuanya tampak elegan.


''Nona Gina, terima kasih ya untuk cutinya. Saya merasa tidak enak baru masuk sudah ijin.''


''Tidak masalah, Tessa. Kan kamu memang menikah. Tapi maaf ya cutinya saya hanya bisa memberi tiga hari cuti karena kamu masih termasuk pegawai baru. Karena dari awal peraturannya seperti itu.''


''Iya Nona Gina tidak apa-apa, saya sangat mengerti sekali. Terima kasih juga untuk kedatangan Nona Gina dan Tuan Miko.''


''Iya sama-sama, Tessa.'' Ucap Gina. Miko hanya melempar senyumnya saja pada Tessa.


Johan kemudian menghampiri Kevin dan Keira yang tengah asyik menikmati hidangan sembari suap-suapan. Dimanapun tempatnya mereka memang selalu romantis. Johan juga memperkenalkan Kevin kepada kedua orang tuanya. Johan juga menceritakan kebaikan Kevin pada kedua orang tuanya.


''Terima kasih ya Tuan, atas semua kebaikan anda. Bukan hanya tampan di wajah tapi hati anda juga.'' Ucap Ibu Johan.


''Ya ampun Keira, kamu juga semakin cantik ya. Dan kamu mendapatkan suami yang sangat hebat, begitu juga dengan Laras. Terkahir bertemu saat kelulusan SMA dulu.'' Ucap Ibu Johan.


''Iya Bu. Keira juga senang sekali bisa bertemu Ibu dan Ayah disini. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kangen masakan Ibu juga sih, soalnya pas Kei sama Laras kesana, Ibu selalu membuat masakan yang enak.''


''Kamu ajak juga suami kamu, biar tahu kampung dan pedesaan itu seperti apa.''


''Iya Bu, nanti Kei sama suami juga Johan kesana deh.''


''Bu, Keira ini sedang hamil muda jadi pasti ya dia tidak boleh bepergian jauh. Apalagi dia juga habis sakit.'' Sahut Johan.


''Pantas saja, Ibu melihat aura kami beda Kei. Ternyata kamu sedang isi. Ibu doakan kamu dan bayi kamu sehat ya sampai lahiran nanti.''


''Amin, terima kasih Bu.''


''Ya sudah kalian silahkan lanjut makannya. Maaf ya Ibu menggangu.''


''Tidak apa-apa, Bu.'' Ucap Keira.


Malam harinya, Tessa baru saja keluar dari kamar mandi dengan haduk kimononya. Tubuhnya terasa segar setelah acara pernikahan yang cukup membuatnya lelah. Sementara Johan sedang berdiri di teras balkon menikmati segarnya udara malam. Tessa tersenyum, lalu mendekat kearah Johan.


''Jo, sedang apa?''


''Eh, sedang cari angin saja.'' Jawab Johan dengan gugup. Johan benar-benar merasa gugu berada satu kamar dengan Tessa. Ia menjadi kikuk dan menjadi bingung harus bagaimana.


''Oh ya, Anrez sudah tidur?''


''Anrez kan ikut ke hotel bersama Papa dan Mama juga orang tua kamu.''


''Kenapa mereka tidak menginap disini? Masih banyak kamar kan, Tes?''


''Katanya mereka tidak mau ganggu kita. Makanya Anrez mereka ajak, sekaligus mereka mengajak Anrez jalan-jalan. Sudahlah tidak apa-apa. Sejak aku pergi dari rumah, Ayah dan Ibuku juga enggan menjenguk Anrez karena mereka masih marah dengan keputusanku dulu.''


''Maaf ya Tessa, kalau aku bukanlah pria kaya. Aku bahkan hanya seorang pria bodoh. Rumah saja masih mencicil. Maaf ya kalau aku mengajakmu hidup susah seperti ini.''


Tessa lalu menempelkan jari telunjuknya pada bibir Johan. ''Ssstttt apa yang kamu katakan, Jo? Aku bahagia denganmu. Kita raih mimpi kita sama-sama ya. Kita berjuang sama-sama dari nol. Kalau kamu bicara seperti itu terus, aku akan benar-benar pergi.''


''Jangan Tessa! Iya maafkan aku. Aku janji tidak akan bicara seperti itu lagi.'' Johan kemudian memeluk Tessa dengan sangat erat.


''Terima kasih ya sudah mau menerima ku dan mau menjadi istriku.''


''Aku juga terima kasih karena kamu sudah mau menerima masa laluku dan mencintaiku dengan Anrez sepenuh hati. Mulai sekarang aku panggil kamu Mas, ya. Sekalipun usiaku diatas kamu tapi kamu adalah imamku dan seorang pemimpin dalam keluarga kecil kita. Kamu tidak keberatan kan?''


''Tentu saja tidak, Tessa. Aku senang kamu memanggilku Mas, hehehe.'' Keduanya saling tersenyum dan berpelukan.


Bersambung... skip unboxing atau nggak ya kira-kira??? hehehehe