
Keesokan harinya, Miko tengah bersiap menuju ke kantor. Hari itu Gina bersikap lebih perhatian dari biasanya. Ia sedang memakaikan dasi untuk Miko. Miko menatap heran istrinya.
''Kamu hari ini aneh deh. Pagi-pagi banget udah bangun. Siapin sarapan, siapin baju aku, sekarang dasi aja di pakein.''
''Biasanya kan juga begitu, Mas. Hanya dasi saja yang terlewat. Aku hanya ingin suamiku lebih fashionable saja. Masa iya suami seorang desainer ternama penampilannya biasa saja.''
''Nanti kalau aku makin keren, makin banyak cewek yang naksir lho.''
''Tidak masalah! aku tidak takut bersaing dengan mereka. Kamu pikir di duniaku tidak banyak pria tampan. Justru dunia ku di kelilingi model berondong-berondong.''
''Ah iya juga ya. Tapi aku percaya kamu, sayang. Kalau cuma berondong aku tidak takut. Kalau kelasnya di atasku, sepertinya aku harus posesif kepadamu.''
''Memangnya kamu selama ini tidak pernah cemburu padaku?''
''Pernah tapi aku tidak mengembangkan rasa cemburu itu karena aku tahu siapa kamu jadi aku percaya sepenuhnya dengan kamu. Bukankah pondasi utama dalam sebuah hubungan itu kepercayaan?''
''Iya Mas, apa yang kamu katakan benar. Mas, kalau memang kamu sudah tidak mencintaiku lagi atau bosan dengan ku, bicara saja ya.''
''Kok kamu bicara seperti itu.''
''Ya daripada kamu selingkuh, lebih baik kamu jujur kalau ada wanita lain di hati kamu. Karena bagi aku, kesalahan apapun dalam hubungan bisa aku maafkan termasuk sikap Mama yang tidak pernah ramah padaku. Tapi kalau perselingkuhan, sorry to say. Tidak ada kesempatan kedua untuk itu.''
''Aku mengerti sayang. Aku sudah menghabiskan kenakalan ku saat muda dulu. Jadi sudah saatnya aku bertaubat. Jujur saja, saat aku termenung sendirian, aku berpikir, apakah semua ini karma masa laluku? sampai Tuhan belum mempercayakan kita amanah seorang anak? padahal kita sudah mencoba segala hal. Apalagi kamu selalu saja di pojokkan oleh Mama. Maafkan aku ya yang kurang sempurna dalam membahagiakan kamu. Kita menjalani hubungan tapi Mama sampai detik ini belum bisa menerima kamu.''
''Kita akan lalui ini sama sama ya, Mas.'' Gina lalu memeluk Miko dengan sangat erat, bahkan tak terasa air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Gina adalah gadis yang selalu ceria bahkan ia hampir tidak pernah menangis apalagi di hadapan Miko. Bahkan mereka selalu menjalani hubungan dengan penuh keceriaan, kekompakan dan kekonyolan aneh mereka berdua. Miko lalu melepaskan pelukannya dan ia melihat ternyata Gina menangis.
''Gina, kenapa kamu menangis? apa aku melakukan kesalahan?''
''Tidak. Aku hanya bahagia bisa menjalani hari-hari ku bersama mu.''
''Maaf ya kalau akhir-akhir ini hubungan kita terasa sangat berat. Tapi aku pastikan, air mata kamu itu adalah air mata kebahagiaan. Sudah ya jangan menangis lagi.'' Miko dengan lembut menyeka air mata istrinya.
''Oh ya hari ini aku dan Nadia membuat janji untuk bertemu di kantor Kevin. Apakah kamu mengijinkannya?''
''Iya, aku mengijinkannya Mas. Aku tidak apa-apa kok karena aku percaya denganmu.''
''Terima kasih ya, sayang. Aku kasihan sekali dengan Kevin, masalahnya belum selesai juga sampai sekarang. Apalagi si Mauren biang kerok itu. Ternyata si Mauren yang mencelakai Keira sampai Keira keguguran.''
''Apa? jadi pelakunya Mauren?'' Gina terkejut.
''Iya sayang. Entahlah musuh mereka terlalu kuat. Kamu bisa lihat kan, Keira dan Kevin saja bisa terus bertahan apapun masalah yang mereka hadapi karena mereka selalu jujur dan terbuka dari hal yang terkecil. Meskipun mereka baru saja menikah tapi ujian mereka sangat dahsyat. Tapi mereka bisa bertahan padahal mereka ini pasangan baru, yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal seperti kita. Aku dulu memang playboy tapi percayalah kalau aku sudah berubah.''
''Iya, aku percaya sepenuhnya sama kamu. Tapi aku khawatir kamu aoan goyah dengan bujukan dari Mama.''
''Itu tidak akan terjadi, percayalah. Sebaiknya sekarang kita sarapan karena aku harus menemui Kevin. Kamu kan juga harus ke butik.''
''Baiklah, terima kasih ya sudah menenangkan aku.''
''Sama-sama istriku.''
-
''Oh jadi ini Nadia yang di ceritakan oleh Keira semalam. Ya, semoga saja Miko tidak tergoda,'' gumam Kevin dalam hati setelah Miko memperkenalkannya pada Kevin.
''Senang bertemu dengan anda Tuan Kevin.'' Kata Nadia.
''Sama-sama Nona. Nama anda sama dengan nama istri sahabat ku juga.''
Nadia tersenyum. ''Kebetulan sekali ya, Tuan.''
''Jadi Nadia ini seorang jaksa yang sudah di akui kinerjanya, Kev. Meskipun usianya masih muda tapi sepak terjangnya dalam menyelesaikan kasus tidak di ragukan lagi.'' Ucap Miko. Dengan membawa berkas pekara yang sudah ia dapat, Kevin memberikannya pada Nadia dan Kevin menceritakan semua duduk perkara pada Nadia. Hampir dua jam mereka berdiskusi tentang masalah yang di alami Kevin secara tertutup.
''Baiklah Tuan Kevin, saya sendiri akan mulai penyidikan ulang dengan tim saya. Serta melihat lagi riwayat hakim, jaksa dan juga pengacara yang menangani masalah ini dulu. Saya pastikan bahwa ini memang pembunuhan berencana. Meskipun saya tahu, lawan kali ini tidaklah mudah. Tapi jangan khawatir Tuan, saya akan mengusut tuntas kasus ini.''
''Sama-sama Tuan. Sudah kewajiban kami untuk membantu anda.''
''Baiklah kalau begitu saya permisi dan secepatnya saya akan memberi kabar pada anda.''
''Iya Nona.''
Nadia beranjak dari duduknya lalu berjabat tangan dengan Kevin sebelum pergi.
''Miko, elo disini dulu.'' Kata Kevin.
''Oke.'' Miko kembali untuk duduk.
''Nadia, kamu hati-hati ya. Terima kasih sudah mau membantu sepupuku.''
''Sama-sama Miko, ini memang sudah pekerjaanku. Kalau begitu aku pergi dulu ya.''
''Oke, Nad.'' Nadia kemudian berlalu meninggalkan ruangan Kevin dan segera pergi.
Kevin menatap tajam ke arah Miko. ''Jadi itu Nadia? calon istri ke dua elo?''
''Hah? istri ke dua? siapa yang mau menikah lagi? sudah jangan aneh-aneh, Kevin.''
''Elo emang sepupu gue tapi awas kalau sampai elo nyakitin Gina, gue nggak bakal tinggal diam.''
''Ya ampun, Kevin. Ngapain juga sih gue nyakitin Gina. Sebagai pria normal, Nadia memang cantik, hanya itu saja tidak lebih. Lagian dia baik kok, dia nggak kayak si Mauren itu.''
''Mik, elo hati-hati. Jangan sampai ada duri dalam daging di pernikahan elo.''
''Gue sama Nadia hanya partner dan gue dekat karena buat bantuin elo juga. Thats it! Nadia selama ini sikapnya juga selalu sopan. Apalagi dia seorang jaksa, nggak mungkin dia menodai karirnya sendiri. Meskipun Mama memaksa, tapi gue tetap ogah. Dan Nadia pun bersikap sewajarnya saja sama gue. Gue yakin 100% kalau Nadia itu wanita baik-baik dan terhormat.''
''Gimana kalau nyokap elo maksa Nadia dan elo buat nikah?''
''Ya gue tinggal kabur aja sama Gina. Dulu aja gue mau di jodohin kabur sampai akhirnya gue nikah diam-diam sama Gina. Kalau hal itu terulang, mending gue kabur lah. Gue udah taubat, Kevin. Gue dulu emang brengsek tapi untuk sekarang gue udah berubah.''
''Justru itu karena Nadia wanita baik-baik, apa elo sedikitpun nggak tergoda?'' desak Kevin.
''Nggak, Kevin. Cinta gue cuma buat Gina. Susah senang udah gue hadapi sama-sama dengan Gina. Gue dan Gina justru belajar dari elo dan Keira. Kalian baru saja menikah, eh ada aja ujiannya tapi kalian tetap bisa sabar dan kuat. Jadi kalian itu panutan kita.''
''Ya gue pegang omongan elo, Mik. Awas saja kalau elo macam-macam. Gina udah gue anggap kayak adik sendiri. Apalagi dia satu-satunya wanita yang mau nerima kebusukan elo ya. Dan elo juga jarus jaga Gina baik-baik, circle pekerjannya itu bukan kaleng-kaleng lho. Kenalan dia bukan hanya kalangan biasa jadi elo wajib ketar-ketir deh. Kalau itu Keira, gue rela ngintilin dia. Pasti kan kenalananya Gina itu banyak dari kalangan selebritis, sosialita, pengusaha dan banyak lagi. Apalagi Gina masih muda, di tambah dia cantik dan smart. Pasti banyak pria yang diam-diam mengidolakannya.'' Kata Kevin dengan semua bualannya untuk membuat Miko cemburu. Semua itu ia lakukan supaya Miko terus mengingat Gina dan mengingatkan Miko, bahwa Gina itu luar biasa. Apa yang Kevin lakukan tentu saja atas saran dari Keira. Bagi Keira ini adalah misi balas budi karena selama ini Miko dan Gina sudah banyak membantu hubungan mereka. Keira menceritakan curahan hati Gina pada Kevin. Akhirnya mereka kini membuat rencana supaya Miko dan Gina selalu bersama. Terlebih Miko, supaya Miko bisa semakin mencintai Gina dan tidak akan berpaling. Memberikan pelajaran untuk Miko kalau Gina itu sangat berarti dalam hidupnya.
''Ah elo ngompor-ngomproin aja. Kalau circlenya Gina gue udah tahu. Dan gue percaya kalau Gina itu setia.''
''Makanya elo juga jaga Gina. Jangan Gina aja yang jagain elo. Belum tentu kalau pasangan elo bukan Gina, hubungan kalian bisa se awet ini.''
''Makanya itu, Kevin. Gue nggak mau nyia-nyiain Gina. Gue anggap Nadia itu cuma numpang lewat.''
''Iya, gue cuma ingetin saja, Mik.''
Namun tak di pungkiri, ucapan Kevin begitu menganggu pikirannya. Membuatnya ingin buru-buru menemui Gina.
''Ya udah, gue cabut dulu. Mau ke butik Gina.''
''Ya udah, elo hati-hati ya. Salam buat Gina.''
''Oke nanti gue sampein.''
Kevin tersenyum karena sepertinya ucapannya sudah menganggu suasana hati Miko.
Bersambung....