Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 299 Memaafkan Masa Lalu


''Jadi bagaimana cara makannya?'' tanya Zidni pada Chika.


''Pakai tangan lebih nikmat. Tangan kamu masukin ke kobokan itu terus makan deh.'' Chika lalu mencotohkan pada Zidni cara makan menggunakan tangan. Zidni kemudian mengikuti bagaimana cara Chika makan. Chika menahan tawanya melihat Zidni yang kesulitan makan menggunakan tangan langsung. Bahkan sampai membuat bulir nasi menempel disekitar bibir Zidni.


''Gimana? Enak?''


''Enak sih. Daging bebeknya juicy dan nasinya gurih. Sambalnya pedas tapi enak. " Kata Zidni dengan ekspresi datarnya. Padahal Zidni sedang menahan pedas karena ia tidak terbiasa makan pedas. Chika kemudian mengambil tisu dan menyeka bibir Zidni.


"Sorry ya, kamu makannya berantakan." Kata Chika dengan tawa kecilnya. Zidni lagi-lagi tidak bisa berkutik dan membiarkan Chika menyeka bibirnya.


"Kalau pedas minum saja. Tuh keringetan juga." Kata Chika sembari mengambil tisu lagi untuk menyeka bulir keringat di kening Zidni. Zidni kemudian meminum es jeruk di hadapannya.


"Kenapa tidak manis?" tanya Zidni.


"Iyalah tidak manis, belum kamu aduk juga." Kata Chika. Chika kemudian membantu Zidni mengaduk minuman.


"Sekarang kamu coba, pasti manis." Kata Chika. Zidni menurut dan meminumnya lagi.


"Iya, sekarang jadi manis." Kata Zidni.


"Oh ya, aku mau bungkusin untuk Tante Gina dan Om Miko juga."


"Ya sudah, kamu pesan saja. Biar aku sekalian yang membayarnya."


"Kamu baik juga ya ternyata. Apalagi makanan seperti ini tentu sangat murah untuk kamu. Tapi kamu pelit senyum." Celetuk Chika. Zidni lagi-lagi hanya bersikap datar tanpa ekspresi.


Setelah selesai makan, keduanya pun langsung pulang.


"Om-Tante, kita pulang!" seru Chika. Chika menyapa Miko dan Gina yang berada di ruang tengah bersama dengan Sheeva.


"Lho kalian bareng? " tanya Gina.


"Om pikir kamu pergi ke bar, Zidni. Soalnya tadi kita keluarnya kan sama jam 6." Ucapan Miko membuat Zidni merasa panik. Namun ia tetap berusaha stay cool.


"Jam 6? Zidni bilang tadi lembur, Om. Kita ketemu pas Chika sedang menunggu taksi. Jadinya Chika nebeng tadi. Oh ya, Zidni beliin Om dan Tante bebek sambel ijo dan nasi uduk.'' Kata Chika sambil memberikan bungkusan nasi pada Gina.


''Wah Zidni, makasih ya.''


''Sama-sama Tante.''


''Kamu makan nasi uduk Zidni?'' tanya Miko tidak percaya.


''Iya Om. Zidni ke kamar dulu.'' Ucapnya seraya berlalu.


''Chika, kamu yang ngajakin Zidni?'' tanya Miko.


''Hehehe, iya Om. Aku ajarin dia makan pakai tangan juga dan dia mau.''


''Wah, perubahan yang sangat signifikan.''


''Oh ya Om, memang tadi Zidni tidak lembur?''


''Tidak Chika. Memangnya kenapa?''


''Tadi soalnya kita ketemu jam setengah 9. Tadinya Chika memang mau nebeng tapi Chika lembur karena tidak jadi. Eh tadi malah ketemu.''


''Tapi dia juga tidak bau alkohol tadi. Tapi ya sudahlah, setidaknya sekarang dia mau komunikasi sama kita lagi. Ya sudah kamu istirahat sana.'' Ucap Miko.


''Iya Om. Chika permisi. ''


''Sayang, aromanya menggugah selera. Kita makan yuk!"


''Boleh deh, mari menggendut bersama.''


''Tapi aku bawa Sheeva ke kamar dulu ya. Dia udah bobok.''


''Iya sayang.''


Setelah menidurkan Sheeva, Gina dan Miko menikmati makan malam kedua mereka sembari membicarakan dua keponakan mereka.


''Mas, sebenarnya semalam aku cerita semuanya pada Chika tentang apa yang di alami oleh Zidni selama ini. Jadi Chika sepertinya sedang membantu Zidni untuk keluar dari masalah.''


''Makanya aku juga heran soalnya kan Zidni tidak pernah makan, makanan seperti ini kan. Ya syukurlah Chika perlahan bisa merubah Zidni. Sepertinya besok aku akan ke Shanghai sayang. Tante Kamila pasti sangat senang mendengar kabar dari Zidni. Sekaligus aku mau mengecek perusahaan disana gimana.''


''Mas, kenapa kita tidak sekalian pergi saja? Kita mampir ke rumah Mama dan Papa. Kita berikan ruang untuk Zidni dan Chika. Kamu juga beri tugas untuk Zidni di kantor. Kamu pancing kemampuannya, Mas.''


''Ide kamu boleh juga sayang. Kalau begitu lusa saja kita berangkatnya.''


''Iya Mas, sekalian kita jalan-jalan. Sejak melahirkan, aku bosan sekali cuma di rumah.''


''Iya baiklah, kita liburan sekalian. Satu Minggu bagaimana? Kita bissa kumpul dengan Papa dan Mama juga disana.''


''Oke, aku akan mengatur waktu untuk kita pergi.''


...****************...


Hari berikutnya, Keira sedang bersiap untuk datang ke acara pertunangan Leon. Kevin dan Marvel masih juga belum memakai baju yang di pilihkan oleh Keira.


"Mas, ayo di pakai. Nanti kita terlambat."


"Sayang, yakin pakai pink?"


"Itu pink-nya kan ada kombinasi abu, Mas. Bagus banget lho. Kita satu keluarga kompak. Kita pasti jadi pusat perhatian nanti.''


''Pah, masa cowok pakai pink?'' bisik Marvel.


''Iya nih, Mama kamu ini ada saja idenya.''


''Papa-Kakak, ayo di pakai bajunya. Kalau tidak, Mama pergi sendiri. Ini juga rancangannya Tante Gina.'' Kata Keira dengan tegas. Keira merasa kesal karena suami dan anaknya tidak segera memakai baju. Akhirnya Kevin dan Marvel terpaksa memakai baju pink pilihan Keira. Kemudian mereka berempat pun berangkat ke hotel.


''Ya ampun Mas, bagus banget ya ini dekorasinya. Sayang banget dulu kita tidak ada pertunangan seperti ini.'' Ucap Keira yang merasa takjub.


''Ya kamu tahu sendiri, dulu hubungan kita seperti apa. Mana ada acara seperti ini.''


''Jadi pingin nikah lagi deh Mas.'' Celetuk Keira.


''Maksud kamu apa sayang?'' Kevin menaikkan alisnya.


''Hehehe maksudnya kita bikin acara seperti ini lagi, Mas.''


''Oh, aku pikir apa.''


''Satu saja tidak habis, Mas. Masa iya mau nambah.'' Ucap Keira terkekeh.


''Keira!" suara seseorang yang tidak asing di telinga Keira. Wajah Kevin seketika berubah ketika melihat Ferdi. Namun Ferdi kali ini menggendong seorang gadis kecil.


''Ferdi,'' gumam Keira.


''Apa kabar Keira, Tuan Kevin, Marvel? Ferdi menjabat tangan Keira dan Kevin secara bergantian. Ia juga tak lupa menyapa Marvel dengan mengusap kepala Marvel.


''Kami semua baik, Fer Itu anak kamu ya?''


''Iya Kei. Dan itu juga anak kamu ya? Usia berapa?''


''Jalan empat bulan. Anak kamu?''


''Jalan 6 bulan, Kei. Cantik sekali ya putri kecil kamu, mirip Tuan Kevin ya.''


''Oh jelas, aku kan Papanya.'' Sahut Kevin dengan nada kesal.


''Namanya siapa Kei?''


''Namanya Rachel. Kalau anak kamu? Mirip kamu ya, Fer?''


''Iya Kei. Namanya Steffani.''


''Mana Lily?''


''Bantuin Mbak Nadia siap-siap.Oh ya sekali lagi aku minta maaf untuk semua kesalahan masa lalu ku ya. Termasuk teror itu.''


''Aku bisa saja menghancurkanmu dengan mudah, Ferdi. Tapi aku masih memikirkan perasaan Tuan Handoko yang sangat baik kepadamu.'' Ucap Kevin dengan tegas.


''Mas, kendalikan diri kamu.'' Bisik Keira.


''Iya aku mengerti. Dan sejak Steffani hadir dalam kehidupanku, aku sadar dengan semua kesalahanku yang sudah membuat Lily sakit hati. Apalagi Lily masih mau menerima dan memaafkan ku berkali-kali. Sekali lagi maafkan semua kesalahanku.''


''Aku senang karena kamu sudah menyadari semuanya, Ferdi. Aku berharap kita benar-behar menutup masa lalu itu. Dan masing-masing membuka lembaran baru.''


''Iya Kei, tentu saja. Aku berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecil kalian. Aku juga janji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kalian nikmati acaranya ya, aku mau menyapa tamu dulu dan memberikan Steffani pada istriku. Permisi.'' Ucap Ferdi seraya berlalu. Keira menghela nafas lega karena ia sangat khawatir kalau suaminya akan terpancing amarah.


''Awas aja kalau dia membuat ulah! Aku akan langsung menghancurkannya tanpa tersisa '' Ucap Kevin dengan geram.


''Sayang, sudah ya.'' Keira berusaha menenangkan suaminya.


''Kamu kenapa jadi orang baik banget sih?''


''Tidak ada gunanya mengingat itu, Mas. Aku juga sudah lupa. Sekarang aku hanya fokus dengan keluarga kecil kita.'' Jawab Keira dengan senyum yang mampu menenangkan hati Kevin.


Acara pertunangan Leon pun berjalan dengan lancar dan meriah. Melihat kehadiran Keira dan Kevin, Leon juga merasa senang. Apalagi Leon yang benar-benar sudah melupakan semua perasaannya pada Keira. Karena saat ini ada seorang wanita yang begitu ia cinrai, yaitu Nadia.


Bersambung....