
Kevin sedang termenung di ruang kerjanya sambil menatap foto Kania.
''Seandainya aku berpisah dengan Keira, aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun selain kamu, Kania. Sekarang aku terjebak dengan semua ini. Aku tidak bisa maju ataupun mundur. Apa yang harus aku lakukan Kania? Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Keira. Aku merasa bersalah dengan semua ini. Bahkan sejujurnya sejak kamu pergi meninggalkan aku, aku sudah menutup rapat pintu hatiku sampai akhirnya dia datang dalam hidupku. Sejak dia hadir dalam hidupku, aku merasa pintu hatiku sedikit terbuka. Apalagi saat Marvel menyayanginya dan menginginkan dia untuk menjadi Mamanya. Jujur saja, perlahan hatiku tersentuh dengan ketulusannya. Meskipun terkadang dia menyebalkan tapi sikapnya yang seperti itu justru membuatku menyukainya. Apa kamu juga yakin bahwa dia pilihan yang tepat?'' Kevin mencurahkan segala isi hatinya pada foto mendiang istrinya. Sementara Keira menghabiskan waktunya dengan duduk di teras balkon kamar. Angannya melambung, teringat bagaimana awal pertemuannya dengan Marvel sampai ia menjadi seorang istri dari Kevin Harris Sanjaya.
Keesokan harinya, saat Keira terbangun lagi-lagi Kevin sudah tidak ada di kamar. Ia lalu berusaha beranjak dari tidurnya dan berjalan keluar mencari Kevin.
''Bibi! Bi, Nani!" panggil Keira. Bi Nani yang kebetulan dari ruang kerja Kevin, segera menghampiri Keira.
''Ada apa Non?''
''Tuan dimana ya?''
''Tuan sudah ke kantor, Non. Sepertinya semalam Tuan lembur di ruang kerja ya. Soalnya pas saya masuk mau beres-beres, Tuan tertidur di kursi.'' Cerita Bi Nani.
''Jadi Mas Kevin semalam sama sekali tidak masuk ke kamar? Kenapa aku malah jadi sedih ya kalau dia menjauh?'' batin Keira.
''Apa Tuan sudah sarapan Bi?''
''Sama sekali belum Non. Tuan terlihat buru-buru.''
''Bi, bantu aku menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk Tuan ya?''
''Iya Non.''
Bi Nani lalu membawa Keira menuju dapur dan mulai memasak untuk Kevin. Setelah semuanya siap dan selesai, Keira pun bersiap dan segera menuju kantor. Tepat jam 10 pagi Keira di temani oleh Mbak Rima sampai di kantor Kevin.
''Mbak, tunggu disini ya?''
''Tok tok tok tok!" suara Keira mengetuk pintu ruangan Kevin.
''Masuk!" sahutnya dari malam.
''Mas, aku membawakan kamu sarapan dan makan siang.'' Kata Keira saat masuk ke dalam ruangan Kevin. Kali ini Kevin bersikap acuh pada Keira dan tetap fokus dengan pekerjaannya.
''Letakkan di meja saja. Aku sangat sibuk. Besok kamu tidak usah repot-repot melakukan ini semua. Jadi kamu tidak perlu terbebani untuk mengurusku juga, seperti apa yang sudah aku katakan padamu semalam.'' Ucap Kevin tanpa mau menatap Keira sama sekali. Mendengar ucapan Kevin, entah mengapa hati Keira rasanya sakit sekali.
''Baiklah kalau begitu, maaf. Aku permisi.'' Keira lalu berbalik meninggalkan ruangan Kevin namun di saat bersamaan ada Leon datang bersama Krisna.
''Keira!" seru Leon saat melihat Keira yang duduk di kursi roda.
''Leon. Kei, kamu kenapa?'' tanya Leon yang tampak khawatir.
''Tidak apa-apa. Kaki ku hanya cedera saja.'' Jawab Keira sembari berlalu meninggalkan ruangan Kevin.
''Kamu! Ada perlu apa kamu datang kemari?'' tanya Kevin sinis.
''Tuan Kevin, ini adalah putra Tuan Handoko. Tuan Leon kesini ingin meminta maaf langsung pada anda.'' Jelas Krisna.
''Kamu boleh keluar, Kris.''
''Iya, permisi Tuan.'' Ucap Krisna sembari berlalu.
''Silahkan duduk. Keputusanku tidak akan berubah.'' Kata Kevin tanpa banyak basa-basi.
''Aku mengerti atas apa yang telah di lakukan adikku pada Keira. Aku tidak menyangka ini akan berimbas pada kerja sama kita, Tuan.''
''Apa Keira tahu kalau kamu putra dari Tuan Handoko?''
''Tidak! Aku bahkan tidak pernah menceritakan tentang siapa aku pada Keira. Karena sebenarnya aku sendiri tidak tertarik dengan bisnis. Jadi aku kesini ingin meminta maaf sebesar-sebesarnya atas apa yang pernah terjadi. Dan aku harap kerja sama antara kita tidak berhenti begitu saja.''
''Kenapa kamu yang meminta maaf? Seharusnya adikmu dan juga kekasihnya yang tidak tahu diri itu, yang meminta maaf pada Keira.'' Ketus Kevin.
''Baiklah aku akan meminta mereka untuk meminta maaf pada Keira.''
''Tidak masalah, Tuan. Yang terpenting bagiku kontrak kerja sama kita berakhir damai tanpa ada konflik. Kalau begitu aku permisi dan terima kasih untuk semuanya.''
''Ya silahkan!" kata Kevin dengan jutek. Leon lalu meninggalkan kantor Kevin. Kevin menghela nafas panjang, lalu pandangannya tertuju pada paperbag yang berisi dua kotak makan.
Kevin kemudian beranjak dari duduknya dan membuka isi paperbag itu. Kotak sarapan itu berisi roti sandwich yang Keira hias dengan bentuk emoticon senyum. Lalu kotak kedua makan siang, Keira membuat nasi bento dengan bentuk wajah menyerupai Kevin. Kevin tersenyum kecil melihat itu semua. Ada rasa bersalah, saat ia mengabaikan Keira begitu saja. Tapi kembali lagi, itulah yang Keira inginkan.
-
Selepas dari kantor Kevin, Keira menemui Laras dan Johan di cafe.
''Ya ampun Keira, elo kenapa?'' peluk Laras saat melihat Keira duduk di kursi roda.
''Iya Kei, kenapa di kursi roda seperti ini?'' sahut Johan.
''Gue cuma jatuh aja kok.'' Kata Keira.
''Elo kenapa? Kayaknya sedih banget,'' tebak Laras.
''Iya nih, elo nggak seceria biasanya.''
''Kontrak pernikahan gue sama Mas Kevin udah di bakar.''
''Bagus dong, Kei. Jadi elo nggak perlu terikat lagi. Iya kan?''
''Apa setelah ini elo mau cerai Kei?'' sahut Johan.
''Nggak lah! Kalau gue cerai, Ayah sama Kak Kenny pasti bakal sedih banget. Apalagi kalau tahu ini semua permainan.''
''Lah terus kenapa wajah elo lesu gitu?''
''Ya demi menjaga perasaan orang tua gue, Mas Kevin bilang kita tetap jadi suami istri. Dia nggak bakal ceraiin gue sampai kapan pun jadi status kita hanya sebagai suami istri saja. Tapi tanpa harus melakukan kewajiban suami istri.''
''Kok jadi aneh sih? Emang ada ya kayak gitu?'' tanya Johan.
''Dan pagi ini dia sama sekali nggak negur gue, berangkat kantor pun pas gue masih tidur. Ya mungkin itu semua karena ucapan gue yang menuntut kebebasan dan marah karena ini bukan pernikahan yang gue inginkan. Tapi lihat sikap dia tadi pagi yang cuek, kenapa gue sedih? Gue jadi merasa bersalah.''
''Elo bukan merasa bersalah tapi elo mulai jatuh cinta sama Tuan Kevin. Begitu juga sebaliknya, Tuan Kevin juga mulai ada rasa sama elo. Kenapa kalian nggak jujur aja sih kalau saling cinta?'' kata Laras.
''Cinta? Kayaknya nggak deh, Ras. Pasti dia marah dan benci sama gue karena gue udah marah-marah.''
''Terus kenapa elo sedih? Seharusnya kan elo cuek-cuek aja.'' Kata Laras.
''Kei, coba deh rasain kalau elo dekat sama Tuan Kevin, jantung elo deg-degan itu tandanya ada rasa. Apalagi elo sedih saat dia cuek sama elo karena elo pasti sudah terbiasa di perhatikan sama Tuan Kevin. Elo kan udah pengalaman pacaran, masa iya ciri-ciri orang falling in love elo nggak tahu.'' Cerocos Johan.
''Kalau gue jadi elo, ya gue bakal pepet terus Kei,'' celetuk Laras.
''Kalau elo siapa aja, elo pepet Ras!" ceplos Johan dengan tawa kecilnya.
''Udahlah Kei, mending sekarang elo pulang. Elo istirahat deh di rumah, tunggu suami elo pulang. Kenapa kalian nggak sama-sama buka hati?''
''Sebenarnya dia bilang kalau mau ngajakin kita jadi suami istri sungguhan dan meminta memulainya dari awal. Dia ngajak gue coba selama tiga bulan untuk sama-sama, kalau memang perasaan gue masih flat, ya dia bakal lepasin gue. Tapi gue yang marah, masa iya di coba segala. Pernikahan macam apa kalau seperti ini.''
''Nah itu artinya si Tuan Kevin serius sama hubungan kalian. Maksudnya mungkin selama tiga bulan itu, kalian jalan sama-sama dan memulainya dari awal. Bagus dong kalau Tuan Kevin ngajakin kayak gitu. Lah kalau emang selama tiga bulan elo nggak ada rasa, keputusan yang baik buat lepasin elo. Itu artinya dia nggak mau elo tersiksa, Kei.''
''Betul Kei. Kalau gue lihat dari sudut pandang seorang laki-laki, dia ada rasa tapi belum siap mengungkapkannya. Secara kan dia sudah menduda hampir lima tahun. Pasti rasanya sangat sulit untuk memulai hubungan yang baru. Apalagi Tuan Kevin begitu mencintai almarhum istrinya sampai dia lupa caranya untuk mencintai wanita lain. Menurut gue itu wajar aja sih dan elo termasuk orang yang beruntung bisa berada dalam kehidupannya. Sudah pasti fix, dia setia banget Kei.'' Jelas Johan panjang lebar.
Mendengar nasihat dan saran dari sahabatnya, membuat Keira terdiam dan mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Laras dan Johan.
Bersambung...... Harap bersabar ya para readerku sayang kalau upya keputus๐๐soalnya author juga harus kembali ke dunia nyata dulu ๐๐ Love you all ๐๐