Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Aku Milikmu


Bab 99. Aku Milikmu


Apakah Yudhis marah karena pengantinnya malah tidur lebih dulu? Memunggungi serta tidak peka?


Tentu saja tidak, karena situasi pernikahan mereka jelas tidak seperti pada umumnya, hanya agak kesal sedikit dan itu wajar. Mengingat Khalisa pun juga tidak tahu tentang alasan lain atas keputusan Yudhis menikahinya, Yudhis tidak serta merta mendesakkan diri di malam pertama mereka setelah sah menjadi pasangan halal meski dia berhak.


Khalisa mungkin memang janda. Pernah bersuami bahkan memiliki anak walaupun usianya masih begitu muda. Namun, lantaran pernikahan ini terjadi bukan berdasarkan dua rasa menggebu yang disatukan, Yudhis amat memaklumi reaksi Khalisa saat ini.


Walaupun dia memiliki hak penuh atas diri Khalisa sekarang, Yudhis tak ingin memaksa. Bertekad memperjuangkan cintanya lebih gigih mulai detik ini, membimbing dan memberitahu tahap demi tahap sampai Khalisa paham dan dia pun gamblang mengungkap rasa.


Yudhis tidak mau memaksa meleburkan diri dalam pemenuhan nafkah batin dengan wanita yang dicinta lagi halal untuknya meskipun teramat ingin karena dia pun pria normal. Karena Yudhis ingin saat itu terjadi, wanita pujaannya membuka diri secara sukarela untuknya, rela disentuh, bukan hanya penyatuan dua tubuh.


Meski level mendambanya memeluk dan dipeluk di malam pengantin ini lebih tinggi dari Gunung Semeru, tetapi rasa sayang tulus yang melingkupi lebih unggul, sehingga tindak-tanduk aneh Khalisa di malam pertama ini malah mengundang kekeh pelan, dibuat gemas dan semakin sayang saja.


Memastikan Khalisa telah benar-benar terlelap, Yudhis menyingkirkan guling yang menjadi pemisah area kasur perlahan-lahan dan menyeret tubuhnya mendekat. Berniat mencuri kesempatan di saat Khalisa tidur, lagipula mereka sudah halal bersentuhan. Hanya ingin memeluk saja untuk malam ini dan itu sudah cukup untuknya.


“Kenapa kamu rebah pinggir sekali? Gimana kalau jatuh!” gerutunya pelan saat mendapati Khalisa ternyata berbaring terlelap amat ujung.


Melingkarkan lengan ke perut ramping Khalisa, Yudhis menarik tubuh Khalisa pelan dengan lembut supaya tidak terlalu pinggir.


“Andai kamu tahu, jujur saja ini terasa sakit karena harus menahan yang terlanjur terbangun,” ujarnya sembari terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.


Yudhis betah berlama-lama mengamati wajah nyenyak Khalisa yang semakin cantik saja diterpa bias temaram kamar. Dan untuk godaan yang satu ini Yudhis tak bisa menahan, semakin menundukkan wajah dan mendaratkan kecup lama di pipi Khalisa.


Melebarkan selimut untuk mereka berdua, Yudhis memosisikan diri lebih turun merapat ke punggung Khalisa. Dengan sebelah tangan memeluk, Yudhis bergelung di punggung lembut nan hangat itu bersama kedua sudut bibir tertarik ke atas menerbitkan lesung pipinya. Sembari mengatur napas supaya dirinya tetap terkendali, tak lupa membaca do’a serta surah pendek yang biasa diamalkannya sebelum tidur.


“Selamat tidur, Unda Sayang,” gumamnya penuh cinta sebelum akhirnya Yudhis ikut tenggelam dipeluk cendera amat lelap, terkalahkan oleh lelah raga seharian ini, sehingga kantuk lebih menguasai dibanding desakan naluri.


*****


Yudhis melipat keningnya samar, saat tidurnya terusik dan terjaga, matanya dipaksa terbuka masih di suasana malam gelap entah pukul berapa. Dia langsung disajikan pemandangan Khalisa yang sedang menatapnya amat dekat, bahkan jilbabnya pun sudah dibuka, membiarkan surai hitam indahnya tergerai bebas.


“Khal, sejak kapan kamu terbangun?” tanya Yudhis.


“Nunggu aku bangun maksudnya? Memangnya ada apa?” Yudhis yang masih dilingkupi kantuk tak paham.


Khalisa mendekatkan wajah. “Nunggu malam pertama kita,” berbisik ke telinga Yudhis hingga napas hangatnya menyapu di sana, membuat Yudhis meremang bak terkena sengatan aliran listrik, apalagi kini Khalisa begitu dekat mengikis jarak.


“Huh? Malam pertama?” Jakun Yudhis naik turun tak menentu.


“Iya, bukankah ini malam pengantin kita? Seperti yang Abang bilang tadi sebelum aku tidur, kita ini sekarang sudah suami istri,” cicitnya tersipu, lalu dengan berani Khalisa mendaratkan bibir merah delimanya mengecup bibir sang kumbang.


Yudhis terkejut bukan main hingga detak jantungnya seakan berhenti. Tak menyangka akan reaksi Khalisa yang tiba-tiba begini. Terlebih saat menundukkan pandangan, Yudhis dibuat terkesiap hebat, ternyata bukan hanya jilbab yang dibuka Khalisa, tetapi saat selimut disingkap, di balik kain hangat lebar itu Khalisa hanya menggunakan satu stel dalaman tanpa pakaian dalam posisi begitu merapat padanya.


Seketika napas Yudhis berderu memburu, tergulung terjangan naluri yang bangkit lebih hebat dari sebelumnya. “Khal, i-ini?”


Khalisa meraih salah satu tangan Yudhis dan meletakkan tepat di dadanya. Dengan tatapan sayu mendamba Khalisa berkata, “Bukankah sekarang aku adalah milikmu?”


Yudhis menelan ludah guna membasahi tenggorokannya yang mendadak kelat. “Bolehkah?” Yudhis masih bimbang, tak serta merta menerjang.


Khalisa mengangguk dan kembali membuka mulut. “Sentuh aku, Bang,” pintanya serak, yang kalimat singkatnya berefek dahsyat merobohkan benteng kebimbangan Yudhistira Lazuardi.


Dipancing dan disajikan hidangan semacam ini dari yang dicinta dan dipuja, tak ayal lagi, naluri primitif prianya membanjiri Yudhis tak terbendung lagi. Menarik punggung Khalisa supaya kian merapat padanya, Yudhis mengenyahkan jarak raga juga wajah mereka berdua.


Tanpa banyak kata lagi, Yudhis memagut bibir merah menggoda yang sedikit terbuka itu penuh pemujaan, mencurahkan segala cinta. Mencerup rasa manis yang dibalas pagut mesra dari si bunga indah, membuat desiran yang mengaliri setiap nadi Yudhis terlonjak menderas seketika.


Erangan feminin Khalisa di sela-sela pagutan mereka yang terus saling mencicipi, mengundang sentuhan Yudhis kian merajalela, merambat melucuti sisa-sisa pembungkus raga Khalisa juga raganya sendiri begitu lihai walaupun ini kali pertama baginya. Hatinya bertambah membuncah senang, saat tanpa disangka-sangka Khalisa tak canggung membantunya menanggalkan setiap kain yang melekat.


Hingga akhirnya keduanya b*rgumul mengusak ranjang pengantin mereka, bergerak seirama dalam gelora yang berkobar. Menyatu di peraduan dalam satu desah yang sama. Mengubah malam yang dingin menjadi panas membara.


“Khalisa, aku cinta kamu, Sayang. Sangat.”


Bersambung.