
Bab 155. Ibukota
Acara berkunjung ke Ibukota untuk berziarah akhirnya tiba waktunya. Mereka berangkat selepas salat Subuh dari Bandung. Jalur tol Cipularang lancar ditunjang cuaca cerah, Afkar yang biasanya mabuk perjalanan pun tak menunjukkan keluhan sama sekali, ceria sepanjang perjalanan. Makam Ningrum dan Masayu menjadi tujuan pertama. Mereka tiba di saat matahari belum terlampau terik.
“Bu, hari ini aku berkunjung membawa serta Istriku juga anak-anakku. Yang satu sudah mau jadi kakak, sedangkan yang satu lagi masih dalam kandungan,” ucap Yudhis lembut di pusara Masayu. “Sekarang, hidupku semakin lengkap, bertambah bahagia. Semoga kebahagiaanku di sini, juga selalu dilimpahkan pada ibu di sana sampai tiba waktunya kita bertemu nanti.”
Berdo’a bersama menjadi agenda utama. Khalisa dibuat bangga sebagai istri juga wanita, suaminya ini merupakan sosok yang sangat memuliakan ibunya, entah itu ibu angkat maupun kandung. Entah yang masih hidup, maupun yang telah menutup mata, berdo’a khidmat untuk ibu kandungnya terlepas dari apa pun sejarah di masa lalu.
Selepas mengunjungi makam, mereka merealisasikan menyambangi Sea World di Ancol, sesuai dengan permintaan Khalisa. Afkar senang bukan kepalang. Balita itu menjerit-jerit gembira di pundak Yudhis.
Bi Dijah dan Ceu Wati ikut serta, berjalan bergandengan di belakang tuan dan nyonyanya. Sama-sama gembira tak terkira diajak berwisata gratis, terkikik-kikik, berbisik-bisik sembari mengamati keelokan wahana akuarium raksasa itu.
“Kalau ikan pari gede-gede gitu teh, enak dimakan enggak ya? Yang di warung mah pan kecil. Terus masaknya kumaha gede gitu, enggak muat wajannya oge?” bisik Ceu Wati dengan logat khas Sundanya saat melihat ikan pari besar berenang berlenggak-lenggok.
“Ya enggak tahu atuh Ceceu, memangnya ikan di sini boleh dikecrik?” tukas Bi Dijah yang sama-sama terpukau.
Khalisa lah yang paling antusias di sini, berkeliling tak kenal lelah. Bahkan meminta berfoto di setiap spot yang menurutnya menarik, tak peduli walau mungkin dianggap kampungan oleh pengunjung lain.
“Bang, yang itu ikannya cantik. Cepat foto aku di sana, nanti ikannya keburu berenang menjauh,” pintanya pada Yudhis.
Khalisa berlari kecil memosisikan diri pada spot dekat ikan yang dimaksud, berdiri di sana memasang senyum lebar saat sang suami mengarahkan kamera meski agak kerepotan lantaran posisi Yudhis sembari menggendong Afkar.
Maklum saja, ini merupakan kali pertama dalam hidup Khalisa bepergian berwisata ke wahana-wahana semacam ini. Tindak-tanduk Khalisa saat ini masuk dalam kategori sindiran familiar tentang analogi masa kecil kurang bahagia. Namun, bagi Khalisa bukan hanya analogi, melainkan fakta, sebab semasa kecil kehidupannya memang tak selumrah anak lainnya.
“Sayang, jangan lari-larian kayak barusan. Kamu itu lagi hamil, kalau kelelahan gimana? Terus kalau terpeleset gimana?” cecar Yudhis bawel, khawatir, merangkul posesif dan mengusap sayang perut Khalisa yang mulai membuncit dari balik gamis.
“Abang, aku ini kuat dan seratus persen sehat sekarang. Kata Dokter kondisi fisikku sangat baik. Aku juga janji pasti hati-hati. Sudah kubilang, Abang Sayang, aku ini cuma hamil, bukan bayi baru lahir yang enggak boleh beraktivitas ini itu. Percayalah bahwa aku kuat,” jelasnya membujuk.
Mengulas senyum cantik, Khalisa terkekeh geli. Ia sangat-sangat maklum akan mode posesif Yudhis yang bertambah kadarnya setelah dirinya berbadan dua. Akan tetapi, ia tetap ingin memberi pengertian, bahwa sebagai individu dirinya pun punya perkiraan rasa tentang kondisinya sendiri.
“Sorry, aku enggak bisa menghilangkan kebiasaan khawatir berlebihanku padamu,” desah Yudhis merajuk.
“Enggak apa-apa. Jangan manyun gitu dong, nanti gantengnya ilang,” goda Khalisa yang berhasil membuat Yudhis memamerkan lesung pipi tunggalnya. “Sebenarnya aku suka banget diperhatikan begitu besar, tapi aku juga enggak mau Abang malah jadi over khawatir dan enggak bisa berkonsentrasi saat mengerjakan hal lain cuma gara-gara aku. Banyak hal yang harus Abang urusi kan? Bukan hanya terus tentangku.”
Yudhis mengulum senyum, menatap mesra penuh sayang. “Kamu memang istri yang paling pengertian. Akh, aku jadi ingin pulang cepat.” Yudhis memicing mesum, disambut Khalisa dengan cubitan kencang di pinggangnya.
“Ini masih siang! Lagian aku enggak mau pulang dulu ah, masih mau main di sini, terus Afkar juga pengen berenang tadi,” tolak Khalisa gemas, mengerucutkan bibir.
“Afkar biar diasuh Ceu Wati, Bi Dijah, juga sopir. Kita cari hotel terdekat gimana? Aku butuh diasuh juga, sebentar saja.” Yudhis berbisik jahil, membuat Khalisa sewot belingsatan.
“Hilih, pokoknya enggak mau. Walaupun katanya enggak boleh nolak suami dan pahalanya banyak, tapi ya enggak sekarang juga,” geram Khalisa komat-kamit seraya celingukan melihat ke kanan dan kiri, khawatir percakapan topik dewasanya didengar orang-orang, menarik ujung kerudung guna menghalangi wajah saat berseru menggerutu pada suami isengnya.
Yudhis tergelak senang, punggungnya berguncang digetarkan tawa. “Kamu itu lucu kalau belingsatan. Kita main sampai puas di sini. Tapi, satu jam sebelum makan malam kita harus segera bergegas ke rumah tanteku. Mereka mengajak kita makan malam bersama.”
Bersambung.