
Bab 70. Bukan Fatamorgana
Benar saja, kondisi Afkar tidaklah sederhana. Balita itu hampir dehidrasi jika terlambat sedikit saja tiba di rumah sakit. Selang oksigen bahkan harus dipasangkan karena Afkar juga mengalami sesak napas. Khalisa nyaris pingsan melihat anak tersayangnya yang baru saja kembali ke pelukannya harus mengalami hal tak terduga semacam ini, andai Yudhis tidak terus mendampingi dan menopang tubuhnya, mungkin Khalisa sudah ambruk terkena syok.
“Anak Anda mengalami alergi susu sapi seperti yang Anda perkirakan. Alerginya menyebabkan gangguan pencernaan seperti muntah-muntah, diare, batuk-batuk, ruam kulit, juga pasti rewel serta sering menangis. Dan reaksinya kali ini termasuk kategori parah, karena anak Anda juga mengalami sesak napas, pembengkakan di lidah serta di tenggorokan. Kami sudah memaksimalkan pertolongan darurat, semoga segera membaik. Tapi penanganan lanjutannya harus dirawat inap, supaya tetap terpantau, khawatir terjadi dehidrasi akut yang sudah pasti membahayakan nyawa.” Dokter anak yang memeriksa Afkar secara saksama.
Khalisa tak tahu harus berkata apa, sekujur tubuhnya lemas seolah dilolosi tenaganya mendengar keterangan dokter. Berpegangan erat pada Yudhis membiarkan dirinya dirangkul, tak ingat lagi akan rasa sungkan maupun malu.
“Lakukan apa yang harus dilakukan, Dokter. Tapi setelah ditangani tahap awal ini, saya berencana membawa Afkar ke rumah sakit yang lokasinya di pusat kota, Ke Rumah Sakit Satya Medika. Supaya lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Apakah prosedur pemindahan mungkin bisa dilakukan secepatnya dan apakah aman untuk kondisi Afkar?” Yudhis bercakap-cakap dengan dokter sebab Khalisa sudah seperti raga tanpa nyawa, tak biasa diajak bicara dengan benar.
“Tentu bisa, apalagi Satya Medika fasilitasnya lebih canggih dan lebih memadai, semakin mendukung perawatan pasien. Tapi proses pemindahan tetap harus menggunakan ambulans demi keamanan anak Anda, supaya infus tetap bisa diberikan selama perjalanan dan oksigen bisa dibawa serta.”
“Baik, Dok. saya meminta yang terbaik menurut dokter. Maaf kalau mungkin saya lancang, saya melakukan ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter semata-mata karena ingin mengusahakan yang terbaik demi Afkar. Mengenai koordinasi dengan RS Satya Medika, kebetulan saya sendiri sudah berkomunikasi langsung dengan pihak di sana beberapa saat lalu, berupaya maksimal guna lebih memudahkan prosesnya dalam menyiapkan segala sesuatunya untuk perawatan Afkar. Tapi tentu saja kami membutuhkan surat rekomendasi dari rumah sakit ini sebagai surat pengantar. Sekali lagi mohon maaf kalau mungkin saya menyalahi aturan,” jelas Yudhis tetap sopan, menghormati, tidak sok berkuasa meski dia sangat lebih dari mampu.
“Jangan sungkan, Pak. Sama sekali tidak ada yang salah saat orang tua mengupayakan yang terbaik demi anaknya. Andai sudah mengerti, balita Anda pasti sangat bangga memiliki Ayah yang mengusahakan yang terbaik. mencurahkan segenap perhatian dan cinta untuknya. Saya dan pihak rumah sakit akan menyiapkan segala sesuatu terkait prosedur pemindahan sekarang, mungkin akan sedikit memakan waktu, tetapi tetap diusahkan secepat mungkin.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Yudhis menghubungi Aloisa, meminta bantuan mengecek semua persiapan untuk perawatan Afkar yang tadi sudah dikoordinasikannya dengan Rumah Sakit Satya Medika. Lokasinya di pusat Kota Bandung, kepala Rumah Sakit Satya Medika cabang Bandung adalah ayah Aloisa, yakni Dokter Fatih Arfa Wisesa. Yudhis juga meminta Aloisa mengemas baju-baju Afkar serta Khalisa. Tetu saja Aloisa sigap menyanggupi, mengatakan akan datang lebih awal dan menunggu kedatangan mereka di Satya Medika.
Setelah satu jam menunggu, Afkar diangkut memakai ambulans. Khalisa tak mau berpisah barang sebentar pun dari si buah hati. Ikut naik dan duduk tak jauh dari Afkar.
Yudhis berpesan mewanti-wanti pada beberapa perawat yang ikut, untuk menjaga Afkar juga Khalisa selama di perjalanan. Membiarkan ambulans melaju lebih dulu dan dia mengemudikan mobil hitamnya di belakang, ikut melesat mengawal mobil putih itu menuju Satya Medika.
Ruang anak VVIP dipilih Yudhis untuk perawatan Afkar, memilih kelas kamar perawatan berfasilitas terbaik. Afkar langsung ditangani beberapa dokter anak andal di Satya Medika.
Beberapa jam berlalu, Afkar berangsur lebih tenang. Bocah itu tertidur sekarang setelah obat yang diberikan bereaksi, mengatupkan kelopak matanya rapat setelah tadi terus gelisah. Bajunya sudah diganti dengan yang bersih lagi kering, juga diselimuti dengan selimut lembut dan nyaman khusus anak-anak.
“Loi, aku ingin dirawatnya Afkar di sini dirahasiakan dari siapa pun selain kita, seperti yang sudah kukatakan di telepon tadi tentang duduk permasalahannya, perihal alasan permintaan khususku pada rumah sakit yang beruntung pihak Satya Medika mau mengerti dan bekerja sama. Bukan apa-apa, aku hanya mengantisipasi. Kemungkinan akan ada yang mencari Afkar juga Khalisa setelah ini, dan sudah dapat dipastikan sosok yang mencari hanya akan mengganggu proses kesembuhan Afkar. Di sini yang sakit bukan cuma Afkar, tapi juga Khalisa. Afkar sakit fisiknya sedangkan Khalisa sakit batinnya,” kata Yudhis pada Aloisa, selepas para dokter dan perawat undur diri dari ruang perawatan Afkar. Mereka berbincang di luar ruangan, tepatnya di depan pintu kamar perawatan Afkar yang tertutup.
“Loi, boleh titip mereka sebentar? Aku mau pulang dulu mengambil beberapa keperluan. Aku janji tidak lama,” pinta Yudhis.
“Oke, jangan khawatir. Jangan lupa mandi dan berganti pakaian, Yudhistira Lazuardi enggak cocok dengan penampilan kusut begini,” cicit Aloisa sembari terkekeh, menunjuk kemeja Yudhis yang kusut masai berjejak air mata Khalisa.
*****
Saat Yudhis kembali, di dalam sana yaitu di ruang perawatan Afkar, Khalisa tak menjauh seinci pun dari ranjang di mana Afkar terbaring. Masih di posisi tadi saat Yudhis pergi untuk pulang sejenak. Khalisa duduk di kursi dekat ranjang. Menggenggam kaki mungil sang anak tak mau melepaskannya, sembari sesekali menyusut sudut mata.
“Ganti baju dulu, Khal. Kata Loi, di dalam sini ada baju gantimu,” ucap Yudhis pelan, meraba bahu Khalisa lembut dan menyodorkan sebuah tas berisi pakaian.
“Nanti saja, Bang,” jawab Khalisa singkat, matanya tak berpaling dari si buah hati walau hanya sedetik saja.
“Kalau gitu makan dulu, aku sudah belikan nasi Bento dari restoran Jepang siap saji di depan rumah sakit. Mumpung masih hangat sebaiknya dimakan.”
“Aku enggak lapar,” jawabnya lagi, tak menatap lawan bicaranya, tak mau beranjak dari sana.
Khalisa terus saja menatap lekat-lekat si buah hati, sekan mengedip pun ia takut. Takut saat kelopaknya mengedip Afkar hilang dari pandangannya, takut semua ini tak nyata, takut hanya fatamorgana.
Yudhis menarik napas panjang. Mengambil kotak makanan, Ikut menarik kursi tepat di sebelah Khalisa.
“Mau kusuapi?” tawar Yudhis dengan nada lembut penuh pemakluman, lalu menyodorkan sendok ke mulut Khalisa. “Ayo makan, kamu harus menjaga kesehatan, seperti janjimu padaku. Aku yakin Afkar juga pasti sedih kalau Bundanya malah jatuh sakit saat dia membaik nanti. Kamu harus kuat dan sehat, Khal. Perjuangan kita mendapatkan Afkar sepenuhnya belum usai di sini. Walaupun enggak berselera, kamu harus tetap mengisi ulang tenaga fisikmu dengan makanan.”
Khalisa menoleh sekarang setelah tadi terus terpaku pada si bocah kesayangannya yang tertidur. Menatap Yudhis tanpa kata.
Batin Khalisa tak menyangkal. Semua kalimat Yudhis tidak ada yang keliru, langkah perjuangannya mendapatkan Afkar baru setengah jalan. Akhirnya Khalisa yang masih dilanda linglung membuka mulut dan membiarkan Yudhis menyuapinya, memaksakan diri menelan makanan meski tidak mudah.
Bersambung.