Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Saling Menggoda


Bab 120. Saling Menggoda


Yudhis baru pulang ke rumah di pukul lima sore. Khalisa yang sudah cantik dan wangi menyambut membukakan pintu, mencium punggung tangannya sembari balas mengucap salam.


“Mau langsung mandi, atau mau minum dan makan camilan dulu?” tawar Khalisa yang digandeng Yudhis masuk ke dalam rumah.


“Pinginnya sih makan kamu dulu,” bisik Yudhis menggoda, yang dihadiahi sikutan kencang Khalisa di perutnya.


“Abang!” gerutunya malu. Menunduk merona, membuat Yudhis tergelak kecil.


“Kalau begitu, aku mau mandi dulu saja. Hari ini lumayan melelahkan dan sekarang aku butuh kesegaran,” jawabnya, yang diangguki penuh semangat oleh Khalisa.


Mereka langsung masuk ke kamar utama. Khalisa mengambil alih tas kerja Yudhis, menaruhnya hati-hati ke atas meja khusus dekat lemari. Khalisa juga membantu Yudhis membuka jas, dasi dan kini beralih ke kancing kemeja.


“Menu untuk menjamu teman-teman dan sahabat Abang yang akan datang untuk do’a bersama semuanya sudah siap. Aku berusaha memilihkan menu yang kira-kira cocok di lidah semua orang. Semoga pilihanku enggak mengecewakan,” kata Khalisa di sela-sela kegiatannya yang serius membantu membuka kancing kemeja sang suami.


“Aku yakin, pilihanmu pasti yang terbaik. Kalau buatku yang penting ada sambal buatanmu yang rasanya juara,” pujinya pada sang istri, menyanjung terselubung merayu.


Khalisa tersenyum senang, tak munafik rongga dadanya bergelombang bahagia dipuji demikian. Masakannya yang dulu lebih sering diprotes kurang ini dan itu, oleh suaminya yang sekarang justru dipuji-puji.


“Kalau sambal spesial buat Abang tersayang selalu ada,” imbuh Khalisa sembari menyodorkan handuk bersih, yang sahutannya kini sudah berani balas merayu. Melambungkan taman kalbu Yudhis ke awang-awang, senang bukan kepalang direspons demikian. “Tapi menu yang lainnya aku enggak yakin Abang suka.”


“Memangnya Istriku yang cantik ini masak apa saja, hmm? Dan kenapa khawatir aku enggak suka?” tanya Yudhis.


Khalisa mengabsen satu persatu menu yang dimasak dan Yudhis mengangguk-angguk mendengarkan dengan saksama. Tidak serta merta memotong obrolan Khalisa yang bercerita begitu bersemangat.


Yudhis pernah berbincang dengan psikolog terkait komunikasi suami istri, yang malah sering memburuk setelah menikah dan hal tersebut banyak dialami kliennya. Dan psikolog tersebut menyebutkan, kebanyakan karena para suami ogah meluangkan waktu untuk mendengar cicitan istrinya yang ingin ditanggapi. Keinginan terbesar seorang istri itu sebenarnya sederhana, hanya ingin didengarkan saat bercerita walaupun mungkin hanya cerita sepele tak berbobot. Entah itu tentang kisah gembira, maupun keluh kesah kelelahan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga.


“Enggak masalah walaupun bukan semua kamu yang masak, sudah seharusnya saat memasak sebanyak itu dibantu beberapa orang. Jangan berlelah-lelah sendiri. Aku merasa menjadi suami kurang perhatian nantinya. Soalnya aku enggak bisa menjamin malam harinya membiarkan kamu menganggur tanpa lembur. Jadi kalau saat siang mengantuk, ambil waktu tidur siang sepuasnya buat mengisi tenaga, karena malam harinya kamu pasti lebih banyak kutiduri, bukannya tidur.” Yudhis menukas menghibur seraya menggoda lagi.


“Ish, lembur apaan!” sungut Khalisa, sembari menepuk-nepuk pipinya yang bersemburat merah.


“Abisnya kamu itu nagih dan ngangenin, auranya bikin aku kepingin ngasur terus,” kekeh Yudhis, tak bosan menjahili Khalisa yang masih saja tersipu malu saat digoda.


“Sudah ah, mendingan Abang mandi saja sana. Nanti keburu Magrib.” Nada Khalisa yang menggerutu memanglah terdengar lucu dan menggemaskan, membuat Yudhis ingin terus menjahili.


“Oke-oke, Sayang. Tapi selagi aku mandi, boleh siapkan camilan dan teh madu hangat? Buat mengganjal perut sampai waktunya makan malam bersama,” pinta Yudhis sebelum mendorong pintu kamar mandi.


“Siap laksanakan, Papa Sayang.”


Para sahabat dan teman Yudhis datang sebelum waktu salat Magrib tiba. Ada Ghaisan bersama dua orang teman polisinya yang juga kenal dengan Yudhis. Salah seorang guru kajian yang biasa mengisi acara kajian di rumah Ghaisan bersama asistennya turut datang, juga semua karyawan LBH Raksa Gantari terkecuali satpam yang bertugas.


Tak ketinggalan Aloisa pun nampak hadir, berikut Farhana yang ikut datang bersama Syafa yang terus menekuk wajah. Syafa sudah dinasihati pelan-pelan oleh Ghaisan dan yang lainnya sejak hari itu, untuk belajar mengikhlaskan yang tidak ditakdirkan. Jangan sampai kekaguman yang berubah menjadi obsesi itu menghancurkan persaudaraan yang telah terjalin sekian lama.


Para laki-laki bergegas berangkat ke masjid, sedangkan para wanita termasuk Bi Dijah serta Ceu Wati melaksanakan salat berjamah di rumah dengan Farhana ditunjuk sebagai imam.


Khalisa mengambil tempat di sebelah kanan Aloisa. Syafa yang sejak tadi terus ketus malah menyela ingin salat pada tempat sajadah yang dibentangkan Khalisa, bersikap egois, kekanak-kanakan.


Khalisa memilih mengalah, berpindah ke sisi lain, tak ingin berdebat ribut di saat hendak beribadah. Farhana membuang napas kasar berusaha meredam amarah. Padahal, sebelum berangkat tadi Syafa berjanji menjaga sikap, dan ikut datang untuk meminta maaf atas sikap kasarnya pada Khalisa tempo hari.


Bi Dijah yang berjejer di belakang memelototi sebal punggung Syafa, andai kilat matanya mengandung laser sudah pasti punggung Syafa langsung berlubang. Sembari komat-kamit entah melafalkan kalimat apa dengan raut tak terima, menyaksikan sang nyonya baik hati yang dihormatinya malah diperlakukan tak menyenangkan oleh tamu yang hendak dijamu.


Bersambung.