
Bab 137. Tamu Tak Diundang
“Bu, ada Bu Herlina di ruang tamu. Katanya mau ketemu Ibu.” Salah satu ART di rumah mewah Maharani melapor sopan pada majikannya yang sedang merawat jejeran tumbuhan Anggrek cantik lagi antik di taman belakang, bermandikan binar mentari pagi yang membelai hangat.
“Mbak Herlina? Sudah lama dia jarang ke sini secara pribadi, kenapa pagi-pagi begini mendadak datang bertamu?”
Maharani tampak malas menemui, terlebih lagi Barata sudah berangkat ke kantor bersama Erlangga. Kedatangan Herlina secara pribadi selalu membawa hawa tak mengenakan. Biasanya hanya membawa persoalan dua hal, antara memprovokasi atau meminjam uang, padahal walaupun tidak besar, suami Herlina punya gaji tetap sebagai pegawai negeri sipil.
Hanya saja ibunya Barata bisa disebut menyayangi Herlina lebih, ibunya bersikap demikian dengan alasan di masa lalu orang tua Herlina pernah membantu keluarganya di saat sedang kesusahan sewaktu Barata masih bersekolah SMA. Berakhir melahirkan rantai hutang budi yang sulit dihentikan, ikut beranak pinak, membelit meminta tebusan tak berkesudahan, terus ingin memanfaatkan terlebih lagi istri Barata merupakan putri dari pengusaha kaya raya.
Barata maupun Maharani masih menjaga sikap pada Herlina pun disebabkan karena menaruh hormat pada sang ibunda juga karena Herlina masih merupakan sepupu dekat Barata. Meski mereka kerap jengah dengan tabiat Herlina, lantaran setiap kali mencoba menegaskan, selalu terbentur dengan pandangan ibunya Barata.
Seperti di masa lalu ketika Barata dan Maharani membela Yudhis saat putranya itu berterus terang akan sikap buruk Herlina. Terlebih lagi kala itu Maharani masih muda, emosinya masih mudah tersulut meledak-ledak. Berakhir pada perseteruan panas yang membuat keluarga besar Barata terus menyalahkan mereka berdua, menyebut perang terjadi akibat mereka telah salah saat memutuskan mengasuh anak haram yang dituduh menjadi biang kerok keributan. Terlebih lagi baik di kubu Maharani maupun Barata ada beberapa pihak kerabat yang tidak setuju saat mereka mengadopsi Yudhis.
Kekuasaan, kekayaan, terkadang tak bisa mengendalikan pemikiran kukuh orang tua. Untuk itulah, sejak saat itu Maharani bertekad dalam hati untuk berhenti mendengar dan meladeni suara sumbang, memilih fokus mengasuh dan mengasihi Yudhis dan akan membuktikannya pada dunia bahwa Yudhis yang dicap anak haram bisa menjadi sosok yang membanggakan.
“Saya juga tidak tahu, Bu. Cuma bilang katanya ada hal penting dan meminta ingin bertemu Ibu.”
“Ya sudah, kamu buatkan dua cangkir teh hijau dan bawa ke ruang tamu.”
Maharani menyudahi acara bercengkerama dengan tanaman-tanaman kesayangannya. Meski enggan, ia mengayunkan kaki ke ruang tamu dan benar saja sudah ada Herlina yang duduk menyilangkan kaki.
“Tumben pagi-pagi Mbak datang ke sini? Kenapa enggak mengabari dulu? Kalau tahu mau ke sini, mungkin aku akan menggelar karpet merah untuk menyambut,” ucap Maharani berbasa-basi.
“Enggak perlu karpet. Aku lebih suka suvenir warna merah, seperti misalnya obat merah cap bapak-bapak,” ujarnya yang kemudian terkekeh-kekeh tak tahu malu. Kalimatnya terdengar serupa candaan padahal memang menyelipkan kode tersirat di dalamnya.
Maharani mengulas senyum kecut sekilas. Tak habis pikir dengan tabiat orang ini yang ucapannya merujuk pada lembaran rupiah nominal seratus ribuan. Benar-benar mata duitan.
“Eh bukan. Aku ke sini bukan mau ketemu Barata, tapi mau ketemu sama kamu. Ada hal penting,” tukas Herlina cepat.
“Hal penting? Apa itu?”
“Aku ingin tanya, mamimu benar sudah tahu kalau istri Yudhis itu statusnya janda beranak? Sewaktu makan malam, aku bertanya pada Bu Marina sembari menunjuk bocah laki-laki tugas tahunan itu, dan mamimu malah menjawab bocah laki-laki berpipi gembul yang merupakan anak sambung Yudhis itu adalah salah satu anak yayasan panti milik kalian, yang sengaja kalian bawa di acara keluarga. Itu artinya Bu Marina belum tahu hal ini, atau jangan-jangan kamu menyembunyikan fakta ini saking sayangnya pada Yudhis? Setahuku, bukankah dulu mamimu pernah menentang keras jika keluarga mereka menikahi janda beranak, seperti sewaktu kejadian Arjuna dulu,” tutur Herlina memojokkan, nada bicaranya sinis.
“Oh, begitu rupanya. Mungkin Mbak lupa. Sudah dua tahun mami terkena gangguan penglihatan akut juga mulai pikun walaupun hanya sesekali.” Maharani berhenti berkata sejenak, menyesap teh hijaunya santai sedangkan Herlina terlihat tak sabar. Maharani tahu, Herlina sedang mencari-cari perkara untuk menyulut keributan. Serupa hobi bagi wanita itu.
“Lalu, perihal kenyataan istri Yudhis itu, apakah tebakanku benar bahwa kamu menyembunyikan kenyataan? Ini bisa jadi permasalahan besar!” serunya berapi-api.
Maharani menaruh cangkir, bersedekap dan menyandarkan punggung. Tetap santai dan tenang. Seiring bertambahnya usia juga banyaknya makan asam garam kehidupan, menjadikan pribadi Maharani lebih bijak dalam bersikap dan bertutur kata.
“Tentang hal itu, memang benar dulu keluarga besar Syailendra sangat menentang, tapi setelah kejadian penentangan akan rasa cinta Arjuna pada seorang janda yang telah memiliki anak, ternyata peraturan kukuh itu berefek kurang baik, menjadikan adikku keras hati, cukup lama untuk sembuh. Bahkan suatu waktu mami bercerita, beliau pernah mendapat informasi dari sumber terpercaya. Anggita, istrinya Arjuna yang dinikahkan melalui jalan perjodohan, di awal-awal rumah tangga harus mengalami banyak tergores hati. Menjadi pelampiasan Arjuna dari cinta terhalang restu sebelumnya dan sudah pasti keluarga Syailendra ikut andil dalam luka hati Arjuna juga luka hati yang harus dialami Anggi. Oleh karena itulah, peraturan kukuh turun temurun itu tidak lagi dipakai. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Yang penting, sosok yang akan diperistri memiliki adab yang baik.” Maharani menjelaskan dengan nada rendah, tutur katanya tidak mengandung amarah.
“Apakah nanti, andai Erlangga ingin menikahi janda yang kastanya mirip dengan istri Yudhis itu, juga kamu akan mengizinkannya? Kalau iya, sebagai ibu kamu terlalu lembek. Seharusnya kamu punya standar tinggi dalam memilih menantu, minimal sama-sama sarjana seperti keluarga kita, terlebih keluarga besarmu. Juga, ibunya Barata pasti akan menentang kalau itu terjadi pada Erlangga. Mau-mau saja merestui pilihan Yudhis pasti karena pertimbangan hanya anak Angkat. Sedangkan Erlangga itu anak kandung kamu juga Barata!”
“Perlu Mbak ketahui, standarku memilih menantu sangat tinggi. Dengan adab yang kujadikan kriteria di urutan pertama. Maka dari itu, anak-anak Mbak yang dulu ingin Mbak jodohkan dengan Yudhis tidak terpilih. Karena kebetulan belum memenuhi standar menantu kriteriaku.” Sahutan telak Maharani membuat Herlina langsung merah padam seketika. Walaupun disampaikan dengan intonasi normal, berhasil menelanjangi ambisi menggebu Herlina.
“Kamu!” sergahnya marah tak terima.
“Mbak, kita ini sudah tidak muda lagi. Bukankah sudah saatnya lebih berpikir pada membenahi diri daripada terus tergerus ambisi? Aku sebetulnya tahu walaupun hanya selentingan tipis, penyebab perseteruan anak-anakku sebelumnya juga melibatkan peran provokasi Mbak di dalamnya. Hanya saja aku percaya, Erlangga yang beranjak dewasa suatu saat akan mampu menangani masalahnya, terutama egonya, percaya putraku pada akhirnya bisa memilah mana yang benar dan mana yang keliru. Sebaiknya berhenti, Mbak. Sebelum ambisimu itu berbalik menghancurkanmu. Aku sudah tak tertarik dengan perselisihan. Ingin sesama saudara hidup berdampingan dalam damai di sisa umur kita ini.”
Bersambung.