Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Posesif


Bab 114. Posesif


Seorang pria tinggi tegap yang hanya terbalut trening tanpa memakai baju atasan, memasuki sebuah kamar dengan membawa piring berisi makanan juga segelas susu murni hangat yang kemudian ditaruhnya di meja nakas. Ponsel yang sejak semalam sengaja dimatikan, kini dinyalakan, menjauh dari ranjang saat teleponnya tersambung.


“Erika. Hari ini aku tidak akan ke kantor. Ada urusan pribadi yang sangat mendesak. Aku titip LBH padamu juga yang lainnya di hari Jum’at ini. Bekerjalah dengan baik dan profesional walaupun tidak ada aku. Kalau mendadak ada masalah mendesak yang membutuhkan kehadiranku, jangan sungkan menghubungi. Tapi ingat, jangan datang ke rumah maupun menelepon. Kirim pesan saja.”


Khalisa terusik dari mata memejamnya saat sebuah kecupan sayang mendarat di pipi. Sesi serangan fajar berlangsung hingga pukul delapan pagi, menghabiskan hampir tiga jam dari selepas waktu Subuh. Memadu kasih tak henti, tergerus arus dahsyat bak banjir bandang yang menyeretnya berkubang lagi dan lagi.


“Makan dulu, ini sudah jam sepuluh lebih dan kamu belum sarapan,” kata Yudhis lembut, mendudukkan diri di tepian ranjang.


“Mmmh.” Khalisa mengucek mata dan mengerjap masih terbalut kantuk akibat kelelahan setelah dikuras dan menguras energi. “Jam sepuluh? Tapi kelihatannya masih redup,” ujarnya sembari menyesuaikan pupil mata dengan pencahayaan ruangan.


“Iya, ini sudah jam sepuluh lebih. Tuh lihat jam di dinding.” Yudhis mengarahkan telunjuk pada sebuah jam antik buatan Eropa yang menggantung di dinding sebelah kanan ranjang.


“Kamar ini masih redup efek dari gorden yang sengaja enggak kubuka. Khawatir silaunya cahaya matahari mengganggu lelap ratuku yang sedang tertidur akibat dibuat lelah olehku. Juga, kamu semakin cantik di bawah cahaya temaram,” tutur Yudhis mendayu merayu, membuat Khalisa merona, menutupi wajahnya spontan menggunakan kedua telapak tangan.


“Ish, Abang, aku malu,” cicitnya tersipu. Yang bagi Yudhis terdengar mengalun memabukkan.


Yudhis terkekeh, mencondongkan tubuh dan berbisik ke telinga Khalisa sembari mencoba menurunkan telapak tangan Khalisa yang menutupi erat wajah cantik favoritnya kendati tak mudah.


“Enggak usah malu, tadi saja kamu melenguh merdu dan bergerak lincah mengayuh di atas tubuhku tanpa malu-malu. Akh, aku suka dan ingin lagi jadinya, bikin aku tergila-gila,” akunya jujur. Merasa dicintai, dilambungkan, senang tiada tanding.


“Abang!” pekik Khalisa yang kini wajahnya beriak memerah semerah tomat masak, membuat Yudhis terbahak, puas menggoda juga gemas.


Khalisa malu bukan kepalang saat teringat kembali akan aksi beraninya di sesi penutup serangan fajar tadi, mencoba menguasai medan pertempuran untuk pertama kali. Menjadi pihak yang mendominasi menyentuh dan membelai Yudhis begitu intim, menyatukan diri memenuhi gerbang surgawinya. Berbeda cerita ketika sedang mendaki tadi, rasa malunya berhamburan kala diterjang rasa baru yang begitu bergelora.


Selain khasiat ratus menghasilkan efek menggigit berbeda bagi kedua belah pihak yang membuat keduanya betah berlama-lama memadu cinta di atas peraduan, mungkin juga karena pria yang menggaulinya kini adalah sosok yang tulus mencintanya dengan segenap puja jiwa raga, yang tanpa disadarinya telah menelusup mengisi sanubarinya entah sejak kapan. Membuat peleburan terasa bermakna, bukan sekadar mengejar semburan kepuasan semata.


“Yuk, makan dulu, selagi hangat. Setelah ini minum susu juga vitaminmu, sudah kusiapkan untuk istriku yang cantik nan ayu. Kamu harus mengisi ulang tenagamu, karena sesi-sesi berikutnya masih menanti,” bujuknya diselipi kalimat tersirat penuh minat.


Berusaha menyingkirkan malu, Khalisa beringsut bangun dibantu Yudhis dengan tetap memegangi selimut guna menutupi tubuh bagian atasnya. Bersandar pada bantal yang ditata berdiri di kepala rajang.


Khalisa meringis, menggigit bibir. Baru sadar ternyata sekujur tubuhnya pegal dan ngilu, juga inti pusatnya terasa agak perih, wajar saja ia merasa demikian sekarang mengingat bagaimana rakusnya Yudhis melahap dirinya lebih ganas. Semalam di peleburan perdana, Yudhis beraksi lebih lembut, bergerak agak amatir di awal penyatuan yang mulai selaras dari durasi pertengahan. Namun, pagi tadi Yudhis menerjangnya bak siang lapar, mengayuh cepat dalam durasi yang lebih panjang, membuatnya berpeluh deras dan mengejang berkali-kali dalam satu sesi.


Khalisa yang sudah lama tak disentuh dalam konteks intim hampir setahun lamanya mengingat sebelum bercerai pun sekitar setengah tahun ia tak disentuh, daksa dan lembah intinya bereaksi tak ubahnya gadis perawan lagi yang baru dibuka segelnya, terasa remuk redam dan tak dipungkiri sekaligus membuatnya bahagia juga candu.


“Aku sudah makan duluan tadi, dan nasi goreng ini kubuat sendiri.”


“Yang benar?” imbuh Khalisa kentara tidak percaya bahwa pria tampan, perlente dan kaya raya ini sudi memasuki dapur.


Bukan tanpa alasan Khalisa berpikir demikian, sebab dulu Dion amat benci masuk ke dapur hanya untuk sekadar membuatkan telur ceplok di saat ia demam atau batuk pilek dan ingin makan. Mengatakan bahwa hal semacam itu pekerjaan wanita, dan walaupun Khalisa sedang sakit tidak boleh manja sehingga seringnya Khalisa memasak sendiri meski tubuhnya sedang tak sehat.


“Hei, tentu saja ini aku yang buat. Mungkin kamu lupa, aku tinggal sendiri jauh dari orang tuaku sudah cukup lama, sejak kuliah. Jadi, sesekali aku juga memasak saat bosan dengan menu yang dijual di luaran. Tapi Cuma masakan sederhana saja, bukan Gulai atu Rendang. Ini nasi goreng seafood buatanku, teman-temanku yang pernah mencicipi bilang nasi gorengku rasanya tak kalah lezat dari buatan resto. Dan kamu harus berbangga diri, karena tidak pernah ada orang lain kumasakkan secara khusus dan spesial tanpa diminta selain kamu. Terkecuali Ghaisan yang kumasakkan karena dia merengek ingin seperti wanita ngidam.”


“Benarkah?” Khalisa terlihat senang. Mengamati nasi goreng yang terlihat ramai dilengkapi potongan cumi juga udang. Masih mengepulkan uapnya menguar sedap, tampak menggugah selera dengan taburan bawang goreng dan daun ketumbar di atasnya. “Wanginya juga enak. Aku jadi lapar,” cicitnya, yang kemudian bermaksud mengambil piring, tetapi kalah cepat dengan gerakan Yudhis.


“Lho, kenapa piringnya diambil?” protes Khalisa yang merasa tak rela, lidahnya tak sabar ingin mencicipi. “Bukannya itu buat aku?” tuntutnya lugu.


“Kamu duduk santai saja, aku suapi. Anggap ini sebagai reward pelayanan VVIP atas kerja keras istriku yang sudah menjadi joki berkuda di sesi penutup serangan fajar tadi.”


“Abang! Sudah dong!” jerit Khalisa kesal juga malu, ingin rasanya ia menggali tanah dan bersembunyi di sana sekarang. “Jangan dibahas lagi!”


“Iya, iya. Aku enggak akan membahasnya, cuma bakal memintanya lagi,” godanya lagi tak kunjung usai.


Khalisa meninju pundak Yudhis. Melampiaskan malu. Ekspresinya sungguh manis.


“Aw, Bundanya galak,” imbuh Yudhis seraya mengulum tawa.


“Stop enggak?” sungut Khalisa sembari memajukan bibir.


“OKe, oke, Cintaku. Ayo makan dulu. Setelah ini aku akan pergi berbelanja bahan makanan ke swalayan, kamu pasti capek kan, jadi tunggu saja di rumah. Mau titip sesuatu?” Yudhis berkata sembari menyendok nasi goreng untuk Khalisa.


“Aku ikut.” Khalisa menyambar cepat.


“Yakin? Enggak capek?”


Khalisa mengangguk cepat. “Iya, aku pokoknya mau ikut. Mulai sekarang Abang enggak boleh belanja bahan makanan sendiri lagi, nanti disangka masih lajang dan digodain cewek-cewek di swalayan kayak waktu belanja sepulang dari rumah sakit.”


Bersambung.