
Bab 111. Hak Suamiku
Khalisa bergegas membuatkan teh tubruk hangat, berusaha bersikap santai dan sebiasa mungkin meski jujur saja ia resah luar biasa sekarang, merasa was-was Yudhis malah tak suka dengan keberanian penampilannya saat ini, khawatir terkesan terlalu nakal.
Yudhis mengerjap seperti orang linglung. Bertanya-tanya dalam benak tentang penyebab Khalisa berdandan tak seperti biasanya malam ini. Di kursi makan, Yudhis menarik dan meniupkan napas teratur, aliran udara ke paru-parunya mendadak menyempit disuguhi kemolekan bidadari pujaan hatinya yang hanya terbalut gaun tidur pendek dengan model seutas tali di pundak berkulit putih langsat Khalisa. Belum lagi aroma Khalisa berpadu feromon yang semerbak menggoda, menggelitiki seluruh syarafnya.
Arah pandangnya tak bisa diajak berkompromi, terus ingin melahap keindahan daksa Khalisa dari atas kepala hingga ujung kaki. Meski bukan gadis perawan, tetapi daya tarik Khalisa tetap cetar membahana.
Tengkuk putih itu, pinggang ramping itu, paha serta betis jenjang dan mulus itu, walaupun tampak belakang ibarat magnet berkekuatan super yang menarik Yuhdis begitu kuat. Mengobarkan keinginan menyergap Khalisa meletup-letup, ingin membelainya, melucuti sehelai kain mini penghalang lekuk indah itu dan membuangnya ke lantai.
Gaun hitam berenda yang dipakai Khalisa memang bukan jenis lingerie transparan, tetapi jika diperhatikan dengan saksama sudah jelas kainnya menerawang. Menampakkan siluet memikat, menggoda jiwa raga, menegangkan bagian-bagian dirinya yang memang sudah seharusnya menegang di saat seperti ini pertanda Yudhis pria tulen yang bereaksi normal.
“Ini tehnya, Bang.” Khalisa menaruh segelas teh tubruk hangat di meja beserta pocinya juga, supaya mudah menuangkannya lagi kalau Yudhis ingin mengisi ulang gelasnya.
Menarik kursi, Khalisa mendaratkan pinggul pada kursi makan yang berhadapan dengan Yudhis. Mengukir senyum cantiknya berusaha percaya diri di depan si pria tampan yang terus memaku pandangan padanya tanpa kata, menatapnya lekat-lekat, ekspresinya sulit dibaca.Meski gugup setengah mati, Khalisa menggeser hidangan Ayam Betutu yang tadi dimasaknya lebih dekat pada Yudhis.
“Semoga Abang suka masakanku, kalau ada yang kurang, kasih tahu saja. Biar ke depannya aku bisa koreksi rasa Ayam Betutu yang benar itu kayak gimana, terutama rasa yang sesuai dengan lidah Abang, rasa masakan yang Abang suka.”
Keterpakuan Yudhis yang tengah dilanda badai pesona Khalisa, pecah saat jemari Khalisa menepuk punggung tangannya. Yang kini semakin berefek tak biasa padahal cuma tepukan saja, sekujur raganya bereaksi bak disengat listrik tegangan tinggi.
“Abang kenapa diam saja? Kenapa enggak dimakan? Apa masakanku kelihatan tidak menggugah selera?” tanya Khalisa lesu, yang kini mulai menyurutkan senyum, lantaran Yudhis diam saja tak merespons.
Yudhis terkejut akan reaksinya sendiri yang ternyata malah menimbulkan salah paham di benak Khalisa.
“Eh, enggak, bukan begitu. Karena aku merasa Ayam Betutu buatanmu lebih sedap aromanya juga tercium lebih berempah dari yang biasa aku makan. Sedang menerka-nerka apa resep rahasia yang membuatnya jadi lebih wangi begini,” ujarnya terburu-buru mencari alasan, tidak ingin senyum cantik Khalisa yang sejak tadi terus berkibar tiba-tiba turun tiang, akibat salah menyimpulkan sikapnya yang sebetulnya sedang terpesona tiada tara.
“Kukira Abang enggak suka. Aku juga enggak tahu aku kelebihan pakai rempah apa, tapi semoga saja tidak mengecewakan. Sebisa mungkin aku membuatkan masakan ini berdasarkan keterangan resep dari maminya Abang. Karena hari ini aku ingin membuatkannya spesial untuk suamiku dengan tanganku sendiri, sebagai ucapan terima kasihku,” cicit Khalisa yang setelah merampungkan kalimatnya tertunduk malu.
Mendengar kata suamiku ditujukan padanya terlontar dari mulut Khalisa untuk pertama kalinya, Yudhis hampir saja berjingkrak senang andai kemampuan pengendalian dirinya tak terlatih dengan baik.
Tak banyak kata, Yudhis bergegas menyantap masakan Khalisa penuh sukacita yang spesial dibuatkan untuknya setelah berdo’a bersama, tidak ingin membuat Khalisa sedih maupun kecewa. Kendati selama acara makan berlangsung Yudhis kesulitan fokus pada isi piringnya, sebab terganggu fokus oleh gerakan bibir segar Khalisa saat mengunyah, serta belahan mengintip menyembul yang sesekali mencuri perhatian ketika Khalisa sedikit membungkukkan tubuh, imbas dari model bagian depan gaun yang begitu rendah. Menggeliatkan naluri kelelakiannya meronta-ronta.
Yudhis masuk ke kamar lebih dulu sedangkan Khalisa merapikan meja makan dan piring kotor terlebih dahulu. Beberapa hari ini biasanya mereka mencuci piring bersama setelah makan malam. Namun, kali ini Yudhis yang belingsatan berpamitan ke kamar lebih awal.
Sembari membasuh piring bekas makan, Khalisa termenung sejenak. Dari bias manik hitam Yudhis tadi menunjukkan pria itu tidak membenci penampilannya, hanya saja Yudhis yang berpamitan ke kamar lebih dulu menimbulkan beberapa pertanyaan di kepalanya yang memang kerap overthinking, sebab rasa percaya dirinya belumlah berdiri kokoh, masih terseok-seok.
Setelah ruang makan rapi kembali dan wastafel bersih dari peralatan makan yang kotor, Khalisa mengayunkan kakinya sangat pelan kembali ke kamar, hendak mengganti pakaiannya khawatir Yudhis tak suka.
Kenyataan sebenarnya Yudhis sama sekali tidak mengantuk. Dia terbirit-birit masuk ke kamar untuk menggosok gigi sebersih-bersihnya yang disudahi dengan berkumur mouthwash.
Selepas itu, dia membuka kaus oblongnya dan memeriksa pantulannya di cermin dekat lemari, hanya mengandalkan penerangan remang-remang dari lampu tidur. Dia mengamati kotak-kotak padat nan liat otot perutnya, memerhatikan dada bidangnya, lengan kekarnya, juga kerapian jambang halus di rahangnya. Memastikan dirinya juga sama-sama memikat di mata si bunga indahnya yang sejujurnya tak sabar ingin dia sesap madu manis cintanya.
“Akh, aku hampir gila rasanya disuguhi pemandangan menggoda tadi,” decaknya frustrasi. “Pffuh, jujur saja aku tak tahan ingin menyerbunya, tapi khawatir Khalisa terkejut dan takut denganku. Tapi, bagaimana aku bisa tidur tanpa bermimpi basah lagi kalau wanita yang kusuka begitu menggoda terbaring di atas ranjangku?” gumam Yudhis bimbang, tepat di depan cermin sembari mengacak rambutnya.
“Aku tak yakin mampu menahan diri terus menerus. Kalau aku menuntut hakku sebagai suami malam ini juga, apakah Khalisa akan bersedia mengerti tanpa merasa dipaksa dan rela kumesrai lebih dalam lagi? Kalau kugunakan alasan kewajibannya sebagai seorang istri sah masih ada yang belum dipenuhinya, apakah Khalisa akan menganggapku suami yang terlalu mendiktenya?” tanyanya lagi, galau dan resah.
Sepasang lengan berjemari lentik mendadak memeluk Yudhis yang masih sibuk di depan cermin. Disusul dua bongkah bulatan padat yang menekan punggungnya saat pelukan dieratkan, bersama kehalusan kulit pipi mendarat di punggung lebarnya. Entah sudah yang ke berapa kali di hari ini Yudhis dibuat terkesiap oleh Khalisa. Apalagi kali ini dipergoki sedang berkeluh kesah, tak mendengar langkah kaki Khalisa yang masuk ke kamar.
“Apakah bahasa tersiratku malam ini belum cukup untuk membuat Abang mengerti bahwa aku rela? Bahwa aku ingin menunaikan kewajibanku secara sempurna dengan memenuhi hak Abang sebagai suami,” tutur Khalisa dengan nada lembut mendayu.
Si pria berlesung pipi itu tak menyangka Khalisa mendengar semua kata-katanya. Dan jawaban Khalisa barusan sungguh bak angin segar bagi Yudhis yang masih digerogoti rasa ragu akan dorongan mendesakkan diri untuk menyatu dengan Khalisa.
Yudhis mengurai pelan pelukan Khalisa dan memutar tubuhnya. Menarik pinggang Khalisa hingga raga bagian depan mereka merapat tanpa jarak. Khalisa tak menolak, membiarkan dirinya didekap. Detak jantung mereka sama-sama menabuh kencang, dapat dirasakan satu sama lain.
Yudhis mengangsurkan jemarinya membelai lembut pipi Khalisa, mengecup keningnya, lalu ibu jarinya berpindah mengusap bibir merah Khalisa yang disambut Khalisa dengan pejaman mata meresapi setiap rasa, rasa membuncah yang kian menguat setiap menitnya.
“Jadi, semua yang kamu persiapkan malam ini dipersembahkan untukku?” Untaian kalimat yang diucapkan Yudhis kentara dipenuhi kebahagiaan, baik dari nada bicara maupun sorot mata.
“Iya, ”jawab Khalisa sangat pelan, mengangguk dengan pipi merona. “Semuanya buat Abang.”
“Jangan menunduk, tatap aku, Sayang. Biarkan aku menikmati mata indahmu.” Yudhis meraih dagu Khalisa dan mempertemukan pandangan mereka, yang efeknya semakin menyerukan keinginan memiliki Khalisa kian berkobar.
“Bolehkan aku memilikimu seutuhnya, sepenuhnya saat ini juga, Istriku?”
Walaupun kaki Khalisa laksana bagai agar-agar diberi tatapan memuja yang teramat jelas, Khalisa ingin tetap menyahuti kembali agar Yudhis semakin yakin, sembari meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.
“Miliki aku. Aku ingin Abang memilikiku seutuhnya, suamiku.”
Bersambung.