
Bab 64. Melatih kesabaran
Rentetan pertanyaan yang dilontarkan Khalisa, membuat Yudhis senyum-senyum sendiri. Cerocosan bibir merah si cantik nan ayu yang duduk di sebelahnya itu, bagi Yudhis terdengar seumpama melodi alunan merdu cemburu imbas rasa berdesir menggelitik kalbu.
Khalisa sampai memiringkan kepala, mengernyit aneh disuguhi reaksi Yudhis yang malah menarik kedua sudut birai bibir melengkung ke atas.
"Abang kok malah senyam-senyum? Apakah jawaban para pengacara atas pertanyaan kliennya selalu begini?" Ulangnya lagi, terdengar agak kesal.
"Abisnya kamu lucu juga ternyata kalau lagi bawel," sahut Yudhis yang terkekeh renyah.
“Terus apa?” desak Khalisa, matanya bergulir penuh selidik serta curiga.
"Sayangnya bukan tiga-tiganya. Atau, mungkin kamu mau jadi salah satunya, terkhusus yang poin terakhir misalnya?" ujarnya menggoda jahil, menyamarkan penyampaian getar rasa dalam dada melalui candaan.
"Ish, kenapa jadi aku?" Khalisa kikuk dibuatnya, membuang pandangan ke kaca spion, berpura-pura membetulkan kerudung yang dipakainya. Dia sebal pada dirinya sendiri yang terus terngiang-ngiang kata-kata 'spesial' yang diucapkan Aloisa.
Mendapati reaksi Khalisa yang tidak biasa, Yudhis merasa kalbunya dipenuhi taman bunga-bunga indah bermekaran. “Hei, kenapa? Kok sewot?” Yudhis tertawa kecil, sengaja ingin menggoda.
Khalisa otomatis menoleh lagi. “Si-siapa yang sewot. Aku cuma terheran-heran saja. Tadi Abang kan katanya mau beraksi, kukira buat cari informasi, tapi kelihatannya malah asyik ngobrol,” sanggah Khalisa bersungut-sungut spontan saja. Enggan mengakui dirinya sewot walaupun jelas-jelas iya.
Yudhis tergelak hingga lengkung matanya ikut tersenyum. Tertawa lepas begitu gembira.
Khalisa merapikan duduknya menghadap lurus ke depan setelah mencerocos tanpa dikomando, menghindari temu pandang dengan si pria yang sedang tertawa senang.
“Perempuan itu bukan temanku, bukan mantan pacar apalagi kekasih. Aku baru kenalan barusan saja, untuk keperluan memancing, dan umpan kailku dimakan. Aku berhasil mendapat informasi pentingnya,” jelas Yudhis sembari menginjak pedal gas melajukan mobilnya meninggalkan lokasi kafe.
“Yang benar? Informasi penting apa?” imbuh Khalisa cepat, tanpa sadar posisi duduknya kembali sedikit menyamping supaya bisa melihat wajah Yudhis saat sedang berbicara.
“Info yang bisa memudahkan kita mencari rumah baru mantan suamimu.”
“Di mana? Di mana lokasinya!” sambar Khalisa tak sabaran, bahkan sampai memegang bahu Yudhis dan mengguncangkannya, tak tahu bahwa efek reaksi otomatisnya membuat jantung si pria tampan berlesung pipi tunggal itu berloncatan liar.
"Ehm, begini. Yang kudapatkan baru informasi yang mungkin bisa mengantar kita lebih cepat menemukan Afkar, tapi ini bukan letak pastinya. Kita akan menuju ke suatu tempat untuk mencari informasi lebih lanjut.”
Yudhis menunjukkan selembar kartu bertuliskan nama Gladys, juga tertera nama show room lengkap mencantumkan alamat sebuah gerai kendaraan yang ternyata dipimpin Dion Pramadana sekarang, mantan suaminya.
“Kita akan pergi ke alamat tertulis di kartu nama itu. Itu adalah alamat show room yang dipimpin mantan suamimu sekarang. Kita cari informasi di sana, tentu saja mencari dengan caraku, kamu tak perlu turun demi keamananmu. Sebaiknya kita bergegas. Jangan buang-buang waktu.”
Audi R8 itu melesat membelah jalanan, melaju cepat berhati-hati dengan tetap memperhatikan keselamatan. Waktu tempuh ke alamat tujuan memakan waktu kira-kira dua puluh menit dari kafe tadi, sudah masuk area tengah daerah Lembang.
Show room yang dituju ternyata sudah tutup. Jam operasional gerai di akhir pekan berakhir lebih awal. Yudhis sempat berbincang dengan satpam yang berjaga, menggali beberapa informasi menggunakan trik cerdasnya yang bermuara pada pertanyaan lokasi rumah pribadi bosnya. Namun sayang, si satpam yang bertugas jaga akhir pekan ini adalah satpam baru, sehingga dia tidak bisa memberikan detail informasi lokasi tepatnya di Lembang sebelah mana, menyarankan Yudhis kembali besok pagi untuk bertanya pada satpam senior.
Gerimis mengundang ditemani kabut tipis menyelimuti Lembang dan sekitarnya. Saat malam tiba hawanya kian dingin menusuk kulit, membuat siapa pun yang masih berkeliaran di luar ingin segera pulang dan bergelung di hangatnya selimut peraduan.
“Khal, ini sudah hampir jam delapan malam, pencarian sebaiknya kita lanjutkan besok. Bukannya aku enggak mau menyusuri ke daerah terpencil sekali pun, tapi cuaca sedang kurang mendukung untuk berkendara lebih jauh lagi. Mengingat Lembang sering kali berkabut. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali dan kembali ke show room yang tadi, cuaca menjelang siang juga lebih bersahabat ketimbang menjelang malam, tidak seperti sekarang.” Yudhis mengutarakan sarannya, demi keselamatan semua orang dan Khalisa pun sudah tampak kelelahan.
Menunduk sembari meremat jemari, sejujurnya Khalisa masih ingin terus mencari, enggan berhenti di sini. Akan tetapi ia juga tidak bisa egois memaksakan keinginannya, dengan hanya mengedepankan perasaannya sendiri tanpa memikirkan orang lain dan Yudhis juga pasti kelelahan kalau harus terus-menerus mengemudikan kendaraan.
“Gimana Abang saja, aku ikut keputusan Abang yang pasti lebih paham harus bagaimana dibanding pendapatku, karena pendapat Abang diambil dan dipikirkan secara matang dengan segala risikonya. Sedangkan aku sudah pasti melibatkan perasaan lebih terdepan terdesak rasa rinduku pada Afkar, bukan nalar sehat yang bekerja,” lirih Khalisa pelan.
“Sedikit banyak aku paham bagaimana perasaanmu walaupun tak sepenuhnya. Bersabarlah sedikit lagi, aku juga ingin Afkar segera kembali ke pelukanmu. Mengingat bagaimana hubungan kedekatan kalian, Afkar pun pasti amat kangen sama kamu. Kita berdo’a dan berikhtiar bersama-sama. Aku akan membantu semampuku, semaksimal mungkin, Khal.”
Khalisa mengangguk bersama sudut pelupuk yang mengenang. “Iya, Bang. Semoga Abang enggak lelah mengingatkanku untuk terus melatih kesabaranku yang kadang masih begitu hijau ini.”
Yudhis tersenyum simpul. Inginnya menyusut kristal bening yang mulai menyusuri pipi mulus Khalisa. Namun, dia menahan diri. “Lebih tepatnya kita harus saling mengingatkan. Aku pun hanya manusia biasa, tak luput dari salah dan lupa."
"Kita cari tempat makan di perjalanan kembali sebelum aku mengantarmu pulang ke rumah Ghaisan. Bisa-bisa aku diomeli Aloisa kalau sampai ketahuan membiarkanmu kelaparan.” Yudhis mengalihkan pembicaraan, berharap meredakan sedikit saja siksa rindu yang dirasakan Khalisa pada si buah hati.
"Abang juga harus makan. Bagaimana nanti kalau aku diomeli ibunya Abang karena membuat anaknya kelaparan akibat memberikan bantuannya padaku?"
"Terdengar menyenangkan," balas Yudhis kemudian, tersenyum riang.
Mobil melaju meninggalkan daerah Lembang mengambil jalur ke pusat Kota Bandung. Diiringi bisik rindu Khalisa dalam sanubari teruntuk si buah hati.
Tunggu Bunda, Sayang. Sebentar lagi kita pasti segera bertemu, berpelukan lagi. Pasti. Peluk cium Bunda buat Afkar dari jauh di setiap desah napas ini. Kamu anak kuat, anak hebat. Bunda titipkan kamu dalam penjagaan Sang Pencipta, semoga di sana ada seseorang yang rela menjaga dan menyayangi Afkar untuk Bunda.
Bersambung.