Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Bali


Bab 124. Bali


Angkasa masih setengah gulita. Hanya di langit bagian timur yang mulai terang samar-samar. Lampu-lampu bulat di taman samping masih menyala memendarkan penerangan hangat nan syahdu, terasa damai berpadu gemercik air kolam dilengkapi aroma segar bunga-bunga bermekaran.


Yudhis sedang mengotak-atik ponsel sembari menikmati kopi latte buatan sang istri sepulang dari masjid selepas salat subuh berjamaah. Masih mengenakan baju koko warna marun lengkap dengan sarung dan pecinya.


Dia duduk di kursi taman samping ditemani Khalisa yang membawakannya sepiring Sukun goreng spesial buatan sendiri, yang merupakan salah satu kudapan kesukaan si pria berlesung pipi tunggal itu.


“Jadwal tiket tercepat ke Bali yang masih tersedia untuk hari ini hanya penerbangan di atas jam satu siang. Aku berusaha mencari tiket penerbangan pagi, tapi semuanya sudah sold out. Padahal aku sudah janji sama kamu kita berangkat pagi-pagi,” kata Yudhis, agak mengeluh, mata dan jemarinya masih fokus ke layar ponsel.


Khalisa yang sedang meneguk teh melati hangat yang sudah dicampur sesendok madu itu, menaruh gelas dan menyentuh lengan Yudhis.


“Siang juga enggak apa-apa kok, Bang. Jam berapa pun enggak masalah. Kita bisa berangkat sepulang Abang salat Jum’at,” sahut Khalisa lembut menenangkan, ingin mencoba meredam keresahan lelakinya. Semakin hari ia semakin peka kapan Yudhis sedang resah, sedih atau sedang gembira.


“Beneran kamu enggak apa-apa kita berangkat siang menjelang sore?”


“Iya, beneran. Malah lebih bagus. Jadi kita bisa belanja oleh-oleh dulu. Bukannya Papi suka sekali dengan makanan oleh-oleh khas Bandung? Juga, saat berkunjung ke rumah orang tua sebaiknya membawa buah tangan, sebagai tanda kasih sayang. Aku tahu orang tua Abang lebih dari mampu kalau hanya sekadar ingin makan oleh-oleh semacam itu, tapi konon katanya, saat anaknya yang membawakan, para orang tua merasa lebih gembira. Merasa diperhatikan,” tutur Khalisa, menyambung kalimatnya antusias.


“Haish, Papi pasti besar kepala dan menyombong pada para kerabatnya kalau tahu menantunya sangat perhatian,” tukas Yudhis sembari menggosok hidung, sedangkan Khalisa terkikik geli.


“Akh istriku ini selain cantik dan selalu menyenangkan saat suami memandangnya, ternyata cerdas juga bijak. Plus pintar di ranjang, paket komplit,” goda Yudhis yang sengaja berbisik begitu dekat, napas hangatnya mengelusi telinga Khalisa yang tertutup jilbab.


“Ih, Abang! Kenapa sekarang jadi mesum?” gerutu Khalisa bersungut-sungut, malu digoda demikian.


Dan memang fakta. Sejak tahu madu manisnya surga dunia secara nyata, setiap malam Yudhis nyaris tak pernah absen menggauli istri cantiknya. Tentu saja bukan hanya sekadar melampiaskan nafsu, melainkan memenuhi nafkah batin dan ragawi dalam belaian puja bertabur cinta. Maklum, masih dalam masa-masa pengantin baru, yang setiap saling berdekatan inginnya terus bercumbu.


“Tapi mesumku ini halal. Cuma bereaksi sama kamu,” balas Yudhis menyeringai jahil, sembari mencubit gemas dagu Khalisa. “Mau beli oleh-oleh langsung ke gerai toko atau lewat pesan antar?”


“Beli ke tokonya saja, Bang. Biar aku bisa pilih langsung. Harus pilih yang terbaik, yang masih baru dan fresh,” sahut Khalisa antusias.


Yudhis tak henti mengukir tawa tanpa suara, menampakkan deretan rapi gigi putihnya kemudian sesekali melipat bibir. Tindak tanduk Khalisa yang celingukan sejak mereka duduk di bangku pesawat hingga sekarang saat sedang terbang di atas awan, juga bagaimana antusiasnya Khalisa yang terpukau menyaksikan gumpalan awan lembut putih bersih pada hamparan langit biru di luar jendela, mengundang rambatan tak henti serupa gelitikan geli di perut Yudhis.


Bahkan Yudhis harus menahan diri untuk tidak terbahak tadi, Khalisa nyaris bertepuk tangan seperti anak kecil saat pesawat lepas landas, hanya saja Khalisa cepat tanggap situasi dan bersegera mengendalikan diri. Memang agak norak, sangat kentara baru naik pesawat, tetapi Yudhis memaklumi dan justru sisi lugu dari Khalisa itulah yang selalu sukses membuat Yudhis gemas sendiri.


“Kamu suka naik pesawat?”


“Suka banget, Bang. Tapi deg-degan,” cicit Khalisa gembira, kemudian merangkul lengan kekar Yudhis, bersandar di bahu suaminya itu dan kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Deg-degan terbang di atas awan, sama deg-degan mau ketemu Afkar.”


Setelah hampir dua jam terbang di atas awan, pesawat yang ditumpangi Yudhis dan Khalisa landing di Bandara Ngurah Rai Bali. Dua Audi hitam dilengkapi sopir sudah menunggu di area parkir bandara, menjemput atas titah Maharani dan Barata.


Mobil mewah itu melaju membawa mereka berdua menuju alamat rumah Barata dan Maharani. Dada Khalisa bergemuruh tak karuan saat mobil memasuki kawasan luas berpagar tinggi dengan deretan rapi serasi pohon palem cantik di sekitarnya.


Area luas dengan bangunan vila di tengahnya itu adalah kediaman orang tua Yudhis. Menyeruakkan lagi rasa mindernya ke permukaan, menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri kemewahan serta kekayaan keluarga Yudhistira Lazuardi. Pantas saja Syafa pernah memakinya tak sepadan bersanding dengan Yudhis, membuat Khalisa merasa dirinya teramat kecil sekarang.


Pagar baja tinggi yang mengelilingi lahan luas itu ditutup rapat kembali oleh salah satu ART yang bekerja di vila Maharani dan Barata. Khalisa mengedarkan pandangan ke luar kaca jendela. Saking luasnya bahkan dari gerbang hingga mencapai garasi terasa panjang perjalanannya bagi Khalisa.


Di benak Khalisa, rumah tinggal Yudhis di Bandung sudah terbilang luas juga mewah. Dan kali ini yang hendak di sambanginya bukan hanya sekadar mewah, tetapi bak istana. Nyali dan kepercayaan dirinya menciut, seiring kedua tangan yang saling meremat di pangkuan, pelarian dari keresahan.


“Yuk, turun.” Yudhis mengulurkan tangan, membungkuk di depan pintu mobil yang terbuka. Menginterupsi dan mengajak turun karena sejak tadi Khalisa malah asyik tertegun setelah kendaraan yang mereka tumpangi terparkir rapi di garasi.


“Tu-turun, ya?” Khalisa membeo tak yakin, celingukan tak nyaman mengamati bangunan besar berlantai dua di sisi kanan.


Ia mendadak teringat pada kenangan penyambutan Wulan dulu saat dirinya dibawa pulang oleh Dion selepas acara akad nikah di KUA selesai. Penyambutan ketus yang jauh dari kata ramah. Kendati kepalanya berseru bahwa Barata dan Maharani bukanlah sosok berpikiran kerdil seperti mertuanya dulu, tetap saja sebentuk trauma dari goresan buruk masa lalu merecoki hati dan pikirannya. Tetap dihantui ketakutan, berspekulasi kemungkinan sikap kedua orang tua Yudhis yang mungkin tidak seramah ketika mereka bertemu di Bandung. Kekhawatiran yang berasal dari traumanya sendiri.


“Iya. Masa jauh-jauh datang ke Bali kamu malah betah diam di mobil. Kalau betah di kamarku sih enggak masalah?” kekeh Yudhis berkelakar, yang sebetulnya dapat membaca kecemasan dari air muka Khalisa. “Afkar pasti sudah menunggu, ayo turun.”


Bersambung.