
“Afkar.”
Suara lemah Dion membuat Khalisa terhenyak begitu juga Afkar. Afkar serta merta mengeratkan pelukan pada Yudhis. Mencuri tatap takut-takut pada sosok pria kurus kering yang kini tengah berusaha berdiri dibantu dua orang petugas yang mendampingi. Dion berjalan dipapah menuju kursi, duduk berhadapan dengan mantan istrinya juga anaknya yang dipangku Yudhis.
Petugas yang mengantar mundur beberapa langkah, menunggu membelakangi di ambang pintu yang langsung tersambung ke area tempat para narapidana ditahan. Mata cekung Dion mengamati Afkar yang balas menatapnya takut tanpa senyum. Beralih pada mantan istrinya yang begitu cantik bersinar dalam balutan busana muslimah. Bergulir pada Yudhis yang tampan paripurna serta bersahaja, menggenggam tangan Khalisa juga memeluk Afkar penuh perlindungan, mendekap dua orang yang pernah dianggap tak berharga dalam hidupnya dalam lingkupan tanggung jawab yang menguar terasa.
Hela napas Dion berat melihat bagian perut Khalisa yang menyembul juga mendapati reaksi anaknya yang tampak sama sekali tak merindukannya. Menyesal sudah pasti, pernah menyia-nyiakan sosok bersinar yang dianggap hina orang-orang. Kehormatan dan sanjungan dunia yang dikejarnya, justru menyeretnya pada kenistaan yang membuatnya berakhir di sini sekarang. Memanen nestapa dari benih keserakahan yang ditanam.
“Bagaimana kabarmu, Khal?” tanya Dion pelan, membasahi bibirnya yang kering kerontang.
“Kabarku sangat baik. Tapi, ke-kenapa Mas Dion pakai kursi roda?” Khalisa balik bertanya, mendapati Dion masuk ke ruang besuk diantar kursi roda membuatnya sangat terkejut, belum lagi kabar tentang sakitnya Dion sebelumnya tak kalah mengagetkannya. Tidak ada lagi Dion yang gagah, jumawa dan tampan. Hanya tersisa raga ringkih tinggal tulang terbungkus kulit. “Apakah kaki Mas Dion bermasalah?”
Bagaimanapun juga, Dion pernah berbagi hidup dengannya. Khalisa memang sakit hati juga marah, tetapi dirinya sama sekali tidak berharap Dion jadi semenyedihkan ini. Jiwa lembutnya hanya ingin Dion menjadi manusia yang lebih baik ke depannya, memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan bijak.
“Oh, ini karena kemarin jatuh di lapangan sewaktu olahraga pagi. Keseleo, jadinya pakai kursi roda,” jelas Dion sembari mengulas senyum di bibir keringnya, pertanyaan kepedulian Khalisa baginya serupa angin sepoi menyejukkan dalam gersangnya dunia yang dipijaknya.
Pundak tegang Khalisa turun seiring embusa napas dibuang panjang. “Syukurlah kalau begitu. Aku datang ke sini memenuhi permintaan Mas yang ingin bertemu Afkar. Buah tangan ini kubawa sebagai adab menjenguk orang sakit. Kuharap Mas Dion jangan salah paham, aku hanya tidak ingin memutus silaturahmi antara ayah dan anak.” Khalisa menegaskan maksud kedatangannya. Tidak ingin ada kesalahpahaman yang timbul setelah ini.
Sejenak Dion terpana, terkagum-kagum. Khalisa yang dikenalnya merupakan pribadi rapuh yang mudah diintimidasi, tetapi sekarang menjelam menjadi wanita bersahaja yang berani berkata tegas.
Dion termangu. Kalimat Yudhis tak kalah tegasnya. Hanya saja bukan jenis nada kukuh tak berperasaan, melainkan terbalut kasih sayang nyata yang begitu besar baik pada Khalisa maupun Afkar. Dion tak lagi memiliki daya upaya. Kesehatan dan kebebasan pun tak punya. Kesombongannya yang dulu sering meremehkan Khalisa sudah hilang ditelah badai prahara yang dibuatnya sendiri. Saat ini dia sudah lelah mengobarkan peperangan. Dia benar-benar hanya ingin bertemu anaknya juga meminta maaf pada Khalisa dan Afkar secara langsung saat masih diberi kesempatan untuk bernapas.
“Terima kasih, Pak Yudhis. Sudah mengizinkan Khalisa dan Afkar berkunjung ke sini. Saya hanya ingin bertemu Khalisa dan Afkar selagi masih ada kesempatan bertatap muka, terutama dengan Afkar.“ Dion menjeda sejenak kalimatnya, meneguk air mineral dalam botol yang dipegangnya sebelum melanjutkan kata, membasahi tenggorokannya yang semakin hari sering bermasalah. “Khal, bolehkan aku menggendong Afkar?” pintanya.
Khalisa menoleh pada Yudhis meminta pendapat, dan tentu saja Yudhis mengangguk memperbolehkan, bukan jenis manusia kepala batu. Namun, justru Afkar lah yang menolak, menjerit-jerit histeris tidak mau lepas dari gendongan Yudhis.
“Endak mau tuyun. Mau Papa, mau dendong Papa!” raungnya sembari menangis, menempel di gendongan Yudhis begitu erat.
Perih mengiris hati Dion saat dirinya ditolak oleh darah dagingnya sendiri. Mungkin inilah yang dinamakan karma, sebagaimana dulu dirinya menolak Afkar setiap kali sang anak meminta ingin bermain atau bersepeda bersama sang ayah seperti anak lainnya.
“Sayang. Jagoan Papa. Enggak boleh begitu. Coba lihat, ini ayah Dion. Bukan orang lain,” bujuk Yudhis mencoba bernegosiasi dengan si bocah lucu yang semakin montok itu. Merasa tidak enak hati akan reaksi penolakan Afkar saat Dion meminta menggendong. Dia juga akan menjadi ayah yang memiliki anak kandung, pasti menyakitkan saat anak sendiri malah takut digendong olehnya.
“Endak mau. Endak mau. Mau Papa aja, mau peyuk Papa aja, ya, ya. Pelis,” mohon Afkar cadel, menatap Yudhis dengan bola mata bulat polosnya yang basah mengiba bahwa dirinya tidak bersedia lepas dari pelukan Yudhis, bahkan mencium pipi Yudhis sebagai upaya permohonan.
Dion tersenyum masam. Hanya bisa menerima nasib, tidak ingin memori buruk tentangnya di ingatan Afkar semakin bertambah buruk jika dirinya memaksa sekarang meski ingin sekali menumpahkan kerinduan pada Afkar yang setiap malam terbayang wajah lucunya dalam mimpi.
“Tidak apa-apa, Pak Yudhis. Kalau Afkar tidak mau tidak usah, bisa lain waktu. Bisa bertemu begini saja sudah cukup. Sebenarnya saya meminta bertemu untuk meminta maaf, atas segala kesalahan juga kekhilafan pada Khalisa juga Afkar di masa lalu. Saya tahu diri, tidak berharap diampuni, kesalahan saya terlalu banyak. Tapi meski malu, saya tetap ingin meminta maaf. Maafkan aku, Khalisa, pernah memperlakukanmu begitu buruk. Maafkan Ayah, Afkar. Pernah membuatmu tersiksa terpisah dari bundamu karena keegoisan juga gelap mata,” tutur Dion serak, menyusut ujung matanya yang mendadak berair, menelan ludah sebelum menyambung kalimat. “Dan terima kasih banyak, Pak Yudhis, terima kasih sudah menyayangi Afkar.”