
Bab 158. Dongeng Sebelum Tidur
Keheningan berbentang cukup lama. Khalisa melipat bibir, agak menyesal dengan pertanyaan yang diucapkannya saat mendapat reaksi diam dari Yudhis.
"Maaf, aku sudah lancang. Maaf," kata Khalisa tak enak hati.
Yudhis menggeleng pelan. "Gak usah minta maaf. Ekspresi mukanya juga jangan horor begitu," ujarnya sembari tersenyum.
"Abang lupakan saja pertanyaanku tadi. Anggap enggak pernah dengar. Jiwa kepoku mendadak tak tahu diri. Sekali lagi, maaf."
"Sudah, jangan minta maaf terus. Lebaran masih jauh," kekehnya bercanda. "Wajar saja kamu berpikir begitu. Karena bukan cuma kamu, pertanyaan serupa pernah kudapat dari teman-temanku juga. Tapi, jawabanku mungkin tidak akan memuaskan, mau dengar?"
Khalisa mengulas senyum kecut. "Kalau Abang ngerasa tak nyaman, jangan dijawab. Aku enggak mau memaksa."
Yudhis mencium ubun-ubun Khalisa, mengundang wanita yang bergelung di pelukannya itu mendongak.
"Aku bukan bocah kecil yang langsung merajuk dengan pertanyaan semacam ini. Walaupun begitu, kamu juga pasti tahu, pertanyaan begini cukup sensitif. Sebagai yang memiliki nasib masa lalu hampir sama denganku, kamu pasti tahu betul bagaimana rasanya diajukan pertanyaan semacam ini. Ada perasaan ganjil yang sulit dijabarkan kan?" jelas Yudhis seraya membelai lembut rambut Khalisa yang ditanggalkan hijabnya ketika bersamanya saja.
Kepala Khalisa mengangguk-angguk paham, raut cantiknya menyatakan penyesalan atas kekhilafan lidah tak bertulangnya. Pernyataan Yudhis seratus persen benar, setiap kali yang berkaitan dengan masa lalu diungkit, pasti timbul ganjalan lain di hati yang jujur saja sulit diungkap dengan kata-kata, hanya bisa diraba rasa dan itu sungguh tak nyaman.
Khalisa menatap Yudhis tanpa berkedip, memperhatikan dengan saksama saat mulut suaminya berucap. "Lalu, apa yang Abang lakukan?"
"Kamu pasti dapat menebak dengan mudah. Ya, aku merealisasikan keinginanku itu setelah bisa bekerja sendiri. Mencari dengan berbagai upaya di sela-sela jadwal padat membangun kantor LBH ku. Mencari informasi ke sana kemari secara diam-diam tanpa memberitahu mami dan papi. Walaupun sebetulnya aku tak kekurangan pengakuan juga kasih sayang sejak aku dapat mengingat. Sisi itu pernah muncul begitu hebat, belum puas jika belum tercapai maksud. Aku terus mencari seperti orang gila, bahkan Ghaisan juga ikut membantu menggali informasi dari berbagai arah."
Yudhis menjeda penjelasannya sejenak, menatap lurus pada langit-langit kamar.
"Hampir enam bulan aku mencari. Hasilnya mencari hanya informasi simpang siur tidak akurat. Malah semakin dicari dan digali, malah banyak informasi menyakitkan yang kudapat. Bukan kepuasan seperti yang kuharapkan. Hingga akhirnya aku memberanikan diri mendesak Tante Anggi. Ingin tahu cerita sebenarnya, karena temuanku di luar, banyak poin yang tidak sama dengan pernyataan keluargaku, banyak yang tidak sinkron." Yudhis membuang napas kasar.
"Akhirnya, Tante Anggi dan Om Juna menjelaskan secara gamblang karena aku memaksa. Dan saat itu aku paham, bahwa yang mereka lakukan selama ini dengan menutupi kenyataan sebenarnya semata-mata karena sangat sayang padaku. Terkadang, tidak tahu yang sebenarnya itu lebih baik dalam beberapa hal."
"Mak-maksudnya bagaimana?" Khalisa membasahi bibir, menunggu kalimat Yudhis selanjutnya, membuat rasa penasarannya menjadi.
Yudhis terlihat sedang mempersiapkan diri melanjutkan bercerita, seperti sedang merangkai kata. "Menceritakan keburukan orang yang sudah meninggal sangat tidak dianjurkan, tapi karena kamu istriku, kamu berhak tahu tentang hal ini. Dulu, pergaulan ibuku kurang baik, terlibat pergaulan bebas, dan berdasarkan keterangan yang kudapat dari informasi yang kugali serta dari keterangan Om Juna yang dulu pun sempat mencari dengan mengerahkan kekuasaan, hasilnya sama. Ibuku tidur dengan banyak laki-laki dalam waktu bersamaan, sehingga dia sendiri tidak tahu, benih laki-laki mana yang akhirnya bertumbuh di rahimnya."
Khalisa terhenyak, sorot matanya menyendu penuh maaf, beringsut memeluk Yudhis erat sebagai penghiburan, yang pasti tak mudah menceritakan hal semacam ini meluncur dari lisan.
Bersambung.