Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Siaga


Bab 73. Siaga


“Khalisa susah dibujuk beristirahat. Aku Cuma takut dia ikut jatuh sakit.”


Yudhis dan Aloisa bercakap-cakap agak jauh dari tempat tidur Afkar di waktu menjelang tengah malam ini. Mereka berbincang dalam volume sangat pelan, tak ingin menginterupsi Khalisa yang terkantuk-kantuk di dekat ranjang.


Aloisa mengetuk-ngetuk dahinya. “Mmm, kayaknya harus dipancing deh, biar mau tidur,” cicit Aloisa.


“Dipancing bagaimana?”


“Gini, Abang pura-pura tidur dulu di sofa yang ini, yang dekat pintu keluar ini. Aku akan mengambil alih membujuk Khalisa. Aku yakin, kalau Khalisa lihat Abang tidur merem, dia pasti lebih mudah dibujuk. Menurut pengamatanku penyebab Khalisa menolak memejamkan mata, selain dia sangat takut terpisah lagi dari anaknya, Khalisa juga merasa sungkan beristirahat sementara Abang sebagai sosok yang membantunya malah terjaga. Jadi, Abang pura-pura tidur saja. Semoga ideku ini berhasil.”


Tanpa berpikir panjang, Yudhis menyetujui usulan Aloisa. Apa salahnya dicoba, walaupun mengenai hasilnya belum pasti berhasil. Berdehem sejenak guna menarik perhatian Khalisa, Yudhis berakting menguap lebar sembari menutup mulut menggunakan telapak tangan kanannya. Menggosok ujung matanya pelan, berpura-pura mengantuk.


“Khal, karena kamu bilang enggak ngantuk, jadi aku mau tidur di sofa, sudah ngantuk berat. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bangunkan aku, oke.” Yudhis berpesan pada Khalisa yang matanya sudah kuyu itu, Yudhis tetap mempertahankan ekspresi mengantuk buatannya.


“Iya, Bang. Selamat beristirahat.”


Aloisa menarik kursi, duduk dekat Khalisa sembari membawa segelas susu coklat hangat di tangan. “Khal, minum dulu. Susu coklat hangat paling nikmat juga ideal diminum malam-malam. Mineral dan protein pada susu baik untuk menjaga kondisi tubuh, dan kandungan bubuk coklat yang dicampur di dalamnya dipercaya bikin badan rileks.”


“Makasih, Kak.” Khalisa menerima gelas yang diserahkan Aloisa, meneguk isinya hingga tandas. Tak menampik ia memang butuh minuman hangat setelah terlalu banyak menangis, dan susu coklat hangat yang dibuatkan Aloisa cukup nikmat tercecap lidahnya yang sedang tidak berselera makan.


“Gini, Khal. Ini menurut pendapatku karena aku juga seorang dokter walaupun spesialisasiku itu dokter kulit. Tapi, dalam upaya menjaga kondisi tubuh supaya tetap prima, manusia butuh tidur setiap harinya. Sebaiknya kamu beristirahat demi kesehatanmu. Kamu harus kuat dan sehat supaya bisa maksimal menjaga Afkar, juga menghadapi proses-proses berkaitan dengan hukum ke depannya yang pasti tidak lama lagi, kamu mutlak memerlukan tubuh yang sehat dan pikiran jernih. Dan pikiranmu cenderung lebih mudah keruh dalam kondisi lelah serta kurang beristirahat. Jadi, kamu tidurlah, aku yang akan menjaga Afkar,” pinta Aloisa, mengingatkan Khalisa menggunakan embel-embel dokternya.


“Jangan ngerepotin, Kak. Kakak sudah mau menginap di sini saja aku merasa aku dan anakku banyak menyusahkan, sebaiknya Kakak saja yang tidur. Sejak hari di mana Afkar dilahirkan, aku sudah terbiasa begadang sendirian kalau Afkar rewel maupun sakit.”


“Sendirian? Terus mantan suamimu ngapain aja?” sela Aloisa cepat.


“Dia harus tidur dan berpesan jangan diganggu karena besoknya mau kerja, khawatir mengantuk di tempat kerja katanya,” jawab Khalisa polos, menuturkan kenyataan yang selama ini dialaminya.


“Enggak mau diganggu oleh kerewelan anaknya sendiri? Wah, sinting!” umpat Aloisa kelepasan tersulut berang. Tinjunya terkepal, terasa gatal dan dia butuh samsak sekarang setelah mendengar penuturan Khalisa.


“Tapi, kamu minta aku tidur juga percuma. Kalau enggak dipeluk Mas Ghai, aku enggak bakal bisa bobo. Semenjak menikah, aku jadi ketergantungan dipeluk hangat lengan kekarnya baru bisa tidur, apalagi tidurnya dipeluk dibawah selimut terus enggak pake baju,” celetuknya asal bunyi seperti biasa, sembari tersipu-sipu menggoda Khalisa. Membuat yang digoda jelas bereaksi malu mendengar kalimat vulgar Aloisa.


“Sudah, kamu tidurlah sebentar, Khal. Lihat, Bang Yudhis saja sudah merem, bentar lagi ngorok kayaknya.”


Aloisa mengarahkan sudut mata pada Yudhis yang rebah miring di sofa, kedua lengannya bersedekap dan matanya memejam rapat. “Seharian ini kalian sudah mengalami banyak hal, jangan menyangkal, badanmu pasti capek, matamu juga mulai merah. Aku tahu kamu begini karena takut kehilangan Afkar lagi. Tapi sekarang ambil waktu sejenak untuk tidur, nanti kamu jatuh sakit. Aku akan menjaga Afkar dengan segenap jiwa ragaku, kupastikan aman.”


Tiga puluh menit berlalu, Aloisa mengecek untuk memastikan Khalisa sudah pulas, lalu menghampiri Yudhis yang masih berpura-pura terlelap.


“Bang, Khalisa sudah tidur.”


Yudhis mengulas senyum sebelum kedua matanya terbuka. “Hhh, syukurlah.”


Yudhis segera turun dari sofa, mendekati ranjang dan melihat posisi tidur Khalisa yang terlihat tidak nyaman.


“Loi, posisi tidur sembari duduk begini apakah aman bagi wanita?”


Kecemasan berpadu kepedulian Yudhis yang tumpah ruah pada Khalisa dapat dirasakan Aloisa. Tindak-tanduk Yudhis yang jelas tertawan pesona tak biasa Khalisa membuat si dokter kulit itu terkekeh.


“Tidur sambil duduk memang enggak dianjurkan. Tapi bukankah lumrah saja tidur dalam posisi begitu saat sedang menunggui keluarga yang sakit?”


“Bukan begitu. Aku cuma takut leher Khalisa sakit saat bangun tidur nanti.” Yudhis tak dapat menyembunyikan rasa cemas berlebihannya. Begitulah rasa peduli yang dicampuri getar hati. Mendorong si empunya tak berhenti mengkhawatirkan pujaan hati.


“Ya ampun, ini betul cuma peduli sama klien atau memang perhatian orang naksir? Bapak pengacara bucinnya sudah sampai ke tulang!” Aloisa terkikik geli, membekap mulutnya, terpingkal-pingkal.


“Ck, jangan meledekku terus!” kesal Yudhis, berdecak menutupi malu. “Sekarang bantu aku.”


Yudhis menyingsingkan lengan baju dan memindai ranjang pasien di mana Afkar berbaring.


“Eh, bantu apa? Memangnya mau ngapain?” Aloisa dibuat bingung dengan tingkah Yudhis yang malah melipat lengan kemeja lebih atas.


“Ranjang ini luas. Cukup memuat dua orang dewasa. Aku akan memindahkan Khalisa ke sisi kanan Afkar yang tangannya terbebas dari selang infus. Supaya Khalisa dan Afkar bisa tidur nyaman tanpa harus berjauhan. Cepat bantu aku.”


Melihat kecemasan hebat yang jelas tergambar di wajah Yudhis, Aloisa tersenyum senang. Baru kali ini Yudhis begitu peduli pada lawan jenis, sudah jelas bahasa tubuhnya tertarik dan Aloisa juga Ghaisan mendukung itu. Mereka sempat Khawatir Yudhis berbelok haluan tertarik pada pentungan hansip dibandingkan kue empuk nan manis saking lamanya Yudhis menjomblo.


Aloisa membantu menggeserkan Afkar perlahan-lahan, memegangi si balita yang tertidur itu saat ibunya dibaringkan oleh Yudhis. Merapikan posisi tidur Khalisa juga Afkar sepelan mungkin, lalu menarik selimut guna melindungi ibu dan anak itu dari hawa dingin.


“Sekarang giliran kamu yang tidur, Loi. Aku akan menjaga mereka berdua sambil membalas beberapa email masuk. Tidur sana, nanti Ghaisan ngomel padaku kalau tidak menyuruhmu istirahat.”


“Baiklah, calon suami siaga dan calon ayah siaga,” cicitnya, lalu terbirit-birit menuju sofa setelah melontarkan candaan menjurus. Candaan yang membuat Yudhis mengulum senyum sembari memaku pandang pada Khalisa dan Afkar yang terlelap.


Bersambung.