
Bab 42. Perdana
“Si berlian suci juga Tya sudah deal lebih dulu denganku. Tak bisa diganggu gugat!” tegas si tua bangka yang dipanggil daddy bos itu, berdiri dan berkacak menunjukkan kesombongan.
Memasang raut angkuh, Yudhis mengangkat sebelah alisnya hingga menukik. “Benarkah tidak bisa diganggu gugat, Tuan?” ujarnya tetap tenang, tetapi nada suaranya kukuh. “Tapi saya hanya butuh satu orang yang kalian sebut berlian suci. Tidak dengan yang satunya lagi maupun yang lainnya.”
“Tidak bisa! Enak sekali kamu menyerobot? Aku belum pernah melihatmu berkeliaran di sini sebelumnya. Kamu pasti pemain baru dalam hal jajan di luar. Perlu kamu ketahui, semua orang di dunia malam tidak ada satu pun yang berani menawar kupu-kupu yang ingin aku booking!”
Bukannya menanggapi ocehan berapi-api si tua bangka, Yudhis malah beralih pada salah satu pria berbaju hitam yang memegang gawai. “Katakan pada bosmu bahwa aku akan membayar dua kali lipat untuk anak barunya dan kita lihat mana yang dipilihnya. Pembeli pertama, atau aku. Aku yakin belum terjadi proses mengirim uang transaksi dan teleponmu juga masih tersambung.”
Perkiraan Yudhis benar adanya, ponsel yang dipegang salah satu asisten Jordan memang masih tersambung koneksinya, belum dimatikan saat Yudhis dengan lantang menyela percakapan tawar menawar harga si anak baru.
“Lancang kau!” serunya berang.
Perdebatan terjadi cukup alot, beradu argumen saling sambar tawar menawar antara Yudhis dengan si daddy bos. Yang menjadi bahan perdebatan berangsur pucat dengan tangan gemetaran yang saling meremat satu sama lain, terlibas kebimbangan yang menghebat atas keputusan nekatnya.
Panggilan telepon dari ponsel pribadi si tua bangka mengakhiri drama debat harga. Dia mendengus kesal dan terpaksa pergi setelah menerima panggilan darurat. Di seberang sana Jordan berjingkrak senang bukan kepalang, sebetulnya Jordan gatal ingin mengiyakan tawaran yang lebih tinggi atas Khalisa, hanya saja terganjal akan hubungan kolusi juga nepotisme dengan si penawar pertama.
Jordan memerintahkan asistennya bersegera menerima penawaran Yudhis. Akan tetapi, bukan Jordan namanya kalau tidak licik juga serakah, menuntut embel-embel lain saat mengindikasi si penawar amat berminat pada barang barunya. Meminta dua ratus juta ditambah tip sepuluh persen.
“Kamu ikut dengan dia. Ingat, kerja dengan benar!” peringat si pria berbaju hitam sebelum memerintahkan Khalisa mengikuti ke mana pembeli jasanya pergi.
Yudhis berderap cepat mengentak lantai sembari menarik pergelangan tangan Khalisa. Tya yang sejak tadi mengamati Yudhistira sangat yakin pria yang menawar Khalisa dengan harga sangat tinggi itu bukanlah jenis hidung belang. Terpancar dari aura yang begitu bersahaja juga berkarisma, juga kedua mata si pria tampan berhidung mancung itu menatap Khalisa dalam sorot berbeda, menebak-nebak dalam benak pasti ada suatu alasan tertentu mengapa pria itu tak segan mengeluarkan kocek yang begitu banyak. Bergelut dengan dunia malam sekian tahun, Tya cukup hafal di luar kepala jejeran para pria doyan jajan dan selama ini dia belum pernah melihatnya.
“Semoga kamu baik-baik saja, Khal,” cicit Tya sembari menatap punggung Khalisa yang semakin menjauh.
“Eh, eh, eh, Mbak Erika …. i-itu, Pak Yudhis mau ke mana? Te-terus itu sama siapa? Itu cewek kan?” cerocos Raja yang terhenyak, menepuk pundak Erika kencang.
Raja beserta Erika dibuat terkejut. Memelotot saling bertukar pandang keheranan melihat atasannya melintas dengan langkah terburu-buru sambil menarik lengan sesosok wanita jelita berpakaian terbuka di mana-mana.
“Lho, lho lho, kayaknya beneran mau pergi? Itu kesambet cewek jadian-jadian di mana sih?” seloroh Erika ikut sewot. “Terus ini kerjaan kita gimana?” gerutunya.
Ini merupakan momen perdana mereka melihat pemandangan semacam ini selama bekerja bersama Yudhis, baik Erika maupun Raja belum pernah melihat atasannya dekat dengan wanita manapun. Wajar saja mereka tercengang bukan main, Yudhis yang mereka ketahui merupakan pria baik-baik dan terhormat tiba-tiba menarik intens lengan kaum hawa, yang di lihat sekilas pun sangat gampang ditebak dari penampilannya, wanita macam apa yang diseret Yudhis keluar dari kafe.
Erika dan Raja melompat dari tempat duduk mereka, menyusul Yudhis keluar dari kafe ingin mengkonfirmasi ada apa gerangan. Namun saat sampai di lahan parkir, mobil Yudhis sudah tancap gas melesat kencang nyaris menyabet portal pos parkiran yang belum terbuka sempurna. Tak lama benda persegi panjang di saku celana Raja bergetar, tertera pesan singkat di sana.
Tolong kalian urus pekerjaan di situ. Mendadak ada urusan mendesak dan ingat jangan hubungi aku sampai besok.
Bersambung.