Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Pelukan Hangat


Bab 117. Pelukan Hangat


Yudhis langsung merangkul Khalisa menjauhi kerumunan hiruk pikuk. Mencari tempat yang lebih lengang. Khalisa diserbu kecemasan hebat saat mendapati Dania dan Wulan berada di sana disusul kata penculik yang dituduhkan pada ibu dan adik Dion itu, dan sudah pasti kata mengerikan menculik itu ditujukan pada Afkar. Terlihat dari bagaimana sekilas Khalisa bertemu pandang dengan Dania dan Wulan yang menyiratkan niat tidak baik padanya.


Keributan meletus terpancing kepanikan dari seruan si wanita paruh baya berujung kemarahan orang-orang yang sedang berada di sana. Didominasi para ibu-ibu yang sedang berbelanja. Mengarahkan kemurkaan langsung pada Dania juga Wulan.


Penghakiman pun tak terelakkan. Kumpulan ibu-ibu menghakimi Dania dan Wulan. Lemparan barang-barang belanjaan menjadikan Dania sebagai sasaran, sedangkan hujatan tajam terlontar lebih banyak pada Wulan, mengatainya tua Bangka bau tanah yang seharusnya insaf, bukan malah merencanakan perbuatan kriminal.


Tentu saja Wulan dan Dania tak terima, mengelak mati-matian, balas berteriak tak kalah sengit seperti kebiasaan mereka. Menyangkal berang.


“Enak saja. Kami ini bukan penculik! Mana buktinya! Jangan sembarangan bicara dan berani macam-macam pada kami, ya. Anak saya adalah menantu dari salah satu pengusaha kaya di kota ini!”


Akan tetapi, ternyata si wanita paruh baya yang pertama kali berteriak memiliki bukti rekaman video dengan suara Wulan dan Dania yang begitu jelas. Si wanita tersebut menjelaskan alasannya merekam sebab melihat gelagat Dania yang mencurigakan. Dania terlihat beberapa kali mencoba mengambil ponsel remaja pria di depannya yang diletakkan di saku belakang, yang posisinya tersebut tepat mengantre membelakangi Dania.


Namun, tak disangka obrolan lain tertangkap telinga si wanita paruh baya. Sebagai orang tua yang di masa lalu anaknya pernah menjadi korban penculikan, si wanita itu langsung berseru spontan. Dia menerangkan tak bisa membiarkan hal keji semacam itu walaupun baru rencana, tidak ingin nasib malang dan nahas menimpa keluarga lain seperti yang pernah dialaminya.


“Silakan dilihat rekaman ini. Sebagai bukti bahwa teriakan saya bukan omong kosong. Juga tindak-tanduk gadis muda ini memang sudah mencurigakan sejak tadi.” Si wanita paruh baya menunjuk Dania, dan menyerahkan ponselnya pada petugas keamanan.


Wulan dan Dania digelandang oleh petugas keamanan swalayan untuk dibawa ke pihak berwajib. Tak mampu melawan, sebab bukti konkret terpampang nyata. Selain perbuatan meresahkan merencanakan penculikan anak di supermarket, tindak-tanduk Dania yang hendak mencuri ponsel menjadikan dugaan kriminal terhadap mereka semakin menguat.


*****


Yudhis menunggu Khalisa di depan pintu kamar mandi, menunggui istrinya selesai membasuh diri. Sejak pulang dari swalayan Khalisa gemetaran dan pucat pasi. Kemudian setelahnya murung meringkuk, melamun. Dan selepas salat Isya barulah Khalisa mulai beranjak beraktivitas meski terlihat mengambang, tidak konsentrasi, bahkan melamun di tengah-tengah suapan makan malamnya.


“Kenapa Abang berdiri di sini? Mau ke kamar mandi juga ya? Maaf kalau aku kelamaan,” cicit Khalisa, menggeser dirinya ke samping, memberi celah untuk Yudhis masuk.


“Enggak. Aku nunggu kamu. Barangkali kamu butuh sesuatu di kamar mandi, jadi aku sengaja diam di sini supaya kedengaran. Seperti misalnya butuh cel*na dal*m ganti yang mungkin kelupaan enggak kebawa ke kamar mandi.”


Yudhis berkelakar beralasan, padahal dia khawatir Khalisa mungkin pingsan di kamar mandi dan candaan Yudhis berhasil memancing Khalisa menarik kedua sudut bibirnya sekilas, walaupun raut wajah Khalisa tak bisa menyembunyikan sejuta beban pikiran yang sedang menggelayuti.


“Ayo, kamu harus segera beristirahat dan tidur. mukamu pucat.” Yudhis meraih tangan Khalisa dan mengajaknya naik ke peraduan.


Khalisa tak menolak, masuk ke dalam dekapan Yudhis. Saat ini ia butuh ketenteraman, rasa aman juga pelindungan. Khalisa menempelkan pipinya di dada Yudhis, dan Yudhis mengusap-usap punggung Khalisa lembut teratur.


Keheningan mengisi ruangan begitu lama, hanya denting jarum jam yang mengiringi alunan simfoni kesunyian.


Yudhis agak terkesiap saat merasakan cairan hangat berjatuhan pada kaus yang dipakainya tepat di bagian dada kirinya, bersama punggung Khalisa yang berangsur berguncang kecil. Rupanya Khalisa terisak tertahan, mengagetkan si pria yang memeluknya.


Yudhis menengadahkan wajah Khalisa, menarik tubuh hangat di dekapannya itu lebih naik. Membelai pipinya lembut, dan air mata Khalisa kali ini bukan buliran haru seperti tadi siang. Terlihat dari sorot manik indah nan sendunya.


“Hei, ada apa, Cintaku? Apa aku menyakitimu?”


Khalisa menggelengkan kepala. “Enggak, Bang. Sama sekali enggak. Tapi aku takut,” sahutnya dalam sedu sedannya. Khalisa benci menjadi cengeng, tetapi keresahannya kali ini tak mampu membendung air matanya tumpah. Air mata seorang ibu yang mencemaskan buah hatinya.


“Takut kenapa? Ada aku bersamamu sekarang.” Yudhis mengusap pipi basah Khalisa lembut, membalas tatapan Khalisa penuh sayang.


“Kejadian di swalayan tadi membuatku takut. Aku takut Dania dan Bu Wulan benar-benar akan menculik Afkar dariku nantinya, aku juga takut anakku dicelakai, mereka itu enggak punya rasa kasihan padaku juga anakku. Apa yang harus kulakukan untuk menjaga Afkar Bang? Aku takut di saat lengah mereka berkesempatan mengambil Afkar dariku. Aku benar-benar kehilangan rasa amanku, Bang. aku harus gimana?” lirihnya dengan nada luar biasa resah. Jelas terdengar ketakutan.


“Untung saja sekarang ini Afkar sedang berada di Bali, jadi mereka enggak bisa menemukan anakku. Tapi saat nanti Afkar kembali ke Bandung, aku sangat takut kemungkinan mereka mengambil anakku. Mereka itu punya banyak cara licik dan jahat, Bang. Aku sangat tahu siapa mereka.”


Yudhis memeluk Khalisa erat-erat, membiarkan Khalisa menumpahkan keresahan dan ketakutannya. Mengecupi ubun-ubun Khalisa dalam-dalam beberapa kali, membisikkan kata-kata menghibur memenangkan.


Setelah Khalisa lebih tenang, barulah Yudhis bersuara. “Aku ada usulan. Tapi ini pun kalau kamu setuju. Bagaimana kalau Afkar tetap di Bali saja sampai situasi di sini dipastikan aman terkendali? Di Bali Afkar sudah pasti jauh lebih aman. Supaya kita juga bisa fokus pada persidangan. Bukan hanya Afkar yang berpotensi jadi incaran sekarang, tapi kamu juga termasuk. Demi keamananmu, sebisa mungkin jangan pergi keluar rumah tanpa aku. Aku juga akan menambah penjagaan lebih di rumah, memperkerjakan satpam khusus untuk menjaga situasi rumah dari luar. Bi Dijah serta Mang Darjat akan kuminta tinggal di sini juga mulai besok, supaya di saat aku pergi ke kantor, kamu tetap ada teman dan terjaga keamanannya.”


Bersambung.


Jangan lupa vote & giftnya ya sayang-sayangku, loveeee 🥰😘💜.



pic source by pinterest