
Bab 127. Memetik Buah
Mundur ke waktu beberapa jam sebelumnya, di Pulau Dewata, suasana hati Khalisa sangat bertentangan dengan si mantan suami. Khalisa tengah bergembira, disambut hangat oleh mertuanya dan diperlakukan bak putri berharga, dijunjung dan dianggap setara. Bahkan Maharani membuatkan kue khas Bali untuk menyambutnya, bentuk perhatian yang sangat luar biasa istimewa bagi Khalisa.
Khalisa dan Dion sama-sama mulai menuai benih yang dulu disemai. Hanya saja buah yang dipetik berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat jenisnya. Yang satu memetik buah manis menyegarkan, sedangkan yang satu lagi memanen buah pahit berduri.
“Jadi, ini kamar Abang?” tanya Khalisa, berdecak kagum mengamati seluruh penjuru sebuah ruang peraduan luas yang baru dimasukinya di lantai dua.
“Iya, ini kamarku di rumah Mami dan Papi.”
Khalisa takjub dengan mulut menganga. Kamar ini ukurannya tiga kali lipat dari kamar utama rumah Yudhis di Bandung. Dilengkapi furnitur mewah yang baru kali ini dilihatnya, yang dulu hanya pernah disaksikannya lewat televisi dalam acara-acara home tour vila milik para artis.
“Kamarnya besar banget. Bahkan kamar mandinya sangat luas,” cicit Khalisa saat mendorong pintu kayu mirip lemari yang ternyata langsung terhubung ke kamar mandi.
“Mau mandi sekarang?” tawar Yudhis.
“Kayaknya iya, aku lumayan berkeringat hari ini. Kalau nunggu malam bisi makin lengket.”
“Mandi bareng?” goda Yudhis genit. Mengedipkan sebelah matanya.
“Abang!” protes Khalisa tersipu.
“Atau, mau bobo bareng dulu?” Yudhis mengedikkan dagu ke arah ranjang besar yang terdapat di tengah-tengah kamar luasnya. Merangkul pinggang Khalisa.
“Ish, kenapa pikirannya ke situ melulu! Ini masih sore!” ujarnya sengit, sekaligus malu. Memundurkan tubuhnya menjauh, takut diterkam saat ini juga yang jujur saja Khalisa kurang percaya diri karena belum membasuh raga, membuat Yudhis terbahak hingga punggungnya berguncang.
“Mandilah dengan tenang. Handuk bersih dan segala perintilan mandi yang masih baru semuanya ada di kamar mandi.”
“Makasih, Bang. Aku mau mandi dulu sambil nunggu Afkar pulang.”
“Mandi yang wangi ya, Istriku,” ujarnya penuh arti sebelum Khalisa menutupkan pintu kamar mandi.
*****
Di teras balkon kamarnya yang terdapat di lantai dua kediaman bak istana itu, Yudhis mondar mandir tak tenang, menarik dan membuang napas kasar, sementara Khalisa tengah mandi guna menyegarkan diri selepas melintasi lautan sembari menunggu si buah hati kembali.
Afkar masih belum pulang, sedangkan sore mulai melambai mengisyaratkan selamat tinggal. Yudhis memeriksa arlojinya berulang kali, bersama tatap resah tertuju ke arah gerbang pagar.
“Kenapa Papi masih belum pulang,” keluhnya, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut akibat dilanda kecemasan.
Keresahan mengganggu di detik itu juga saat mendengar Erlangga lah yang menjaga Afkar di tempat golf, jauh dari pengawasan maminya. Hanya saja Yudhis berusaha menyembunyikan rasa tak tenangnya di hadapan Khalisa.
Bukan tanpa alasan si tampan berambut hitam lebat sedikit bergelombang itu nampak gundah, mengingat hubungannya dengan sang adik masih dalam fase bersitegang kendati tak sesengit dulu, akibat dari kesalahpahaman, prasangka, kecemburuan serta provokasi para kerabat, Yudhis takut ketidaksukaan Erlangga padanya dilampiaskan pada Afkar yang tidak tahu apa-apa. Walaupun bukan anak kandung, bagaimanapun juga kini Afkar adalah anaknya, bagian dari hidupnya, berkaitan dengannya, terikat dalam satu hubungan yang disebut keluarga setelah dirinya menikahi Khalisa.
Melihat mobil jeep yang biasa dipakai golf oleh Barata memasuki pintu gerbang rumah, Yudhis melesat turun, berlarian tergesa tak sabaran. Kakinya menapak di halaman rumah bertepatan dengan Barata yang turun dari mobil sembari tertawa senang melihat kehadiran si sulung. Yudhis mencium punggung tangan Barata terlebih dahulu, dengan tak lupa mengucap salam.
“Kenapa main golfnya sampai sore banget, Pi? Sudah hampir Magrib. Papi harus jaga kesehatan, jangan terlalu capek.”
“Golf sudah selesai sejam lalu, tapi kolega Papi yang berasal dari Banjarmasin meminta diantar beli nasi jinggo yang enak sama sate lilit. Jadinya mampir-mampir dulu ke beberapa tempat. Papi juga beli buah-buahan lokal di sini langsung dari kebunnya, buat menjamu anak dan menantu Papi yang berkunjung ke sini,” tutur Barata semringah, yang kemudian meminta sopir menurunkan buah-buahan yang dibelinya.
“Terus, Afkar mana? Bukannya tadi Afkar ikut pergi sama Papi?” Yudhis bertanya sembari menggulirkan pandangan pada bagian dalam mobil melalui pintu kendaraan yang terbuka. Tidak ada Afkar di dalamnya, hanya dipenuhi kantung-kantung belanjaan yang mengisi bagian tengah mobil.
“Afkar sama Erlangga. Sebentar lagi sampai. Tadi Papi khawatir Afkar bosan, jadinya Erlangga sengaja bawa mobil sendiri buat jaga-jaga kalau Afkar mendadak ingin pulang,” jawab Barata, membuat Yudhis menelan ludah resah. “Tuh itu dia.” Barata menyambung kalimatnya, menunjuk mobil sport mewah yang baru saja memasuki garasi.
Mobil sport itu terparkir manis tak jauh dari kendaraan Barata berhenti. Tak lama, seorang pemuda rupawan berambut lurus persis Barata, turun menggendong Afkar sembari membawa dua bungkus permen kapas, riang bercanda tawa. Yudhis melangkah lebar menghampiri, dan Afkar yang melihat siapa sosok yang mendekat langsung berjingkrak senang.
“Om Papa!” teriaknya gembira. Melompat riang di gendongan Erlangga.
“Gantengnya Papa,” ucap Yudhis lega, melihat si bocah lucu baik-baik saja.
“Eh, cayah. Pappah, butan Om Papa ya, Abah,” celotehnya lucu, mengundang tawa Barata juga Erlangga yang terlihat melipat bibirnya kuat-kuat, menahan desakan tawa yang ingin berderai, terjegal gengsi darah muda para pemuda.
Yudhis langsung meraup Afkar saat si bocah mencondongkan tubuh ingin digendong. Raut wajahnya masih menyiratkan antisipasi pada sang adik. Dan reaksi Erlangga pun serupa, tampak tegang.
“Pipi Bulat. Ini, permen kapasnya.” Erlangga menyerahkan dua bungkus permen kapas pada Afkar, berdehem kikuk, sudut matanya mencuri-curi pandang sungkan pada Yudhis.
“Makacih Om danteng,” cicit Afkar, memiringkan kepalanya gembira ke kanan dan ke kiri. Mengundang senyum Erlangga yang sangat jarang terlihat merekah ke permukaan.
“Makasih, Ga. Sudah jagain Afkar,” kata Yudhis yang hanya dijawab anggukan tipis oleh Erlangga. Dan si pemuda berambut lurus itu buru-buru berlalu ke dalam rumah.
“Ayo masuk, jam segini angin di luar sedang kencang.” Barata mengajak Yudhis masuk, dan mereka melangkah bersama.
Bersambung.